| Gerhana, perempuan itu menatap sahabatnya penuh arti. Tak ada yang Hana tak tahu tentang Mer. Tentang kejadian sepuluh tahun lalu itu pun Hana tahu, walau dengan diam-diam, saat malam, saat Mer bermimpi dalam tidurnya, meneriakkan kemarahan, melolongkan keputusasaan, dan menjeritkan ketakutannya. Bahkan bila gadis itu sampai terjaga, tak satupun tanya Hana lontarkan. Pun Mer, ia tak berusaha menjelaskan segala resah, takut, marah dan putus asanya. Memendamnya sendirian, seperti selama ini yang ia lakukan. Membekap mulutnya sendiri hingga tangisnya mereda. Hana bisa tahu semua hal itu. Tercetak jelas di raut gadis itu, matanya jelas menyiratkan luka yang teramat dalam. Hana tahu luka itu. Karena ia pun memiliki luka serupa. Senyum samar membingkai bibirnya yang di poles lip gloss, han

