GRACE -- Suara berisik mesin penjawab telepon itu berdengung di sekitar ruangan. Suaranya beradu dengan suara air keran yang menyala di wastafel. Samar-samar aku bisa mendengar suara musik dari apartemen seberang. Suaranya begitu keras hingga terdengar menembus dinding kamarku. Aku membayangkan seorang pria tua sedang duduk di kursinya dengan sebuah surat kabar yang membentang di antara kedua tangannya. Kemudian, ada suara-suara berdengung lainnya yang tampaknya berasal dari kepalaku. Kali ini, aku mendengar suara gerendel pintu dibuka dan seseorang baru saja masuk melalui pintu belakang. Namun, suara itu tidak berasal dari kepalaku, melainkan berasal dari lorong depan. Itu Sean. Laki-laki itu menemuiku di dapur. Wajahnya kelelahan dan tatapannya secara jelas menyatakan rasa simpati.

