Azam memencet tombol dial itu dan mengangkat panggilan dari dokter Mira. “Assalamu’alaikum Mas Azam…” suara di sebrang terdengar sangat akrab. Azam menarik sebelah bibirnya. “Wa’alaikum salam dokter Mira…” Azam menjawab dengan sopan tanpa celah. Di seberang sana, Mira sedikit mendecak. “Ini bukan lingkungan kerja Mas, bisa panggil Mira aja.” “Ada urusan apa? Apa ada barang yang tertinggal di rumah saya? Biar bisa saya ambilkan…” Azam berbicara tanpa mengiyakan permintaan Mira sebelumnya. Sepertinya, mengambil hati Azam memang susah. Bukan hanya Ayana yang kewalahan untuk mengambil hati laki laki ini. ^^^ Ayana melihat kalender. Hari tak baik untuknya. Sudah berhari hari

