Author POV
Bianca terlihat sedang duduk manis di salah satu bangku ruang tunggu bandara. Ya, sore ini dia sedang menunggu kedua orang tuanya kembali. Setelah mendapat telepon dari Mamanya 3 hari lalu kalau orang tua Bianca akan kembali ke Indonesia.
Dari pada merasa bosan menunggu Bianca lebih memilih mendengarkan musik sambil melihat-lihat gambar hasil rancangan Naena. Ya ini sudah tiga bulan semenjak Davira dan Willy setuju memakai BM untuk pernikahan mereka.
"Bii" ucap seorang wanita. Bianca pun menoleh ke sumber suara.
"Mama, Papa" ucap Bianca senang.
"Anak Mama tambah cantik" ucap Mama yang memeluk Bianca.
"Papa sangat merindukanmu" kali ini Papa Bianca memeluknya.
"Bianca juga kangen, Pa" ucap Bianca manja.
"Ayo, kita pulang" ajak Papa.
"Pa, kita makan dulu ya. Mama lapar" ucap Mama.
"Oke" jawab Papa.
Mereka bertiga pun melangkah ke luar dari Bandara sambil sesekali bercerita keseruan Papa dan Mama selama di Australia.
Mereka bertiga menaiki taksi dari Bandara. Ya, mobil Bianca masih rusak, rencananya dia ingin menjual dan mengganti mobilnya itu. Tetapi waktunya saja yang belum sempat.
"Mobilmu kemana sayang?" tanya Papa.
"Rusak Pa" jawab Bianca.
"Papa sudah bilang, jangan beli mobil bekas" ucap Papa.
"Iya, Pa. Waktu itu uang Bianca hanya cukup beli mobil bekas"
"Kamu sih, dibeliin Papa tidak mau" ucap Mama dan Bianca hanya mencibir.
"Sudah-sudah" ucap Papa.
Taksi itu melaju membelah jalanan. Percakapan mereka pun berganti membahas Papa yang tiba-tiba kembli ke Indonesia.
Ternyata Papa kembali ke Indonesia karena, direktur pusat di Indonesia akan menikah. Dan Papa ditugaskan untuk menjadi wakil direktur agar bisa menggantikan direktur utama selama cuti menikah.
Ini semua karena Papa sudah 30 tahun bekerja di cabang perusahaan Papa. Kinerja dan loyalitas Papa sangat bagus dan bisa diandalkan, oleh sebab itu Papa yang terpilih.
Papa dan Mama juga senang karena bisa kembali ke Indonesia. Karena sudah hampir 5 tahun mereka di Australia.
"Direktur Papa, baru mau menikah?" tanya Bianca dengan raut wajah tak bisa diartikan.
Papa dan Mama menganggukan kepalanya.
"Ini istri yang ke berapa Pa?" tanya Bianca.
Ya, perkiraan Bianca pasti direktur itu umurnya sudah lebih tua dari Papa. Dan Bianca tidak bisa membayangkan pria tua itu menikah lagi.
"Hahaha. Pasti kamu kira direktur Papa itu kakek tua ya" ucap Mama tertawa.
"Ini istri pertamanya. Dan dia tidak setua yang kamu pikirkan" ucap Papa terkekeh.
Bianca pun tertawa malu dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya taksi itu tiba di tempat makan yang terkenal di Jakarta.
Bianca, Mama, dan Papa masuk ke dalam Bandar Jakarta mereka duduk di bangku dekat jendela.
Mereka bertiga memesan aneka hidangan laut yang menjadi favourite mereka bertiga.
"Pa, Ma, aku ketoilet ya" ucap Bianca. Papa dan Mama menganggukan kepalanya.
Bianca pun melangkah menuju toilet. Bianca menuntaskan hajatnya lalu mencuci tangan di wastafel.
Bianca kembali melangkah keluar dari toilet. Entah kenapa mata Bianca ingin sekali menatap ke sebelah kiri dan benar saja matanya menangkap seseorang yang selama ini dia rindukan.
"Erick" ucap Bianca pelan yang melihat sosok pria sedang duduk di pojok.
"Maaf pak. Maaf" ucap pelayan meminta maaf.
Bianca pun ikut terkejut, dia tanpa sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawakan es jeruk. Dan es itu tumpah ke baju seseorang yang juga sedang berjalan disamping pelayan itu.
"Maaf" ucap Bianca meminta maaf.
"Kau" ucap Bianca dan pria itu bersamaan.
Pria itu pun langsung menarik tangan Bianca dan membawanya keluar. Bianca yang mendapat serangan tiba-tiba tidak bisa berkutik dan dia hanya bisa mengikuti pria itu. Saat pria itu menariknya, Bianca sempat menoleh kembali ke belakang sayangnya sosok pria yang ingin dia lihat sudah tidak ada.
"Apa aku berhalusinasi?" batin Bianca.
"Apa sebenarnya mau mu, hah?" tanya pria itu setelah melepaskan tangan Bianca.
"Okey, aku minta maaf. Tadi aku tidak sengaja" ucap Bianca meminta maaf.
"Pasti ini hanya akal-akalanmu saja" ucap pria itu sinis.
"Akal-akalan bagimana? Sudah jelas aku tidak sengaja" ucap Bianca bingung.
"Omong kosong" ucap pria itu.
"Sudahlah, lelah berdebat dengan pria sepertimu" ucap Bianca sedikit kesal dan melangkah meninggalkan pria itu.
"Aauw" teriak Bianca saat tangannya ditarik kembali oleh pria ini.
"Berhentilah mengikuti. Kalau kau ingin terkenal bukan seperti ini caranya" ucap pria itu tajam.
Bianca melebarkan matanya tak percaya. Jadi pria sombong yang ternyata Willy ini mengira Bianca mengikutinya. Bianca hanya menggelengkan kepalanya.
"Bapak Willy Pratama yang terhormat, ini adalah tempat umum. Siapa saja bisa makan di tempat ini. Lihat saja banyak orang yang datang. Jadi semua yang datang kesini itu hanya untuk mengikutimu. Pendek sekali pikiranmu Pak" ucap Bianca dengan nada mengejek.
"Tutup mulutmu itu. Kau sama saja seperti wanita-wanita yang menginginkan popularitas dariku. Bukan hanya disini, kau mengikutiku sejak di bandara tadi, seperti para wanita itu" ucap Willy dengan mata melirik ke samping kanan, dan benar para wanita disana sedang memperhatikan mereka dengan tatapan cemburu.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku harus bertemu pria sepertimu? Dengar ya, aku saja tidak tahu kalau kamu di bandara. Jangan-jangan kamu yang mengikutiku, buktinya kamu tahu aku dari bandara dan kesini" ejek Bianca lagi.
"Mengikutimu ya" ucap Willy mendekatkan wajah ke Bianca hingga Bianca sedikit mundur.
Deg Deg
Entah kenapa lagi-lagi Bianca jantungnya berdetak tak biasa saat dia sedekat ini dengan Willy.
"In your dream" desis Willy dan lalu meninggalkan Bianca.
"Dasar pria sombong. Lihat saja suatu saat kamu yang akan berlutut dan mencariku" teriak Bianca.
"Bangunlah dari tidurmu Nona" ucap Willy sedikit berteriak tanpa menatap Bianca dan tetap melangkah meninggalkan Bianca.
Bianca melebarkan matanya tak percaya. Pria ini benar-benar sombong dan percaya dirinya tinggi sekali. Bianca langsung mengusap dadanya.
Bianca pun kembali melangkah masuk ke dalam. Dia sempat melirik para wanita itu, dan benar para wanita itu terlihat membicarakannya.
"Aku disamakan dengan para wanita itu. Enak saja" batin Bianca.
Malam hari Bianca harus terpaksa tidur di rumahnya bukan apartemennya. Bianca sedang tidur di dalam kamarnya. Lalu tiba-tiba matanya terbuka.
Bianca menatap langit-langit kamarnya. Dia teringat akan sosok pria yang dia lihat tadi. Andai saja tidak ada pria sombong itu pasti Bianca sudah memastikan penglihatannya benar atau salah.
"Erick, kenapa kamu belum kembali sampai saat ini?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.
"Aku berharap yang aku lihat tadi bukan kamu. Aku yakin kalau kamu datang kembali kamu pasti menemuikukan" ucap Bianca lagi.
Bianca mulai memejamkan mata. Di dalam hatinya dia berdoa semoga yang dia lihat bukanlah pria yang selama ini dia tunggu kehadirannya. Bianca yakin pria yang dia tunggu akan datang padanya suatu saat nanti dan menjelaskan semuanya.
Pagi ini Bianca sarapan bersama Mama dan Papanya. Dengan nasi goreng, telur dadar di tambah kerupuk menemani pagi hari mereka. Tidak lupa segelas s**u vanila yang sudah tersaji di samping piring mereka.
"Ma, Pa, malam ini Bianca tidur di apartemen ya" ucap Bianca yang sudah membasuh mulutnya dengan tissu.
"Mama dan Papa baru saja pulang, kamu sudah lebih memilih tidur diapartemen" ucap Mama sedikit mencibir.
"Bukan begitu Ma. Kerjaan Bianca banyak sekali. Minggu ini ada dua wedding yang harus Bianca selesaikan" ucap Bianca menatap Mama dengan tatapan memelas.
"Ya, sudah. Tapi kamu jangan terlalu lelah. Kerja ingat waktu. Kalau sudah tidak sibuk pulanglah ke rumah" ucap Papa bijak.
"Terima kasih Papa" jawab Bianca senang.
Bianca berdiri mengecup pipi Papa dan Mama sebelum dia berangkat ke kantornya. Pagi ini Bianca lebih memilih naik taksi online. Karena jarak rumah dan kantornya cukup jauh. Di sepanjang perjalanan Bianca terlihat sedang membuat sketsa dekorasi untuk pernikahan Davira dan Willy.
Sebenarnya Bianca berniat ingin membuat dekorasi biasa saja, tetapi karena Bianca tidak suka dengan Willy yang meremehkannya, Bianca ingin dekorasi kali ini menjadi dekorasi terbaiknya. Agar Willy dan Davira menyesal telah meremehkannya. Apalagi teman-teman SMAnya yang para penjilaat itu, mereka harus tahu Bianca bukanlah seperti yang mereka pikirkan.
"Mba, sudah sampai" ucap supur taksi online.
"Oh. Terima kasih Pak" jawab Bianca yang baru saja tersadar.
Bianca mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya, lalu memberikannya kepada supir taksi itu. Bianca turun dari mobil dan langsung memasuki gedung bernuansa hijau pastel.
Pagi ini Bianca mendatangi ruangan Naena. Tepat sekali Naena sudah datang dan sedang sarapan di ruang kerjanya. Bianca pun masuk dengan tersenyum lalu duduk di samping Naena.
"Om sama Tante sudah pulang Bii?" tanya Naena.
"Iya, kemarin" jawab Bianca dan Naena menganggukan kepalanya.
"Makan Bii" ucap Naena menyodorkan sandwich tuna yang dia bawa.
"Thank's. Gue sudah sarapan" tolak Bianca halus.
"Na, gue mau lihat desain loe yang lain boleh?"
"Itu di meja gue. Dibuku yang warna coklat ambil aja" jawab Naena menunjuk meja kerjanya.
Bianca berdiri dan melangkah menuju meja kerja Naena. Bianca mengambil buku coklat yang bertumpuk di atas meja Naena. Bianca pun membawanya dan kembali duduk di samping Naena.
Ceklek
"Morning, gaeees" sapa Icha yang baru saja masuk dengan sumringah.
"Pagi" jawab Naena dan Bianca bersamaan.
Icha pun ikut bergabung bersama Naena dan Bianca. Tidak lupa Icha mengambil sandwich tuna diatas meja dan melapnya. Sedangkan Bianca asyik membuka tiap lembar buku desain Naena.
"Kemarin yang dikirim Naena belum cocok Bii?" tanya Icha yang sedikit melirik aktivitas Bianca.
"Desain Naena mana ada yang tidak oke. Semua yang Naena buat pasti bagus. Cuma gue belum cocok dengan dengan dekorasi yang gue buat nanti" jelas Bianca, Icha dan Naena pun menganggukan kepalanya.
Bianca melihat rancangan gaun dengan model punggung terbuka dan manik mutiara di sekitar d**a. Bianca tersenyum ini rancangan Naena khusus untuk pernikahan Icha. Bianca membalik lagi helai kertas di buku Naena. Bianca terus memperhatikan dengan detail rancangan itu.
"Na, ini sepertinya cocok" ucap Bianca dengan tangan yang menunjuk ke gambar itu.