Protes Kedua

1556 Words
Universitas Matahaya tidak lantas sepi biarpun masa perkuliahan semester genap telah berakhir satu minggu yang lalu. Walau tidak seramai biasanya, tetapi kampus tetap menjadi pilihan nomor satu bagi beberapa mahasiswa untuk sekadar numpang Wi-Fi, nongkrong di sekretariat himpunan, atau bahkan menggelar tikar dan piknik di taman depan perpustakaan. Jalanan kampus terlihat longgar. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang seperti biasanya, membuat Bina beberapa kali tidak perlu tengok kanan-kiri sebelum menyebrang. "Bin!" Bina menghentikan langkahnya, ditengoknya ke sumber suara, seorang perempuan berambut panjang dan seorang laki-laki berkacamata ala tokoh fiktif Harry Potter berjalan ke arahnya. "Jadi protes nilai?" tanya Ayu begitu sampai di samping Bina. Bina kemudian mengangguk dengan wajah yang berubah sebal. "Wah, kamu sanggup menghadap Pak Doyoung sendirian?" Mark berganti bertanya meyakinkan Bina. Pasalnya, Pak Doyi Adisaputra Dipura terkenal tegas dan galak oleh semua mahasiswa yang diampunya. Bina hanya mengedikkan bahu. Merasa antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Mereka bertiga kembali berjalan menuju gedung D3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk menemui Pak Doyi. "Tapi, masa iya, sekelas cuma lo doang yang dapet D?" Ayu terheran. Ia berhenti melangkah diikuti Bina dan Mark. "Gue juga bingung. Bukannya gue sombong, ya. Tapi lo berdua kan tahu sendiri, masih ada beberapa anak yang notabennya lebih rendah dari gue." "Jangan suka suudzon. Sebentar lagi juga kita tahu, alasan Pak Doyi ngasih kamu nilai D." Mark berusaha menengahi pikiran-pikiran buruk yang sepertinya sengaja diciptakan Bina dan Ayu. Pemuda itu lalu merangkul keduanya dan mereka kembali melangkah. Mereka sudah sampai di ruangan dosen, gedung D3 lantai 4, nomor bilik meja 01, berada di sisi kanan paling depan. "Kita tunggu di sini aja, ya. Good luck, Bina!" seru Mark dan Ayu bersamaan. Tidak lupa mereka mengepalkan tangan ke udara, memberikan semangat untuk Bina. "Semangat empat lima!!" Sebenarnya tidak ada rasa takut atau khawatir sekalipun untuk menemui Pak Doyi, mengingat Bina sudah sangat mengenal laki-laki itu jauh sebelum dirinya menjadi dosen muda seperti sekarang. Namun, bagaimanapun juga Bina harus bersikap seolah ia sedikit tegang. Karena tidak mungkin ia menampakkan kesantaiannya itu di depan kedua temannya. "Permisi, Pak," ucap Bina dengan sopan begitu masuk bilik meja Pak Doyi. Laki-laki yang sibuk dengan laptopnya itu kemudian beralih pandangan ke Bina. Lalu, ia melepas kaca matanya dan mempersilakan perempuan itu untuk duduk. "Ada apa, Bina? Tumben sekali kamu datang menemui saya." "Jadi, saya mau bertanya mengenai nilai akhir mata kuliah AKM 3 saya, Pak." Bina berucap dengan tenang, namun tetap sopan. Hal itu membuat Pak Doyi terkejut dalam hati melihat sikap Bina yang seperti itu. Dalam pikirannya, ia ingin sekali tertawa melihat Bina, tapi bagaimanapun juga saat ini ia adalah Pak Doyi--dosen Bina, bukan Doyi--teman Bina. "Jadi, apanya yang menurut kamu salah?" tanya Pak Doyi kemudian. Ia lalu kembali mencari sesuatu di layar laptopnya. Sepertinya, rincian nilai mahasiswanya. Bina terdiam sebentar. Ia masih memikirkan hal apa yang harus ia ucapkan kepada Pak Doyi. Sebenarnya alasannya sudah ia siapkan sejak jauh-jauh hari. Tetapi sekarang semuanya seolah hilang ditelan pikirannya sendiri. Bina tidak bisa membuat alasan. "Bina?" "Ah, iya, Pak." Doyi membalik laptopnya menghadap Bina. "Ini rincian nilai kamu. Sebenarnya kamu juga sudah tahu, kan? Karena memang untuk urusan nilai saya sangat terbuka dan berusaha seadil mungkin." Bina menatap layar laptop dan Pak Doyi secara bergantian. Beberapa kali ia menelan salivanya, gugup, menghadapi situasi yang ada untuk sekarang ini. "Untuk UTS kamu dapat 3, UAS dapat 4, dan tugas harian kamu dapat 100. Perlu kamu tahu, walau hasil tugas kamu tidak sempurna, tapi tetap saya beri seratus. Semua mahasiswa saya mendapatkan nilai tugas seratus, asal pengumpulan tepat dan jawaban lengkap sekalipun kurang tepat." Pak Doyi beralih ke tumpukan kertas yang ada di sampingnya, mencari-cari, lalu menemukan satu bundle kertas bernama Bina Sabrina. "Ini." Doyi menyerahkan sebundle kertas tersebut pada Bina. "Coba kamu cek, mungkin saya ada salah dalam mengoreksi UTS atau UAS kamu." Bina membaca dengan perlahan hasil UTS dan UASnya. Ia menyisihkan kertas tugasnya di sampingnya. Saat ia membaca lembar jawaban UTS dan UASnya, Bina mendadak pusing. Ia sama sekali tidak paham dengan soal pun jawaban yang telah dituliskannya pada lembaran itu. Bina hanya menjawab asal semua soal, daripada mengosongi setiap nomor. Dan hasilnya, cukup buruk tetapi lebih baik daripada mendapat nilai nol. "30% nilai UTS, 40% nilai UAS, 15% nilai tugas, dan 15% nilai keaktifan." Bina menata kembali kertas kerjanya. Ia lalu menyerahkan pada Pak Doyi dan Pak Doyi kembali memutar laptopnya menghadap Bina. "Ini nilai keaktifan kamu." Bina melihat kotak-kotak bergaris dengan nama-nama teman sekelasnya di sisi kiri. Sedangkan untuk namanya, sudah ditandai dengan warna kuning. "Nilai UTS dan UAS kamu memang bukan yang terburuk. Tapi, mereka terselamatkan oleh nilai keaktifannya." "Tapi, Pak. Bahkan beberapa teman ada yang sering membolos kelas Bapak." Bina memprotes tidak terima. Pak Doyi mengembuskan napasnya samar-samar, lalu menarik napas lagi. "Setiap mahasiswa punya tiga kesempatan untuk absen, dan itu tidak masuk ke dalam nilai keaktifan, kecuali lebih dari tiga kali absen, auto E. Kamu tahu itu, kan?" Alis Pak Doyi terangkat, menatap Bina yang sudah skakmat. "Kalau saja kamu absen kelas saya tiga kali, itu juga tidak akan menambah atau mengurangi nilai kamu," lanjutnya dengan nada datar tanpa ekspresi tawa atau selengekan. "Tapi, Pak ...." Bina masih belum terima. Masih ada yang harus ia perjuangkan demi keadilan nilainya. "Setiap Bapak ngasih pertanyaan, saya selalu jawab. Dan ya, walau tidak semuanya benar. Dan teman-teman yang lain, bahkan ada yang tidak bisa jawab dan diam saja." Bina berharap, ucapannya kali ini bisa meluluhkan hati Pak Doyi dan mengubah nilai akhirny. Pak Doyi sedikit berpikir, dirinya memutar-mutar bolpoin dengan jarinya. Lalu ia memutar kembali laptopnya menghadap Bina. "Setiap pertemuan, setidaknya saya lemparkan satu pertanyaan ke setiap mahasiswa. Dan setiap mahasiswa yang tidak menjawab, akan saya beri nol, dan yang salah menjawab akan saya beri setengah." Bina masih diam mendengarkan penjelasan Pak Doyi. "Kamu lihat ...." Pak Doyi menunjuk layar laptop, mengisyaratkan agar Bina lebih memperhatikan. "Kamu memang selalu menjawab pertanyaan saya, tapi jawaban kamu lebih sering salah dari pada benar." Ah, iya juga, sih. "Satu lagi, Bina." Bina mengangkat kepalanya, menatap Pak Doyi dengan harap-harap cemas. "Kamu tahu, alasan kamu kalah sama teman-teman kamu yang bahkan nilai UTS dan UASnya lebih rendah dari kamu?" Bina menggeleng, tidak berniat untuk membuka suara. "Ada satu nilai yang masuk dalam nilai keaktifan." Pak Doyi diam sebentar, lalu membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah buku dengan sampul yang terlihat kaku. Pak Doyi membuka buku tersebut beberapa lembar, lalu memperlihatkan kepada Bina. Manik mata Bina terlihat membesar saat dibacanya beberapa nama yang tertera di sana, termasuk namanya. Yang membuatnya lebih terkejut, saat Bina membaca judul dari halaman tersebut. Bibirnya terasa kelu. Hatinya mencelus dan bergetar menyadari itu. "Kamu sadar, kalau kamu sangat jarang memperhatikan saat saya sedang menjelaskan di depan kelas?" Bina sadar betul, selama satu semester di kelas Pak Doyi, sudah sejak pertemuan pertama Bina tidak pernah serius dan memperhatikan dosennya itu. "Saya tahu. Sedari awal, kamu selalu mengganggu teman yang ada di samping kamu. Mark dan Ayu sering kamu ganggu, bahkan saat mereka sedang memperhatikan penjelasan saya. Atau saat kebetulan kalian tidak duduk bersampingan, kamu sering bercanda dengan Haekal." Pak Doyi mengusap wajahnya, sedangkan perempuan di depannya itu masih diam menyesali perbuatannya selama ini. "Banyak mahasiswa kelas saya yang membicarakan saya di belakang. Tentang saya yang kalau menjelaskan terlalu cepat seperti dikejar kereta, dan setiap saya melontarkan pertanyaan seperti sedang marah-marah." "...." "Saya tahu semuanya. Saat saya menjelaskan dengan tegas saja masih ada mahasiswa saya yang tidak berkonsenterasi, bagaimana kalau saya mengubah cara mengajar saya menjadi menye-menye?" Pak Doyi terkekeh sejenak. "Mungkin akan lebih banyak lagi mahasiswa yang meremehkan saya. Padahal, mata kuliah saya itu termasuk berat." "Bina, dengarkan saya." Pak Doyi menatap mata Bina dengan intens. Atmosfir di ruangan ini berubah memanas. "Saya tahu. Saat di rumah, kamu itu adik dari teman saya, bahkan kamu juga teman akrab saya sejak kecil. Tapi tolong, Bina, di kampus, saya adalah dosen kamu dan kamu adalah mahasiswa saya. Tolong pengertiannya. Tolong hormati saya layaknya saya itu dosen kamu, bukan teman sepermainan kamu." Mata Bina memanas mendengar ucapan Pak Doyi yang penuh emosi. Air matanya pun tidak terbendung lagi, mengalir begitu saja. Bina menundukkan pandangannya. Bibirnya bergetar mencoba menahan tangisnya. "Maafkan saya, Bina. Bukannya saya tidak adil dengan memberi nilai D ke kamu. Tapi memang itu hasil akhirnya." Dengan wajah yang memerah dan pipi yang sudah basah, bisa memberanikan diri untuk menatap Pak Doyi. Pak Doyi sedikit terkejut saat melihat mahasiswinya itu telah berderai air mata. "Apa Bapak dendam sama saya?" Pak Doyi menggeleng. "Saya berusaha untuk tidak pernah dendam sama semua mahasiswa saya. Saya berusaha seprofesional mungkin." "Tapi bisa saja Bapak dendam sama saya. Karena saat di rumah, selama satu semester ini, saya bukan lagi teman yang baik buat Bapak, saya sering bersikap menyebalkan." Bina mengusap kasar air matanya, membuat bekas merah tertanda di pipinya. Pak Doyi menggeleng, berusaha meyakinkan Bina. "Bina, tolong pahami ini. Penilaian sikap, masuk sebesar 55% persen ke dalam nilai keaktifan. Tolong kamu terima ini." Bina lalu membuang muka. Ia masih berusaha menetralkan tangisnya yang masih sesegukan. "Tolong kamu terima. Dapat nilai D bukanlah hal buruk. Masih ada kesempatan tahun depan. Dan maaf, untuk semester pendek tahun ini, tidak dibuka kelas mata kuliah AKM 3, kuota tidak memenuhi. " Bina mendadak terkekeh. "Jelas. Dari delapan kelas AKM 3, cuma saya yang tidak lulus." "Bina, tolong ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD