Sejak kemarin saat Bina selesai protes nilai kepada Pak Doyi, ia tidak lagi menghubungi kedua temannya yang mengantarkannya menemui Pak Doyi, Ayu dan Mark. Bina langsung berjalan cepat usai keluar dari ruang dosen tanpa menghiraukan mereka yang memanggil-manggil namanya. Ayu ingin mengejar Bina, tetapi Mark menahannya. Pemuda itu agaknya tahu jika Bina sedang ingin sendiri. Dan sampai detik ini, beberapa pesan yang masuk dari mereka belum juga dibaca oleh Bina.
Ini hari sabtu, sudah hampir siang.
Bina tidak sedang mengurung diri di kamar dan meratapi nasibnya karena mendapatkan nilai D, ataupun dirinya sedang memikirkan perkataan yang diucapkan Doyi selaku dosennya kemarin, tentang bagaimana ia tidak menghargai sang dosen dan terlalu menyepelekan saat dijelaskan di depan kelas.
Perempuan yang hampir berusia dua puluh satu tahun itu sudah keluar kamar sejak pagi. Bisa ditekankan, Bina sedang tidak sedih. Sedari pagi dirinya bergelut dengan tepung dan telur di dapur, bersama Mas Johnny yang ia paksa untuk terjun langsung membuat sebuah kue ulang tahun.
"Dek, dimana-mana orang yang mau ulang tahun itu dibeliin kue, bukannya malah athikan bikin kue sendiri!" Mas Johnny yang sedari tadi ia kunci di dapur itu uring-uringan. Pasalnya, hari sabtu adalah hari untuk dirinya berlari pagi mengelilingi komplek, dan sekarang justru ia harus terkurung bersama adiknya yang menyebalkan.
Bina baru saja meletakkan oven berukuran kecil di atas meja makan, yang baru saja ia unboxing, karena oven hanya terbuka setahun sekali, itupun saat Mama ingin membuat nastar untuk lebaran. Jika tidak, oven tersebut akan tetap nyaman di dalam kardus, di dalam lemari, hingga bertahun-tahun tiada yang menyentuh.
"Mas, kabel olor, dong!" pinta Bina tanpa menatap Mas Johnny sedetik, ia sekarang sibuk membersihkan oven yang sedikit berdebu.
Walau dengan perasaan sebal, tetapi Mas Johnny tetap melakukan apa yang adiknya itu minta. Dirinya berjalan menuju dan membuka kabinet yang menempel di dinding. "Nggak ada," ucapnya setelah menelusuri kabinet tua bercat cokelat.
"Nggak ada yang nyimpen olor disitu, Mas."
"Lah, terus olornya ditaruh mana?"
"Pakai olor yang ada di kamar Mas Johnny dulu, ya?" Bina terkekeh masih dengan lap di tangannya.
Mama dan Papa sedang tidak ada di rumah. Sudah dua hari terakhir ini beliau pergi ke rumah Budhe Endang untuk membantu Budhe dan keluarga yang sedang ada acara hajatan. Sebenarnya, Bina dan Mas Johnny juga diajak ke sana. Tetapi karena sebuah pekerjaan, Mas Johnny hanya bisa datang nanti saat hari H acara. Dan Bina, sudah pasti berkilah dengan menemani Mas Johnny di rumah sebagai alibinya. Padahal, ia sedang meratapi nasib karena nilai salah satu mata kuliahnya.
Sudah hampir satu jam. Dengan lihai, Bina membuka oven yang baru saja berdenting. Ia mengeluarkan satu loyang berbentuk bundar. Di dalamnya, sebuah adonan sudah menjadi kue berwarna hijau dengan aroma pandan.
"Wah, wanginya."
Kakak beradik itu tidak perlu menajamkan indra penciumannya untuk menghirup aroma manis pandan. Keduanya hanya tinggal duduk di bangku meja makan, menghirup aroma kue itu sembari menunggunya dingin untuk kemudian akan diberi topping.
Di sini, Mas Johnny tidak banyak membantu. Laki-laki dua puluh lima tahun itu sangat jelas tidak tahu menahu tentang urusan dapur. Membedakan antara garam dan gula saja terkadang dirinya masih salah kalau sebatas dilihat. Apalagi membuat kue, sudah pasti itu bukan ranahnya.
Bina juga tidak sejago itu membuat kue. Dirinya masih harus menonton video yang bahkan sudah beberapa kali ia tonton sebelum membuat kue ini. Video membuat kue paling sederhana dari channel youtube kesayangannya, tidak perlu memakai cake emulsifier namun kue terjamin lembut.
"Mas, tolong bersihin ovennya, ya?" pinta Bina yang sudah berdiri menuju lemari es. Dirinya mengeluarkan buah-buahan yang sudah dikupas.
"Gue lagi yang disuruh." Mas Johnny mengeluh. Pasalnya, sedari tadi dirinya hanya membantu mengambilkan alat seperti olor, dan juga membersihkan tepung yang tumpah dan juga cangkang telur.
"Mas, adik lo ini lagi ulang tahun, lho."
"Ya, terus?"
"Bikin senang, dong!"
Laki-laki itu berdiri, menuruti apa yang diminta adiknya. Sebelumnya, ia mengacak rambut Bina yang terkuncir rapih, membuat Bina berteriak kesal karena dirinya harus kembali merapikan rambutnya, lalu ia juga harus kembali mencuci tangannya.
Bina mulai memotong kiwi, stroberi, dan juga tomat ceri. Mas Johnny tidak tahu mengapa adiknya itu juga menggunakan tomat ceri untuk topping kuenya. Setahu Mas Johnny, yang biasa dipakai untuk topping kue adalah buah ceri asli, bukan tomat ceri.
Dengan telaten, perempuan itu menata potongan buah secara selang-seling di atas kue tanpa butter cream.
"Dek, yakali dikasih tomat ceri?"
"Doyoung suka tomat ceri."
___
Happy birthday, Bina ....
Happy birthday, Bina ....
Happy birthday, Happy birthday ....
Happy birthday, Bina ...
Dua laki-laki itu terbengong hingga mulut mereka saling terbuka. Pandangannya menatap seorang perempuan dengan rambut tergerai rapi dan masih memakai piyama bercorak hello kitty. Perempuan itu membawa nampan berisi kue berwarna hijau dengan aroma pandan yang diatasnya terdapat topping buah-buahan.
"Selamat ulang tahun, Bina!" ucap perempuan itu setelah kue yang dibawanya telah ia taruh di atas meja, di depan Mas Johhny dan Doyi.
"Alhamdulillah, ya. Tahun ini Bina sudah dua puluh satu tahun." Perempuan itu lalu duduk di sofa yang masih kosong, duduk di antara Mas Johnny dan Doyi, tepat di depan kue ulang tahun tanpa lilin itu.
Mas Johnny bergidik heran. Ia sama sekali tidak membuka suara melihat tingkah aneh adiknya itu.
"Sekarang, Bina mau make a wish dulu," ucap Bina yang sebelumnya menoleh pada Mas Johnny dan Doyi secara bergantian. Ia lalu menutup matanya dan mulai merapalkan doa dalam hati. "Aamiin." Bina kembali membuka matanya.
"Dek, lo kenapa?" tanya Mas Johnny, mulutnya masih belum bisa tertutup melihat tingkah nyeleneh Bina.
Bina beralih menatap Mas Johnny. "Mas, hari ini gue ulang tahun. Ucapin, dong!"
Mas Johnny lalu menggeser tubuhnya, menghapus jarak dengan Bina. Ia lalu mengacak puncak kepala adiknya itu, dan kemudian memeluknya. "Selamat ulang tahun, Adeknya Mas Johnny yang ganteng."
"Makasih, Mas." Bina membalasa ucapan itu sambil memutar bola mata.
Pelukannya merenggang. Saat terlepas, Bina langsung beralih menatap Doyi yang masih diam saja sedari tadi.
"Doy!"
"Apa?"
Bina mengulurkan tangan kanannya. "Selamat ulang tahun, ya!"
Doyi tidak langsung menyalami. Ia menatap tangan mungil itu cukup lama.
"Doy!" Bina membentak. Akhirnya Doyi mengulurkan tangannya dan mereka saling bersalaman.
"Makasih," singkat Doyi, tanpa basa-basi.
Laki-laki itu masih tidak banyak berkutik. Ia sebenarnya bingung dengan apa yang dilakukan Bina. Sejujurnya, dirinya juga merasa bersalah pada Bina atas kejadian kemarin di ruang dosen, saat dirinya dengan blak-blakan berkata pada Bina bahwa Bina adalah seorang mahasiswa yang sering menyepelekan dosennya.
Satu hal lagi yang ada di pikiran Doyi, pikiran buruk lebih tepatnya.
Apakah ini salah satu tabiat Bina biar gue lulusin dia? -ucap Doyi dalam hati.
"Doy!" Bina membentak lagi, karena Doyi malah melamun.
"Ah, iya. Ada apa?"
Perempuan itu mengembuskan napasnya keras-keras. Ia merasa kesal karena di hari ulang tahun dirinya dan Doyi, bukannya kebersamaan yang ia rasakan, justru sebuah kerenggangan yang sejak dulu tidak juga merekat.
"Terserahlah. Gue capek!" Bina lalu berdiri disana, membuat Mas Johnny dan Doyi seketika mendongak.
"Tahu nggak, sih? Gue udah capek-capek bikin kue ulang tahun buat kita berdua. Eh, tapi lo malah diem aja kayak belalang goreng!" Setelah menunjuk wajah Doyi dengan telunjuknya, Bina langsung melenggang dari ruang tamu.
Dua laki-laki itu masih diam saja. Memang dasar, tidak peka. Tidak bisa bergerak cepat!
"Yaudah, Doy. Lo pulang aja sana! Ngapain masih di sini?" ucap Bina dengan berteriak, padahal dirinya sudah berada di dalam kamar. Tak ayal, teriakannya hanya samar-samar di dengar Mas Johnny dan Doyi.
Perempuan itu menangkup wajahnya dengan bantal. Ia sudah tengkurap di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sesekali selimut itu bergetar, menandakan bahwa ia sedang menangis sesegukan.
Bina capek. Ia merasa tidak ada yang menghargainya.
Pintu kamar tidak ia tutup, tidak sempat, karena dirinya terlewat kesal. Alhasil Mas Johnny dan Doyi bisa bebas masuk ke dalam kamar bernuansa putih tersebut.
"Dek," ucap Mas Johnny yang sudah duduk di tepi ranjang. Ia menepuk ujung kaki Bina. "Lo nangis?"
Bina bangun, menyibakkan selimutnya dengan kasar.
"Plis, lah, Doy! Gue ucapin selamat ulang tahun ke elo itu sebagai teman, bukan sebagai dosen sama mahasiswi!" Bina langsung menyembur Doyi dengan amarahnya. Pipi dan matanya sudah basah. Sedangkan hidungnya sudah memerah.
Doyi tidak berkutik. Memang dirinya dan Bina lahir ditanggal dan bulan yang sama, namun berbeda tahun. Selama ini juga, saat hari ulang tahun mereka, mereka selalu merayakan bersama-sama, bertiga bersama Mas Johnny. Namun, tahun ini mungkin berbeda, karena sejak empat bulan yang lalu Doyi berubah menjadi Pak Doyi yang cukup menyebalkan, dan Bina benci itu.
Hubungan pertemanan antara Doyi dan Bina selama satu semester ini jarang sekali akur. Bina lebih sering uring-uringan saat bertemu Doyi di luar kampus, dan semakin menunjukkan kebencian saat Doyi bertransformasi menjadi Pak Doyi, dosennya.
Bina menatap nanar ke arah Doyi. Sedangkan yang ditatapnya hanya diam saja, masih belum tahu harus berbuat apa. Lalu, Johhny, dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa. Johnny rasa, hari ini adiknya sangat sensitif. Sepertinya memang ada kerenggangan yang harus segera dirapatkan. Johnny tidak bisa melihat sahabat dan adiknya itu bersitegang seperti saat ini.
"Dek."
Bina beralih menatap Johnny. Tapi tidak lama, ponsel di atas nakas yang sedari kemarin tidak ia sentuh itu tiba-tiba bergetar. Ada panggilan video grup dari Ayu, Mark, dan Haekal.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Mas Johnny yang tidak suka membiarkan ponsel begitu lama bergetar.
"Males." Bina hanya menjawab singkat. Tatapan matanya beralih menurun menatap lantai. Ia sudah lelah.
Laki-laki yang menggenggam ponsel berwarna biru itu melangkah perlahan sampai tepat duduk di samping Bina. Tanpa ragu, Doyi merengkuh leher Bina dan membawa kepala Bina bersandar di pundaknya.
Jantung Bina terasa berdetak sepuluh kali lebih cepat. Okai, ini lebay. Kalau begitu, jantung Bina terasa berdetak dua kali lebih cepat, biar tidak lebay.
Tepukan pelan dan menenangkan itu dirasakan Bina saat telapak tangan Doyi mendarat di samping kepalanya. Jantungnya yang berdebar, perlahan mulai normal.
"Maafin gue, ya, Bin," ucap Doyi pelan, seperti bisikan. Bahkan, Mas Johnny yang berada di dekatnya pun tidak dapat mendengarnya. "Selamat ulang tahun, Bin." Doyi membawa Bina dalam dekapannya dengan lebih erat lagi. Tangan laki-laki itu masih menepuk pelan bagian belakang kepala Bina. "Maaf, kalau selama ini gue nyebelin," bisik Doyi lagi, sambil melepaskan pelukannya.
Bina mengangguk, menyeka air matanya yang entah sejak kapan semakim deras.
"Jangan nangis, dong. Jelek."
"Nyebelin banget, lo, Doy!"
Laki-laki itu terkekeh dengan kekehannya yang sangat khas dan renyah.
Hari ini, Bina berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak sebal kepada Doyi ataupun Pak Doyi. Hari ini Bina sudah dua puluh satu tahun, yang artinya usia Bina sudah cukup dewasa untuk bertindak dalam kesehariannya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan lamanya, Bina kembali merasakan pacuan keras degub jantungnya.
"Alhamdulillah, akhirnya sahabat sama adik gue udah baikan. Terima kasih, Tuhan!" Mas Johhny menengadahkan kedua tangannya ke udara.
Tidak disangka, Doyi kembali mendekap tubuh Bina. Ia menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leher perempuan itu. Tidak lupa, satu tangannya mengacak gemas bagian belakang kepala Bina.
"Woh!" Mas Johnny menyentak. Ia melepaskan pelukan Doyi dengan kasar. "Jangan peluk-peluk!" Yang kemudian hanya dibalas tawa oleh Doyi dan Bina.