bc

CEO IBLIS, KONTRAK 99 MALAM

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
dark
HE
curse
decisive
mafia
heir/heiress
drama
bxg
serious
kicking
bold
city
mythology
lies
surrender
like
intro-logo
Blurb

Aira terpaksa dijodohkan dengan Arka Maheswara, CEO muda paling dingin dan ditakuti di Jakarta. Sejak awal pernikahan, Aira merasakan ada yang aneh. Saat ijab kabul diucapkan, Aira baru tahu kebenaran mengerikan: suaminya bukan manusia. Dia adalah Iblis.

Arka mengajukan kontrak darah. Aira harus tinggal bersamanya selama 99 malam di penthouse mewahnya. Jika gagal, jiwa Aira akan menjadi milik Arka selamanya. Awalnya Aira hanya takut. Arka memperlakukannya dingin, mengurungnya, dan setiap malam meninggalkan tanda hitam di leher Aira setiap kali menciumnya.

Seiring waktu, batas antara takut dan tergoda mulai kabur. Aira menemukan sisi lain Arka yang rapuh karena trauma masa lalunya sebagai Iblis yang dikutuk. Muncul pula Liana, mantan kekasih Arka dari dunia iblis yang tidak terima dan terus berusaha membunuh Aira.

Konflik puncak terjadi di malam ke-90. Liana berhasil menculik ibu Aira dan mengancam akan mengorbankan jiwanya jika Aira tidak menyerahkan diri. Aira rela. Namun Arka yang sudah jatuh cinta pada Aira akhirnya melawan kodratnya sebagai Iblis demi menyelamatkan Aira.

Di malam ke-99, kontrak berakhir. Arka memberikan Aira pilihan: pergi dan hidup normal, atau tetap tinggal dan menerima Arka apa adanya. Aira memilih cinta. Arka memutus kontrak darahnya dan memilih menjadi manusia demi Aira. Mereka menikah secara sah dan hidup bersama, melawan semua kutukan.

chap-preview
Free preview
IJAB KABUL DENGAN IBLIS
Aroma melati bercampur darah kering. Itu hal pertama yang Aira cium saat cadar putih menutup wajahnya. Cadar itu kasar. Menusuk kulit pipinya. Baunya bukan wangi pengantin baru. Tapi bau lemari tua yang dikunci puluhan tahun. Bau apek. Bau kematian. Tangannya gemetar di atas mushaf. Dingin. Berat. Seberat hidupnya malam ini. Di depannya, seorang pria tua dengan sorban lusuh melantunkan ijab. Suaranya bergetar. Entah karena tua, atau karena takut pada pria di samping Aira. Di sampingnya, bayangan tinggi. Diam. Nggak ada napas. Nggak ada suara. Hanya ada bau tembakau mahal yang dingin. Bau yang sama seperti ruang mayat di rumah sakit. "Saya terima nikahnya Aira Maheswari binti Wijaya dengan mas kawin sebidang tanah dan pelunasan utang sebesar 12 miliar rupiah, dibayar tunai." 12 miliar. Angka itu menggema di kepala Aira. 12 miliar. Harga satu nyawa Aira. Harga satu rumah petak di pinggiran Jakarta yang atapnya bocor tiap hujan. Rumah itu warisan almarhum ibunya. Satu-satunya tempat Aira punya kenangan. Dapur kecil tempat ibunya ngajarin dia masak telur. Ruang tamu tempat ibunya baca dongeng. Besok pagi, rentenir akan datang dengan golok dan surat sita. Bapaknya menangis semalam. Berlutut di kaki Aira. "Nak tolong Bapak. Sekali ini aja. Nikah sama dia. Dia CEO. Dia bisa bayar semua." "Tapi Pak, aku nggak kenal dia". "Nggak perlu kenal...!!!" . Bentak bapaknya. Mata merah. Uratnya menonjol. "Yang penting utang lunas. Kamu anak durhaka kalau nolak. Bapak bisa mati kalau nggak bayar." Aira kalah. Selalu kalah sama bapaknya. Sejak ibu meninggal lima tahun lalu. Sejak bapaknya kecanduan judi online. "Sah." Satu kata dari penghulu itu seperti palu godam. Dunia Aira retak. Berantakan. Dia nggak boleh nangis. Bapaknya bilang, Tersenyum. Dia CEO. Dia nggak suka air mata. Nanti utangnya nggak dilunasin. Tapi CEO siapa. Aira nggak dikasih liat foto. Nggak dikasih tau nama. Nggak ada lamaran. Nggak ada cincin tunangan. Nggak ada kencan. Cuma satu amplop cokelat yang dilempar ke meja bapaknya tiga hari lalu. Isinya, satu kertas. Satu syarat. Ijab kabul malam ini. Jam 12 malam. Di vila tua daerah Puncak. Tanpa tamu. Tanpa keluarga pengantin pria. Anonim. Mengerikan. Seperti beli manusia di pasar gelap. Tangan dingin dan besar menggenggam tangan Aira saat tanda tangan. Kulitnya kering. Seperti kertas. Seperti tangan mayat. Cincin platinum yang dingin seperti es melingkar di jari manisnya. Terlalu besar. Terlalu berat. Terlalu posesif. Seakan cincin itu mau memotong jarinya. Menandainya. Dia nggak bicara sepatah kata pun, pikir Aira sambil menatap lantai. Hanya napasnya. Berat. Panas. Menghantam ubun-ubun Aira lewat cadar. Seperti napas binatang buas yang menahan lapar. Menahan ingin menerkam. Flashback menyerang. Tiga tahun lalu. Aira kuliah semester 4. Jurusan Sastra. IPK 3.8. Dia punya mimpi. Jadi penulis. Nikah karena cinta. Punya rumah kecil dengan pagar putih. Punya kucing. Sekarang. Dia dijual. Dijual bapaknya sendiri demi uang. Demi judi. Mobil hitam panjang model Maybach menjemputnya malam itu juga. Nopolnya hitam semua. Nggak ada angka. Seperti mobil hantu. Tanpa koper. Tanpa salam perpisahan dari bapaknya. Bapaknya cuma ngelap keringat dan bilang, "Udah. Pergi. Jangan bikin malu." Hanya satu kalimat dari sopir bertubuh kekar dan berkepala botak, "Nyonya. Tuan sudah menunggu di Penthouse", Suaranya datar. Tanpa emosi. Seperti robot. Perjalanan dua jam ke Jakarta terasa seperti ke neraka. Aira menatap keluar jendela. Kota mati. Jalanan sepi. Hanya ada kabut. Penthouse lantai 99. Gedung Blackthorn Tower. Gedung tertinggi di Jakarta Selatan. Hitam. Kaca semua. Seperti menara iblis. Milik seseorang yang namanya nggak pernah muncul di Forbes, nggak pernah di i********:, tapi semua pengusaha besar takut menyebutnya. "Blackthorn". Nama keluarga itu berbisik di pasar gelap. Jangan main-main dengan Blackthorn. Dia beli perusahaan, bukan ngebangun. Dia beli nyawa. Pintu besi setebal 30cm terbuka dengan suara hidrolik. Ssshiiing. Apartemennya gelap gulita. Luasss banget. 500 meter persegi. Kosong. Hanya ada gema langkah kaki. Hanya ada lampu kota Jakarta yang menembus kaca setinggi 10 meter dari lantai sampai plafon. Jakarta di bawah sana keliatan kecil. Seperti semut. Seperti dunia lain. Di tengah ruangan kosong itu, seorang pria berdiri membelakangi jendela. Jas hitam Tom Ford. Punggungnya lurus. Kaku. Seperti patung marmer. Nggak bergerak sedikit pun sejak Aira masuk. Jantung Aira mau copot. "Lepaskan cadar," suara itu terdengar. Berat. Rendah. Serak. Bukan suara manusia normal. Ada gema di dalamnya. Seperti suara berasal dari sumur yang dalam. Atau dari kuburan. Aira menelan ludah. Tenggorokannya kering. Jari-jarinya gemetar hebat saat menarik kain putih dari wajahnya. Pelan. Sangat pelan. Dia sudah siap melihat pria tua. Botak. Gemuk. Perut buncit. Giginya ompong. Itu yang dia doakan. Biar nggak terlalu sakit. Biar bisa dia tahan. Tapi yang berbalik menghadapnya adalah iblis. Tampan. Terlalu tampan sampai menyakitkan untuk dilihat. Rahang tegas seperti dipahat Tuhan. Bibir tipis tanpa warna. Kulit sepucat mayat yang belum dikubur. Rambut hitam berantakan tapi mahal. Jasnya pas di badan setinggi 190cm itu. Dia model. Dia patung. Dia dosa. Tapi matanya. Merah. Bukan merah karena kurang tidur. Merah seperti bara api neraka. Merah seperti darah yang belum kering di pisau. Mata itu menatap Aira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lama. Diam. Seperti menilai kuda yang baru dibeli di pasar. Menilai gigi, umur, dan harganya. Aira mundur selangkah. Refleks. Punggungnya mentok ke pintu besi yang dingin. Pria itu maju. Satu langkah. Suara sepatu kulitnya Tak. Menggema di ruangan kosong. Dua langkah. Tak. Sampai jarak mereka hanya sedepa. Aira bisa ngitung bulu matanya. Panjang. Hitam. Tapi mata di baliknya kosong. Mati. Bau tembakau, besi karat, dan sesuatu yang busuk manis menyergap hidung Aira. Bau darah. Bau kuburan. Jari panjangnya terangkat. Kuku hitam. Mengangkat dagu Aira. Paksa. Dingin. Sakit. Aira nggak bisa menoleh. "Namamu Aira," bisiknya. Napasnya dingin. "Anak dari Wijaya yang punya utang 12 miliar ke keluargaku". Aira mengangguk. Air matanya jatuh. Nggak bisa bicara. "Dia jual kamu murah," lanjutnya. Jempol kasarnya mengusap bibir bawah Aira. Kasar. Hingga bibirnya perih. "12 miliar untuk keperawanan dan nyawa anaknya. Murah". Jantung Aira copot. Hancur. "Tapi aku nggak butuh status istrimu." "Aku..." Aira berbisik. "Aku butuh kontrakmu". "Kontrak...?". Suara Aira pecah seperti kaca. Pria itu tersenyum. Sangat pelan. Dan saat dia senyum, taringnya terlihat. Sedikit. Runcing. Putih. Bukan taring manusia. "99 malam", katanya. Suaranya seperti mantra. "99 malam kamu tidur di ranjangku. Di istanaku. Tanpa kabur. Tanpa mati. Tanpa berdoa pada Tuhanmu". "Dan sebagai gantinya...?". Aira bertanya dengan sisa keberanian. "Aku hapus utang bapakmu. Lunas. Sekarang juga." Dia menunduk. Napas dinginnya menghantam telinga Aira. Membuat bulu kuduknya berdiri. "Aku kasih kamu hidup. Rumah. Makanan. Keamanan." Aira menatapnya. Bingung. Takut. "Tapi kenapa saya ? Banyak wanita lain cantik kaya...." Reynard tertawa. Pendek. Tanpa suara. "Karena darahmu." Darahmu wangi. Wangi melati. Wangi yang sama seperti istriku 200 tahun lalu." Jantung Aira copot. "Kamu punya istri...? "Punya." Wajah Reynard berubah. Gelap. Marah. "Dan dia mengkhianatiku". "Dia yang bakar aku. Dia yang panggil pendeta itu." Tangannya mencengkeram bahu Aira. Sakit. "Jadi jangan pernah khianati aku, Aira. Atau kamu akan mati lebih sakit dari dia." Aira menangis. "Saya tidak akan. Saya janji". "Bagus." Dia lepaskan bahunya. Jeda. "Tapi kalau kamu lari di malam ke-50. Kalau kamu mati sebelum 99 malam. Jiwamu jadi milikku. Selamanya. Di neraka bersamaku". Aira mau teriak. Mau lari. Mau pingsan. Tapi tubuhnya kaku. Seperti dipaku. Tiba-tiba, Klik. Pintu besi di belakangnya terkunci sendiri. Tanpa ada yang sentuh. Aira tersentak. Menoleh. "Nama aku Reynard Blackthorn." Dia berjalan ke bar. Punggungnya lagi-lagi menghadap Aira. Menuang cairan merah kental ke gelas kristal. Bukan wine. Terlalu kental. Terlalu gelap. "CEO Blackthorn Group." "Aku penguasa setengah kota ini'. Dia mengangkat gelas. Memutarnya. Dan mulai malam ini. Dia menoleh perlahan. Mata merahnya menyala di kegelapan. Seperti dua bara api. "Selamat datang di nerakamu, Istri." Gelas kristal itu dilemparnya ke dinding marmer putih. Prak. Pecah berkeping-keping. Cairan merah itu mengalir di lantai. Seperti darah. Banyak. Aira menjerit. Tapi nggak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terkunci. Karena di belakang Reynard, di dinding. Bayangannya bergerak sendiri. Bayangan itu punya tanduk. Besar. Melengkung. Dan sayap. Sayap kelelawar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
818.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
379.0K
bc

Not just, the Beta

read
360.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook