Chapter 19

829 Words
Momen berdua di kamar hotel bagi keduanya bukan hanya sekadar menghabiskan waktu malam pertama yang tidak perdana sama sekali itu. Keduanya disibukkan dengan rentetan daftar kesepakatan setelah berusaha melepas penat sekaligus lelah dari aktivitas mereka semalam. "Hal pertama yang harus bapak ingat setelah saya resmi istri bapak adalah tetap menjadikan saya sekretaris bapak dan menggaji secara profesional tanpa adanya pengurangan meskipun status saya berubah. Kedua, adalah sistem hubungan yang akan kita berdua jalani pasca menjadi suami istri di kantor. Tidak ada skinship berlebihan dan tidak ada jadwal yang akan saya terima untuk bapak tiduri di kantor. Pekerjaan kita harus murni atasan dan bawahan, Pak." Karyna menjelaskan tanpa jeda. Tidak memberikan Dave waktu untuk menyela ucapannya. Sedangkan pria yang diberi penjelasan mengenai kesepakatan pertama dan kedua itu hanya mengangguk sembari menyeruput kopi pagi harinya dari pelayanan hotel ternama yang mereka tempati selama masa honeymoon. "Pak???" tegur Karyna yang tidak kunjung mendapatkan balasan. "Apa?" timpal Dave dengan begitu datar. "Bapak mendengarkan ucapan saya, kan?" "Hm. Ucapan kamu soal posisi kamu sebagai sekretaris sekaligus istri saya?" "Ya." Dave mengangguk. "Saya dengarkan dengan baik." "Yang lainnya? Apa bapak dengarkan juga?" tambah Karyna menuntut. "Hubungan di kantor secara profesional? Ya, saya dengarkan. Kenapa kamu berisik sekali dengan kesepakatan semacam itu, sih, Ryn? Toh sebelum kamu sah menjadi istri saya, agenda tidur meniduri sudah kita lakukan di kantor. Kenapa juga kamu buat aturan baru yang jelas akan kita langgar karena tidak tahan?" Dave menunggu istrinya akan memukul dadanya dengan genit. Mengatakan jika dirinya adalah suami m***m dan nakal sekaligus menyukai kalimat Dave yang menggoda. Namun, pria itu tidak mendapatkan apa-apa selain jawaban panjang dari sekretaris sekaligus istrinya itu. "Bapak ini suka melenceng. Makanya saya luruskan. Ini karena orang kantor tahu status kita sekarang yang menjadi suami istri, jika saya tidak membahas kesepakatan semacam ini, mereka akan berpikir ketika kita di kantor bukan bekerjalah yang menjadi agenda tetapi saling melucuti pakaianlah yang mereka perkirakan." Menaruh gelasnya pada permukaan meja, Dave melipat kakinya anggun dengan bathrobe yang menunjukkan bulu kaki pria itu. Diam-diam Karyna mencibir dalam hati bahwa suaminya memang sangat genit. Merawat diri dan suka berpose semacam itu. Memang, sih, kaki Dave terlalu panjang hingga mudah saja ditekuk tapi bagi Karyna pria itu terlalu metropolitan dengan posenya saat ini. Memangnya dia itu aktor Korea Selatan, apa??! "Terus kenapa tidak kamu permudah saja semuanya, Ryn?" "Maksud bapak?" "Ya... kamu tinggal mengorbankan karir dibawah naungan saya. Berhenti bekerja, saya penuhi segalanya untuk kamu dan boom! Kamu tidak perlu memusingkan prediksi karyawan saya yang lain." Ekspresi Karyna menjadi keruh. Dave memang tak pernah mau mengalah. "Bapak sudah janji sejak awal. Pada saat saya menyepakati tidak akan memakai pewarna bibir merah, saat itu juga bapak sepakat tetap mengizinkan saya bekerja menjadi sekretaris bapak." Bukan hanya Karyna yang berpikir bahwa suaminya tak mau mengalah, tetapi juga sebaliknya. Maka dengan itu, Dave menghela napasnya panjang sebab menyiapkan banyak balasan untuk istrinya yang pandai berdebat itu. "Oke, katakanlah saya setuju. Tapi yang pusing dengan cibiran orang di kantor adalah kamu. Saya jelas tidak peduli, toh saya bos mereka. Tapi kamu, coba pikirkan, kamu adalah perempuan yang sudah pasti akan berprasangka buruk terhadap pemikiran orang lain terhadap kamu. Saya sebagai suami kamu tidak melarang bekerja, sih. Hanya saja kamu tahu, kan, saya bukan atasan seperti telenovela yang akan memecat karyawan saya karena sibuk mencibir kamu?" Benar. Yang akan lebih banyak rugi beban pikiran adalah Karyna, sebab Dave tidak akan sedrama itu untuk mengurusi semua yang mengusik Karyna. Tidak ada romansa diantara mereka, kecuali napsu yang membara. Namun, bukan Karyna namanya jika tidak keras kepala. Dia akan tetap pada pendiriannya, hingga badai akan menerpa dan membuatnya jera dengan sendirinya. "Saya tidak akan ambil pusing, Pak. Lebih baik sekarang bapak buat secara tertulis kesepakatan kita ini. Saya tidak mau, kedepannya, bapak malah seenaknya memecat saya dengan enteng. Kesepakatan tetap kesepakatan." Dave menatap Karyna yang semangat sekali mengeluarkan pendapatnya sebagai perempuan super mandiri. Berpikir sebagai pebisnis, Dave mendapatkan kesepakatan yang akan membungkam Karyna tentunya. "Baik, kalau itu yang kamu mau. Saya akan berikan apa pun kemauan kamu. Dua kesepakatan itu akan saya cantumkan secara resmi dalam lembar tinta. Pengacara saya juga akan mengurus hal ini jika kamu tidak percaya. Tapi saya juga akan memasukkan kesepakatan yang saya inginkan setelah kesepakatan yang kamu mau tadi saya turuti." Karyna mengangguk enteng. "Silakan. Ini memang kesepakatan bersama, saya tidak akan melarang bapak. Profesional, Pak." "Oke." Dave terkekeh. Lalu mengambil tabletnya dan bisa Karyna lihat sendiri suaminya mengirimkan surel pada pengacaranya mengenai kesepakatan yang Karyna mau. Namun, matanya kontan membelalak karena isi yang Dave masukkan sebagai kesepakatan yang pria itu inginkan. Kesepakatan dari Dave Mahendra G. 1. Menerima semua kesepakatan yang istri saya, Karyna Yahyata Gumito, inginkan. Semuanya, diterima secara PROFESIONAL. 2. Segala kesepakatan akan luntur ketika istri saya, Karyna Yahyata Gumito, hamil dan melahirkan putra dan putri saya. Seluruh kesepakatan mengenai pekerjaan di kantor akan luruh pada masa istri saya resmi menjadi ibu dari anak-anak saya. Dan semua itu membuat Karyna lemas seketika. Dave mendapatkan poin terbesarnya dari d******i Karyna. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD