Chapter 25

769 Words
Karyna sepertinya baru menyadari sesuatu setelah pagi harinya terbangun dengan sensasi perutnya yang bergejolak hingga naik untuk dimuntahkan. Masih bisa ditahan, tapi dia menyadari ada yang tak beres dengan kondisi tubuhnya sendiri. Belum lagi dengan sikapnya kemarin, mengingat kejadian sebelum dirinya bergulat di ranjang dengan Dave, Karyna langsung menepuk wajahnya dengan frustasi. "Kenapa nampar mukamu sendiri?" Suara berat dan serak dari balik tubuhnya menyadarkan Karyna, bahwa tubuh telanjang bulat mereka masih dalam kondisi saling melekat. Dave memeluknya semakin erat, seolah tak mau melepaskan Karyna barang sedetik saja. "Dave, kita harus ngomong." Ajak Karyna mencoba berpikir waras. Meski bayangan sikap gilanya kemarin masih terngiang dalam benak. "Hng. Ngomong aja..." Pria itu bahkan masih setengah mendengkur saat membalas ucapan Karyna. Gila saja jika Karyna mengajak bicara dalam kondisi seperti ini. "Lepasin dulu tangan kamu." Tidak bergeming. Suaminya itu tidak memedulikan apa yang Karyna suruh. Bermodal tenaga, Karyna tidak bisa mengimbanginya. Lalu, berusaha mencubit lengan Dave hanya bagai menggelitik saja. Akhirnya, Karyna berusaha berpikir lebih dulu. Biasanya ancaman yang berujung saling mendebat akan lebih manjur ketimbang usaha yang perlu banyak tenaga. "Dave, sepertinya kamu harus membawa aku ke rumah sakit. Karena kalo nggak, keadaanku mungkin mengejutkan kamu nantinya." Tidak membutuhkan waktu banyak. Mendengar kata rumah sakit jelas mengancam pria itu. "Apa kamu bilang??!" Berganti Karyna yang tidak membalas ucapan Dave. Segera menuruni ranjang dan bergerak ke kamar mandi adalah tujuan utama Karyna setelah rengkuhan suaminya terlepas.  Tidak mengunci pintu kamar mandi sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya. Jika Karyna sibuk dengan agenda lain, maka suaminya juga memiliki agenda lain. Kamar mandi sudah menjadi saksi bahwa pasangan suami istri semacam mereka juga sudah mengumbar hal memalukan satu sama lain. Seperti pagi ini misalnya, Karyna membuang air kencing dan sibuk menampungnya sedangkan Dave berusaha membuka mata dengan mencuci muka di wastafel kamar mandinya yang begitu luas. "Ngapain kamu?" tanya Dave. Mengeringkan wajahnya dengan handuk wajah di sisi yang disediakan, Dave menatapi setiap gerakan istrinya dengan aneh. "Pipis." Jawab Karyna, singkat. "Ya, terus kenapa pipis kamu di tempatin gitu? Jorok, Ryn!" Raut jijik yang keluar dari wajah Dave membuat Karyna gemas. Perempuan itu mendecak dan berkata, "Aku ngapain aja kemarin ke kamu?" "Ngapain? Mainlah sama aku, kamu sadar, kan aku tidurin? Masa nggak inget?" Menghembuskan napas perlahan, Karyna menyabarkan diri. "Dave, maksud aku... kemarin aku bersikap aneh apa aja menurutmu?" Dave tidak bisa menalaah pertanyaan istrinya karena sibuk mencermati gerakan Karyna yang mengambil sekotak alat kecil panjang, membaca singkat aturan pakai di kotak bagian belakang dan mencelupkan stik panjang ke dalam wadah berisi air seni istrinya tadi. Sedangkan Karyna yang menunggu jawaban Dave sembari mengikuti semua prosedur penggunaan alat tes kehamilan harus mendongak karena tak ada suara yang kunjung datang dari suaminya. "Dave???" "Kamu aneh." Kata pria itu tiba-tiba. "Kamu aneh belakangan ini dan tadi malam adalah puncaknya, menurutku. Kamu makin bersikap nggak profesional seperti yang kamu gadang selama ini. Kamu aneh tapi jadi lebih kelihatan perempuan aslinya." "Maksudmu?" Dave mengalihkan tatapannya dari stik yang istrinya gunakan. "Pake dulu bathrobe-nya. Aku nggak bisa fokus, Ryn! Mau jawab kamu, lihat kegiatan kamu atau makan kamu lagi." Karyna dengan cepat mengambil bathrobe yang tergantung di balik pintu dan memberikan milik Dave juga. Keduanya kini menunggu di depan meja wastafel. Dave kembali fokus melihat Karyna mengambil kotak lainnya. Berbeda warna, pun bentuk yang ada di dalamnya. Kali ini bentuknya persegi panjang yang berbeda, duh itu apaan bentuknya mirip-mirip tapi beda? "Kamu belum jelasin, aku aneh gimana?" tagih Karyna masih sibuk mengurusi alat-alatnya sendiri tanpa menatap Dave. "Aneh. Mood kamu lebih kelihatan, Ryn. Biasanya, kamu mati-matian nahan gengsimu. Tapi belakangan kamu lebih manja, mudah marah, bahkan berani membuat aku seperti bawahanmu." Karyna mengoreksi, "Bukan bawahan. Itu alamiah aja aku memperlakukan kamu selayaknya suami. Normal, kan? Nyuruh, manja dan gampang marah ke suami... itu normal." "Tapi bagiku, kamu yang semacam itu adalah abnormal!" balas Dave cepat. "Tapi nggak masalah. Kamu terlihat lebih perempuan daripada Karyna sekretarisku." "Hamil..." gumam Karyna yang menatapi satu persatu alat tes kehamilan. "APA???" Sadar bahwa ada Dave yang sedari tadi tidak keluar dari kamar mandi, melihat bagaimana proses Karyna menggunakan air seninya pada alat tes kehamilan itu, membuat Karyna segera menyodorkan salah satunya yang bertuliskan pregnant sebagai hasilnya. Sebab Dave tidak akan paham garis dua samar, pria itu bodoh. "Ini hamil artinya, Ryn. Terus apa???" Karyna memutar bola matanya malas. "Itu jawabannya, Dave! Aku hamil. Aku pipis dan nempatin air pipisku, ya, untuk cek aku hamil atau nggak. Karena aku telat datang bulan dan emosiku yang mudah naik turun seperti kata kamu." Pernah melihat sapi d***u? Begitulah raut Dave sekarang. Dia terlihat d***u sekali dengan penjelasan Karyna. "Dave??? Apa reaksimu???" "Hah...?" Pria itu memundurkan tubuh, berpegangan pada pinggiran wastafel dan mendudukan diri di lantai kamar mandi. "Kamu hamil, Ryn?" Karyna dibuat menjadi kebingungan. "Iya, aku hamil." Lalu, dengan bodohnya pria itu pingsan. Karyna menjadi teringat bahwa orang kaya memiliki banyak keanehan, salah satunya adalah sang suami, Dave Mahendra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD