Timo tahu bahwa cinta Numa sangatlah besar kepadanya, sampai rela berkorban untuknya. “Numa. Dengar, aku nggak mau membayangkan kamu hamil anak kita, tapi keadaan sekelilingmu tidak mendukung. Aku mau kamu sehat jiwa, pikiran dan fisik kamu, sehingga kamu menjalani kehamilan dengan penuh suka cita,” ujar Timo dengan berat hati. “Aku tau ini berat … keadaan kita yang sulit. Tapi ini pilihan kita satu-satunya bisa saling mencurahkan kasih sayang, cinta.” Timo menunduk, memegang kepalanya. “Maafkan aku yang egois. Aku … aku benar-benar mencintaimu, dan nggak mau kehilangan kamu —“ Numa yang masih telanjang mendekati Timo, lalu meringkuk di dalam dekapan Timo. “Aku juga nggak mau kehilangan Om Timo,” ujarnya lirih. Timo menghela napas panjang, menepuk lembut paha Numa gemas. “Besok aku aka

