Irfan tertawa melihat wajah Hesti yang begitu serius menatap. “Hei, apa yang ada di dalam pikiranmu. Yuni dan aku sudah sedari dulu suka bercanda,” ujarnya. Hesti duduk di atas sofa, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan beberapa saat. “Ya, jika kalian mempunyai hubungan khusus aku juga nggak masalah.” Irfan tertawa lebih keras daripada sebelumnya. “Hesti Hesti. Ada-ada saja kamu. Aku dan Yuni dekat bak saudara, dan kamu tahu itu. Lagi pula, aku belum memiliki hasrat untuk berhubungan serius—“ “Ah, kamu sama saja dengan Timo,” potong Hesti cepat. Irfan terkesiap, menyadari sesuatu. “Ah, dia sudah pindah ke Bandung.” Hesti terkejut lagi. “Ha?” “Ya, sudah dua minggu dia di sana, dan posisinya keren, CEO.” Mata Hesti berbinar mendengar kabar terbaru Timo, dan Irfan menyadarinya.

