Chapter 21

662 Words
Rasa penasaran saja memang tidak cukup untuk membuat seseorang puas akan perkiraan mereka sendiri. Lebih baik mengulik dengan dalam ketimbang bertanya, juga kebiasaan dari banyak orang yang suka sekali meninggikan rasa penasaran. Sebenarnya tak terkecuali untuk Karyna, hanya saja dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mencampuri apapun yang tak ingin Dave bagi dengannya. Ya, benar. Dave, suaminya, sepertinya masih enggan membagi cerita siapa lelaki yang membuat onar di ruangan Dave. Tebakan Karyna jelas hanya sebatas kerabat pria itu, sebab panggilan abang gue itu pasti untuk keluarga yang dituakan, bukan? "Mikirin yang tadi?" tanya Dave yang sebelumnya lebih memilih fokus pada tabletnya ketimbang mengajak bicara Karyna. Sopir yang selalu rajin mengantar serta menjemput terlihat tak terusik dengan Dave yang mulai mengeluarkan suara, tapi tetap saja telinga sopir itu mendengar segalanya setelah ini. "Iya." Jawab Karyna, tanpa ingin menutupi. "Perlu saya jelaskan ke kamu?" Itu tandanya Dave sedang menanyakan apakah informasi itu cukup penting atau tidak untuk mereka bahas. "Terserah bapak. Selama bapak nggak ingin membagi apapun dengan saya, itu artinya saya nggak memiliki hak untuk memaksa." Pria itu mendengkus. "Kamu memang pandai membalas ucapan orang, Karyna. Sampai menuntut jawaban saja seolah saya yang akan menyesal untuk tidak menjawabnya." "Bapak memang terlalu paham pemikiran wanita, sampai hal seperti ini saja sangat peka. Saya bahkan belum menaikkan kedua belah alis saya, tapi bapak sudah paham jika saya menuntut jawaban." Karyna kembali melirik sopir pribadi yang suaminya pekerjakan. Agaknya, Karyna paham bahwa si sopir tidak mengerti pembahasan antar pasangan suami istri yang terlalu berbelit-belit seperti mereka. "Jadi, intinya—" Karyna menahan suaminya yang ingin menjelaskan. Mata mereka bertatapan dan Karyna menggunakannya untuk memberitahu Dave agar menahan jawabannya hingga nanti. "Jangan jawab sekarang. Jelaskan secara rinci di rumah. Saya nggak ingin ada informasi pribadi yang terbagi di luar rumah." Dave menurunkan tangan istrinya dan bertanya, "Kenapa harus menunggu di rumah?" "Karena bapak yang mau membagi cerita dengan saya adalah sosok suami saya. Tidak ada yang boleh mendengar cerita suami selain istrinya. Karena saya akan mulai menjadi pendengar utama bapak di rumah dan di tempat kerja." * Sepakat untuk membersihkan diri mereka lebih dulu, keduanya juga sepakat untuk absen b********h malam ini. Bukan Karyna yang melarang, melainkan Dave sendiri yang menentang. Alasannya karena pria itu mendapat informasi dari dokter pribadinya mengenai faktor perempuan bisa cepat hamil. "Memangnya bapak nanya apa sampai dilarang berhubungan seeing dengan istri?" tanya Karyna yang sama masih butanya dengan faktor supaya lekas hamil. "Saya minta tips supaya malam ini s****a saya bisa membuahi kamu dengan baik. Tapi malah ditanya seberapa rutin saya berhubungan badan pasca resmi menikah." Karena terhitung masih begitu muda dalam usia pernikahan, mereka tentu saja menggunakan waktu yang ada untuk saling b******a. "Oh. Jadi... nggak boleh terlalu sering?" Dave mengangguk. "Saya juga dikirimi file apa saja faktor yang bisa membuat kamu cepat hamil. Tapi belum saya buka." "Kenapa?" "Karena saya mau membacanya dengan kamu. Supaya saling tahu, bukan saya saja yang tahu. Nanti malah kamu sebut saya cerewet." Menaikkan garis bibir sebelah kiri, Karyna mulai merangsek dalam pelukan Dave begitu saja. Tidak ada sikap malu-malu tapi mau. Karyna begitu spontan untuk melakukan apapun yang diinginkannya. "Yaudah, malam ini absen dulu. Sekarang waktunya bapak cerita." Dave mendorong mundur tubuh Karyna dengan pelan. "Sebentar, Ryn." Karyna menunggu dengan kening berkerut. "Kenapa, Pak?" "Hm, nggak. Cuma sedang menyesuaikan diri saja." Semakin bingung dengan jawaban suaminya, Karyna kembali bertanya. "Menyesuaikan apa, sih, Pak? Kok, bapak kelihatan nahan sesuatu." Dave berdeham. Berusaha menetralkan isi kepalanya yang tiada duanya untuk memikirkan hal kotor ketika di dekat Karyna. "Udahlah, lanjut aja. Jangan singgung apa-apa. Kamu tadi mau saya ngapain?" Dasar lelaki berhasrat tinggi! Masa dipeluk doang udah nggak tahan! Cibiran Karyna hanya sampai terucap di dalam hati saja. Dia tak akan mengucapkannya di depan Dave, sebab bisa saja agenda cerita menjadi kacau karena Dave merasa tertantang untuk meniduri Karyna. Batal saja nanti rencana mereka berusaha membuat Karyna hamil lebin cepat. "Saya mau bapak cerita soal laki-laki yang tadi ke kantor. Dia siapa, Pak?" "Oh, yang tadi kamu tahan saya jelasin di mobil." Dave sepertinya mulai bisa menahan diri. "Kamu tahu Dion Mahaka yang tertera di nama materi dari Multimedia DMG?" Karyna mengangguk sebagai jawaban. "Dia itu pemilik Multimedia DMG. Dion Mahaka... sekaligus, adik saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD