Numa mengulum senyumnya, dan tangan kanan bertumpu di atas meja, seolah ingin memamerkan cincin pernikahannya dengan Timo. Tapi tampaknya Molly tidak menyadarinya, dan dia masih terus menatap wajah Numa. “Ya, gue dan dia bertambah dekat,” ujar Numa, menarik tangan kanan dari meja, lalu berpura-pura memperbaiki rambut yang menutupi daun telinganya. Tetap saja Molly tidak memperhatikannya. “Hm … pasti duda rayuannya lebih jago, bikin lo kelelep,” ujar Molly. “Bokap lo pasti belum tahu—“ “Jangan sampai, bisa-bisa gue kehilangan om Timo dan itu yang nggak gue mau.” Molly tersenyum mendengar kekhawatiran Numa. “Demi cinta si ayang Timo, segala dilakuin—” “Ya, gue cinta mati ma dia. Entahlah, kali ini gue nggak akan mundur sedikitpun meskipun banyak sekali tantangan.” Mata Numa menerawang,

