Chapter 26

773 Words
Ada keanehan yang terjadi ketika Dave bereaksi terhadap kabar kehamilan Karyna. Pria itu sepertinya tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut mendengar kabar yang dirinya mau. Sedang Karyna, dia melipat kedua tangannya menunggu suaminya yang terlihat baru membuka mata setelah Karyna memanggil sopir  untuk mengangkat tubuh Dave yang tidak ringan sama sekali. "Ryn..." "Memang orang kaya selalu punya kebiasaan tersendiri, ya, Dave. Bagaimana bisa, kamu yang selalu pengen aku hamil malah pingsan begitu tahu aku hamil!" balas Karyna dengan ketus. Dave menghela napasnya. "Aku kaget." "Tapi nggak gitu juga caranya!" "Oke, maaf. Aku beneran shock dengan hasilnya. Kupikir, kamu akan lebih lama positif hamilnya. Tapi ternyata hitunganku soal jadwal menstruasi kamu nggak tepat, ya." Karyna langsung mengernyit dalam dan mengurai lipatan tangannya. "Kamu hitung jadwalku?" tanya perempuan itu dengan terkejut. "Hm. Kuhitung sampai kepalaku mau pecah. Nggak ada jadwal yang beneran bisa tepat dari bulan ke bulan. Pantesan kamu susah ditebak setiap kali moody." Sebagai seorang perempuan, Karyna tidak habis pikir dengan pola pikir Dave. Kenapa ada pria yang begitu peduli hingga menghitung jadwal bulanan istrinya? Jika bukan Dave, mungkin akan berpikir itu hanya membuang waktu saja. Sayangnya, ini memang Dave. Bos yang memiliki segala sifatnya tersendiri. "Oke, terserahlah dengan jadwal bulananku. Sekarang aku mau tanya." Dave mencoba memposisikan untuk duduk. Dia perhatikan wajah sang istri sebelum memberikan anggukan. "Kamu seneng atau nggak aku hamil?" tanya Karyna tanpa memikirkan bahwa pertanyaan tersebut sungguhlah melibatkan dua sisi mata pisau. "Pertanyaan kamu benar-benar aneh, Ryn. Aku yang menginginkan kamu untuk hamil dan melahirkan anak-anakku, mana ada aku nggak bahagia dengan kehamilan kamu!?" Masih ingin menuntut jawaban dari sang suami, Karyna tetap melayangkan tanya. "Terus, apa yang akan kamu lakukan dengan kehamilanku ini?" "Memangnya kamu mau aku ngapain? Kamu mau ada pesta? Ayo! Aku nggak masalah sama sekali." Karyna menatap lesu pada Dave. Dia tak bisa mendapatkan apa yang dimau jika Dave masih begitu kaku. "Aku mau kamu janji, Dave." "Apa?" "Cintai anak ini, meskipun nggak ada cinta diantara kita. Kamu harus melimpahinya dengan kasih sayang, perhatian dan segalanya yang kamu punya. Karena kalo nggak—kalo kamu hanya memanfaatkannya sebagai alat bisnismu—aku serius akan melenyapkannya." Tak terima dengan ucapan sang istri, Dave menjadi naik darah. "Jangan sembarangan kamu bicara, Karyna!!! Dia anakku!! Jangan berpikir kamu akan bisa melenyapkannya!!!" "Aku bisa. Jika kamu masih saja menggunakan anak ini hanya untuk keperluan bisnis. Aku tahu kamu hanya memanfaatkan aku mengandung anak kamu, tapi aku nggak menyetujui kamu yang hanya menginginkannya hadir sebagai alat kesuksesan saja. Kita akan impas, Dave. Kamu memerlukan aku dan aku memerlukan kamu untuk menyayangi anakku. Impas, bagaimana?" Dave memejamkan mata sejenak karena ingin mengambil jeda agar pikirannya tak semrawut. Usai dengan metode menenangkan pikiran yang super singkat itu, Dave menyuruh Karyna untuk duduk di atas pangkuannya. "Duduk di sini, Karyna." Menuruti, Karyna membuka kakinya untuk duduk nyaman di atas paha berotot Dave. Lengannya ditarik oleh Dave guna mengalung pada leher pria itu. "Jangan berpikir macam-macam. Aku sudah pernah sepakat dengan kamu mengenai anak kita. Aku siap menjadi ayah, meskipun awalnya dengan paksaan kamu. Mendengar kamu hamil dan melihat sendiri hasil cek kamu di kamar mandi tadi, mengejutkan karena fokus utamaku adalah momen menjadi ayah yang bisa anakku banggakan serta kamu percaya ada di depan mata. Aku nggak perlu cemas menunggu lagi, kapan kamu hamil. Itu sebabnya... aku norak sekali sampai pingsan." Dave menjatuhkan keningnya pada bahu Karyna. "Aku payah sekali menyambut kabar kedatangan bayi kita, Ryn." Sikap malu yang ditunjukkan oleh Dave membuat Karyna gemas. Dipeluknya kepala sang pria dan Karyna mencium puncaknya karena sekarang posisi Karyna lebih tinggi karena berada dalam pangkuan Dave. "Aku selalu ingin yang terbaik untuk anak ini, Dave. Aku akan marah dan melawan kamu sepenuhnya kalo kamu ingkar. Dan juga... jangan berlebihan lagi karena kaget! Yang malu bukan kamu, tapi aku yang dilirik dan ditanya sopir kenapa kamu sampai pingsan!" Karyna tetap memukul punggung Dave karena kesal. "Tapi aku pakai celana dalam, Ryn. Tadi, kan cuma pakai bathrobe?" "Bodoh!" maki Karyna. Perempuan itu semakin berani semenjak ada janin dalam perutnya. "Jelas-jelas aku yang pakaikan sebelum manggil sopir! Malulah kalo ada yang lihat batangmu!!!" Dave tidak menahan tawanya yang terdengar lepas. "Astaga, Karyna. Baru kali ini aku kelihatan bodoh dan nggak memiliki harga diri di depan kamu. Sialannya, kamu masih merakap menjadi sekretarisku. Di bagian profesional, kamu tentu mengetahui bagian memalukanku." Agaknya Karyna menegang saat Dave menyinggung soal statusnya yang masih menjadi sekretaris pria itu. Mengingat kesepakatan yang mereka buat, Karyna malah berbalik panik. Takut jika Dave sudah sadar akan kesepakatan dimana Karyna akan dipecat setelah dirinya positif hamil dan akan sibuk menjadi ibu. "Aku akan simpan rapat bagian memalukan itu." Dave menyeringai dalam pelukan istrinya. "Aku paham kenapa kamu langsung mengatakan demikian." "Jangan dipahami, bisa?" tawar Karyna yang menyadari Dave jelas ingat mengenai kesepakatan. "Nggak, bisa. Tapi... kita akan bahas itu nanti. Karena sekarang aku ingin kita siarkan kabar ini ke seluruh keluargaku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD