Ayana menerima hadiah berbentuk kotakan kecil itu. ia tak percaya, bahkan Raffa, Ayahnya sendiri sudah haha hihi tak mengingat kalau harusnya ini hari bersejarah. Tapi justru Azam yang mengingatnya. Ayana ingin menatap Azam, memastikan kalau ini bukan mimpi. Tapi nyatanya, Azam sudah memalingkan wajahnya tak lagi menatap Ayana. Fokus berbicara dengan Ayahnya. “Ayana mau ke dapur dulu.” Dan tak di gubris. Ish! Sekarang Ayana paham kenapa Rama sering di abaikan kalau ada Azam. Rasanya sakit memang. “Hilih ngiming binir binir di kicingin.” Celoteh Ayana dengan memonyongkan bibir. Raffa tak mendengar gerutuan dengan bahasa Alien Ayana barusan. Tapi seringai senyum tengil muncul di bibir Azam. Ia menahan geli dengan polah Aya

