Bianca melihat rancangan gaun dengan model punggung terbuka dan manik mutiara di sekitar d**a. Bianca tersenyum ini rancangan Naena khusus untuk pernikahan Icha. Bianca membalik lagi helai kertas di buku Naena. Bianca terus memperhatikan dengan detail rancangan itu.
"Na, ini sepertinya cocok" ucap Bianca dengan tangan yang menunjuk ke gambar itu.
Naena dan Icha yang mendengar ucapan Bianca ikut menoleh dan melihat gambar yang ditunjuk oleh Bianca. Seketika Naena terkejut dan menatap Bianca.
"Bii" ucap Naena dengan nada berbeda.
"Na, ini pas bangat. Motif bunganya simple tapi masih terlihat elegan. Terus belahan dadanya juga tidak terlalu tinggi tapi tetap terkesan seksi" ucap Bianca dengan semangat karena dia sangat menyukai rancangan itu.
"Bii, rancangan ini aku buat khusus" ucap Naena dengan nada berubah.
"Maksudnya?" tanya Bianca bingung.
Naena pun menatap Icha yang seakan tahu isi pikiran Naena. Icha pun terlihat menganggukkan kepalanya agar Naena memberitahukan rancangan khusus itu untuk siapa.
"Bii, ini gue buat bukan untuk klien kita" jawab Naena.
"Terus, buat siapa?" tanya Bianca semakin bingung.
"Ini rancangan aku buat khusus untuk kamu" jawab Naena dengan nada melemah dan raut wajah sedikit ragu dengan jawabannya.
Bianca pun terdiam menatap Naena. Bianca menutup buku coklat Naena dan meletakkannya di atas meja. Bianca memejamkan matanya dan menyenderkan punggungnya di sofa.
"Bii, kalau kamu mau rancangan seperti ini untuk pernikahan Davira, aku akan buatkan lagi" ucap Naena dengan nada sedikit tidak enak dengan Bianca.
"Na, tolong rancangan itu langsung masuk produksi" ucap Bianca datar.
"Bii, itu rancangan terbaik aku. Aku janji buatkan lagi dengan tema seperti itu. Tapi tolong jangan ini. Aku mau kamu yang menggunkan ini dipernikahan kamu, Bii" mohon Naena.
Bianca menarik nafas panjang dan berdiri. Rasanya mendengar kata pernikahan untuknya begitu membuka kenangan buruk baginya. Bianca pun melangkahkan kakinya meninggalkan dua sahabatnya itu.
"Na, tolong rancangan itu seminggu ini masuk tahap produksi. Karena dua minggu lagi Davira akan fitting baju" final Bianca sebelum membuka pintu ruang kerja Naena.
Blam
Bianca menutup pintu itu. Naena pun menunduk lemas. Icha mengusap punggung Naena agar Naena tetap semangat. Ya, ini memang sulit. Padahal Naena sudah membuat rancangan itu satu tahun lalu. Rencananya dia ingin sekali memberikan untuk pernikahan Bianca dengan Nathan. Oleh sebab itu Naena dan Icha selalu menjodohkan Nathan dengan Bianca agar mereka berdua bisa bersama.
Bianca melangkah cepat dia tidak menuju ruang kerjanya, tetapi Bianca menaiki lift menuju lantai 10. Setelah sampai di lantai sepuluh Bianca melangkah menaiki tangga menuju rooftop.
Bianca duduk di pinggir tembok. Ya, untung pagi ini sinar matahari tidak begitu panas, Jadi Bianca tidak kepanasan duduk disana. Bianca menatap langit, hatinya sedih. Harusnya tidak begini. Harusnya dia tidak boleh tersinggung dengan ucapan Naena.
Drrrrt Drrrrt
Ponsel di tas Bianca bergetar dan menyadarkan Bianca dari lamunannya. Bianca membuka tasnya dan mengambil ponsel itu. Menatap siapa yang menghubunginya, Bianca kembali lagi memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.
10 menit sudah Bianca duduk di rooftop, Bianca menyenderkan punggungnya ditembok. Kisah tiga tahun lalu memang begitu menyakitkan baginya, dan begitu sulit dia lupakan. Bianca yang terlihat kesal, mengambil kertas rancangan dekorasinya, dia pun meremasnya hingga tak berbentuk dan melemparnya ke depan.
"Bii" ucap seorang pria yang baru saja datang dan berdiri disamping Bianca.
"Nathan" ucap Bianca sedikit terkejut.
"Boleh aku ikut bergabung disini?" tanya Nathan.
"Silahkan" ucap Bianca sedikit menggeser bokongnya.
"Maaf aku menggangumu ya?"
"Tidak. Ada apa?"
"Kenapa teleponku tidak diangkat?" tanya Nathan. Ternyata yang tadi menghubungi Bianca adalah Nathan.
"Aku cuma tidak ingin diganggu" jawab Bianca.
"Berarti aku mengganggumu ya. Tadi kamu bilang tidak" ucap Nathan.
"Hahaha. Sudahlah lupakan. Ada apa kamu kesini?" ucap Bianca dengan terkekeh.
"Aku suka melihatmu tertawa seperti ini bila bersamaku, tidak seperti Bianca yang selalu menghindar" ucap Nathan dengan tatapan yang terus menatap Bianca.
"Nat" tegur Bianca memperingatkan.
"Oh, oke baiklah. Aku cuma ingin memintamu untuk mencicipi masakan yang kamu minta kemarin" ucap Nathan.
"Ya, Tuhan aku lupa. Apa semuanya sudah selesai?" tanya Bianca.
"Iya" jawab Nathan menganggukan kepalanya.
Drrrt Drrrt
Lagi-lagi ponsel Bianca bergetar, tetapi kali ini bukan Nathan. Bianca kembali mengmbil ponselnya dan menekan tombol hijau.
"Halo"
"Bii, Tanisa dan Andi sudah datang. Kamu dimana? Aku ke ruangan kamu tidak ada disana"
"Oke tolong kamu temani mereka dulu ya, Cha. 5 menit lagi aku turun"
"Oke"
Bianca menutup teleponnya. Dia lupa lagi hari ini Tanisa dan Andi datang untuk mencicipi catering.
"Nat, ayo turun. Kamu langsung bawa makannya ya" ucap Bianca.
Nathan menganggukkan kepalanya. Merek berdua berdiri dan langsung turun ke bawah menemui Tanisa dan Andi.
Dua minggu sudah berlalu. Naena pun sudah menyiapkan gaun untuk Davira. Icha terus memperhatikan setiap detail dari gaun itu. Memang benar gaun itu cocok untuk Bianca. Rancangan yang sudah Naena persiapkan khusus untuk sahabatnya Bianca.
Tepat pukul sepuluh Davira sudah datang, tetapi kali ini dia datang sendiri. Di dalam wadrobe Naena dan Icha membantu Davira mengenakan gaun pengantinnya.
Naena dan Icha sedikit kesulitan menaikkan resleting dipunggung Davira. Icha menatap Naena. Naena terlihat mengerutkan keningnya.
"Kenapa ini sempit sekali?" tanya Davira yang merasa sangat sesak.
"Maaf saya telat" ucap pria yang baru saja datang diantar Mba Uni.
"Ka, ini bajunya terlihat sempit" ucap Davira memperlihatkan dirinya dihadapan Willy.
"Makanya jaga pola makanmu. Agar berat badanmu tidak semakin bertambah" ucap Willy datar.
Tentu saja ucapan Willy, membuat Naena dan Icha menahan tawanya. Dan Bianca menoleh kebelakang agar tawanya tidak terlihat oleh Willy dan Davira.
"KAKAK" ucap Davira kesal.
Naena, Icha dan Bianca pun semakin terkekeh. Mereka baru kali ini melihat Willy bisa berkata garing seperti itu.
"Bajuku mana?" tanya Willy kepada Bianca.
Bianca pun mencoba menetralkan dirinya agar tidak terlihat masih menertawakan Davira.
"Naena, dimana pakaian mempelai prianya?" tanya Bianca kepada Naena.
"Digantung di ruang sana Bii" ucap Naena menunjuk ke depan.
Sebenarnya Bianca sangat malas melayani Willy. Tetapi melihat Icha dan Naena yang sibuk dia tidak bisa berpangku tangan saja. Terpaksa dengan berat hati Bianca mengajak Billy ke ruang wadrobe pakaian pria. Ya, Bianca harus profesional, walau dia sangat tidak senang dengan kliennya kali ini.
Bianca memberikan setelan tuxedo putih kepada Willy, dan memberitahukan letak kamar gantinya. Tanpa banyak bicara Willy mengambil baju itu dan mencobanya di ruang ganti.
Tak lama Willy keluar setelah menggunakan seletan tuxedo putih. Bianca memperhatikan dari atas ke bawah penampilan Willy.
Bianca melangkah ke depan Willy. Baru saja Willy ingin mencegah Bianca, tetapi Willy mengurungkan niatnya.
Bianca tanpa ragu dan melupakan rasa kesalnya, dia terlihat merapikan bahan di bahu Willy. Lalu merapikan dasi yang terlihat miring.
Bianca tidak sadar posisinya kali ini dengan Willy sangat dekat. Dan di dalam ruangan itu hanya mereka berdua. Kalau saja mereka sepasang kekasih, sudah bisa dipastikan bibir mereka akan saling bertautkan dan Willy akan menarik Bianca ke dalam pelukannya.
Setelah selesai Bianca menatap Willy. Barulah dia sadar posisinya saat ini terlalu dekat dengan Willy dan Willy terlihat menatapnya intens.
Deg Deg
Bianca tidak tahu kenapa tiba-tiba jantungnya berdegub kencang. Sial, mungkin dia terlalu grogi karena pria ini sangat menyebalkan.
Bianca pun berbalik dan memutus kontak matanya dengan Willy. Lebih baik Bianca segera keluar dari ruangan ini, sebelum nafasnya terasa sesak.
"Aku suka. Kakak sangat cocok dengan setelan itu" ucap Davira yang melihat Willy baru saja masuk kembali ke ruangan Wadrobe wanita.
"Jadi seperti apa penampilan gaun pengantinmu tadi?" tanya Willy.
"Tidak tahu. Itu terlalu sempit dan kepanjangan" ucap Davira kecewa.
"Bagaimana ini, apa kalian tidak melihat ukurannya?" tanya Willy kembali dengan mode dinginnya.
Naena dan Icha terlihat bingung. Naena juga tidak tahu kenapa jadi seperti ini, padahal saat memotong pola dia memberikan ukuran Davira.
"Maaf. Mungkin ini efek bahannya. Nanti akan segera kami perbaiki" ucap Naena.
"Lalu bagaimana, saya bisa yakin kalau gaun ini cocok dengan tuxedo saya?"
Naena pun terlihat bingung harus menjawab apa. Benar kata Bianca pria ini sangat menyebalkan. Naena pun memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.
"Kami tidak pernah mengecewakan pelanggan" jawab Bianca mengambil alih.
"Gaun ini rancangan terbaik Naena. Dari sini sudah terlihat dan saya rasa ini sangat cocok" ucap Bianca lagi.
"Cocok dipakai dipatung" ejek Willy dan membuat emosi Bianca kembali naik.
Bianca pun melepaskan gaun itu dari patung dan membawanya ke ruang ganti. Naena dan Icha saling bertatapan. Dia bingung apa yang akan Bianca lakukan dengan gaun itu.
Tak lama Bianca keluar menggunakan gaun pengantin putih yang menjuntai dengan indah ke lantai.
Empat orang yang berada disana terkejut menatap Bianca dengan gaun pengantin itu.
Naena mengukir senyumnya. Cocok gaun itu memang cocok ditubuh Bianca. Begitu juga dengan Icha tersenyum menatap Bianca. Memang Gaun ini adalah untuk Bianca bukan untuk orang lain.
"Andai ini persiapan pernikahn loe, Bii. Gaun itu manis bangat dan cocok untuk loe" batin Icha.
"Bii, ini cantik bangat. Aku suka gaunnya. Coba tadi pas, pasti aku lebih cantik lagi" ucap Davira terlihat terpesona dengan gaun yang dipakai Bianca.
"Sudah cepat lepas. Tanpa kamu mencobanya, modelnya juga sudah terlihat tadi" ucap Willy datar.
Jleb
Bianca kesal sekali. Pria ini memang menyebalkan. Tadi dia sendiri yang bilang modelnya tidak terlihat. Sekarang setelah Bianca mencobanya agar terlihat keindahaan gaun itu, dia meminta untuk melepasnya karena sudah terlihat modelnya tadi.
Kalau saja pria ini bukan klien Bianca, sudah dipastikan Bianca akan menyumpal mulut pedasnya dengan gulungan benang yang ada di atas meja. Agar mulutnya itu berhenti berkata kasar dan menyakiti perasaan orang.
Bianca pun melepaskan gaun itu dengan sangat emosi. Dia tidak tahu kenapa bertemu dengan Willy selalu saja menyulut emosinya dan membuat darahnya naik. Saat Bianca menatap cermin tiba-tiba dipikirannya terbayang saat dia berdua dengan Willy tadi.
Bianca menggelengkan wajahnya, pasti jantungnya berdebar hanya karena dia grogi. Baru kali ini Bianca merasa ingin cepat menyelesaikan acara wedding cliennya. Itu semua karena dia sangat malas harus sering bertemu dengan Willy yang super menyebalkan baginya. Dan kini Bianca hanya bisa membuang nafas dengan kasar.