Mansion Alvarendra. Dor!! Prang!! Suara tembakan menggelegar, diikuti dengan denting kaca yang pecah berserakan, menghantam lantai seperti hujan tajam. Para pelayan di hunian mewah itu tersentak, beberapa bahkan mundur selangkah, ragu apakah mereka harus tetap diam atau segera berlari menjauh. Di tengah ruangan kerja yang dipenuhi aroma kayu mahoni, Diana Alvarendra berdiri tegak. Tatapannya dingin, menusuk, sementara jemarinya yang gemetar masih menggenggam Desert Eagle, senjata mematikan yang kini tersisa satu peluru di dalamnya. Diana menarik napas dalam. Amarahnya bergetar di d**a, mendesak untuk keluar. “Selama lebih dari tiga puluh tahun, aku membesarkannya, memberinya kehidupan yang layak.” Suaranya rendah, namun penuh tekanan. “Dan sekarang, dia berani menyelidiki aku.” Ia m

