Arsen berjalan dengan pandangan yang tidak fokus. Ia menuju ke ruangan yang selalu ingin ia hindari. Ada perasaan yang berkecamuk di hati Arsen. Ada ketakutan yang tergurat tipis tapi ia coba tepis. Tapi saat sampai di depan pintu itu, ketakutan Arsen di hilangkan. Tidak boleh. Dengan menunjukan ketakutannya, Arsen sama saja menunjukan keraguannya. Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu yang lumayan keras, Nadia hanya butuh dua langkah untuknya agar bisa seperti ini sekarang. Berhadapan dengan laki laki yang menjulang di depannya, raut wajah dingin dan kekecewaan tergambar jelas di wajah Arsen. “Ar-sen....” panggil Nadia setengah terpukau, seingatnya. Laki laki berseragam dokter ini tak pernah menemuinya untuk hal yang sepele. “Bisa kit

