Duduk dengan rasa canggung, Ayana masih belum mau menatap Sultan. Ada rasa bersalah tapi bukan karena ucapannya. Karena ucapan Azam yang melabeli Sultan dengan cap ban serep. Dan payahnya. Laki laki super baik ini malah menerimanya dengan lapang d**a. “Ini minumnya,” Sultan mengulurkan tangannya yang sudah memegang secangkir cokelat panas. Ayana sempat ragu untuk menerima cokelat itu. tapi akhirnya ia terima sebelum suasana menjadi makin canggung. “Ah....” suara Sultan yang dengan entengnya mengambil posisi duduk di samping Ayana,”Biasanya kamu langsung nyuruh Mas Sultan buat minggir, Ay...” Sialan! Kalimat pembuka Sultan itu terdengar sangat menyebalkan karena Ayana sedang di rasuki rasa bersalah. “Niatny

