Diandra Rose Argan

2235 Words

“Aku takut.” suara Diandra nyaris seperti bisikan, sarat dengan kecemasan. Jemarinya mencengkram ujung gaunnya, seolah mencari pegangan di tengah badai yang mengancam. Sebastian mengangkat kedua tangannya, ibu jarinya menyapu perlahan sisi wajah Diandra. Tatapannya menusuk, menelusuri ketakutan yang bersemayam dalam netra gelap itu. “Ingat, Diandra,” suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Yang menunggu di dalam mansion itu adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuamu.” Diandra menelan ludah, napasnya tersengal. “Bagaimana kalau dia ingin membunuhku juga?” tanyanya lirih. Ia tahu siapa yang ia hadapi kini, bukan sekadar preman jalanan, tetapi seseorang yang terbiasa bergerak dalam bayang-bayang kejahatan yang terstruktur. Sebastian menggeleng pelan. “Kamu harus berani, Diandra. Tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD