Bab.1 LOVE YOU Paman Dave
***
Chelsea mengumpulkan junior mahasiswa dilapangan untuk OSPEK, mereka duduk, memakai topi dari bola dan kalung dari sayuran. Ia mengabsen peserta, dengan catatan ditangannya.
" Sudah lengkap Semua ya, Selamat pagi.." Teriaknya.
" pagi kak.."
" Masih semangat.."
" Semangat..semangat..yess."
Begitu seru pagi, dengan penuh semangat junior memasuki tahun ajaran baru di kampus, Chelsea sangat senang bisa membantu kali ini dengan anggota para BEM.
" Oke, setelah pemanasan, nanti kita lanjut game. ya.. mungkin akan dibantu dengan kakak senior lain, nanti ada kak Febri, Maria, Jhohana, kak Theo, Joe dan kak David."
Joe dan maria membagi beberapa kelompok menjadi 5, diantaranya berisi 12 orang per kelompok, Chelsea masih siap untuk catatan game kali ini.
" jadi nanti jawab pertanyaan. ya, yang siap angkat tangan, jangan langsung jawab. pertanyaannya akan seputar organ dan jenis penyakit. contoh Satu..., sebutkan organ manusia yang paling sering digunakan!"
" Mata elo" jawab seorang cowok yang tiba - tiba datang dari samping, dengan mata tajam yang selalu membuat Chelsea marah.
Chealsea diam ia menyungggingkan bibirnya membentuk kerucut pada cowok jutek itu. .
" Shut-up...," mata chealsea melotot pada cowok itu yang kini berdiri disampingnya. ia melingkarkan tangannya ke bahu chelsea, membuat chelsea kembali melotot.
cowok itu menarik nafasnya dalam dan berbisik ke telingan Chelsea.
" gimana bisa orang sepertimu, pernah jadi pacar gue, hegh.." ledek David kasar.
Chelsea diam. Ia mengacuhkan ucapan David dan kembali siap - siap dengan pertanyaan untuk game kali ini.
"Oh...,itu karena gue salah pilih, mata gue rabun kelilipan, dan matamu juga Rabun, paman David." desisnya dengan nada mengejek ditelinga david.
David menjauhi chelsea, dan berjalan mundur 6 langkah dari chelsea berdiri.ia memangku tangan masih melihat Chelsea memberikan games materi, tiba - tiba ia melihat chelsea melirik kearahnya, bertepatan mereka saling menangkap tatapan.
" Hey...!!! dengar. Kalian kenal kakak yang dibelakang dengan kaos hitam dan topi putih itu gak? kalian lihat cakep kan? itu namanya kak David, dia senior disini dan anak kesayangan Prof Setiawan , tapi yang harus kalian ingat. hati- hati apalagi untuk kalian para mahasiswi calon dokter, jangan mau dideketin cowok ini.. ya, mau tau kenapa gue putus...sama orang itu!!!." Teriak Chelsea. Ia membuka mulutnya.
David melangkahkan kakinya dan mendekati Chelsea.
" Curhat maksud,lo.." tantang david
" gak lah, mau apa?"
" mau kasih tau ajah kalau, lo adalah..."
" apa?" tantang matanya.
" Paman." desis chelsea pelan.
David membekap mulut Chelsea seketika. dan menarik chelsea sejauh mungkin dari lapangan meskipun ia merengek meminta david melepaskannya. ia hampir saja menggigit tangan David.
"Ciiih...norak!!" dumel Chelsea. Ia melotot. melayangkan tangannya kearah pipi david yang kini menantangnya, tapi mata itu membuat chelsea diam.
" tampar, ayo tampar.." ancam David. " Apa yang mau lo teriakin.?" tanya David. Menempelkan tubuh Chelsea di dinding toilet.
" Hegh..., Rahasia kita." Ejek Chelsea. " paman..." desisnya. Menempelkan bibir Chelsea pada telinga David.
Membuat David kesal dan melotot padanya.
" Hentikan itu, gue jijik denger elo panggil gue paman, dan berhenti bersikap kekanak-kanakan. Elo, bukan calon dokter spesialis anak kan?" Ucap David membuat Chelsea diam.
" Maksud elo!! gue kekanakan gimana?" tanya Chelsea bingung. Bagian mana yang disebutkan kekanakan. Ia meminta jawaban darinya.
David menatap bola mata sayu dengan bulu mata lentik dan ayu. Mata yang dulu ia kecup dan selalu ia rindukan. Mata yang dapat menghipnotis dirinya seketika. Menyulap David yang kasar menjadi David yang lembut dan penuh senyum. tapi kali ini matanya tajam mematahkan hati chelsea seketika.
" Terima kenyataan...kita berpisah!, masih belum faham. kalau kita udah pisah.!" Ucap David menegaskan beberapa tahun lalu yang membuat Chelsea menangis dikamarnya berjam-jam, sesegukan. Bahkan membuat dirinya sakit. " Terima kenyataan, aku paman kamu dan kamu ponakanku, sekarang. faham." ulangnya.
airmatanya jatuh ketika chelsea mendengar david mengulangi perkataannya yang kedua. Ia memegangi dadanya, ada sesuatu yang membuat dirinya sakit. ia menepuk nepuk dadanya seketika, menatap wajah david dengan air matanya.
" Sekali saja dave, lo ngerti perasaan.. gue, ngerti bahwa gak semudah. lo. sekali ajah, lo peluk gue untuk yang terakhir dan minta maaf sama gue... "
David meninggalkannya tanpa kata.
" paman..." desisnya. " love..you....'' tambahnya tidak terdengar, bahkan tidak bersuara. hanya ia yang dapat mendengar sendiri. " Sekeras apapun ucapan lo, sama gue, gak bisa gue bohongin kalo lo tetep cinta pertama gue, cinta gue hingga sekarang." Ucapnya dalam hati.
.
David meningalkan dirinya sendirian di toilet. Padahal Chelsea masih berharap David akan bersikap baik seperti dulu walau kondisi saat ini berbeda dengan dulu. ia tidak pernah berniat untuk balikan lagi, karena hal itu sangatlah tidak mungkin.saat ini yang diinginkannya hanya kedekatan antara keponakan dengan pamannya. Paman yang pernah ia cintai. pernah ia puja, dan paman yang pernah menjadi sandaran hidupnya. Tapi itu hanya berlangsung setahun. Setelah itu Adalah kekecewaan yang selalu terjadi. dan kenyataan pahit yang harus ia jalani dengan kenyataan mendadak bahwa cowok yang tengah menjadi pacarnya adalah pamannya sendiri. anak dari kakek nya dari hasil perselingkuhan, penerus dari keluarganya. sejak david terungkap menjadi paman chelsea, ia sangat berubah menjadi kejam. ia tak lagi mengenal david yang dulu hangat padanya berubah menjadi dingin dan kejam.
Chelsea menangis, ia masih teringat ucapan terakhir david untuk nya.
Terima kenyataan...kita berpisah!
Terima kenyataan...kita berpisah!.
Chelsea menarik nafasnya panjang dan menyeka sudut matanya kilat. Mencoba menbenahkan kembali dirinya dan bercermin, dan kembali senyum. mengembangkan bibir nya yang selalu ramah pada semua orang. mencoba mengawali hari ini seolah tidak pernah ada yang terjadi. Berjalan tegas melangkahkan kaki menuju arah koridor ke ruang laboratorium. meninggalkan tugasnya di lapangan dan kembali mengawali praktek bersama prof.
" Hai, chel.." Ia tersenyum, menyapa orang yang selalu meyapa dirinya.
" Hai..." Sapa Chelsea. ia melewati tempat- tempat moment yang pernah membuatnya dulu bahagia. beberapa detik ia terdiam melihat Sebuah bangku kayu dibawah pohon Bougenville. David pernah merawat kaki nya terluka. Sesudah itu ia menggendongnya hingga kekelas, mengingat kenangan itu membuat Chelsea senyum samar. Kejadian itu sudah 1 tahun lalu. kembali ia melangkah menuju Ruangan, melihat Rani sudah dikoridor kelas menghampirinya, dengan raut wajah yang tidak pernah sedap dipandang Chelsea.
Rani menatapnya dari ujung kaki hingga rambut. ia melihat apa yang sedang chelsea pakai hari ini. Sebuah Dress bunga dengan motif peach dan tas kecil panjang dipundaknya serta jas putih yang ia kenakan. Chelsea senyum pada Rani. walaupun sekalipun Rani tak pernah membalas senyuman chelsea.
Rani mendelik. Ia mengintip dress milik Chelsea dan berniat membuat dress yang sama.
" Ada apa..?" Tanya Chelsea.
Chelsea menghampiri Rani yang selalu menatapnya dengan tatapan tidak sedap.
" Oh..., tadi elo dicari sama William. Si willy yang elo tembak waktu itu kan? yang lo suka dari jaman SMA." Jelas Rani.
" Oh..terus." Jawab chelsea singkat.
"Bukanya dulu elo suka sama willy, ya..? terus pernah dipermalukan sama willy waktu itu dikantin." Ejek Rani. Matanya memancing kamarahan Chelsea. " Gue, ngak tau si Willy mau apa. yang jelas, gue hanya nyampein ucapan willy, kalo gue ketemu,lo. dan nyampein pesen dari dia."
Chelsea diam, mengangkat kedua alisnya lalu melangkah kembali tanpa permisi pada Rani.
" Chelsea.." panggil Rani.
Chelsea berbalik dan melihat wajah Rani yang melihatkan wajah kemenangan seperti masa kanak-kanak, ketika ia berhasil mengambil boneka kesayangan chelsea. senyuman itu senyuman kemenangan Rani. Chelsea tidak menyahut dan acuh gak peduli.
" Gue harap elo ngak terkejut..., siap-siap sajah chel..." desisnya ditelinga chelsea.
"Maksud elo?" tanya chelsea heran.
Rani hanya tersenyum mengejek.
" Apa yang l,o miliki. kini gue miliki. Apa yang lo punya, gue juga punya..dan surprize..For you!!" Ejeknya . Dengan Raut wajah hampir membuat chelsea muntah karena kesal." pokoknya surprize banget, pasti membuat lo, sangat bahagia.."
Chelsea diam dan tidak menggubrisnya. Berjalan santai meninggalkan Rani yang berteriak kesal, memaki Chelsea, dan mengutuknya kesal.
" William..." desisnya dengan senyum yang samar. Sambil berjalan tegas menuju Kelas. Di lab." Surprize .." Semua perkataan Rani membuat chelsea bingung. Tapi itu tidak membuat chelsea berpikir kedua kali. Ia tetap merasa Rani hanya ingin membuatnya marah. Sifatnya dari kecil selalu seperti itu. Dan hanya kakek yang selalu membela Rani,buta, atas sifat Rani yang sebenarnya arogan.
***
Kelas Dimulai satu jam lalu. Hening sejenak ketika Prof. Setiawan datang. matanya menyuntik mahasiswa seketika. Dan membuatnya bungkam. bibir mereka dibuat kelu. Chelsea kembali memperhatikan Prof. Setiawan. Hari ini Prof Akan melihatkan bagaimana cara membedakan mana air seni penderita diabetes dan mana seni yang bukan penderita diabetes.
" Bagaimana cara anda hanya melihat air kencing saja sudah mengetahui bahwa pemilik air kencing ini penderita, Diabetes." Ucap Prof Setiawan duduk di bangku melihatkan dua cawan berisi air seni itu dan dilihatkan pada semua mahasiswanya.
Satu celetukan.
" Dicium baunya, Prof.." cetus dari salah satu dari mereka yang ngumpat dibalik ketiak Andi.
" Ah..., itu mah gampang Prof. Yah tinggal diteliti ajah..." Cetus Sule. Asal –asalan. Prof mendelik dan menyuntik dengan matanya.Tidak ada suara lagi mahasiswa yang keluar dari bibir mereka. Kali ini mata prof tertuju pada wajah Sule.
Sule diam.
" Air seni pasien diabetes itu manis. Apakah Anda bersedia mencicip rasanya..." Tanya Prof. " Saya akan tunjukan..." Prof melihatkan jarinya mencelup air seni pasien diabetes. Lalu menjilatnya. " Manis..." Prof menelannya.
Semua mata membelak pada mulut prof. meneguk ludah mereka dan merasa jijik dan ongkek. Yang lain ongkek-ongkek jijik. gak termasuk Chelsea. ia diam saja lalu senyum.
Prof memperhatikannya.
" masa sih Prof manis?" Tanya Sule.
Sule penasaran dan maju kedepan untuk membuktikan apa yang dipraktekan oleh Prof. Setiawan. Apakah benar air seni itu manis mirip teh manis seperti para dokter bilang.
" Yah..., air Seni doang. Jadi calon dokter itu harus kuat mental brow..." ucapnya penuh percaya diri. Mengangkat kerahnya setinggi leher. Melihatkan kedip-an ala playboy cap kecoak, bertingkah genit pada semua.
Sule memang tipikal orang yang slengean, cuek, bawel juga iseng. Kadang sifatnya playboy juga. Padahal wajah dan dompetnya pas-pasan banget. Dan mukanya juga ngak ngedukung buat jadi playboy hanya ntuk menyaingi William si ganteng dan playboy.
Dan ngak tau kenapa Sule malah mau nyaingi william. Chelsea senyum melihat wajah Sule yang selalu pede dengan face nya yang pas-pasan.
Sedangkan willi yang Chelsea ingat semasa SMU, adalah william cool, dan kutu buku, ia sangat popular. dan bukan player seperti sekarang. Makanya Chelsea menyukai william yang pendiam saat itu. menaruh hatinya pada willy si kutu buku. Antara
william dan Sule jelas mereka berdua itu sangat jauh berbeda. Dari kulit juga sudah membedakan mana willy dan mana Sule. Bagai warna hitam dan juga putih. Putih milik willy dan hitam milik Sule.
Chelsea kembali senyum mengingat Sule selalu antusias menjadi playboy dikampus bersaing dengan willy. walau tingkah seperti itu Sule menjadi sahabat chelsea dari awal mereka OSPEK.
Kali ini Sule menantang Prof Setiawan untuk unjuk gigi dihadapan semua orang. Biar wajah pas-pasan miliknya menunjang. Dengan bakat dan keberanian yang dimilikinya. supaya si Rani juga mau jalan sama doi, terus kagum keberanian Sule. Ia juga sangat pede dengan mental baja miliknya.
Sule Berkedip pada Rani. cuman ditanggapi cuek sama Rani, bahahkan ngak ada reaksi apapun darinya. Rani tau Sule udah lama naksir Rani di semester pertama. Semua orang tahu karena Sule mati-matian buat rani bisa jatuh cinta sama doi. walau ujungnya sakit hati dicaci oleh rani.
Sule kembali berkedip pada wajah rani dan senyum manyun ala ikan gurame. Menerbangkan kalimat desisan. " love you". Yang ditangkap jijik oleh Rani. Sule unjuk gigi pengen jadi pusat perhatian didepan kelas. lagi - lagi ia angkat Kerah lehernya tinggi dengan tangannya.
Chelsea tersenyum.
Sedangkan Rani cuek dan masa bodoh melihat Sule mencelupkan jarinya kedalam cawan berisi air seni pasien. ia tidak peduli meskipun racun yang diminum dihadapannya sekarang. Ia hanya menarik bibirnya kesamping, menatap penuh rasa jijik pada Sule. Sule bukanlah tipe cowok idaman Rani. ia meledeknya.
Sule masih memandang kedua cawan air seni, Ada keraguan untuk mencelupkan jarinya seketika. Tapi melihat mata prof. Sule jadi lebih berani, toh tadi orang botak ini udah sama nyicip air pipis. karena dengan bangga ia adalah calon dokter.
Sule menjilatnya seketika.
Semua mata membelak pada wajah sule dan jarinya. Ia meringis dan hampir ongkek. Jari dan dua cawan didepan adalah pusat perhatian beberapa pasang mata sekarang. Ia masih melihat Ragu pada mata Prof. Tapi prof mengangguk untuk dirinya mencoba membuktikan apa ucapan dirinya beberapa menit lalu. Kembali satu jari dicelupkan lagi pada cawan yang bukan penderita diabetes.
Kembali sule meringis.
" ihshh..."Ringisnya.
Ia menatap mata dan wajah Prof. Menelannya dengan penuh rasa jijik dan meringis. hampir memuntahkan apa yang ada dimulutnya. Prof kembali menatap wajah sule. Prof mengangguk, bahwa Sule telah membuktikan rasanya.
" bagus!" satu jawaban singkat yang terlontar dari mulut Prof, yang tidak banyak bicara dan pelit dalam memberi nilai.
" Bagaimana rasanya? menurut A_N_D_A..?" prof sengaja mengeraskan intonasi suaranya pada Sule.
Sule nyengir juga meringis.
" Pahit..prof! dua-duanya tidak manis. Rasanya sama. profesor bohong kali, ya.." Ongkeknya dan keluar dari kelas menuju toilet pria. Berlari kecil karena ia mulai mual, tidak tahan dengan apa yang barusan ia jilat.
Tawa menghiasi jam praktek Prof. Setiawan di lab.
Ha..ha..ha...
Tapi tawa Itu hanya beberapa menit saja. Setelah itu Mata Prof. kembali tajam, dan memicing. Mereka diam. Prof melihat arloji ditangannya, ia berdecak kesal.
" Ck.." decaknya.
Lima menit prof menunggu. Sule belum datang juga ngak tampak batang lagi hidungnya kembali ke lab.
" Andi...susul sule dikamar mandi." Perintah Prof. Ia mulai kesal. Andi mengangguk dan menyusul sule yang sudah hampir tiba dikelas menebar senyuman. Bertabrakan dengan Andi di pintu.
reflaks di teloyor oleh Andi.
Plakk
"Akhsh.., Sial, lo" sule meringis. jitakan Andi seperti bertenaga power. Sule senyum dan menggaruk kepalanya, Melihat wajah Prof. " He..he.. prof.."
Kali ini prof dibuat senyum ajaib oleh Sule.
" Kenapa Anda Begitu lama sekali?" Tanya Prof melihat sule yang cengar-cengir. " Apa anda muntah?" Tanya prof. Ia mengernyit.
Sule senyum mengangguk. Pada wajah Prof.
" Apakah tadi Anda memperhatikan saya atau tidak?" Tanya Prof. Menatapnya tajam.
" IYA!! ya... jelas perhatiin. dong prof!" jawabnya bangga.
" Baik. Jika anda benar memperhatikan tadi saya baik-baik. Mungkin anda akan berkata manis." Jelas Prof.menyuntikan matanya kali ini. Sule dibuat bingung oleh ucapannya.
" kok bisa..., prof." Tanya Sule Aneh. "Setahu Saya tadi rasanya adalah pahit juga menjijikan. seolah menjilat air comberan di WC umum. Pahit bercampur bau pesing yang nyengat. Oeekkk.." Kembali ongkeknya.
Prof. melihat wajah Chelsea dalam-dalam, mengangkat dagunya kali ini. meminta chelsea untuk menjawab pertanyaan Sule.
Chelsea membuka mulutnya kali ini.
" Tadi Prof mencelupkan jari telunjuknya kecawan yang berisi air seni pasien diabetes. Lalu menjilat jari tengahnya. Benarkan prof.." Jelas Chelsea.
Prof mengangguk dan hampir senyum dibalik kumis tebal dan kepala botaknya. Senyum ajaib dari prof yang pelit dan tidak banyak bicara itu.
Chelsea tersenyum. Semua orang dibuat bingung dengan yang diucapkan oleh Chelsea. Rani memperhatikan Chelsea dan menatapnya aneh.
"Hi..hi..." tawa Chelsea. " jika kalian tidak percaya, tanya saja sama prof!"
Yang lain masih belum menyadari jika apa yang dikatakan Chelsea itu benar. Mereka terlalu jijik dan tidak memperhatikan jari yang dijilat oleh prof.
" KALIAN SUDAH DAPAT PELAJARI PERBEDAAN ANTARA KETELITIAN!! dan HANYA MENEBAK SAJA!!!. Untuk melihat air seni mana penderita diabetes bukannya sudah jelas. Dan Sudah modern sekarang. Ada alat untuk mendetect!!, kalian hanya seperti sapi yang harus dituntun. Tanpa kalian berniat belajar dan mencari tahu sendiri. next kelas. Akan lebih sulit lagi dengan praktek organ manusia. Apa Kalian paham jika harus membeli mayat dan membedahnya, hilangkan rasa jijik kalian!!." Tegas Prof. Setiawan.
Yang lain mengerang jijik dan takut. Lalu mengangguk.
" Kalian adalah calon- calon dokter, pahamilah apa yang sudah kalian pilih. Ini bukan lelucon yang lucu. Tapi ketelitian kalian diuji mulai sekarang." Terangnya. " menolong orang, mengobati, dan ketelitian dalam diagnosa, salah satu hal terpenting." Ucapnya.
Sentak mereka diam dan merenung.
" Berhenti bermain-main, Isi otak kalian dengan ilmu yang berguna untuk masyarakat." Ucapnya Tegas. Prof itu pamit dan mengakhiri kelas. Padahal hari ini adalah jadwalnya untuk melihat organ manusia dan menelitinya. mendiagnosa pasien.
Chelsea senyum kearahnya.
Prof sudah menjauh dan berjalan ke lorong menuju rumah sakit lagi. Kembali suara gaduh dan riuh kembali terdengar dari lab.
" Sia-sia bayar mahal-mahal masuk ke kedokteran. Enggak dapat ilmu dari si botak." Kutuk Sule. Ia masih berusaha ongkek mengeluarkan air seni yang ia telan. " Oek..." ongkek sule kembali mengingat ia ditipu. " elo, lagian ngak kasih tau sih tau gue..chel."
Chelsea masih cengengesan.diam dan duduk di bangku miliknya.
"Sory.." balas chelsea.
Rani menghampirinya. berhadapan dengan chelsea di bangkunya.
" Itu sih...,D_L ( derita loe )." Ucapnya singkat dan keluar kelas memamerkan Rok mini yang dipakainya. Dengan sweater hitam kerah siluet yang memamerkan belahan dadanya. Area tersexy yang selalu dipamerkan.
" Wow..!! Ck..Ck..., Ran..Rani.."Seru Sule girang. melihat belahan d**a Rani yang membuat dirinya jantungan. Decak sule saat melihat Rani menghampirinya dan fokus pada belahan d**a miliknya.
Plakk
Chelsea langsung neloyor Sule. Orang yang paling lumayan dekat dengan Chelsea.
" Udah. kita makan dulu. Laper!" Ajak Chelsea.lalu bangkit menuju luar Lab.
Sule bangkit dan membuntuti Chelsea dibelakang melangkahkan kaki menuruti suara dendang suara perut. Ia masih mengamati Chelsea yang selalu melihat kearah rumah sakit. Berjalan lurus tapi tatapannya masih melihat arah rumah sakit. Hampir saja ia menabrak orang dihadapannya dan langsung ditarik Sule seketika.
" Ciihh!! liatin apa sih?Non..'' Tanya Sule. Ia menatapnya jijik. Mengetahui jika Chelsea masih belum bisa melepas pandangan dari David yang sedang praktek memeriksa pasien dirumah sakit. " jalan yang bener napa!" gerutunya.
" oh..eh,iya.. Gak!enggak...ga, pa-pa.." Elak Chelsea.
Sule menatap tidak percaya dan membuat Chelsea mempercepat langkahnya seketika. Ia tertangkap lagi tidak fokus dan melihat terus arah rumah sakit. Mereka berjalan menuju kantin di belakang rumah sakit dan berbelok ke kanan menyusuri taman yang penuh bunga dan hamparan rumput hijau. Sebuah kantin khusus mahasiswa dan kadang ada para dokter yang istirahat disitu.
Sule masih tebar pesona colek sana colek sini dengan membanggakan kunci mobil yang dimilikinya. bersiul-siul ala playboy cap kecoak. Dengan kedipan genit. Tapi sesekali ia masih melihat sahabatnya tidak lepas mengalihkan pandangan ke arah poli dimana David tugas.
Chelsea duduk dibangku paling belakang dekat kolam, jauh dari stan kantin. Sule memesan makanan kesukaan Chelsea. pada pelayan di stan. "Satu mangkuk salad dengan yoghurt dan roti pisang tanpa keju." Ucapnya sambil merayu penjaga stand yang masih berumur belasan tahun yang putus sekolah. " Seperti biasa..., pesenan tuan putri. Semangkuk salad dan roti pisang panggang tanpa keju." Tambahnya ketika melihat pemiliknya datang menghampiri dengan senyuman
" Neng chelsea..makanannya itu ajah." Tanya Mbak Rahmi yang biasa buat salad chelsea. Sule masih Diam dan menunggu si mbak meracik salad.
Chelsea duduk dan tiba-tiba William duduk dihadapannya. Ia menatap wajah chelsea yang lembut tanpa banyak make up seperti gadis lain, willy teringat selly yang meninggal waktu itu. Chelsea mengingatkan willy pada selly lagi.
" Ng...kalau ingat dulu. Kenapa gue tolak cinta elo ya..." ucap William menebar senyuman genit pada Chelsea.
"oh..it..itu.."
Chelsea diam tidak menjawab. Ia hanya menerobos pandangan willy. mengingat dirinya pernah menyukainya. Dan berusaha sebisanya untuk masuk universitas yang sama dengan dirinya. Dan sekarang Ia bersyukur tidak diterima cinta oleh Willy. karena sekarang dan dulu itu jauh berbeda perbedaanya bisa 160 derajat. Willy berubah drastis semenjak kuliah. Itu membuat Chelsea illfeel.
Chelsea senyum samar untuk dirinya dan masih cuek dengan kehadiran william. berusaha tidak terganggu kehadiran willy.
" Chel, elo udah putus dari David kan? " Tanya William
" Jadi elo nyesel nolak, gue?" balas chelsea. " Maaf , gue sudah tutup."
" ha..ha..ha.." tawa william kesal. " elo bisa aja.., next elo pasti mau terima hati gue.."
" itu jika elo seperti dulu. Mungkin gue bisa buka hati gue sedikit!" Jawab Chelsea pasti.
" Yakin elo bakal buka buat gue? walau elo tau gue sekarang b***t!" jelasnya.
" Tergantung. jika elo bisa luluhin bongkahan es dihati gue."
Chelsea diam. mengalihkan pandangnya, ia malah memandang daun yang jatuh dari pohon bougenville. yang berada di seberang meja depan. Yang terbang menghampiri tangan dan mengendap di lengan David. David menepisnya dan menerbangkan daun itu.
Chelsea menatap tubuh yang pernah memeluknya berjalan kearah kantin menuju meja seberang, meja milik chelsea dengan teman-temannya. Chelsea mengalihkan pandangannya seketika. ia terlalu takut tertangkap disaat pandangan matanya tidak lepas memandangi wajah David.
***