Dokter bangkit berdiri setelah memeriksa tubuh Ellie. Dokter tua itu merapikan peralatannya sembari para pelayan melayani Ellie. Setelah tasnya selesai dirapikan, dokter bernama Augustus itu menatap Ellie dengan wajah kebapakannya yang sungguh ramah.
“Luka-luka anda sudah sembuh. Lalu, kondisi tubuh anda sudah kembali membaik dengan sangat baik. Anda tidak perlu khawatir lagi, Nona,” tutur Augustus ramah menatap Ellie duduk bersandar bantal di atas ranjang.
Ellie mengerjap sejenak sebelum menyunggingkan senyum lega. “Terima kasih banyak, dokter.”
“Akan lebih baik bagi anda untuk lebih banyak beristirahat dan memakan makanan yang rendah lemak namun cukup protein.”
“Jadi, apakah tidak boleh mengonsumsi kue caramel?” tanya Ellie dengan binar khawatir.
Dokter berpikir sejenak, lalu mengangguk tegas. “Benar, Nona. Sebaiknya, anda mengurangi konsumsi gula berlebihan dan fokus memakan makanan berprotein.”
Bibir Ellie mengerucut dan menipis seiring kepalanya menunduk sedih. Kue caramel adalah kue kesukaannya. Tiga hari yang lalu Eugene memesankan banyak kue caramel khusus untuknya. Ellie sudah banyak memakannya, namun anehnya kue-kue itu tidak kunjung habis juga. Hingga Ellie sempat menderita gigi ngilu karena terlalu sering memakan kue caramel. Tapi, Ellie tidak kapok. Ia sangat suka kue caramel tersebut.
Namun pada akhirnya, Augustus mendeklarasikan larangan memakan kue caramel. Ellie tidak pernah menyangka.
Hari ini adalah hari keempatnya tinggal di Istana Alterius. Ellie senang tubuhnya berangsur membaik dalam waktu singkat. Mau bagaimana pun juga, Ellie harus ingat Istana Alterius bukanlah tempat tinggal selamanya baginya. Ellie harus memikirkan tujuannya setelah kembali sehat.
“Bagaimana keadaannya?”
Ellie menoleh melihat Eugene memasuki kamarnya bersama Charles. Pria jangkung itu tampak tampan dan lebih rapi dari biasanya. Sepertinya, Eugene akan pergi untuk urusan tertentu.
Augustus berbalik badan, memberi hormatnya pada Eugene. “Nona Elliana sudah berangsur membaik lebih cepat dari perkiraan saya. Luka-lukanya juga sudah sembuh.”
“Apa itu artinya dia sudah kembali sehat?” tanya Eugene sekilas melirik Ellie.
“Belum sepenuhnya, Yang Mulia. Jika dipresentasekan, keadaan Nona Elliana sekarang sudah delapan puluh persen,” jawab Augustus ramah. “sekarang Nona hanya perlu lebih banyak beristirahat dan memakan makanan berprotein saja. Dengan begitu, maafkan saya, Yang Mulia. Nona Elliana dilarang memakan makanan manis terlebih dahulu.”
Eugene menaikkan alisnya. “Dia tidak boleh makan kue caramel?”
Augustus mengangguk. “Benar, Yang Mulia.”
Eugene sedikit menoleh ke kiri, bermaksud berbicara pada Charles yang berdiri di belakangnya. “Apa dengan tidak makan makanan manis seseorang bisa kembali sehat?”
“Benar, Yang Mulia. Dengan mengurangi makanan manis dan memperbanyak makanan berprotein, penyembuhan luka dan staminanya akan jauh lebih cepat,” tutur Charles seraya berdehem sejenak. “Saya dengar juga bahwa Nona Elliana sedikit menderita gigi ngilu kemarin. Sebaiknya, tidak memberikan kue caramel dan makanan manis lainnya untuk sementara.”
Alis Eugene meninggi, cukup terkejut karena baru mengetahui kabar tersebut. Ia lantas menoleh pada Ellie yang menatapnya polos dari atas ranjang. “Kau terkena gigi ngilu?”
Ellie sedikit terlonjak karena tiba-tiba Eugene bertanya. “Iya, Yang Mulia. Tapi, sekarang sudah baik-baik saja karena obat dari dokter.”
Eugene menghela napas pendek, kembali sedikit menoleh ke kiri. Namun kali ini tanpa bersuara. Charles yang menyadari maksud tuannya pun mengangguk takzim. Ellie berkerut heran melihatnya, apakah kedua orang itu melakukan telepati?
“Terima kasih Augustus. Kau boleh pergi,” kata Eugene disambut anggukan hormat dari Augustus. Dokter tua itu pun pergi diikuti Charles dan seluruh pelayan. Menyisakan Eugene dan Ellie berdua.
Ellie hanya bisa menghela napas saja. Ia sudah mengira di momen Eugene datang, maka semua orang akan pergi meninggalkan mereka berdua. Kali ini Ellie sudah terbiasa dan tak merasa segugup awal kedatangannya di Istana. Meskipun terkadang masih sedikit terasa kikuk ketika berdua bersama Eugene, namun Ellie bersyukur perasaan takutnya sudah menghilang.
Ketika Eugene menduduki kursi kayu di sebelah ranjang Ellie, gadis itu bersuara. “Hari ini Yang Mulia tampak rapi.”
“Begitulah,” sahut Eugene seadanya, melipat kaki.
“Apakah Yang Mulia ada acara tertentu?”
“Ya. Aku akan turun ke kota untuk beberapa ekspedisi.”
Ellie tersenyum. “Semangat bekerja, Yang Mulia.”
Eugene tersenyum kecil. “Tentu.”
“Oh, apakah akan memakan waktu yang lama?”
“Begitulah. Mungkin sampai sore,” Eugene diam sejenak, menatap Ellie. “Jangan lewatkan istirahat dan jadwal makanmu.”
Ellie tersenyum dengan kedua mata terpejam sejenak. “Baik, Yang Mulia.”
Senyuman Ellie kali ini berbeda dari senyuman sebelum-sebelumnya. Selama Ellie tinggal di Istana, gadis itu sudah tersenyum dengan beragam bentuk dan ekspresi. Senyuman kali ini adalah senyum riang yang baru pertama kali Eugene lihat. Dan ia cukup terpana melihatnya. Wajah Ellie menjadi semakin mirip dengan boneka manusia.
“Kau sudah menentukan tujuanmu?” tanya Eugene setelah hening beberapa sekon.
Ellie mengangguk kecil. “Saya akan tetap pergi ke Kerajaan Douphens.”
“Baiklah. Aku akan meminta surat emigrasinya ke Marquis.”
Sontak kening Ellie berkerut. “Surat emigrasi?”
“Ya,” Eugene menopang dagunya. “Kau perlu surat emigrasi sebagai identitas masukmu ke sana. Kau ingin menjadi penduduk di sana, bukan?”
Ellie mengangguk. “Saya baru tahu kalau butuh surat emigrasi. Ah, terima kasih banyak atas bantuan anda, Yang Mulia.”
Eugene tersenyum. “Sudah menjadi tugasku.”
TOK TOK
“Kereta kuda sudah siap, Yang Mulia.” kata Charles dari balik pintu.
Mendengar hal itu membuat raut Ellie spontan murung. Entah alasannya apa, Ellie merasa sedikit kehilangan. Padahal ia tidak berhak merasakan hal seperti itu. Ia dan Eugene tidak memiliki hubungan apa-apa selain rakyat dengan pemimpinnya. Tapi, mengapa Ellie merasakan perasaan aneh ini?
Eugene bangkit berdiri. “Aku pergi.”
Ellie segera mendongak, mengganti raut murungnya secepat kilat. “Semoga anda selamat sampai tujuan, Yang Mulia.”
Alis Eugene naik sebelah melihat sedikit keanehan pada wajah Ellie. Meskipun ia tersenyum, ada sorot sedih yang ia pancarkan dan Eugene jelas mengetahuinya. Eugene menjulurkan tangannya, menyentuh puncak kepala Ellie dengan lembut.
“Berhati-hatilah di sini.”
Ellie melongo merasakan tangan besar Eugene mengelus kepalanya dengan lembut. Dan perasaan kehilangan itu terasa makin membesar seiring langkah Eugene keluar dari kamar.
***
Eugene melangkah bersama Charles menyusuri koridor menuju pintu utama Istana. Hari ini memang akan menjadi hari sibuknya karena beberapa ekspedisi di kota. Selain ekspedisi, ia juga memeriksa pelabuhan untuk mengecek barang-barang ekspor dari wilayah Leylia. Biasanya Eugene malas melakukan tugas-tugas seperti ini, kalau Charles tidak berhenti merengek dan memaksanya mana mau Eugene keluar dari Istana.
“Sepertinya Nona Elliana sudah terbiasa di sini,” celetuk Charles tiba-tiba membuat Eugene menarik napas bersiap dengan omelan pernikahan. “Saya sudah bisa melihat masa depan Alterius yang terang.”
“Banyak sekali istilahmu untuk mengatakan pernikahan,” balas Eugene sinis.
“Anda memang sangat jenius, Yang Mulia.”
“Tapi sayang sekali, masa depan yang kau lihat itu masih sangat jauh.”
Charles berdehem. “Sepertinya tidak. Karena kali ini semesta mendukung harapan saya.”
Eugene hanya menggumam membuat Charles mengeluarkan topik utamanya. “Sebab, Kerajaan Douphens dan kerajaan mana pun sedang dalam situasi tidak menerima penduduk emigrasi.”
Langkah kaki Eugene langsung berhenti. Pria itu menoleh dengan sorot sinisnya seperti biasa. “Apa maksudmu?”
“Ya, seperti yang sudah saya katakan barusan, Yang Mulia. Kerajaan mana pun sedang tidak menerima penduduk emigrasi karena masalah melonjaknya lajur pertumbuhan penduduk. Para Raja sedang sibuk memikirkan solusi atas pertumbuhan penduduk yang tak terkendali dan untuk waktu yang tidak ditentukan memasang kebijakan tidak menerima penduduk emigrasi.”
Tanpa sadar, mata Eugene sedikit membesar. “Lalu, kalau aku meminta Marquis akan menjadi hal yang sia-sia?”
Charles mengangguk. “Benar, Yang Mulia. Nona Elliana tidak akan bisa emigrasi ke mana pun sekarang.”
Eugene mendecak. “Lalu, maksudmu?”
Charles tersenyum bahagia. “Sepertinya, menikahi Nona Elliana adalah jalan terbaik sejak awal.”
“Atau menjadikannya pelayan di Istana,” koreksi Eugene seraya kembali berjalan.
Charles terbelalak mendengarnya. “Betapa kejamnya anda menjadikan putri bangsawan sebagai pelayan Istana!”
“Bahkan dia tidak mau mengakui statusnya sebagai bangsawan.”
“Tetap saja anda tidak bisa bersikap seperti itu, Yang Mulia! Bagaimana bisa anda menjadikan Nona Elliana yang sangat cantik dan anggun itu sebagai pelayan?!”
Eugene berdecak. “Dan betapa kejamnya kau memaksa Ellie mengisi posisi Grand Duchess.”
“Saya tidak memaksa, Yang Mulia. Ini karena jalan terbaik satu-satunya bagi Nona dan anda sebagai Grand Duke,” omel Charles begitu saja. “Anda tidak bisa terus-terusan menghindar dari acara resmi kerajaan. Anda juga butuh penerus untuk mengisi kedudukan Grand Duke of Alterius berikutnya.”
“Dan kau pikir Ellie yang pantas?”
Charles mengangguk tegas. “Benar, Yang Mulia.”
Eugene menghela napas panjang seiring tibanya di pintu utama Istana. Ia tidak bisa menyalahkan penuturan Charles. Sudah tiga tahun lamanya Eugene menghindari acara-acara resmi kerajaan dan tidak mencari pendamping untuk posisi Grand Duchess Alterius. Eugene pernah memikirkan penerusnya, tapi tidak terlalu memberi perhatian pada hal tersebut hingga mengabaikannya juga. Eugene hanya benci berurusan dengan kehidupan sosial para aristokrat. Ia juga membenci para wanita, mereka hanya mengincar status dan kekayaan untuk bisa hidup terpandang di kehidupan sosialita aristokrat.
Ellie? Eugene bahkan tidak pernah mempertimbangkannya meskipun ia berkata akan melakukannya beberapa hari yang lalu. Ia sudah memutuskan akan menuruti keinginan Ellie dan tidak pernah meminta gadis itu berurusan dengannya lebih jauh lagi. Ellie masih muda, dari sifatnya saja Eugene dapat menyimpulkan gadis itu tidak mau terlibat dalam kehidupan para bangsawan. Mana mungkin Eugene menghancurkan harapan dan tujuan Ellie begitu saja?
Tidak, Eugene de Gilbert bukan pria sekejam itu.
“Charles,” panggil Eugene. “aku tidak akan menghancurkan harapan dan tujuan Ellie. Berhenti melibatkannya dalam masalahku.”
Charles menipiskan bibir, menghela napas pendek. “Baik, Yang Mulia. Maafkan saya yang sudah melewati batas.”
Dengan begitu, Eugene pergi menuruni anak tangga menuju kereta kuda yang sudah menantinya. Para pelayan dan ksatria berbaris mengantarkan kepergiannya. Eugene melengos dalam langkahnya, tiba-tiba merasa sudah lelah sebelum memulai tugasnya.
“Semoga perjalanan anda dilindungi oleh langit dan Para Dewa, Yang Mulia Grand Duke.” ucap para pelayan dan ksatria serempak saat Eugene berjalan melewati mereka.
Pintu kereta kuda sudah dibuka. Eugene hanya perlu menaiki tangganya untuk memasukinya. Namun secara tiba-tiba, kepala Eugene menoleh ke belakang. Menatap salah satu balkon jendela kamar Ellie yang kosong. Entah kenapa, ia merasa seseorang sedang menatapnya dari sana.
Eugene mendengus pelan, mengenyahkan pikirannya dan segera memasuki kereta kuda. Kereta pun berjalan diikuti Raymond dan dua ksatria di belakangnya. Pergi meninggalkan area Istana Alterius.
Ellie menipiskan bibir melihat kereta kuda Eugene sudah tak terlihat lagi. Dalam hati ia berucap, Semoga perjalanan anda selamat, Grand Duke Eugene.
TO BE CONTINUED
P.S JANGAN LUPA KLIK IKON LOVE UNTUK MENDAPATKAN UPDATE CHAPTER TERBARU LEBIH AWAL