Kembalinya mereka pada rutinitas kantor jelas membawa sedikit perubahan. Bukan pada tatanan kantor, tetapi pada cara para pegawai melirik ke arah Dave dan Karyna. Menahan helaan napasnya sendiri, Karyna mengeratkan pegangannya pada tas mahal yang dia gunakan untuk bekerja sebab Dave memaksa. Apa pun yang dihasilkan dari pria itu, maka ujungnya harus dipakai dikhalayak ramai. Termasuk tas ber- branded
yang digunakan Karyna saat ini.
Tatapan para pegawai memang hanya berani melirik sekilas. Meskipun diundang seluruhnya ke acara resepsi pernikahan kedua mempelai itu, tetap saja masih ada bisik-bisik tetangga antar kubikel mengenai status kepemilikan atasannya yang tentu saja menjadi pro dan kontra.
Sesampainya di ruangan, keduanya mulai sibuk menata kekurangan selama beberapa hari digunakan untuk berbulan madu. Oh, jangan lupakan. Untuk bagian bulan madu, mereka tidak berpura-pura. Jika ada serial mengenai pernikahan yang memiliki kesepakatan yang sulit sekali mengecap bulan madu sejak awal, maka lain cerita dengan Dave dan Karyna ini. Malam pertama mereka habiskan dengan tenaga yang dikuras habis-habisan, lalu malam berikutnya dalam jadwal bulan madu mereka diisi dengan menonton film dewasa yang berakhir dengan oral seks diantara keduanya, serta malam-malam berikutnya diisi dengan pembicaraan dewasa mengenai ranjang mereka dan tak lupa beberapa hari lebih banyak digunakan untuk b******a ketimbang mengeksplorasi kawasan sekitar hotel yang dekat dengan pantai terkenal di Nusa Tenggara tersebut.
"Pak, ada materi yang ternyata lupa saya salin untuk dikirimkan ke bapak. Karena kemarin materinya dikirim cetak mepet dengan hari pernikahan kita." Karyna membawa tablet khusus kerja yang akan selalu ditinggalkan di meja kantor miliknya.
"Materi apa?"
"Soal... di sini tertulisnya materi terpenuhi Dion Mahaka G."
Dave langsung menghentikan gerakan tangannya yang semula mengutak atik komputer kerjanya sendiri. Kacamatanya diturunkan pada tulang hidung dan tatapannya terpenuhi dengan kerutan dahi begitu mendapati Karyna menyebutkan nama tersebut.
"Siapa pengirimnya?"
"Sebelum saya scan, ini dari perusahaan multimedia DMG, Pak di kertas print-nya." "Sialan..."
Dave sepertinya tidak fokus mendengarkan Karyna hingga tanpa sadar umpatannya terdengar oleh sang istri. "Bagaimana, Pak? Apa pekerjaan saya seburuk itu?"
"Bukan. Itu bukan untuk kamu. Saya mengumpat untuk seseorang yang berhubungan dengan materi itu." Membenarkan letak kacamatanya, Dave melanjutkan kegiatannya di depan komputer. "Kamu bawa materi cetaknya saja ke saya. Biar nanti saya baca langsung.
Belakangan mata saya lelah membaca dari perangkat komputer."
Karyna mendengarkan dengan baik. Dia turuti semua ucapan Dave sebagaimana dirinya belum menjadi istri dari pria itu. Pekerjaan mereka benar-benar berjalan profesional seperti yang Karyna inginkan sejauh ini.
Namun, belum mencapai jam pulang kerja. Dave berulah dengan memasuki ruangan sang istri dan sengaja menggulung lengan kemeja Karyna dengan alasan tak masuk akal.
"Bapak sedang apa?"
"Melihat jam."
Karyna menahan diri untuk tidak bicara tak formal pada Dave.
"Ada jam tangan yang bapak gunakan. Bapak juga bisa melihatnya di layar komputer, ponsel maupun tablet yang ada di meja bapak."
"Tapi saya mau melihat jam yang ada di pergelangan tangan kamu ini, Karyna." "Pak..."
"Hssttt!" Dave menaruh telunjuknya dibibir sang istri. "Saya cuma mau memastikan saja,
Ryn. Kamu tidak lupa kalau yang sedari pagi kamu perlakukan kaku ini adalah suami kamu."
"Saya ingat, Pak. Saya sudah menyiapkan diri menjadi istri bapak begitu sampai di rumah. Tidak perlu cemas." Perempuan itu menarik tangannya dan kembali membenarkan lengan kemejanya. "Silakan kembali ke meja bapak, karena sebentar lagi jam kerja habis maka semakin cepat pekerjaan selesai semakin cepat bapak bisa menjenguk istri
bapak."
"Kalau saya jenguk sekarang tidak boleh?" tawar pria itu dengan nada yang Karyna tahu lebih dientengkan. Sudah pasti terdengar selayaknya remaja putra yang menghasut pacar perempuannya untuk memenuhi kemauan mereka.
"Bapak mau saya lembur di kantor ketimbang lembur di rumah, ya?"
Gertakan itu manjur. Dave langsung menegakan tubuh setelah menyandarkan bokongnya pada meja kerja Karyna.
"Kamu ini, satu-satunya perempuan yang membuat saya kelihatan murahan!" oceh Dave, membuat Karyna menahan kekehannya sekuat tenaga.
Sebelum Dave benar-benar mencapai kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka menampilkan sosok yang pernah Karyna lihat tetapi masih begitu asing dimatanya.
"Sibuk, Bang?" sapaan pertama yang Karyna dengar melalui sebuah pertanyaan.
Sosok itu dengan berani masuk tanpa canggung ke ruangan Dave.
"Oh, hai! Sekretaris cantiknya abang gue!" sapaan ceria Karyna dapatkan.
Sebelum sosok itu mendekati Karyna yang bingung dan masih duduk di tempatnya, Dave lebih dulu menghadang lelaki yang terlihat lebih santai sekali bersikap.
"Jangan berani nyentuh dia!"
Karyna tak mengerti, tapi suaminya jelas mengetatkan rahangnya pada lelaki yang Karyna kira tidak songong sama sekali itu.
"Kenapa, Bang? Dia cuma sekretaris, kan? Biasanya juga lo nggak protes kalo gue pake
cewek bekas—"
Bunyi pukulan keras menyadarkan Karyna. Meski kebingungan dia langsung beranjak mendekati Dave. "Dave???" Untuk pertama kalinya Karyna menyebut nama suaminya tanpa embel bapak.
"Tetap di sini. Kamu pulang sama saku. Aku urus orang ini dulu."
Biasanya, Dave akan berpura-pura bicara seperti itu di depan kedua orangtuanya. Tapi kini...
Apa orang itu termasuk yang penting seperti keluarga bagi Dave?
Karyna tidak tahu. Bahkan sampai pintu tertutup dan membawa kedua sosok itu dia tak tahu harus melakukan apa.