-happy reading-
---
"Lu kenapa?," Naya mengernyit menatap Nabila.
"Maksudnya?," tanya Naya.
Nabila menghela nafas "Lu ada masalah apa sama Azzam?," tanya Nabila membuat wajah Naya muram.
"Gue bingung Bil, sebenarnya dia itu serius atau main-main?," Naya menunduk pelan.
Nabila mengelus bahu Naya, ia marah pada Azzam? Tentu saja. Dia tidak ingin sahabatnya di permainkan, baginya Naya itu bukan sekedar sahabat, tapi sudah saudara.
Jika Naya merasakan sakit, maka ia pun turut merasakan sakit yang Naya rasakan juga.
"Terus sekarang mau lo apa?," tanya Nabila membuat Naya frustasi.
"Apa gue harus mundur?," tanya Naya ragu.
Bertahan dengan perasaan ini hanya akan membuat Naya sakit. Tapi, apakah Naya bisa? Naya sangat menyayangi Azzam. 2 tahun bukan waktu yang sebentar, bahkan saat Azzam meninggalkannya ke Kalimantan pun Naya masih tetap bertahan.
"Pilihan ada di tangan lo Nay, gue sebagai sahabat lo cuma bisa ngedukung lo doang," saran Nabila.
Ingin Nabila menyuruh Naya menyerah, tapi Nabila sendiri juga bingung. Dia ingin Naya bersama dengan Azzam, tapi Azzam sudah bersama Audrey.
Naya menunduk, dia ingin mundur tapi dia tak bisa. Perasaannya sudah sejauh ini, dia tak bisa mundur begitu saja. Tapi, apa bisa dia mengambil Azzam dari Audrey? kenapa menyukai orang yang sudah punya pacar harus sesulit ini?
Naya tak ingin merebut Azzam dari kekasihnya, tapi dia pun tak bisa melihat Azzam harus bahagia bersama Audrey, kekasihnya.
"Satu hal yang harus lo ingat, sesuka apapun lo sama dia, jangan pernah jadi perebut atau perusak hubungan orang. Kalo dia bisa bahagia, kenapa lo enggak?," Naya termenung mendengar ucapan Nabila.
Nabila benar, Naya tidak boleh terlalu jatuh. Naya tidak boleh terlalu berharap pada satu hati yang sudah jelas jadi milik orang lain.
Naya tersenyum miris "Kalo bahagia gue ada di dia gimana Bil?," tanyanya pelan.
"Berusaha lah untuk mencari kebahagiaan lain!," Naya terdiam.
"Lagian cowo yang kemaren jemput lo tuh siapa?," tanya Nabila membuat Naya mengerutkan dahinya.
"Hah? Cowo yang mana?," tanya Naya lupa.
"Yang pas lo sakit b**o," ujar Nabila menoyor kepala Naya.
"Oh, itu temen abang gue." balas Naya.
"Sedeket itu lo sama temen abang lo?," tanya Nabila membuat Naya mencebik.
"Emang ga boleh?," tanya Naya.
"Gue kira itu pacar lo anjir. Tatapan dia tuh beda ke lo. Kaya lagi natap cewe yang dia sayang," ujar Nabila.
"Ngaco lo, itu temen abang gue anjir. Yakali," ujar Naya membuat Nabila tertawa.
"Lah bisa aja anjir, mas mas almameter lebih menggoda." goda Nabila membuat Naya terbahak.
"Cowo secakep dia ga mungkin suka sama gue. Lagian dia juga lagi naksir sama orang." ujar Naya mengingat perkataan Regil semalam.
"Lo cantik anjir Nay! Lagian lo tau darimana kalo dia suka sama orang?," tanya Nabila.
"Dari bang Regil," balas Naya.
Sesaat kemudian dia mendongak, menatap Azzam yang izin keluar dari kelas, entah kemana tujuannya.
Entah kenapa, Naya merasa penasaran dan ingin mengikuti Azzam. Ia merasa ada yang tidak beres.
"Bil, gue pengen pipis," alibi Naya dengan cepat.
"Yah, gue nggak bisa nemenin lo," ujar Nabila membuat Naya tersenyum, memang itu yang dia mau.
"Gue sendiri aja," ujar Naya lalu bangkit meminta izin pada guru yang mengajar.
Setelah mendapat izin Naya segera bergegas dan menuju toilet, dia berniat membasuh mukanya terlebih dahulu.
Minggu depan, try out pertama akan di mulai, itu artinya tinggal beberapa minggu lagi dia akan berpisah dengan sahabatnya dan juga..
Azzam?
Naya menutup mulutnya berusaha menahan isakkan yang akan keluar. Azzam, orang yang ia cintai, sedang mencium bibir kekasihnya di dekat toilet.
Meskipun dari belakang, Naya dapat mengenali postur lelaki itu. Dengan cepat Naya berlari, dan itu membuat Azzam menoleh ke belakang dan membeku seketika.
Naya berhenti sesaat, mengusap kasar air matanya dan menetralkan suaranya agar tidak ada lagi isakan. Naya benci terlihat lemah di hadapan teman-temannya, Naya benci menangis, dan Naya benci Azzam.
Naya tak peduli lagi, Naya harus melupakan lelaki b******k itu. Naya tak peduli apa yang akan terjadi ke depannya, yang harus ia lakukan adalah menjaga jarak.
Cukup sudah dia di permainkan, Naya tak ingin jatuh lebih dalam. Seberusaha apapun ia mempertahankan perasaannya dan menunggu Azzam, hal itu tak akan pernah terjadi. Justru rasa sakit yang kian bertambah menghampirinya.
Naya mengingat kata-kata Nabila tadi, Ya! Dia harus mencari kebahagiannya yang lain! Meskipun dia tak yakin, ia akan bisa.
✨✨✨
Bel istirahat sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu, Naya dan sahabat-sahabatnya pun sudah berada di kantin menikmati makanan mereka, tanpa Azzam tentunya, Naya tak tau dimana lelaki itu dan Naya tidak peduli sama sekali.
Bahkan sudah tidak ada lagi air mata, yang ada hanya rasa sakit dan rasa ingin melupakan.
Sejujurnya, hati Naya mengharapkan Azzam datang kepadanya dan menjelaskan apa yang tadi ia lihat. Hatinya sangat berharap bahwa itu adalah kesalahpahaman.
Tapi, otaknya justru sebaliknya. Ia justru menyuruh Naya untuk berhenti dan melupakan Azzam.
Naya menghela nafas, ia tak menceritakan masalah ini pada siapapun, bahkan Nabila sekalipun.
Naya tak tahu apakah ini benar, tapi kali ini ia lebih memilih untuk mengikuti otaknya, di banding hati yang terus merasakan sakit.
"Lu ngapa dah diem bae?," tanya Abian menoyor pelan jidat Naya.
Naya menggeram dan membalas menoyor kepala Abian "Sepupu laknat lo anjir!," makinya.
Abian tertawa "Gua aduin ke mak lo ya, lo toxic!!," ancam Abian yang di balas juluran lidah oleh Naya.
"Aduin sono, kagak takut gue!! Lu mau gue kasih tau satu sekolah, kalo lo suka pake kolor yang ada gambar berbinye??," Naya tidak bohong, ia pernah melihat kolor bermotif barbie di lemari Abian.
Abel memuncratkan airnya tepat di wajah Abian, membuat siapa saja yang melihatnya tertawa.
"Serius lo make gituan?," tanya Randy sambil terbahak.
"Ajegilee, Playboy cap gayung make kolor berbi euyy!!," sahut Nabila membuat Cika dan Bela tertawa keras.
"Sumpah ya, gue nggak pernah liat Cika se ngakak ini!!," gumam Abian malu, Cika memang sangat pendiam. Bahkan jika ada hal yang lucu pun dia jarang tertawa, tapi ini..
Hancur sudah citranya sebagai playboy.
Abian menggaruk tengkuknya dengan wajah yang memerah karna malu, dengan cepat ia memiting kepala Naya di ketiaknya.
Semuanya tertawa, bahkan Naya pun sama, hal ini membuatnya sedikit lupa dengan Azzam.
Namun hal itu tak berlangsung lama ketika Azzam datang bersama..
"Eh, Audrey," sapa Randy sambil tersenyum.
Naya tersenyum masam di bawah pitingan Abian, lagi-lagi Audrey. Entah kenapa, Naya merasa sedikit kesal dengan gadis itu. Makin lama Audrey tu makin ganggu.
Semenjak pacaran sama Azzam, kemana-mana selalu ngikutin Azzam. Bahkan kadang Audrey mendatangi Azzam ke kelas saat mereka sedang istirahat di kelas.
"Kemana aja lu nyet?," tanya Abian yang masih memiting leher Naya.
"Abis nemenin Audrey tadi," jawab Azzam lalu mendudukan tubuhnya di kursi, dan di ikuti Audrey.
"Habia nemenin Audrey apa habis ciuman?," gumam Naya pelan sehingga tak ada yang bisa mendengarnya.
Abian menggangguk pelan, sedangkan Nabila hanya berdecih sinis, dan itu di dengar oleh Audrey.
Suasana menjadi canggung sejak kedatangan Azzam dan kekasihnya itu, bahkan Abel yang ramah menjadi sedikit jutek pada Audrey.
Tidak ada yang mau memulai pembicaraan, hanya suara rengekan Naya yang meminta pertolongan pada Abel.
"Udah ih Bian!," tegur Abel memukul pelan lengan Abian yang sedang meminting leher Naya.
Abian menggeleng "No no no," balasnya.
Naya menggeram kesal dan langsung mencubit paha Abian dengan kuat, membuat lelaki itu menjerit keras.
"JANCOK, SAKIT b**o!!," umpat Abian keras pada Naya.
Bukannya takut, gadis itu justru menjulurkan lidahnya dan langsung mengelus paha Abian yang tadi ia cubit.
"Lu juga sih, kan gue sesek!!," omel Naya.
Naya menatap sekelilingnya, seketika tatapan berhenti menatap Audrey yang sedang memainkan jari Azzam.
Bahkan sesekali gadis itu menciumnya, entah apa maksudnya. Yang jelas hal itu berhasil memancing emosi Naya dan jelas saja Naya cemburu.
Naya menarik tangannya dari paha Abian dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Eh mau kemana lo?," tanya Cika menahan lengan Naya.
"Mau ke kelas lah, umeg gue disini!," jawab Naya sedikit ngegas kemudian meninggalkan teman-temannya.
"Gue ikut!!," teriak Abel lalu menyusul Naya di ikuti Bela, Cika, Abian, dan Randy.
"Pacaran aja lo puas-puas di sini tanpa kita-kita!," sarkas Randy pada Azzam, lalu menyusul Naya dan kawan-kawan.
Naya tersenyum puas ketika teman-temannya lebih berpihak padanya, ia tertawa pelan tanpa menyadari tatapan sinis dari seseorang yang diam-diam membencinya.
Naya tidak salahkan bahagia melihat Audrey mendapat perlakuan seperti itu dari teman-temannya? Naya senang karena teman-temannya tidak menyukai Audrey.
✨✨✨
"Sumpah muka si Audrey tuh ngeselin banget anjir," ujar Abel saat sudah berada di dalam kelas.
Ke tujuh remaja itu duduk di bawah papan tulis dan bersender di dinding. Abian berbaring di paha Abel dan Randy duduk di kursi guru.
"Biar apa sih dia kaya gitu? Sweet kaga jijik iya." balas Abian bergidik melihat Audrey menciumi tangan Azzam tadi.
"Si Azzam juga mau-mauan di gituin." sahut Randy ikut geli.
Naya hanya menyimak pergibahan ini, Naya juga kesal melihat tingkah Audrey. Gadis itu sepertinya sengaja memamerkan kemesraannya di depan Naya.
"Agresif banget jadi cewe," timpal Bela sinis.
"Tapi kasian Azzam anjir, kita jahat ga sih?," ujar Nabila membuat teman-temannya terdiam.
"Mukanya Azzam keliatan sedih banget tadi," sambung Cika yang sedari tadi diam.
Sebelum pergi Cika memperhatikan wajah masam Azzam, dan tatapan tajam Audrey pada Naya. Cika tak tau mengapa Audrey menatap Naya seperti itu.
"Apa kita bilang aja kalo kita ga suka sama si centil itu?," ujar Abel dan si centil yang di maksud itu adalah Audrey.
"Tunggu ada Azzam aja," ujar Nabila.
Akhirnya mereka bercerita dan bercanda sesekali. Menjahili satu sama lain dan berbaur dengan teman kelas yang lain.
Bel masuk berbunyi bersamaan dengan Azzam yang masuk ke dalam kelas seorang diri.
"Zam!," panggil Randy membuat Azzam menoleh dan menghampiri teman-temannya.
"Kita mau ngomong," ujar Randy setelah Azzam berada di hadapan mereka.
Suasana menjadi sedikit canggung dan hal itu membuat Abel kesal. Audrey s****n! Bikin rusak pertemanan orang saja.
"Sebelum maafin kita kalo tadi kita ninggalin lo di kantin," ujar Randy.
Azzam terkekeh masam "Santai aja, gue ngerti kok."
"Zam, bisa ga sih kalo kita lagi ngumpul si Audrey ga usah ikut?," ujar Nabila pelan.
"Kita kurang suka sama cewe lo Zam. Kita ga kebiasa ada orang baru di circle ini," sambung Abian agar Azzam tak salah paham.
"Iya, kan kita biasanya berdelapan doang. Kalo ada cewe lo tuh jadi gimana gitu," sahut Randy membuat Azzam mengangguk paham.
"Jadi canggung anjir, jadi ga bebas buat ngomong aja." timpal Nabila.
Naya hanya diam sambil memainkan ponselnya. Tidak ada minat untuk membuka suaranya.
"Gue emang ga ada bawa dia. Dianya aja yang ngintilin gue terus." ujar Azzam.
"Ya lo bilangin lah, jangan ngintilin terus." ujar Abel sedikir sewot. Bukan sewot dengan Azzam, melainkan dengan Audrey.
"Ya mo bilang gimana? dia kan cewe gue, wajarlah kalo dia ngintilin gue mulu." ujar Azzam membuat Naya sesak.
"Emang lo ga risih apa di gituin?," tanya Bela.
"Risih, tapi ya gimana? gue juga ga enak mau bilang gitu." ujar Azzam.
"Bulol," ujar Abian membuat Randy tertawa.
"Udahlah jadi intinya gitu dah, kita kurang nyaman aja kalo ada si Audrey," ujar Randy di balas anggukan paham Azzam.
"Eh btw, pulang sekolah nongkrong bentar yu?," ajak Nabila.
"Lo traktir?," tanya Abian.
"Ish lo mah traktiran mulu anjir!," ujar Nabila menjambak pelan rambut Abian.
Azzam melirik Naya yang sedari tadi diam dan berbicara pada Chika. Seperti ada yang berbeda. Naya sama sekali tak memperdulikannya.
"Gue yang traktir dah! Tapi minum doang," sahut Bela membuat Randy dan Abian berseru.
"Gimana mau ga?," tanya Nabila.
"Gue ngikut aja sih," ujar Azzam.
"Kita mah gas," ujar Abian dan Randy ber tos ria. Kalo traktiran mah gas aja ya kan.
"Lo gimana Nay?," tanya Nabila.
"Gue ga bisa ikut deh kayanya," ujar Naya membuat Nabila mendesah.
"Aaa kenapa???," tanya Nabila.
"Gue mau jenguk Nando di rumah sakit," balas Naya jujur. Naya memang berencana menjenguk Nando ke rumah sakit setelah pulang sekolah nanti.
"Lah dia kenapa?," tanya Nabila.
"Kecelakaan kemaren," balas Naya.
"Nando siapa anjir?," tanya Abel yang tak mengerti dengan pembahasan Naya dan Nabila.
Azzam menunduk, lagi-lagi Nando. Sebenarnya Nando ini siapanya Naya sih? Apa itu cowo yang sama dengan cowo yang menjemput Naya pas Naya sedang sakit?
"Itu loh cowo yang kemaren jemput Naya pas Naya sakit," ujar Nabila.
"Itu siapa lo sih Nay? Sumpah kemaren tuh kalian sweet banget anjir." tanya Bela mengingat bagaimana Nando menggendong Naya kemaren.
"Itu cowonya Naya," balas Nabila membuat Naya membulatkan matanya kaget.
"Ngaco lo!,"
"Udah ga usah bohong Nay," ujar Nabila melirik Azzam.
"Beneran pacarnya Naya?," tanya Abian.
"Iya beneran, si Naya aja yang ga mau ngakuin."
"Gue tunggu pj lo besok Nay!,"
✨✨✨
Tbc
So gimana sama part ini?
Spam next kalo mau lanjut.
Jangan lap love and see you on the next part :*
Thanks for read❤