“Sebastian, Mama mau bicara denganmu,” ujar Fenny begitu hanya mereka berdua yang tersisa di teras. Diandra sudah lebih dulu masuk ke dalam vila. “Bicaralah,” sahut Sebastian tenang, seolah tak terpengaruh apa pun. Fenny menghela napas sebelum berkata, “Mama merasa tidak enak sama Diandra. Kita berhutang banyak padanya. Demi melihat kita hidup sebagai keluarga, kedua orang tuanya bahkan rela mengorbankan nyawa mereka.” Sebastian menatap mamanya dengan tajam, membaca maksud di balik kata-kata itu secepat ia menyusun strategi. Sorot matanya tetap dingin, tak memberi ruang untuk ragu. “Mama tidak ingin aku mengecewakan Diandra.” Fenny mengangguk pelan. “Mama tahu, kamu masih mencintai Alena, tapi—” “Siapa bilang aku masih mencintai Alena?” potong Sebastian cepat, suaranya tetap datar. F

