Mata Lucia tak berkedip melihat penampakan putra sulungnya, yang ternyata tidak berubah dan tetap tegap dan gagah, sama seperti beberapa tahun silam. Ternyata mendekam di dalam penjara tidak serta merta membuat fisik Timo berubah, dia justru terlihat segar bugar. Berkali-kali Lucia mengusap dadanya, masih merasakan kekesalan terhadap Timo atas kelakuannya dulu yang hanya diam saat mendiang Benedict berseteru dengan mendiang Daud, suaminya. Tapi kesalnya lenyap seketika karena Timo langsung memeluknya erat-erat, dan menyapanya dengan gaya khasnya. “Timo, kamu—“ “Aku baik, Ma.” Timo juga memeluk Morgan, dan dia tertawa lepas, senang melihat anaknya yang menunjukkan wajah penuh dukungan kepadanya. “Hai, Debora.” Morgan meninju kecil d**a Debora, lalu memeluknya. “Kamu sehat sekali, Timo

