PERPISAHAN

1004 Words
Matahari sudah mulai meninggi ketika para petani semakin cepat bekerja. Suara cangkul mengenai tanah bercampur dengan tawa kecil mereka, suara obrolan, dan sesekali batuk karena debu. Para ibu-ibu yang membantu panen juga terdengar cekikikan sambil bercerita tentang gosip tetangga, membuat suasana ladang semakin hidup. Di antara kesibukan manusia itu, karung demi karung sudah terisi. Karung-karung itu diikat dengan tali rafia, dilempar ke tanah, lalu diseret mendekati jalan kecil tempat pick-up menunggu. Dari luar, semuanya tampak biasa. Tapi di dalam salah satu karung yang baru saja diisi, dunia kecil penuh kecemasan sedang bergejolak. Karung itu adalah tempat dimana Pino, Pandi, Kecrot, dan puluhan kacang lainnya kini terjepit bersama. “Woy, woy, minggir dikit! Gue jadi gepeng nih!” teriak Kecrot sambil mencoba menggeliat, padahal tubuhnya tidak lebih dari kacang bulat oval yang tidak punya tulang sama sekali. “Lu tuh dari tadi ribut mulu. Emang mau geser kemana? Kita semua kesempitan!” jawab salah satu kacang lain yang bahkan Pino tidak kenal. “Eh, eh, jangan dorong gue! Gue baru keluar dari tanah, masa udah kayak gini!” keluh yang lain. Pino sendiri mencoba tetap diam sambil menyesuaikan diri. Meski gelap, ruang itu tidak seperti pekat lembut ketika ia masih di tanah. Ini gelap yang dingin, kering, dan terasa asing. “Guys…” suara Pino lirih. “Kira-kira kita mau dibawa kemana ya?” Pertanyaan itu seperti menghentikan semua gerakan. Bahkan Kecrot, yang paling ribut sedari tadi, ikut terdiam. Belum sempat ada yang menjawab, karung mereka diangkat. Tubuh para kacang bergulir, saling bertumbukan. Beberapa menjerit kecil. “Aaaaaaah! KAYAK DIKOCOK!!” “Hei! Jangan nindihin gue, woy!” “Ini bukan salah gue! Dari tadi karungnya goyang!“ Karung itu dilempar ke atas pick-up biru yang catnya sudah mengelupas. Disusul lagi dengan karung-karung lain yang menimpa dari berbagai arah. Tekanannya membuat beberapa kacang hampir tidak bisa bergerak. Di luar, suara Juragan terdengar samar. “Yang ini berangkat dulu. Sisanya nyusul nanti!” Mesin pick-up menyala. Getarannya masuk hingga ke serat goni karung. Pino menahan napas, sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukannya. --- ✦ Perjalanan yang Tidak Pernah Mereka Bayangkan Pick-up bergerak melewati jalan tanah, dan setiap lubang kecil terasa seperti terjatuh dari tebing bagi para kacang. “Waaaah! Gila! Ini guncangan macem roller coaster versi kampung!” “Kepala gue kebalik! Eh gue gak punya kepala…” “Mana sih ini? Dunia luar keras banget!” Beberapa kacang mencoba merapatkan diri mencari kenyamanan, tapi percuma. Ruang dalam karung terasa makin sempit. Pino mencoba berbicara, “Guys, tenang… mungkin ini perjalanan menuju tempat baru. Siapa tahu bagus?” Kecrot langsung membentak, “Bagus apanya!? Kita aja gak tahu mau diapain! Jangan sotoy, No!” Tapi dibalik teriakan itu ada rasa takut. Dalam gelap itu, Pino merasakan ketakutan yang sama. Lama-lama, suara guncangan berubah menjadi suara klakson, suara manusia bercakap-cakap, suara motor lewat. Bau baru tercium: bau aspal panas, bau gorengan dari warung pinggir jalan, dan bau knalpot. “Inii… baunya apa yaaaa?” tanya satu kacang. “Itu, bro,” jawab Pandi sok tahu. “Itu bau… kehidupan… luar?” “Bau gorengan itu, Ndi!” “Oh… iya. Gue salah.” Semua kacang hening sejenak, menyadari dunia ternyata jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. --- ✦ Sampai di Gudang Sortir Pick-up akhirnya berhenti. Pintu gudang digeser, bunyi logamnya memekakkan telinga kacang. Karung-karung diturunkan satu-satu. Karung Pino salah satunya. Sesaat kemudian… SRAAAT! Tali karung dibuka oleh salah satu pekerja. Cahaya yang sangat terang menyerbu masuk ke dalam. “AAAAAH! MATA GUE—eh, gue gak punya mataaa!” “Sakit banget terangnya!” “Terang banget! Kayak dunia baru!” Kacang-kacang diciduk sekop besar dan ditumpahkan ke meja kayu panjang. Pekerja mulai memisahkan mereka berdasarkan ukuran. Satu-satu, kacang terpilih masuk ke wadah berbeda. Saat giliran Kecrot… “Eh eh! Jangan pisahin gue! Gue masih mau sama temen-temen gue!” Dia meronta-ronta. Tentu saja percuma. “Kecrooooot!” teriak Pandi. “Pandi! Jangan tinggalin gue, brooo!” “Kecrooot! NANTI KETEMU LAGI—“ Tetapi sekop sudah melayang, membawa Kecrot jauh ke ujung ruangan. Suara Kecrot hilang perlahan, tenggelam oleh suara manusia. Pino membeku. Ia baru menyadari satu hal: Di dunia manusia… perpisahan itu terjadi tanpa minta izin. --- ✦ Gelombang Kedua — Saat Pandi Pergi Belum habis duka kehilangan Kecrot, tangan pekerja kembali menyapu kacang. Kali ini giliran Pandi. “Eh eh eh! Jangan gue, jangan gue dulu! No! Pino! Pegang gue! Pegang gue!” “Aku… aku gak bisa, Ndi… aku kecil…” “PINOOOOOO—” Pandi pun dipisahkan, dimasukkan ke keranjang bertuliskan GRADE A – UNTUK PABRIK. Suara Pandi makin menjauh. Pino hanya bisa melihat lewat celah kecil di meja. Dunia luar begitu ramai dan besar, tapi ia merasa semakin sendirian. “Kalian pergi satu-satu…” bisik Pino pelan. Ia ingin menangis—kalau saja kacang punya kemampuan itu. --- ✦ Dibawa ke Tumpukan Baru Pada akhirnya, pekerja mengambil sekop lagi dan menyiduk Pino serta kacang-kacang lain yang ukurannya tidak seberapa besar. Ia ditumpahkan ke dalam karung baru bertuliskan UNTUK PASAR TRADISIONAL. Ketika ia jatuh ke dasar karung itu, ia mendengar suara-suara baru. “Wah pendatang baru nih!” “Halo bocil! Dari ladang mana lo?” “Tenang bro, hidup di karung pasar gak sejahat itu, tapi… ya kadang serem juga.” Pino kget. Ia tidak menyangka ada begitu banyak kacang lain yang sudah lebih dulu ada di sini. “Nama lo siapa?” tanya salah satu kacang yg tubuhnya sedikit retak. “P… Pino…” jawabnya gugup. “Oke, Pino. Sap-siap ya,” kata kacang retak itu. “Karena perjalanan berikutnya… lebih liar dari perjalanan barusan.” “Memangnya kita mau dibawa kemana?” tanya Pino. Kacang retak itu tersenyum getir. “Ke tepat manusia memilih nasib kita… pasar.” Pino menelan ludah, meski ia tidak punya tenggorokan. Dan di luar karung, suara pedagang terdengar: “Yang ini nanti dibawa ke Pasar Argomulyo! Cepat ya, mumpung masih pagi!” Pino tahu… Pertualangannya baru saja dimulai. Lebih jauh… lebih besar… dan lebih menakutkan dari yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD