Suara gesekan karung dengan tanah kering terdengar kasar ketika Manto dan dua rekannya menarik karung nomor dua belas ke arah jalan kecil yang menghubungkan ladang dengan jalan desa. Matahari semakin naik, membuat embun pagi menguap perlahan dan berganti menjadi hawa hangat yang mulai menggigit kulit.
Di dalam karung, para kacang tanah terombang-ambing seperti penumpang kapal kecil yang dihantam ombak.
“WOI! Pelan sedikit dong! Aku baru saja menemukan posisiku yang lumayan nyaman!” teriak satu kacang.
“Nyaman apanya? Aku dari tadi ketindihan! Siapa ini yang badannya gede banget?!” protes yang lain.
“Itu bukan badanku gede, kamu aja yang kecil!” balas si kacang besar sambil mencoba menggeser tubuhnya, tapi malah menindih kacang lain.
Terdengar gelombang keluhan kecil-kecil yang hanya bisa dimengerti oleh sesama kacang.
Meski tampak kecil dan sederhana, karung itu sebenarnya adalah dunia baru, dunia pertama yang benar-benar mereka rasakan setelah dilepaskan dari akar tanah. Dunia yang gelap, sempit, tetapi penuh kehidupan baru.
---
Sementara itu, di luar karung, Manto berhenti sejenak, menaruh karung di bawah keteduhan pohon jati kecil yang tumbuh di sisi ladang. Ia menyeka keringat dari dahinya.
“Aduh, panas mulai nyelekit,” gumamnya.
Darmo, salah satu petani lainnya, datang mendekat sambil membawa dua botol air mineral bekas yang diisi ulang dari kendi di gubuk ladang.
“Nih, Man. Minum sik ben waras maneh.”
“Wah, makasih, Lik.” Manto menerima dan langsung meneguk air dingin itu dengan puas.
Di dalam karung, para kacang membeku.
“Apa itu barusan? Guncangannya besar sekali!” tanya satu kacang kecil dengan suara bergetar.
“Kita… kita ditaruh di bawah pohon jati,” jawab kacang tua yang pernah jatuh dua kali dari tangan petani. “Aku bisa mencium aromanya… eh, maksudku, aku bisa merasakan getaran dedaunannya.”
“Kamu bisa ngerasain daun?” tanya kacang kecil kagum.
“Ya nggak lah. Aku cuma nebak. Lagian kamu percaya-percaya aja.”
“…….”
Suasana dalam karung menjadi hening selama beberapa detik, lalu kembali ramai.
“Dengar deh! Ada suara manusia. Mereka lagi istirahat,” bisik salah satu kacang.
Benar saja, suara para petani samar-samar terdengar.
“Panennya lumayan tahun ini,” kata Darmo dari luar.
“Iya. Juragan keliatannya seneng,” sahut Manto.
Nama Juragan membuat beberapa kacang langsung gemetar.
“Juragan lagi dibahas… apa mereka akan membawa kita ke rumahnya?” tanya satu kacang dengan nada cemas.
“Kita ini kacang, bukan tamu undangan,” sahut kacang yang lebih besar. “Pasti kita mau dibawa ke… entahlah… tempat berikutnya.”
“Kalian ini takut terus,” kata kacang tua. “Kalau mau hidup, sudah. Jalan saja alurnya. Takdir nggak bisa ditolak.”
“Kamu ngomongnya kayak tokoh bijak di sinetron sore,” komentar kacang lain.
Para kacang tertawa kecil, meski tawa versi kacang terdengar seperti gesekan lembut kulit ke kulit lainnya.
---
Beberapa jam kemudian, setelah matahari mulai benar-benar panas, rombongan petani selesai memindahkan seluruh karung hasil panen ke tepi jalan desa. Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin tua.
“Betrekt… betrekt… betrekt…”
Sebuah mobil pick-up tua dengan bak besi muncul dari tikungan, menyemburkan debu ke udara. Mobil itu bukan mobil baru. Warnanya biru pudar, pintunya penyok sedikit, tapi mesinnya masih cukup kuat untuk naik turun jalanan desa.
“Loh, si Biru teko!” seru Manto gembira.
Si Biru adalah mobil pick-up milik Juragan Wibowo. Meskipun tua, mobil itu setia mengangkut panen kacang setiap musimnya. Orang-orang desa sudah terbiasa melihat mobil itu lewat dengan suara khasnya.
Juragan turun dari mobil, tangannya mengusap sedikit debu dari kaus polo yang ia kenakan.
“Cepet diangkut. Jam sebelas harus udah sampai rumah pengupasan,” katanya pada para petani.
“Siap, Juragan!” serentak beberapa orang menjawab.
Karung nomor dua belas—yang berisi para kacang yang sedang gelisah—mulai diangkat.
“Aaaaakh! Kita diangkat lagi! Siap-siap guncangan!” teriak satu kacang.
“Jangan injak aku! Sempit! Sempit!” tambah yang lain.
“Tenang! Ini cuma proses!” teriak kacang tua yang mencoba menjaga ketenangannya sendiri.
Karung itu dibawa naik…
…naik…
…dan dihempaskan ke atas bak mobil.
BRUGH!
“Aaaaaaaaa!!!” jerit seisi karung.
Jika manusia bisa mendengar suara itu, mungkin mereka akan mengira ada kawanan tikus kecil yang menjerit bersamaan. Tapi tentu saja tidak ada manusia yang bisa mendengar suara kacang.
Karung-karung lain menyusul dilemparkan di atas bak. Para kacang tanah mulai terjepit, tergulung, terdorong, dan saling tindih.
“Aku ketindih lagiiii!!” pekik satu kacang.
“Ya Allah… ini sempit banget,” gumam kacang lain.
“Ada yang kentut nggak sih? Kok bau?” seru seorang kacang.
“Mana ada kacang kentut!” sahut lainnya.
Namun ada juga beberapa kacang yang justru merasa… bersemangat.
“Petualangan kita dimulai! Kita akhirnya keluar dari ladang!” seru satu kacang penuh semangat.
“Keluar… tapi menuju mana?” tanya kacang kecil.
“Entahlah! Tapi apapun itu, pasti seru!”
Kacang tua menghela napas panjang. “Kalian bocah-bocah… hidup itu kadang tidak seseru yang kalian bayangkan, tapi ya sudahlah… ikut saja anginnya.”
Bak pick-up ditutup dengan terpal. Suasana menjadi gelap total.
Tidak lama kemudian…
“BETREKT… BETREKT…”
Mobil mulai bergerak.
Dengan guncangan pertama, semua kacang terlempar ke satu sisi karung.
“WOOOOAAAA!!!”
Sisi kanan bak pick-up naik sedikit karena melewati batu besar, membuat kacang-kacang itu menabrak sesamanya.
“AWAS! AWAS!! INJAK KAKI—eh kita nggak punya kaki…”
“Aku pusing! Aku mau muntah!”
“Kamu kan kacang, mau muntah apa?!”
“Aku mau muntah pikiran!!”
Di luar karung, pemandangan desa berganti cepat. Pohon randu, kandang sapi, rumah papan, sekumpulan anak kecil yang bermain layangan, semua dilewati si Biru sambil membawa karung penuh harapan—atau ketakutan—kacang tanah.
---
Setelah perjalanan yang tidak terlalu lama namun terasa seperti seabad bagi para kacang, pick-up berhenti di sebuah halaman luas.
Di luar terdengar suara ayam, suara sapu lidi, dan suara beberapa ibu-ibu bergosip.
“Ini pasti tempat baru…” bisik seorang kacang.
Terpal dibuka. Cahaya terang masuk.
Kacang-kacang itu menjerit kecil karena kaget.
“WOAAH! SILAU!”
“Opo iki? Tempat apa?!”
“Kita mau diapain?!”
Karung diangkat turun dari mobil.
Satu per satu diturunkan, termasuk karung nomor dua belas.
Mereka kini berada di halaman rumah pengupasan kacang—a tempat yang bagi manusia biasa saja, tapi bagi kacang tanah… ini adalah gerbang menuju masa depan yang tidak mereka mengerti.
Suara seorang ibu-ibu terdengar lantang.
“Hemm...taruh di pinggir! Nanti habis dhuhur baru diproses!”
Para kacang menelan ludah, kalau saja mereka punya ludah.
“Hah....‘DIPROSES’ katanya… itu artinya apa?” tanya kacang kecil takut.
Kacang tua tidak lansung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, meski tidak punya paru-paru, lalu berkata pelan
“Hemmm....anak-anak… sepertinya perjalanan kita baru dimulai.”
Dan benar.
Nasib kacang tanah tidak berhenti di ladang. Tidak berhenti di karung. Tidak berhenti di bak mobil.
Selain itu, tanpa mereka ketahui, takdir mereka akan terpecah menjadi banyak jalan:
Ada yang akan berakhir di pasar tradisional,
ada yang menjadi cemilan acara malam,
ada yang mengikuti pekerja ojol,
ada pula yang masuk ke dunia warung kopi tengah malam,
dan sebagian bahkan akan menjadi makanan burung.
Tapi itu nanti.
Untuk sekarang, karung nomor dua belas masih menunggu…
dengan degup jantung yang mereka tidak punya.