Chapter 22

680 Words
Adik? Karyna tidak mengerti dengan apa yang Dave katakan. Mengapa yang terdengar saat ini adalah hal yang tidak benar? “Adik, Bapak?” Dave mengangguk enteng. “Ya, adik. Dari segi nama saja kami punya kemiripan, kan? Saya Dave Mahendra G, sedangkan dia Dion Mahaka G.” “Tapi kenapa bapak pukul adik bapak sendiri?” tanya Karyna memastikan segalanya lebih dulu. “Dia anak mama saya. Itu artinya dia adik saya.” Perempuan itu masih tak paham dengan apa yang suaminya jelaskan. Sungguhlah, penjelasan yang Dave paparkan membuat sekujur tubuh Karyna menegang. Anak mama Hayana? Adik Dave? “Bukan anak papa Duta?” suaminya itu mengangguk dengan enteng kembali. Karyna sontak membekap mulutnya sendiri agar tidak terbuka dengan dramatis. “Ya, Tuhan!” Bukannya menenangkan sang istri, Dave justru mendengkus melihat tingkah Karyna yang begitu terkejut. “Kenapa kamu terkejut begitu?” “Dan kenapa bapak tidak merasa berat sama sekali dengan hal ini?” “Saya keberatan pun tidak akan mengubah keadaan. Dion akan tetap terlahir dan dia hidup sebagai anak mama dan papa saya.” Karyna menurunkan raut tegangnya. Berganti dengan ekspresi prihatin kepada suaminya. “Bapak pasti sakit hati dan kecewa sekali.” “Sekali lagi, Ryn. Itu nggak akan mengubah keadaan untuk semuanya.” Sejenak, mereka tak bicara mengenai apa pun. Karyna paham bahwa membicarakan mengenai keluarga yang tidak sempurna selalu menjadi beban tersendiri. “Itu sebabnya bapak menginginkan anak? Karena ternyata bapak mempunyai adik yang bisa… menggeser posisi bapak?” tanya Karyna memastikan soal anak yang digadang dan diinginkan Dave tersebut. “Kamu memang pandai, Ryn. Saya sepertinya tidak bisa menyembunyikan hal apa pun lagi dari kamu.” Karyna menggeser posisinya untuk memberi jarak pada pria itu. Mereka butuh waktu banyak untuk membagi cerita, jadi Karyna akan mengorek cerita dari pria itu. Sebab Karyna tak mau menjadi sosok istri yang tak tahu apa-apa mengenai suami kayanya itu. “Apa bapak tidak keberatan untuk menceritakan mengenai keluarga bapak kepada saya?” Pria itu berpikir sejenak dengan menatap Karyna lamat sebelum mengangguk. “Saya akan memberikan semua cerita yang kamu mau. Asalkan ada kesepakatan panggilan baru diantara kita berdua.” “Hm? Kesepakatan panggilan apa, Pak?” Jarak yang semula dibuat oleh Karyna, menjadi sempit kembali dengan gerakan Dave yang cepat hingga wajah mereka hampir bertubrukan keras. “Berhenti panggil saya dengan sebutan bapak, Ryn. Memangnya kamu menikahi papa saya hingga memanggil bapak terus menerus?” Karyna memutuskan berani membalas gerakan maju suaminya. Dia hidu dan tatapi mata dan bibir Dave bergantian. “Apa keuntungan yang saya dapatkan jika saya mengiyakan kesepakatan ini, Pak Dave?” Dave mencium bibir Karyna, tidak terburu-buru melainkan gerakan yang lembut dan membuat Karyna agaknya terpikat dengan cara lembut tersebut. Lumatan yang ritmenya tak menggebu dan bukan tipikal kasar yang biasanya pria itu berikan di kegiatan b******a mereka memberatkan napas Karyna. Ketika Dave melepaskannya dan mendapati wajah memerah serta mata terpejam istrinya begitu menggemaskan, pria itu pun berkata, “Ini yang akan kamu dapatkan. Keuntungan yang tidak biasanya saya berikan. Ciuman manis yang tidak menggebu.” Berganti Dave yang memandangi mata dan bibir perempuan itu dengan sengaja. “Bagaimana? Mau?” “Panggilan apa yang bapak inginkan?” Dave tidak bisa menahan senyumannya, sebab balasan Karyna itu menjelaskan bahwa sang istri memang terhipnotis dengan ciuman yang tak biasanya Dave berikan itu. “Selain bapak, tentu saja.” Jawaban Dave otomatis membuat Karyna berpikir keras. “Saya nggak punya panggilan yang pas untuk… kamu.” “Hm… kamu.” Dave mengangguk dan memundurkan diri. “Menarik. Kamu juga tidak apa, permulaan yang baik.” “Sewaktu-waktu saya panggil kamu dengan nama apa nggak masalah?” tanya Karyna kembali. “Kamu sudah melakukannya tadi sore. Saat kamu kelepasan dan saya yang memukul Dion.” “Jadi, itu nggak masalah?” “Sama sekali.” Memahami apa yang Dave mau, Karyna kembali mengingat apa yang dia inginkan dari Dave. “Oke, sudah selesai bagian panggilannya. Sekarang, bagian kamu cerita lagi.” “Besok saja, ketika ada waktu libur. Saya akan ceritakan ke kamu.” Kening Karyna mengkerut, setelah ciuman dalam yang mereka bagi, kini malah Dave ingin melempar kesempatan bagi Karyna untuk mendengarkan cerita mengenai keluarga pria itu. “Ada apa dengan waktu libur, Dave?” tuntut Karyna. “Lebih luang. Saya capek malam ini. Istirahat saja langsung.” “Jika berhubungan badan kamu bisa menyingkirkan rasa lelahmu—” “Oke. Saya cerita! Jangan sambungkan dengan urusan intim dan jangan coba-coba mengurangi jatah saya, Ryn!” Dave dan kelakuannya yang tak tahan berpuasa selalu bisa dijadikan senjata bagi Karyna untuk di atas udara. “Karena kamu ingatkan, saya mungkin akan memikirkan kemungkinan kamu berpuasa. Ya, tergantung bagaimana sikapmu, Dave.” “Sial, Karyna! Kamu memanfaatkan keadaan.” Dan Karyna hanya tertawa senang setelah kesepakatan kemarin Dave yang bisa tertawa lepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD