Bab.4. Andai kau tau
***
Chelsea menangis dan kembali mengendarai mobil miliknya, menuju kampus. Ia masih gemetaran.
Raut wajah Kakek tidak pernah semarah itu. Ia melihat jelas kemesraan Chelsea dan David 3 Tahun Lalu.
" David, kenapa kamu tidak membuangnya. Hegh!" dengus Chelsea kesal. Ia memukul-mukul stir dengan telapak tangannya hingga suara klakson itu terdengar kencang.
Teeettttttttttttt
Chelsea menyesali kenapa david tidak membuang saja foto kenangan mereka seperti dirinya membuang semua yang menyangkut David. Kecuali hatinya yang masih belum membuang nama itu.
" Maaf, Kek!" Isaknya. " Andai Kakek tau yang sebenarnya kalau kejadian itu sebelum, Kakek mengumumkan David menjadi anak bungsumu."
Chelsea ingat Ia masih berusaha menjelaskan semua hubungan itu sudah berakhir tiga tahun lalu. kakek tidak mempercayai hubungan mereka telah berakhir. Mungkin karena Foto itu.
Chelsea masih membayangkan raut wajah kakek. raut wajah hampir meledak marah serta menahan rasa sakit di jantungnya. Ia hampir saja tumbang, dan menguatkan tubuhnya.
" kakek. Tidak mau kamu merusak hubungan Rani dengan David." Ancamnya. Ia masih menunjuk dengan telunjuk saktinya kedepan raut wajah Chelsea.
" Ak..aku, tidak akan merusak hubungan mereka." Bantah Chelsea. " Percayalah...,kek."
Kakek tidak menjawab dan hanya mendelik.
" kalau begitu kamu buktikan untuk terus makan malam dirumah kami." Ucapnya dengan sorot mata tidak percaya. " Baru Kakek . P-E-R-C-A-Y-A."
Jleb.
Hati Chelsea seperti kena lagi serangan jantung dan membuat dirinya beku dan kelu. Bibirnya tidak bisa menjawab pertanyaan kakek.
Untuk kembali hari ini saja ia ketakutan. Apalagi kalau harus makan malam bersama Rani juga David. Mungkin tiap malam ia tidak akan bisa tidur karena siksaan melihat wajah rani yang tersenyum kepada david.
" Bagaimana Chelsea?!" Ulangi kakek sekali Lagi. Menunggu jawaban dari wajah Chelsea yang hampir tumpah dengan tangisan. ia tidak bisa menjawab pertanyaan kakek.
" Hentikan! Anda tidak berhak untuk mengatur hidup Chelsea."
David tiba-tiba masuk, menatap mata chelsea. Kakek membalik menatap wajah david dengan wajah yang diam dan serius.
" Dave.., sudahlah.." Bantah Chelsea. Ia tidak mau dibela atau dibenarkan oleh David. walau air matanya kini mengalir lembut melalui pipinya dan dilihat David. " Saya kesini untuk mengambil tas ." jelasnya ringan. " Maaf. paman.. saya harus ke kampus dan kembali kerumah sakit.'
Kakek Mendelik masih dengan dengus kesal pada wajah chelsea dan david.
" Renungkan ucapan saya!!." ucap kakek mengingatkan atas janji yang ia tawarkan. Untuk Chelsea membuktikan ia tidak lagi memiliki perasaan pada David. Bersedia makan malam tiap hari dirumahnya.
" Jangan dengarkan!!." bantah nya. " Pergi jauh dari kehidupan saya!" matanya menembus frame yang pecah ditangan Chelsea.
" Buang foto itu. Semalam saya tidak sempat membuangnya!." matanya dingin dengan suaranya yang ketus, membuat chelsea reflaks membuangnya seketika. tatapan nanarnya membuat chelsea terluka, david memang sudah membuang hatinya, dan memberikan untuk rani. "Buang!!" teriaknya lagi.
Melihat kakek langsung diam lalu mengangguk, Ia berusaha membelai bahu Chelsea cucu kesayangannya. Agar tabah menghadapi kenyataan.
Chelsea menghindar tangan kakek menyentuh bahunya.
" Makan malamlah, malam ini. seperti dulu yang sering kita lakukan bersama. Bersikap baiklah pada rani." Jelas kakek membujuk Chelsea agar mau satu meja makan dengan rani dan juga david.
" Baiklah." Ucap Chelsea singkat tanpa pikir panjang menyetujui secara spontan, yang ia ingat adalah agar ia segera keluar dari rumah terkutuk ini.
" Saya tidak ada waktu malam ini. Ada praktek." david membuka suara bicara tanpa ditanya, " kalian makan malamlah tanpa saya, buat saya lebih baik dan nyaman."
Chelsea mendelik kewajah David, masih dengan meneteskan air matanya lembut. tersenyum Getir kearahnya.
" Thanks, paman." Pekik Chelsea. Chelsea berjalan melaluinya. Ia menyeka lagi pipinya secepatnya agar tidak ada yang tahu lagi bahwa hari ini membuatnya trauma lagi. Chelsea berjalan tegas membawa kekecewaanya lagi keluar dari kastil terkutuk baginya
Ia berbalik setelah berada ditaman menuju parkiran rumah, melihat rumah itu megah bak bagai kutukan yang kejam untuk dirinya. Kutukan yang tidak bisa dipatahkan seumur hidup.
" Haruskah, Malam ini aku menikmati makan malam siksaan bersama kalian? Apa aku harus berteriak kepada Kakek bahwa, Aku tidak sanggup melihat mereka. Melihat Rani yang akan semakin menindasnya dengan tatapan kemenangan dari mata dan wajahnya." Tanya Chelsea dalam hati.
__________
Sudah lima belas menit.
Ia menenggelamkan wajahnya diatas stir mobil dan mengingat kejadian tadi pagi. Ia masih belum keluar dari mobilnya hingga seseorang mengetuk kaca mobil dan berteriak kesal.
Tuk..tuk..tuk
Chelsea mendongkak. Wajah Sule menempel di kaca mobil Chelsea. Membuatnya berteriak kaget.
"Ah, Shit.. Sule!!" Ucap Chelsea singkat dan menurunkan kaca mobilnya. " Kenapa?" lempar Chelsea segera. Ia menatap Wajah Sule yang nyengir kuda.
" kirain elo mati, non." Ucapnya singkat.
" Gak pa-pa tadi gue ngantuk. Hari ini gue bantu dokter Ilham dulu dipoli, ya... Tugas gue udah ada di flashdisk." Jelas Chelsea tidak semangat.
Sule menatap mata Chelsea yang sedikit sembab. Melihat wajah chelsea seksama. Wajah Sule miring miring menelak kan wajah Chelsea baik-baik.
"Ule..berhenti liatin gue gitu."
Chelsea menaikan kembali Kaca mobilnya.
" Tadinya mau ngajakin nonton bareng Feby." Ajak Sule. " Bisa gak..." tambahnya.
Chelsea keluar dari mobilnya. Membuka pintu mobilnya seketika.
" kata siapa gue gak bisa! Ntar gue nyusul ya! kalau sempet gue ajakin dokter Ilham." Jelas Chelsea tajam.
" Cieee...udah move on nih. Emang dokter Ilham mau pa sama elo?" Tanya nya tidak percaya dengan tatapan yang mendelik dan penuh rasa tidak percaya.
" Cuman nonton. Kalaupun dokter gak bisa. Gue bisa sendiri jalan kali. Tapi tiketnya pesenin dulu." Pinta Chelsea.
Sule nyengir.
" Duitnya mana non? He.he.." Ucapnya malu. Sule meronggoh sakunya bolong. ' kosong..zonk..non!!"
Chelsea menepak jidatnya. mengeleng penuh tidak percaya.
" Gue kira playboy punya banyak duit." Ledeknya dengan nada mengejek dan senyum lucu yang tergambar dibibir Chelsea. "ah, dasar playboy kecoak."
" Tuh_ gegara prof botak harus beli mayat. Uang bokap gue dikuras lagi. Dan sebagai tambahannya. Uang jajan gue diseret, terus mobil gue disita lagi."
Chelsea senyum
" Tadi gue ketemu Rani, dia pamer cincin berlian tadi pagi dikantin. Bikin gue patah hati ajah. Emang si Rani tunangan sama siapa?" Tanya nya heran. "Sakit hati gue, non.., makanya kita nonton ajah supaya refresh !! Oh Rani..." Lirihnya.
Chelsea keluar dari mobil menutup dan mengunci mobilnya. Tanpa menjawab pertanyaan dari sule. Sule mengejarnya dari belakang melihat Chelsea terburu-buru melangkahkan kaki ke rumah sakit menuju poli mata. Tanpa memberikan jawaban apapun dan hanya memberinya uang untuk membeli tiket bioskop.
" Chels...eh, mau ngak? duitnya mana..?'"
Rani tiba-tiba datang menghampiri mereka di parkiran, parkir dekat Chelsea. Ia melihatkan lima jari miliknya didekat pipinya, melihatkan cincin berkilau dengan berlian. Pas Kedalam tatapan mata Chelsea.
Chelsea membuang wajahnya, diam sebentar menahan sule dengan tangannya. rani melangkah semakin dekat dengan Chelsea. ia menebar senyum kepada Sule.
" kenapa tidak bilang kalau semalam gue tunangan sama David!" Ia memamerkan cincin dijemarinya,"cantik kan? ah..andai saja ini milik orang. Mungkin aku akan iri." Ejeknya.
Chelsea terus melangkah menuju poli dan melewati rani yang kini memakai Dres yang sama seperti Chelsea tempo hari. Chelsea berhenti sejenak.
" chelsea, aku jadi orang yang paling bahagia sedunia.."
Chelsea ngak nanggepin ocehan rani
" Puas..., Cari mode yang lebih bagus.!!Dres yang elo pakai udah gue jadiin lap. Gue jijik kalau barang gue selalu membuat elo tertarik. Kenapa harus David! Bukankah elo Mencintai Aldo. Ambil aldo hentikan kebohongan elo." Ucap Chelsea pedas. " bahagia, coba lo tanya david bahagia ngak? apa lo ngak tau hati david hanya untuk siapa? terus..Dres..nya gak cocok dipakai elo!! gue ajah nyesel pake tuh dres. berhenti plagiatin gue! dan sekarang lo tau ngak kalo dres ini yang lo pake itu jadi lap di dapur gue, karena udah gue buang, pungut ajah ! ngak usah jahit baju sama. Dasar Plagiat."
Rani mendengus kesal. Tapi ia tetap mengejek Chelsea dengan tatapannya.
Rani mendelik mendengarnya, melihat seksama dres yang ia pakai terasa perfect. " chel.." Rani melihatkan kilauan berlian dijari manisnya. Memamerkan statusnya menjadi pemilik David.
" Look.." Ejek Rani.
Chelsea senyum. Ia mengacungi jempolnya. " good job.." Chelsea meninggalkan Rani dan berjalan tegas menuju arah poli mata milik dokter Ilham. Sule diam ia hanya mengikuti kembali langkah chelsea menuju poli dokter Ilham.
Chelsea udah ngak mau lagi memikirkan lagi Rani ataupun David. Kalau sajah ia meminta pada tuhan hari ini, ia minta hari ini tidak dipertemukan dengan kedua orang itu. Atau jika ia bisa minta untuk menghilang mungkin ia akan meminta untuk menghilang dari orang-orang yang menyakitkan hatinya.
" le, sori...gue ikut magang dulu di klinik dokter ilham ya, beliin gue tiket 2, skalian lo, sama feby. tapi kalo gue gagal ngajakin dokter. gue brangkat sendiri.."
" siap , non. "
"le, lo jangan cerita ke orang - orang, ya. plis. cuman lo yang tau kelakuan rani kayak gtu, gue udah kesel banget sama tuh orang. ni uang buat lo makan, ini tip dari gue buat jaga rahasia hari ini."
" yaelah..lo, kayak ma siapa ajah. daridulu kan gue bilang cari pacar lagi supaya ngak diledek rani."
" bukannya lo suka sama rani?"
" suka sih suka, kalo kelakuan gitu ogah, cari ajah nanti kalo gue udah jadi dokter sungguhan si rani yang ada minta gue jadi pacarnya, baru tunangan doang mah cetek! bisa dibuang kapan ajah, jangankan tunangan, yang merit ajah banyak yang cerei."
" bisa ajah ,lo. dah sana pergi.."
***
Sudah Hampir Pukul 4 sore.
Chelsea masih membenahkan berkas diruang dokter ilham, Praktek hari ini sudah selesai.
" Tidak Istirahat?"
Chelsea menggeleng. Ia masih berusaha senyaman mungkin dengan catatan diagnosa pasien yang ia pelajari.
Sudah hampir sore Chelsea membantu dokter Ilham dan ikut visit kedalam rumah sakit untuk mengetahui diagnose dan perawatan pasien yang habis operasi mata. Ia belum sempat makan di waktu istirahat karena ia tidak mau datang ke kantin di belakang rumah sakit. Chelsea menghindari dua orang sekarang. Yaitu David dan Rani. Ia tau jika David masih sama sepertinya membantu prof dirumah sakit dan bahkan sekarang David sudah mulai ikut operasi bedah saraf.
" kamu belum makan, Chel?." Tanya Ilham.
Chelsea mengangguk.
" kita makan di café jauh dari rumah sakit. Apa kamu bersedia? Saya tahu berita hari ini."
" Berita apa?" Tanya Chelsea singkat. Menatap wajah Ilham yang ramah. " Dokter tau, berita apa hari ini?"desaknya lewat mata sayu milik chelsea.
" oh. Sudahlah, mari saya tunggu di parkiran." Tegas Ilham Singkat. Ia berjalan keluar dari ruangan miliknya. " yuk, perut saya keroncongan, nanti kena maag lagi."
" Tapi mobil saya gimana?" Kejar Chelsea.
Ilham masih berfikir. Dan manggut. Chelsea masih menanti jawaban dari ilham. Ilham menghentikan langkahnya sebentar melihat wajah chelsea yang serius.
" Apa setelah makan kamu mau langsung pulang?" Tanya ilham kembali melihat raut wajah Chelsea yang ayu.
Chelsea mengeleng.
" Baiklah. Kita berangkat! Saya antar lagi kamu ke rumah sakit."
" tapi sebenarnya hari ini saya ada acara."
" oh, ya. kita kan sudah beres praktik. tinggal dokter Firman yang ganti."
Ilham keluar terlebih dulu, meninggalkan Chelsea untuk merapikan berkas bahan skripsinya.
" Saya tunggu di lobby."
" jangan di lobby, di parkiran saja. ngak enak nanti kalau banyak yang lihat."
Kembali Chelsea mengangguk dan menyimpan map di meja ruangan ilham. Menaruhnya dan membuka jas putih miliknya, menggantungnya diruangan ilham. Ia berjalan keparkiran basement melihat Ilham yang masih menunggu dirinya. dengan ponsel yang menempel menerima panggilan dan bercanda ditelepon dengan rekan sejawatnya.
" oke , bro. udah dulu. ya.."
***
Selama perjalanan chelsea hanya terdiam, ia tak banyak kata - kata sesekali ia menutup mata lelahnya. berusaha santai dengan pikirannya.
Ilham sesekali tersenyum kearahnya.
" istirahatlah.."
" maaf, dok.."
" santai saja, kamu kekurangan gula hari ini. makanya senyum kamu ngak manis."
" wah, dokter bisa ajah. udah berapa korban yang kena rayuan gombal dokter?"
" gombal?"
Chelsea mengangguk.
Ha..ha..haaaa
Ilham tertawa. " Gombal, Ck..! pantas saja banyak orang yang baper, ya.."
"ya, itu kan kata - kata rayuan, dok."
" astaga, aku ini liat sesuai kenyataan. saya ngak pernah gombal. justru saya baru tau kalau kalimat ini termasuk kata gombal."
" emang ngak pernah pacaran, dok."
" Hmm, ngak pernah."
" mustahil."
Ilham mengangguk.
" oke, ngak pernah pacaran, tapi tanpa status..?"chelsea mendesak. " hayoo.."
Ilham menggeleng juga.
" waw.. sesuatu lebih buruk lagi, chelsea."
Chelesa kaget.
" apa kalian sudah hidup bersama."
Ilham melotot.
" astaga.., kok bisa kepikiran kesitu, sih."
" ngak percaya, sekelas dokter. keren, sukses, ngak mungkin ngak pernah pacaran atau suka sama orang."
" oke, jujur aku pernah suka orang itu, tapi gagal. wanita itu sudah keburu dilamar orang. dulu teman SMU ketemu pas kita sama- sama ke bandung reuni. jalani komunikasi hanya via telp. tapi saya ngak pernah datang karena saat itu aku kuliah padat, dan kamu tau calon dokter seperti apa, siang malam hanya ditemani buku, dan apalah jurnal dan sebagainya.., mungkin dia lelah. stelah lama tidak komunikasi ia sudah dilamar dan sedang mempersiapkan pernikahannya."
" We..LL.."
" saya pasrah, bukan jodoh. dan memang saat itu ngak memungkinkan untuk pacaran, jadi lebih fokus ajah sama gelar dan tujuan hidup saya jadi dokter."
" tapi tetep patah hati kan?"
Chelsea meledek dengan wajahnya.
Ilham mengangguk. " Yess, manusiawi. "
Jalanan Jakarta padat di sore hari. Sore ini Ilham membawa Chelsea masuk kedalam mall mewah dan makan di café mall. Ia memarkirkan Mobilnya menuju parkiran basement.
" kita makannya jauh juga, ya..apa karena keasikan ngobrol?"
Chelsea terkejut. Ia tidak tahu kalau Ilham menculiknya hingga sejauh ini.
" Saya kira makan di café jalan saja. Ada tempat favorite saya dok." Jelas Chelsea tadinya mau menunjukan tempat miliknya.
"Panggil saya Ilham saja. sekarang bukan dipoli lagi." Ucap Ilham serius memarkirkan mobil miliknya secara tepat, supaya tidak mengganggu mobil disampingnya ketika membuka pintu. Matanya masih melirik arah spion kanan miliknya dan menengok lagi ke belakang.
Chelsea mengeleng.
" Saya tidak bisa. kalo hanya panggil nama saja, bukankah usia kita jauh ya, harus lebih menghormati.."
" Itu hanya untuk di sekitar rumah sakit saja. Bukan diluar. Mengerti?" Ucapnya Santai tanpa melihat wajah chelsea.
Chelsea mengangguk.
"oke."
Ilham Meliriknya dan senyum.
Drrrrrrrrrrdrrr
Ponsel disaku Chelsea bergetar. Ia meronggohnya mengambil ponsel dari celana bahan warna caramel dengan kemeja cream .
Ilham Mematikan Mobilnya, menunggu Chelsea beres dengan teleponya. Ia melirik kemeja Chelsea, lalu senyum. hari ini entah kebetulan atau memang Chelsea menyukai warna yang sama dengan Ilham. mereka tampil kompak dengan warna yang sama. Kemeja yang dipakai dokter ilham hari ini adalah cream.
" ya hallo, kenapa le?" Jawab Chelsea
" Dimana lo." Tanya sule dari balik telepon. " jadi nonton gak?" Tambahnya.
" Elo dimana?" Tanya kembali Chelsea sambil mengambil tas miliknya dan secepatnya membuka pintu.
" Lah_kok. Malah elo yang tanya balik. Jelas gue di mall sama feby. Gue di mall Casablanca."
" Ok. Siap ke TKP.'' Jawab Chelsea." Beneran nih.. gue meluncur menuju TKP." Cetusnya singkat, melihat Dokter Ilham sudah senyum melihatnya dan menunjukan jam tangan miliknya karena jatah makannya sudah terlewat.
" Bener..lo."
" Bener ule, gue sama dokter ilham mau makan dulu. Atau elo mau makan lagi bareng kita." Ajak Chelsea. Mencoba mendengarkan jawaban dari Ule.
Ilham melirik. Chelsea membalas senyum.
" Gak usah lah, gue gak mau ganggu date elo." Ucap sule terdengar keras dari seberang sana hingga telinga dokter ilham.
" Sialan!. Siapa bilang gue ngedate. Orang makan." Jelas Chelsea melihat wajah Ilham yang kini senyum senyum. Ia langsung saja membuka pintu mobil reflaks. " Asal ajah lo!"
"gue kenyang, chel.." Jawab Sule dari ponsel Chelsea.
" Sejak kapan elo nolak makanan. Beneran gue serius. Gue traktir." Chelsea meledek sambil berjalan menghampiri Dokter Ilham yang sudah menunggunya untuk secepatnya jalan kearah pintu masuk.
"cieee..mau rayain.."Ledek Sule menyembur dari ponsel miliknya.
Husss..husss
Mata Chelsea membelak kearah dokter Ilham secepatnya, supaya ucapan Sule tidak membuatnya tersinggung.
" Maaf, Ya... dok."
Chelsea langsung menutup ponsel miliknya seketika takut obrolan Sule maracau lagi kemana-mana, dan malah tidak enak didengar sama dokter ilham.
Ilham Mengangguk Lalu senyum mempersilahkan Chelsea berjalan menuju Lift terlebih dahulu.
TING.
Suara Lift terbuka.
Beberapa detik mereka tiba di lantai yang dituju. Mencari tempat makan di caffe. Ilham langsung menuntun tegas Chelsea. Chelsea terkejut. jemarinya di genggam erat oleh Ilham. Ia melihat gengaman dan berjalan.
Ilham melepaskannya.
" Maaf! saya takut kamu hilang." Ucap Ilham spontan. "Ta..., tadi." Tambahnya tidak bisa lagi bicara. "maaf." Ia malu.
Chelsea senyum. Ia tidak marah jika tadi Ilham menggengamnya tanpa alasan. Sekarang malah chelsea balas menuntunnya menuju tempat makan kesukaanya.
Ilham tersenyum. Mengembangkan bibirnya yang manis dan wajah yang bersih, berjalan menuruti langkah kaki chelsea.
Sedetik Ilham menghipnotis Chelsea. Ia kembali senyum untuk pertam kalinya terasa hilang bebannya. Ilham melirik Cafee yang dimasuki Chelsea, kembali ia senyum lagi. Serasa dirinya anak muda yang baru pertama kali kencan. dengan wajah yang mulai berubah warna. Hingga beberapa kali ia berdehem untuk menghilangkan rasa Grogi miliknya dan debaran jantung yang kuat.
Mereka langsung duduk dan dihampiri pelayan restoran.
" Ayo kita pesan. Saya lapar sekali..dok." Ajak chelsea ketempat makan yang ia sukai.
Ilham langsung melotot.
" Ups..iya, iya ilham." Jelasnya.
Chelsea tertawa dan melihatkan senyum termanisnya untuk Ilham. Dan berusaha mati-matian melupakan kejadian semalam dan mengharap semua mimpi buruk itu tidak pernah terjadi. Ia berusaha menghibur dirinya kali ini.
Mereka duduk saling berhadapan.
Satu pesanan milik Chelsea datang. Satu gelas milkyshake dengan toping eskrim lembut membelai lidahnya. Dan kopi hitam dengan creme yang penuh foam pesanan Ilham.
" Ternyata selera kita sama, ya.." Ucap chelsea melihat kopi creamy yang penuh foam lembut.
" oh, creamy maksudnya. Ya..saya suka kopi tapi tidak pahit. Seperti orang lain. padahal itu tidak baik ya buat kesehatan. tapi sesekali bolehlah kita meminum nya." Jelas Ilham. " Tapi jujur sebenarnya saya takut diabetes." Ucapnya malu.
Mereka makan dan mengobrol begitu saja, saling bercerita pasien yang berada di poli tadi siang.
______
1 jam sudah.
Drrrrrr..Drrrrrrrr.drrrrrrr
Sule kembali menelpon. Chelsea melihatnya diatas meja sebuah panggilan diponsel miliknya.
" Sebentar, saya angkat telpon dulu."
Ilham mengangguk.
" Ada apa, le..?"
" Bentar lagi mulai non."
" Oke siip, otw ya.."
Sule kembali memberitahukan lagi jam bioskopnya akan segera dimulai 10 menit lagi. Chelsea Asik ngobrol ngalur-ngidul sama Ilham yang membuat dirinya nyaman. Ada Zona dimana Chelsea merasakan kenyamanan jika dekat Ilham. Ia tidak takut pada Ilham ketibang dekat dengan william. Orang yang ditaksirnya semasa SMA.
dahulu william pernah sengaja masuk kedalam tenda milik chelsea sewaktu masa orientasi pertamanya dan hiking ke gunung. Untung saja David mendengar. jika tidak chelsea akan kehilangan harta berharga dirinya sebagai wanita. Dan itu point terbesar rasa jijik pada William.
Chelsea membandingkannya. Chelsea merasa nyaman dengan Ilham.
Ilham lebih dewasa dan lebih mengerti Chelsea. Ia tidak terlalu egois memaksa keinginan kehendak dirinya. Dan membuat dirinya terlindungi. meskipun chelsea mengajaknya kali ini untuk melupakan david, tapi langkah ini lebih baik daripada terpuruk pada perasaan yang tidak pernah mau menlangkah dari david.
" kenapa, chel? kamu ada janji?
" seperti tadi yang saya bilang, kalo hari ini saya mau nonton bareng temen- temen. tiket kami sudah pesan."
" terus, nonton saja. gak pa-pa, kalau boleh saya tungguin kamu nonton. kamu boleh pergi.."
" bukan itu, dok..eh maksudnya ilham mau ikut kita nonton, ngak?" ucapnya malu setengah mati
Ilham melongo.
" kamu ngajak saya nonton? okeh, baik.., boleh."
Chelsea senyum ngak percaya. ternyata segampang itu ngajakin dokter ilham nonton.
" Jadi kamu setuju jika saya ajak nonton?" Ucap Chelsea tidak percaya. " Apakah tidak ada praktek lagi?" Tanya kembali.
Ilham mengeleng.
" oke kalau begitu. Kita nonton, film nya bagus lho. Saya suka..."Ajak Chelsea tidak ragu.
" film Apa?"
" Romantis." Jawab Chelsea langsung di depan wajah ilham. " hihi..hi..boong, saya tidak suka film Romantis kok! Mana mau sule nonton itu. Malam ini saya mau liat film perang hehe.." ledeknya.
Ilham tersenyum.
' ayo nanti keburu mulai filmnya, Nanti Sule tambah marah sama saya." tambah Chelsea hangat.
Mereka melangkahkan kakinya, menuju bioskop. Tiba-tiba sifat Chelsea sudah tidak canggung dan mulai akrab dengan ilham. Ia mulai bercerita tingkat kesulitannya dalam belajar. Dan nanti setelah ia lulus menanyakan benarkah dirinya bisa menjadi dokter yang profesional.
"chel.." Tanya Ilham.
" ya.." Chelsea mendongkak karena ilham lebih tinggi darinya.
Chelsea hanya senyum dan berjalan santai.
Mereka masih berjalan menuju arah bioskop. Menatap orang-orang lalu lalang dengan keluarga dan anak mereka. Ilham melihat sebuah keluarga kecil muda dan bahagia. Lalu menatap Chelsea.
"chelsea.." panggil kembali ilham.
" Hmm." Chelsea melirik wajah Ilham.
" jangan bahas pekerjaan." Ucap Ilham.
" Oh." Balasnya. Chelsea mengiyakan kata-kata Ilham. Yang lebih tua darinya enam tahun. "Baiklah."
" Maksud saya, ceritakan keinginan terbesar kamu, siapa kamu, keluarga kamu. Dan tipe cowo kamu." Jelas Ilham mengintip informasi. " Ah..maksudnya yang penting bukan pekerjaan."
Ilham menyadari selama ini ia telah melewatkan banyak waktu yang terbuang. Dan masa muda yang ia habiskan hanya dengan berkutat dengan buku tebal dan konsentrasi jurusan.
Dahulu Mimpinya terbesar adalah pergi nonton bioskop dengan seseorang. kini mimpinya menjadi kenyataan.
Ilham Senyum, ia ingat biasanya nonton hanya dirumah saja. Itupun jika ia memiliki waktu luang. biasanya waktu luang ia selalu habiskan juga dirumah sakit. Dan Jurnal miliknya.
" Saya tidak habis pikir, akhirnya pergi juga kebioskop." Gumamnya tanpa disadari Chelsea.
Chelsea tertawa keras.
Haha..ha
Ilham mengernyit.
apa tadi chelsea mendengar apa yang saya gumamkan? Tanya dalam hati.
" Ah, nanti juga kamu tau siapa saya. Sudahlah..., kita harus cepat, nanti Sule marah!." Ucapnya mengalihkan pembicaraan yang membuat chelsea mulai tidak enak.
" Siapa Sule?" Tanya Ilham kembali penasaran. Daritadi Chelsea menyebutkan nama Sule.
" Sule itu teman dekat saya. Sule dan Feby adalah orang yang selalu membuat saya tertawa. Dan sekarang Kamu, thanks ya?"
Chelsea berterima kasih. Hari ini ia tidak dibuat murung. Meski dalam hatinya sedang bergolak menerima kenyataan David bertunangan dengan Rani. dan kakek yang membuatnya tersiksa dengan meminta chelsea makan malam bersama.
Ilham mengangguk.
Hari ini bagi Ilham hari yang membuat dirinya pertama kali merasakan seolah berkencan, makan, lalu nonton ke bioskop, dan setelah itu mengantar chelsea kerumahnya. Pikirnya.
Tapi Ilham malah senyum samar. Ia kembali berfikir ini terlalu singkat dan cepat untuk membuat chelsea memilihnya. Sedangkan Ilham tahu persis siapa yang ada dihati Chelsea.
"Chelsea berlari kecil menuju depan pintu masuk bioskop yang sudah ditunggu Sule kesal.
" Maaf ya. Le.." Bujuk Chelsea mengusap bahu Sule dengan senyuman miliknya.
" lama banget sih ,lo." Bentak Sule. Ia kesal tapi kembali senyum karena melihat wajah Ilham
Chelsea berkedip pada Sule. Bahwa Ia tidak sendirian dan hadir dengan Dokter Ilham.
" Oh. Maaf. kenalkan ini Dokter Ilham. Dokter Ilham ini Yang namanya, Sule. Teman saya."
Ilham menjabat tangan Sule yang tiba-tiba menjadi pendiam.
" Sebenarnya sih, namanya itu Sumitra Lesmana, Disingkat Gituh deh, eeh malah jadi beken benerkan?" Ucap Chelsea. Ia melihat raut wajah sule merah dan malu. " Oh..ini kenalkan teman saya lagi, namanya Feby. "
Ilham kembali menyalami Feby.
" Feby." Balas Feby malu dan bergegas masuk menyeret Sule dan berbsik-bisik. " Chelsea itu ya.." Raut wajah Feby mulai sedih.
Sule kembali ikut berbisik. " kenapa?"
" Dapat cowo ganteng mulu." Ringis Feby Iri.
Mereka berbisik bisik tapi terdengar jelas oleh Chelsea dan hampir neloyor kepala mereka, ia hanya bisa menatap malu pada Ilham.
Ilham merah. Rona wajahnya berubah seketika. Ia tidak lagi banyak bicara selain berjalan mengikuti langkah Chelsea dengan senyuman yang mengembang disudut bibirnya dengan rasa penuh tidak percaya.
***