BAB 6

2143 Words
“Setelah makan siang, Yang Mulia berkenan memenuhi permintaan anda, Nona. Jadi, Nona bisa bersantai sejenak bersama Yang Mulia,” ucap Hera ketika Ellie berjalan mengekorinya di belakang menuju ruang makan untuk makan siang. “Baiklah,” tanggap Ellie sebelum bertanya, “di mana kami akan bersantai?” “Di ruang kerja Yang Mulia, Nona.” Ellie sedikit melotot, terkejut. “Apa?” “Di ruang kerja beliau. Sepertinya siang ini akan turun salju, jadi tidak mungkin bagi kalian untuk bersantai di taman bunga.” “Baiklah,” desah Ellie belum apa-apa sudah gugup. Sebaiknya, Ellie harus segera mengendalikan perasaan gugupnya agar tidak terasa canggung bertemu dengan Eugene. Ellie sudah tahu Eugene tidak seperti yang dirumorkan. Tak perlu ada alasan baginya untuk merasa gugup dan takut. Ketika Ellie memasuki ruang makan, Eugene sudah duduk di kursi ujung meja. Kali ini berbeda dari sarapan tadi pagi, makanan sudah terhidang rapi di meja. Ellie sampai takjub karena wangi hidangan menyeruak masuk ke dalam hidungnya tepat setelah pintu ruang makan dibuka. Sementara, Eugene tidak menyentuh hidangannya meski sudah siap menyantapnya. Pria itu seolah menunggu kedatangan Ellie hingga membuat Ellie merasa sedikit bersalah karena terkesan menghambat makan siang Eugene. “Kudengar kau ingin menemuiku?” tanya Eugene setelah Ellie menduduki kursinya. Ellie menoleh. “Benar, Yang Mulia. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya atas bantuan anda.” “Baiklah. Kau bisa menemuiku setelah makan siang.” “Baik, Yang Mulia.” Dengan begitu, makan siang dimulai. Sama seperti ketika sarapan, makan siang kali ini diselimuti keheningan. Ellie tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun karena ketakutan yang tersisa pada Eugene masih ada. Lama-lama Ellie melirik Eugene yang makan dengan tenang di hadapannya. Kemudian, ia mendesah sepelan mungkin. Merasa menyedihkan pada dirinya sendiri yang sangat penakut. Padahal Eugene sudah banyak membantunya, tapi Ellie tetap tidak bisa menghilangkan rasa takut karena rumor tidak jelas. Detik ketika Ellie kembali melirik Eugene dan kembali mendesah, Ellie kehilangan fokusnya hingga garpu terjatuh dari genggamannya. Suara garpu beradu dengan piring mengejutkan seisi ruang makan. Eugene, Charles, dan Hera langsung menoleh menatap Ellie yang terkejut sendiri dengan sikapnya. “Ada apa?” tanya Eugene menatap Ellie yang kikuk dan spontan menunduk berkali-kali meminta maaf. “Tidak apa, kau tak perlu minta maaf.” Ellie menghela napas pendek seiring mengangkat kepalanya. “Maafkan saya. Saya sedikit tidak fokus.” “Ada yang sakit?” tanya Eugene kini menajamkan sorot matanya melirik Charles dan Hera yang berada di dekat Ellie. “Tidak ada. Saya baik-baik saja, Yang Mulia,” Ellie menundukkan kepala sejenak. “Anda bisa kembali melanjutkan makan siang anda. Maaf atas kecerobohan saya.” Eugene menghela napas. “Jika dipikirkan kembali, seharusnya kau tidak makan daging sekarang.” Dalam sekejap, Charles maju menunduk pada Eugene. “Saya akan mengambilkan makanan yang lebih mudah dimakan.” katanya kemudian berlalu pergi sebelum Ellie sempat protes. “Tunggu, saya sungguh baik-baik saja, Yang Mulia!” kata Ellie dengan mata membulat terkejut. “Sudahlah. Ini demi kesehatanmu.” Ah, Ellie jadi ingin menangis sekarang. Bagaimana bisa ia masih takut pada Eugene yang sudah menolongnya sejauh ini. Ellie ingin mengutuk dirinya sendiri karena sudah keterlaluan pada Eugene. Oh, lihatlah, bahkan Eugene tidak kembali melanjutkan makan siangnya. Ellie sungguh menghambat. Eugene tidak masalah bila ada sesuatu yang menghambatnya ketika sedang makan. Lagi pula, dari awal ia bukan tipe orang yang rajin mengikuti jadwal makan. Bila tidak ada Ellie, sekarang Eugene bekerja di ruang kerjanya seharian tanpa memikirkan jadwal makannya sendiri. Melihat kini ia mengikuti jadwal makannya karena ada Ellie membuat para pelayan bernapas lega. Sudah kalang kabut mereka memikirkan cara agar tuan mereka sehat. Ya, Eugene tidak terganggu karena Ellie. Ellie pasti tidak memikirkan hal sejauh itu, ‘kan? “Nona, ada apa?” Eugene spontan menatap Ellie, matanya sedikit membulat melihat gadis itu menunduk dengan air mata mengalir keluar dari bola mata birunya. Selanjutnya, tanpa Eugene sadari, ia bangkit dan melangkah mendekat pada Ellie. Ia bersimpuh satu kaki di samping kursi Ellie, tangannya menjulur mengusap air mata gadis itu. Charles yang baru datang membawa makanan Ellie langsung terbelalak melihat Eugene menundukkan diri di depan Ellie. Begitu pula Hera yang sudah tak habis pikir dengan sikap tuannya yang semakin aneh. “Kenapa?” tanya Eugene sembari menyeka air mata Ellie. Ellie terkejut dengan sentuhan jemari kasar Eugene, pun air matanya tidak kunjung berhenti. Ia menoleh pada Eugene dan semakin terkejut melihat pria itu bersimpuh di depannya yang duduk di kursi. “Yang Mulia…, maaf saya tidak seharusnya—“ “Apa yang kau bicarakan,” sahut Eugene segera memotong. Ia bangkit berdiri tanpa melepas tatapannya pada Ellie. Detik berikutnya, Eugene mendorong kursi Ellie mundur dari meja makan. Ia membungkukkan badan, dengan sekali gerakan tangan kanannya menyelip di belakang lutut kaki Ellie dan tangan kirinya memeluk punggung gadis tersebut. Tanpa bersusah payah, Eugene mengangkat tubuh Ellie membuat gadis itu terbelalak. Tubuh Eugene yang begitu tinggi membuat Ellie menyentuh pundak Eugene secara naluri agar tidak terjatuh. Wajah Ellie memerah melihat wajah Eugene begitu dekat dengannya. Cara menggendong Eugene membuat Ellie begitu tinggi melebihi kepala pria itu. Dan ini benar-benar memalukan bagi Ellie. “Yang Mulia…” gumam Ellie nyaris seperti berbisik. Eugene yang mendongak menatap wajah Ellie pun menyadari raut muka gadis itu sudah sangat memerah. “Sepertinya kau kelelahan, lebih baik kau memakan cemilan manis dan s**u saja.” “Tapi, kenapa anda sampai… menggendong saya?” “Karena kau masih terlihat sakit. Wajahmu memucat barusan,” jawab Eugene lalu menoleh pada Charles dan Hera. “Siapkan kue caramel dan camilan lainnya di ruang kerjaku.” Charles dan Hera kompak menunduk. “Baik, Yang Mulia.” Eugene menyamankan posisi Ellie dalam gendongannya. Secara otomatis Ellie melingkarkan lengannya pada pundak Eugene begitu saja. Wajahnya jadi semakin merah kala bertemu pandang dengan Charles dan Hera yang tersenyum padanya. “Yang Mulia, saya bisa jalan sendiri,” kata Ellie saat Eugene berbalik badan, hendak melangkah keluar. “Diam saja dan berpegangan.” balas Eugene tidak peduli sebelum kemudian melangkah keluar ruang makan. Siang itu, para pelayan dan ksatria sukses dibuat jantungan kala melihat Eugene berjalan sambil menggendong Ellie erat-erat. Pria itu bahkan tidak memedulikan sekitar, fokus berjalan begitu saja. Hal itu membuat para pelayan dan ksatria semakin yakin bahwa Ellie akan menjadi Grand Duchess dalam waktu dekat. Dan mereka bersyukur. *** Eugene menutup pintu setelah memasuki ruang kerjanya. Ellie mendesah lega, setelah ini ia akan turun dari gendongan Eugene dan tak perlu menahan malu lagi. Ia yakin pria itu pasti cukup lelah menggendongnya sepanjang jalan. Bila dilihat dari waktu tempuh dan lorong yang dilalui, jarak ruang makan dan ruang kerja Eugene sangat jauh. Belum lagi tangga yang harus dinaiki Eugene pasti membuat napasnya sempat habis barusan. Beberapa saat setelah pintu ditutup, Ellie sedikit mengerutkan kening karena Eugene tidak kunjung menurunkannya maupun menjauh dari pintu. Ia masih berdiri di dekat pintu. Tidak enak membuat Eugene semakin lelah, Ellie menegakkan punggung untuk menatap wajah Eugene. “Anda bisa menurunkan saya, Yang Mulia.” Eugene membalas tatapan Ellie tanpa bersuara. Dalam binar mata hijaunya, Ellie bisa menyimpulkan lelaki itu sama sekali tidak kelelahan. “Yang Mulia?” panggil Ellie kemudian. “Aneh,” kata Eugene tanpa melepas pandangan. “Ya?” “Kau sangat ringan seperti bulu.” Ellie tersenyum kikuk. “Ah, begitu…?” “Aku seperti memeluk boneka manusia.” Tanpa bisa dicegah, muka Ellie memerah kembali. “Anda bisa menurunkan saya sekarang.” Eugene mengerjap sejenak. “Apa tidak nyaman?” “Bukan seperti itu—“ “Ini pertama kalinya aku menggendong perempuan.” Ellie mengerjap. “Begitu kah?” “Semua yang ada pada dirimu begitu kecil. Apakah semua perempuan memang seperti ini?” Ellie menggeleng pelan, sedikit ragu-ragu juga. Ia tidak pernah bertemu sesama bangsawan lainnya, ia tidak tahu bagaimana figur mereka. “Sa—saya tidak tahu dengan perempuan bangsawan, tapi untuk perempuan biasa rata-rata seperti saya, Yang Mulia,” kata Ellie dengan melirik ke segala arah, tak berani lagi menatap mata hijau Eugene. Tanpa Ellie sadari, Eugene tersenyum kecil sebelum bersuara, “Kau tidak pernah melihat perempuan bangsawan?” “Tidak, Yang Mulia.” “Kau ingin datang ke Royal Banquet?” Spontan Ellie menoleh dengan wajah terkejut. “Apa?” “Royal Banquet,” kata Eugene, “kudengar kau membicarakannya dengan Raymond dan Hera.” Ellie mengerjap cepat. Tidak menyangka Eugene akan ikut membicarakan Royal Banquet. Sebagai perempuan bangsawan, Ellie pernah memikirkan acara-acara kerajaan dan kehidupan sosial para bangsawan pada umumnya. Pernah ada masanya ia ingin datang ke istana sebagai putri Count Efran dan menikmati pesta. Tapi, itu dahulu saat Ellie masih naif! “Iya, saya sedikit membicarakan hal itu tadi pagi,” tutur Ellie sepelan cicitan tikus. “Tapi, saya tidak berharap datang ke Royal Banquet. Saya bukan bangsawan.” Eugene menatap Ellie, diam-diam menahan senyum miringnya tersungging. Kau tidak mau mengakui statusmu, huh? TOK TOK “Saya Charles, Yang Mulia. Saya membawakan kue caramel dan camilan manis untuk Nona Elliana.” Eugene menghela napas, bergerak menjauh dari pintu tanpa menurunkan Ellie. Ellie bergerak panik dengan wajah memerah matang dan secara spontan memeluk leher Eugene untuk menyembunyikan wajah dari Charles. Tindakan itu cukup membuat Eugene terkejut karena ini juga pertama kalinya seorang perempuan memeluknya seerat ini. “Masuk.” kata Eugene pada akhirnya, memersilahkan Charles masuk. Tepat setelah Charles membuka pintu, pria berusia setengah abad itu mengerjap melihat Eugene masih menggendong Ellie. Ia juga terkejut melihat Ellie memeluk leher Eugene sembari menyembunyikan wajahnya. Charles jadi semakin yakin ini adalah awal mula terjadinya perubahan di istana Alterius setelah sekian lama ia mengomel tentang pernikahan dan posisi Grand Duchess. Dengan cepat, Charles menata camilan-camilan manis di atas meja bersantai Eugene. Ia bahkan merapikan sofa meskipun sofa sudah tertata rapi. Di mata Eugene sekarang, kepala pelayan tersebut bekerja lebih semangat dan ambisius sekali entah karena apa. Bahkan, setelah selesai dengan tugasnya, Charles langsung pamit undur diri tanpa mengatakan apa pun lagi. Eugene memang tahu seluruh bawahan di istana terkadang bisa bersikap aneh, tapi hari ini mereka lebih aneh lagi. “Yang Mulia….” gumam Ellie pelan menyadarkan lamunan Eugene. Gumamannya yang begitu pelan dan dekat dengan telinga Eugene membuat pria itu tersenyum kecil karena terdengar seperti rengekan anak kecil. Eugene melangkah mendekati sofa. Dengan satu gerakan, ia mendudukkan Ellie di sofa sebelum kemudian berjalan memutari meja dan duduk di hadapan Ellie. Gadis itu benar-benar memerah mukanya. Padahal Eugene membantunya tidak bergerak berlebihan agar kondisinya cepat sembuh. Apakah memang sememalukan itu? “Makanlah untuk mengganti jatah makan siangmu,” ujar Eugene ketika mengambil secangkir teh chamomile. Ellie mengangguk kaku. “Iya, Yang Mulia.” ujarnya kemudian mengambil sepiring kue caramel. “Terima kasih banyak atas perhatian anda pada saya. Saya tak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikan anda.” “Tak perlu. Sudah kewajibanku membuat tamu nyaman di sini,” balas Eugene sebelum menyesap tehnya. “Baik, Yang Mulia.” Hening. Ellie memakan kue caramel dengan tenang, begitu pula Eugene menyesap teh seraya memandang jendela di samping mereka duduk. Salju sudah turun, cukup deras hingga berkumpul di balik jendela. Musim dingin yang kaku sudah hadir dan Eugene merasa kali ini berbeda dari sebelumnya. Kini ada Ellie di dekatnya. Perempuan mungil yang tak pernah Eugene sangka mampu membuatnya bersikap begitu jauh. Eugene menoleh pada Ellie, memerhatikan gadis itu cukup lahap memakan kue caramel. Dapat ia simpulkan, dugaannya benar bahwa kue itu merupakan favorit Ellie. “Jadi, kau masih tak mau memberitahu nama keluargamu?” tanyanya tiba-tiba. Tangan Ellie berhenti menyendok kue, ia mendongak menatap Eugene. “Nama keluarga?” “Ya. Nama keluargamu.” Ellie menipiskan bibir. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bisa.” “Alasannya?” “Saya juga tak bisa mengatakannya. Secepatnya, saya akan memberitahu nama keluarga saya pada anda.” Eugene menghela napas pendek. Tidak pernah mengira Ellie sebegitu takutnya. Dia sungguh takut aku akan membunuh ayahnya. “Baiklah. Luangkan waktumu. Aku tak akan memaksamu.” Ellie mendesah lega. “Terima kasih, Yang Mulia.” “Untuk Royal Banquet,” Eugene meletakkan cangkir tehnya, “aku tidak bisa membawamu ke sana.” Meski cukup tercengang dengan ucapan Eugene, Ellie tetap mengangguk patuh. “Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya pun tidak berharap menghadiri acara semegah itu. Akan lebih baik bagi anda untuk membawa pasangan sesama bangsawan daripada saya yang perempuan biasa.” Eugene melengos. “Bukan seperti itu.” “Ya?” tanya Ellie mengerjap. “Aku tidak suka acara tahunan kerajaan.” “Bukankah acara itu wajib dihadiri?” “Ya, tapi aku tak suka karena ramai.” Eugene menoleh pada Ellie, menyadari sesuatu. “Kau tahu acara itu wajib dihadiri bangsawan?” Ellie mengerjap polos sebelum kemudian bermuka panik menyadari kecerobohannya. “Ah, saya tahu dari kabar-kabar yang selalu beredar di pedesaan, Yang Mulia. Kabar para bangsawan dan istana selalu menjadi topik hangat bagi kami.” Dan Eugene kembali tersenyum kecil. Kebohongan yang bagus, Nona Efran. TO BE CONTINUEDP.S JANGAN LUPA KLIK IKON LOVE UNTUK MENDAPAT UPDATE CHAPTER TERBARU LEBIH AWAL
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD