FZ | 23

2030 Words
-happy reading- --- Naya menatap pintu di hadapan dengan perasaan gugup, ia sendiri pun tak tahu mengapa dia merasa gugup seperti ini. Sesuai dengan rencana, setelah bel pulang berbunyi Naya segera memesan ojek online untuk menuju ke rumah sakit. Gadis berseragam putih abu-abu itu menunduk sebentar, bingung harus masuk atau tidak. Di dalam ada orang lain, membuat Naya malu untuk masuk. Naya kesini juga tidak memberi kabar pada Nando, bahkan chatnya kemaren pun belum di balas Nando hingga hari ini. "Apa gue pulang aja ya?," gumam Naya menatap parsel buah di tangannya. Naya memutar tubuhnya dan mulai berjalan menjauh dari pintu ruangan Nando. Kemudian gadis itu menghentikan langkahnya, berbalik ke belakang dan kembali berjalan mendekat ke depan pintu. Lama Naya bergelut dengan pemikiran sediri hingga tak menyadari pintu di depannya terbuka dan menampilkan seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya. Naya mendongak dan memberikan senyum tipis pada cowo itu.  "Dek, lo ngapain di sini?," tanya lelaki yang tak asing di samping Naya. "Hanif, kalo lo lupa," sambungnya membuat Naya terkekeh. "Mau masuk, tapi malu gue bang," jawab Naya jujur. Hanif tertawa "Malu kenapa? Yuk masuk!!," ajak Hanif menarik lengan Naya lalu membuka pintu kamar inap sahabatnya. Naya masuk dan menatap Nando yang menutup matanya, dengan pelan dia berjalan menuju bangsal yang tiduri Nando. Naya meletakan parsel buah yang ia beli di dekat rumah sakit tadi ke nakas di samping bangsal Nando. Hanif mendesah pelan, kemudian beranjak dari sofa yang sempat ia duduki. "Gue keluar dulu deh ya," pamit Hanif tersenyum jahil pada Naya. Naya menolehh menatap Hanif "Eh mau kemana bang?," tanya Naya pada Hanid yang sudah berada di depan pintu. Hanif menunjukan kotak kecil dan korekk api pada Naya "Mau nyebat dulu, udah santai aja dulu di sini." ujar Hanif di balas anggukan oleh Naya. "Iya bang," ujar Naya tersenyum. Setelah kepergian Hanif, Naya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus melakukan apa. Nando sendiri masih memejamkan matanya, apakah Nando tertidur? Naya maju mendekat melihat beberapa luka yang tak di perban agar cepat kering. Bahkan di wajah Nando pun ada luka goresan. Naya meringis membayangkan betapa pedihnya luka itu. Naya memperhatikan wajah damai Nando, jika di perhatikan lebih dekat, ketampanan Nando meningkat berkali-kali lipat. Wajahnya yang putih bersih, hidung mancung, bibir yang cipokable, rahang tegas, bulu mata lentik, serta alis yang tebal. Bahkan dengan luka di wajahnya pun Nando masih terlihat tampan. "Udah puas liatin guenya?," Naya tersentak dan menatap Nando yang ternyata sedang menatapnya lekat. Jadi Nando dari tadi tidak tidur?! Naya merasa pipinya memanas sekarang, Naya menunduk menepuk pelan dahinya lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya untuk meredam rasa gugupya. b**o lo Nay!!!! "Ap-apaan si?! Geer banget," elak Naya mengalihkan pandangannya. Nando tertawa "Ngaku aja kali, iler lo sampe keluar noh," goda Nando jahil. Naya refleks memegang ujung bibirnya dan hal itu membuat Nando tergelak. "Ih sebel ah," ujar Naya cemberut seraya menggembungkan kedua pipinya. Nando mencubit pipi Naya gemas "Becanda kali,". "Siapa?," tanya Naya "Gue," balas Nando "Yang nanya!," Nando kembali tergelak mendengar jawaban Naya. Naya benar-benar menggemaskan saat salting. Naya berdecak dan refleks memukul pelan bahu Nando, Naya benar-benar malu saat ini. Nando sendiri langsung pura-pura meringis kesakitan seolah Naya baru saja memukul lukanya. Nando hanya berniat menjahili Naya. "Eh? aduh maaf," ujar Naya mengelus pelan bahu Nando membuat jantung  Nando  berdebar entah karena apa. Nando berdeham sebentar. "Sini deh duduk!," ajak Nando seraya menggeser sedikit tubuhnya. "Emang bisa?," tanya Naya menatap brankar Nando ragu. "Bisa, sini!," Nando menarik lembut tangan Naya. Naya mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang rumah sakit itu, seraya mengangkat kakinya dan ikut menyandarkan tubuhnya. Naya menggerakan tubuhnya dengan hati-hati karena takut menyenggol luka Nando lagi. "Ih udah gue di bawah aja deh, gue takut ga sengaja nyenggol bahu lo." ujar Naya hendak turun namun di tahan Nando. "Bahu gue beneran luka Nay," ujar Nando membuat Naya mengerutkan dahi. "Lah tadi?," tanya Naya mengingat ekspresi kesakitan Nando saat Naya tak sengaja memmukul bahu laki-laki itu. Nando terkekeh pelan "Gue cuma becanda Nay," ujar Nando membuat dan mencebik. "Dahlah anjir! Lo tuh lagi sakit masih aja jailin gue!," omel Naya memajukan bibirnya sebal. Nando tertawa pelan lalu mengelus rambut Naya sambil meminta maaf. Naya masih pura-pura merajuk lalu tertawa saat Nando menggelitik perutnya. "Iya ampun udah! Ih udah jangan banyak gerak, gue ngeri infus lo copot!," ujar Naya menahan tangan Nando lalu melirik infus yang ada di tangan Nando. "Lo belum ada balik ke rumah Nay?," tanya Nando memperhatikan Naya yang masih memakai seragam sekolahnya. Naya menggeleng pelan "Gue langsung kesini," balas Naya. "Kenapa ga balik dulu?," tanya Nando meletakan tangannya di belakang leher Naya dan melingkarkannya di bahu gadis itu. Naya menatap Nando yang merangkulnya lalu menghela nafas "Gue kira lo marah sama gue, makanya gue buru-buru kesini. Lagian kalo gue balik ke rumah dulu gue takut mager lagi kalo udah nyentuh kasur," jelas Naya membuat Nando mangut-mangut. "Dih marah kenapa dah?," tanya Nanda bingung. "Ya karna gue telat bales chat lo lah, terus pas udah gue bales lo cuma nge read doang. Ga di bales lagi, jadi gue ngiranya lo marah sama gue," jelas Naya dengan satu tarikan nafas. "Astaga, gue ga marah cantik. Gue cuma gatau lagi mau bales apa terus chat lo udah terlanjur ke buka sama gue," balas Nando membuat pipinya Naya sedikit memerah karna kata 'cantik' yang di sebutkan laki-laki itu. "Lagian kemaren kenapa nge chat," tanya Naya. "Gue mau nanya Regil ada di rumah apa kagak, soalnya flashdisk gue ke bawa sama dia," ujar Nando membuat Naya mangut-mangut tidak jelas. Nando menarik kepala Naya agar bersandar di bahunya kemudian laki-laki itu menempelkan pipinya di puncak kepala Naya. Nando menghirup wangi rambut Naya. "Gue berasa di datengin pacar masa," gurau Nando membuat Naya tertawa pelan. "Makanya cari pacar!," ujar Naya membuat Nando mencebik kesal. Nando cemberut "Kagak ada yang mau masalahhnya. Mon maap aja nih," ujar Nando. Naya tergelak "Masa sih?," tanyanya. "Serius," balas Nando meyakinkan. "Ga mungkin ga ada yang mau, kan lo ganteng." ujar Naya membuat Nando terkekeh. "Jadi, secara  ga langsung lo mengakui kalo gue ganteng?," tanya Nando membuat Naya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya masalahnya lo emang ganteng anjir," balas Naya membuat Nando tersenyum tipis. "Aduh gue salting nih di bilang ganteng sama cewe cantik," ujar Nando pura-pura salah tingkah. Naya terbahak "Aduh gue juga salting nih di bilang cantik sama cowo ganteng," ujar Naya mengikuti gaya bicara Nando tadi. Tapi, jujur saja Naya tidak berpura-pura. Gadis itu benar-benar salah tingkah. Kedua tertawa dengan gurauan mereka sendiri. Naya menghela nafas dan memmperhatikan luka di kaki dan tangan Nando. "Ini sakit ya?," tanya Naya membuat Nando sedikit menekuk wajahnya. Bisa-bisanya Naya menanyakan pertanyaan seperti itu. "Ya sakit lah, lu ga liat ni jidat gua benjol gini?!," ujar Nando seraya menunjuk dahinya. Naya mengulum bibirnya, berusaha menahan tawa. Ekspresi Nando sungguh menggemaskan, membuat Naya ingin menciumi pipinya, eh.. "Ululululu, kacian banget ci kamu!," gemas Naya mencubit kedua pipi Nando. Nando tersentak, entah kenapa dia merasakan itu lagi. Degupan jantung yang tak terkontrol, ketika dia berada di dekat adik dari sahabatnya ini. Sama halnya dengan Nando, Naya pun merasakan hal yang sama. Dengan cepat dia menarik kedua tangannya dan segera menundukan kepalanya. "Maaf," gumamnya membuat Nando terkekeh geli. "Santuy," balasnya. "Lagian kenapa bisa kecelakan kaya gini sih? Lo ngebut-ngebutan ya?," tuduh Naya mendongak menatap Nando curiga lalu kembali bersender di bahu laki-laki itu. "Ga ngebut sih, gue kan nge chat lo pas lagi di motor. Terus pas mau naro hpnya di kantong tiba-tiba ada motor nyalip gue. Yaudah karna gue bawa motornya satu tangan doang gue malah nabrak dia dari belakang. Gue ga sempet ngerem juga karna kaget," jelas Nando membuat Naya menunduk. Rasa bersalah kembali hadir, jadi Nando kecelakaan karena mengirimmkan pesan padanya? Namun Naya justru mengabaikan chat itu dan malah bermain di taman bersama Nabila. "Maaf," gumam Naya kecil namun masih bisa di dengar Nando karna jarak mereka yang sangat dekat. Naya memainkan jarinya. "Maaf kenapa?," tanya Nando bingung. "Ya karna nge chat gue lo jadi kecelakaan," ujar Naya merasa bersalah. "Astaga, itu bukan salah lo cantik. Kan salah gue main hp sambil bawa motor," ujar Nando berusaha menenangkan Naya  karena ini memang bukan salah Naya, Nando yang salah karena bermain ponsel saat berkendara. "Tapi kan---," ucapan Naya terpotong saat Nando membekap mulut Naya. "Udah! Gausah merasa bersalah kaya gitu. Lo beneran ga salah apa-apa," ujar Nando membuat Naya menghela nafas pelan. "ENTAH APA YANG MERASUKI MU~~~," teriak seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar inap Nando. Nando menatap Regil, Hanif, dan Reno yang sedang menggoyang jarinya, kuncup mekar kuncup mekar!! "HINGGA KAU TEGA MENGHIANATIKU~~," sambung Regil berteriak. "YANG TULUS MENCINTAI MU!!," sambung hanif melanjutkan. "WAHH ADA HUBUNGAN APA LO BERDUA? GITU YA LO MAIN RAHASIAAN SAMA GUA SEKARANG?!!," tuding Regil seraya menunjuk Naya yang menunduk malu. Naya menegakan tubuhnya dan tidak lagi bersender di bahu Nando. "Apasih Bang? 'Kan Nay cuma jengukin Bang Nando!!," balas Naya sedikit ketus "Mana ada orang nge besuk sampe ikut naik ke ranjang rumah sakit kek begitu," sindir Reno telak membuat Naya menunduk malu, iya juga ya? "A-anu, itu, tadi--- ishh bantu jawab kek!," ujar Naya seraya mencubit lengan Nando yang berada di bahunya. Naya menatap  Nando yang hanya diam tanpa ada niatan membantah tuduhan teman-temannya. Nando meringis "Gue lagi sakit Nay," rengeknya mengelus lengannya yang sedikit memerah. Regil mendelik lalu menatap Nando dan Naya curiga, bukan hanya Regil melainkan Reno dan Hanif pun sama. Bagaimana tidak curiga, kedua terlihat sangat akrab padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Pasti ada yang tidak beres, pikir Regil. Naya yang menyadari tatapan dari abangnya pun segera beranjak untuk turun dari brankar. Namun, Nando dengan cepat menahan lengannya. "Mau kemana?," tanya Nando bingung tanpa melepas lengan Naya dari genggamannya. "Mau duduk di sofa aja," balas Naya mencoba melepaskan lengannya dari genggaman Nando. Bukannya melepaskan, Nando justru mengeratkan genggamannya dan menggelengkan kepalanya saat Naya menatapnya. "Kalian, pacaran?," tanya Hanif membuat Naya tersedak air liurnya sendiri. Nando mengelus lembut punggung Naya, sedangkan Regil memberikan adiknya itu air mineral. Ya Allah!! Naya ga kuat!!!! "Benerkan?," tanya Hanif seraya memperhatikan wajah Naya yang memerah karna batuk. "Apaan sih? Kita ga pacaran, 'kan kita baru kenal," jawab Naya seraya menurunkan kakinya dari brankar.  Namun, Nando kembali menahan Naya jadilah Naya duduk di pinggir brankar  saja. Regil berjalan dan ikut duduk di pinggir brankar, sedangkan Hanif dan Reno memilih duduk di sofa. Hanif mangut-mangut mendengar jawaban Naya "Iyadeh percaya,". "Bikin tik tok kuy!," ajak Reno. Regil tersenyum dan segera berlari menuju ke arah Reno dan Hanif yang sudah bersiap. Sedangkan Nando, hanya menepuk jidatnya malu. "SUNGGUH KU MERASA RESAH~~," "UNTUK MENILAI~~," "SESUATU YANG INDAH~~," Naya terkekeh mendengar lagu yang berasa dari ponsel milik Reno serta gaya kocak ketiga lelaki itu. "Ah ini jelek, yang gagak bae," Reno mengangguk dan segera mencari lagu yang sedang viral di sosial media. "Nah eta!," ujar Hanif semangat. "ENTAH APA YANG MERASUKI MU!!," Reno menyilangkan tangannya, lalu membukannya kembali dan mengoyangkan jarinya, kuncup mekar. "Asli gua malu liatnya," gumam Nando membuat Naya menoleh dan tertawa pelan. "Gue pen makan anggur dah," ujar Nando pada Naya. Naya turun dari brankar dan mengambil anggur di atas nakas, lalu ia kembali mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang. Nando menatap Naya yang sibuk mencabut buah anggur tersebut dari batang-batang kecil yang ada di buah itu. Naya yang merasa di perhatikan  mendongak dan menatap bingung Nando yang menatapnya sambil tersenyum. "Kenapa?," tanya Naya bingung. "Suapin," balas Nando dengan suara yang menggemaskan. Naya tertawa pelan dan segera menyuapkan satu buah Anggur ke dalam mulut lelaki itu. "Enak?," tanya Naya membuat Nando mengangguk. "Manis kayak kamu," gumam Nando. "Ha? Apa?," tanya Naya yang tak mendengar jelas ucapan Nando. "Nih, rasain sendiri," ujar Nando menyuapkan satu buah Anggur ke mulut Naya. Hanif yang melihat itu pun menyenggol lengan Regil, membuat lelaki itu ikut melirik adik dan sahabatnya yang sedang suap-suapan. "Mereka ada hubungan apa sih anjir?!," tanya Reno yang ikut melirik kedua remaja itu. Regil menggeleng pelan "Gue yang abangnya aja kagak tau anjir,". "Kalian beneran ga pacaran?," tanya Hanif memastikan. Nando menatap Hanif dan langsung merangkul Naya. "Kagak, gue cuma nganggep Naya kek adik gue kok. Iya 'kan Nay?,". ✨✨✨ Tbc Udah kejebak friendzone, kejebak kakak-adik zone pula!! Dasar aku!! -Naya Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD