FZ | 24

1797 Words
-happyreading- --- 'Kagak, 'kan Nay udah gue anggep kek adik gue sendiri. Iya 'kan Nay?,' Kalimat itu masih terngiang di kepala Naya, entah kenapa ia merasa tak terima ketika Nando hanya menganggapnya hanya sebagai adik. Naya sendiri bingung kenapa dia harus merasa seperti itu, harusnya ia sama dengan Nando. Harusnya dia hanya mengganggap Nando sebagai 'abang'nya saja kan? Naya menyenderkan tubuhnya di pembatas ranjang lalu mengambil guling dan memeluknya. Gadis itu membuka ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Tidak ada pesan chat dari Nando. Tunggu! Kenapa Nando lagi? Kenapa juga Naya harus menunggu chat dari Nando. Naya melempar asal ponselnya dan menutup wajahnya dengan guling lalu membukannya kembali ketika dia merasa pengap. Tapi mengingat Nando, Naya jadi senyum senyum sendiri. Suara berat namun lembut Nando pun masih teringat jelas. Bagaimana laki-laki itu merangkul dan mengelus kepalanya lembut pun masih dapat Naya rasakan. Apalagi saat Nando menyebutnya dengan kata cantik berulang kali. Gadis itu cekikan sendiri sambil memeluk gulingnya erat dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Kemudian gadis itu menghentikan senyumnya dan tersadar. Naya menepuk dahinya, kenapa dia membayangkan Nando lagi?!! Naya menggeram kesal, kenapa kepalanya terisi penuh dengan bayangannya bersama Nando? Bahkan ia melupakan Azzam sejak ia bersama Nando. Naya nyaman dengan Nando, dengan segala perhatian yang di berikan laki-laki itu. Namun, apakah itu benar hanya rasa nyaman? Apakah sekarang Naya nyaman dengan dua laki-laki sekaligus? Naya nyaman bersama Nando dan juga Azzam. Mereka berdua memperlakukan Naya dengan baik. Tapi, itu dulu karena sekarang Azzam hanya bisa memberikannya rasa sakit terus menerus. Bicara tentang Azzam, Naya merasa semakin jauh dengan lelaki itu. Rasa sakit yang di torehkan Azzam masih membekas, meskipun itu bukan sepenuhnya salah lelaki itu. Ini juga salahnya, kenapa dia harus berharap tinggi pada seseorang yang sudah mempunyai pasangan. "Mikirin dua orang itu bikin gue laper!," gerutu Naya lalu beranjak dari kasurnya. Gadis itu celingukan mencari jeday berwarna hitam miliknya lalu tersenyum setelah indra pengelihatannya melihat jeday tersebut berada di lantai dekat meja belajarnya. Naya melangkahkan kakinya dan mengambil jeday yang ada di lantai itu menggunakan kaki lalu mencepol asal rambutnya. Kemudian dia beranjak keluar kamar dan turun menuju dapur. Naya merasa lapar dan ingin makan mie instan karena abis melihat snapgram Nabila yang juga habis makan mie instan. Lagi pula Naya sudah hampir seminggu ini Naya tidak memakan mie instan. Sesampainya di dapur, Naya mengambil satu cup mie instan dan memasaknya. Lalu, Naya mengambil satu butir telur dan menceploknya. "Masak apa lo?," Naya tersentak kaget. Naya berbalik dan mendapati Regil yang menyengir dengan ekspresi menjengkelkan. Naya melirik satu butir bawang. "Lo bisa ga sih dateng itu ngucap salam?!," kesal Naya melempar Regil dengan bawang putih yang ia dapatkan di tempat bumbu dapur. Regil menyengir setelah berhasil menghindar dari lemparan sang adik "Masakin gue juga dong," pinta Regil seraya mendudukan pantatnya di kursi depan mini bar. Sebenarnya Regil tadi sudah makan di luar bersama dengan teman-temannya, namun saat masuk ke dalam rumah dan mencium aroma mie instan membuatnya berjalan menuju dapur dan mendapat sang adik sedang memasak sendirian. Ide jahil terbesit di pikiran Regil membuatnya mengendap-mengendap hingga sampai di belakang adiknya lalu mengejutkan sang adik. Sejujurnya Regil menghela nafas lega saat Naya tidak refleks memukulnya dengan sutil panas yang ada di tangan kanannya. Untung saja Naya bukan tipe orang yang gampang refleks. Adiknya itu hanya melemparnya dengan sebutir bawang putih. Naya memutar matanya malas, seraya mengangkat telurnya yang sudah matang. "Lo mau apa? Mie instan udah abis," ujar Naya menatap Regil yang memainkan ponselnya. Regil tampak berfikir sejenak "Nugget sama sosis aja deh," ujarnya. Regil memang sudah kenyang, hanya saja ia tak tega melihat sang adik harus makan sendirian. Jadi Regil berniat untuk menemani sang adik makan. Naya mendengus namun juga melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin dan membuka bagian freezer untuk mengambil nugget dan sosis yang sengaja bundanya sediakan. Kemudian ia beralih ke bawah dan mengeluarkan satu kotak s**u full cream. Naya kembali ke depan kompor lalu menggoreng nugget dan sosia secara bergantian. Setelah selesai memasak, Naya meletakkan piring yang berisi Nugget dan sosis goreng milik Regil di atas mini bar. Kemudian, dia mengambil cup mie instan miliknya dan ikut mendudukan pantatnya di kursi. Gadis itu kembali berdiri mengambil s**u full cream yang tadi ia letakan di meja dapur lalu kembali duduk di samping sang abang. "Makasih adekku tersayang," ujar Regil lalu mencomot satu nugget yang ada di piring. "Makan pake nasi Bang!," tegur Naya ketika melihat Regil yang memakan nuggetnya tanpa nasi. Regil mengangguk pelan lalu berdiri membawa piringnya. "Ada bon cabe kagak Nay?," tanya Regil seraya mengambil nasi di rice cooker. Laki-laki itu hanya mengambil nasi sedikit karena memang sudah kenyang. "Udah habis, di gadoin sama Ayah tadi," balas Naya lalu mengambil sumpit. Regil mendesah, Ayahnya gemar sekali memakan bon cabe. Bukannya apa, ia kan juga mau gadoin bon cabe. Entah terbuat dari apa lidah keluarga mereka ini, dari Ayah, Bunda, dan anaknya gemar sekali makan pedas. Apalagi Regil dan Rizki yang tidak bisa makan jika tidak ada sambel atau bon cabe. Setelah mendapat cabe rawit, Regil kembali duduk dan memakan makanannya dengan lahap. "Tumben porsi makan lo sedikit," ujar Naya melirik piring Regil. "Udah kenyang, tadi gue makan di luar soalnya." balas Regil membuat Naya menaikan sebelah alisnya. "Lah? terus kenapa makan lagi kalo udah kenyang?," tanya Naya bingung. "Sebagai abang yang baik, gue ga tega ngeliat ade gue makan sendirian." ujat Regil menyodorkan satu nugget ke depan mulut Naya. Naya menerima suapan Regil dan tertawa pelan "Duh terharu nih gue punya abang sweet bener!," ujar Naya dengan wajah haru di buat-buat. "Lebay!," ujar Regil membuat Naya mendelik. Emang Regil tuh suka banget ngerusak suasana. Padahal tadi Naya benar-benar terharu. "Lo ada hubungan apa sama Nando?," tanya Regil yang teringat kejadian beberapa jam lalu. Naya mendesah pelan "Bang, gue kasih tau ya sama lo. Gue ga punya hubungan apapun sama dia," jelas Naya. "Hubungan gue sama dia itu hanya sebatas kakak adik!," tegas Naya meskipun sedikit tak rela ketika mengucapkan kalimat itu. "Lo beneran ga naksir sama dia 'kan?," tanya Regil ketika mendapat nada ragu dalam ucapan adiknya. "Emang kenapa kalo gue naksir sama dia?," tanya Naya mengangkat satu alisnya. "Ya, gapapa sih. Kayaknya dia juga naksir lo,". balas Regil membuat Naya terkekeh pelan. "Ngaco lo, ga mungkin lah anjir." elak Naya menggelengkan kepalanya pelan. "Gue temenan sama Nando tuh udab lama Nay, gue tau gerak-gerik diam gimana. Dia emang gampang akrab sama cewe, tapi perlakuan dia ke lo tuh beda," ujar Regil panjang. "Beda gimana?," tanya Naya. Regil mengambil mie Naya dan memakannya sedikit lalu mengembalikannya ke depan sang adik. "Ya beda. Dia tuh ga pernah mau di jadiin tempat curhat sama cewe-cewe yang pake modus gitu buat deket sama dia." balas Regil. "Ya kan karena dia nganggep gue adenya juga. Makanya dia mau gue jadiin tempat curhat," ujar Naya masih menyangkal. "Alah alibi dia doang itu, paling juga lagi dia confess ke lo," ujar Regil menghabiskan makanannya. "Apaan si, ga mungkin banget." ujar Naya juga menghabiskan makanannya. ✨✨✨ Naya turun sekolah dengan satu paper bag yang berisi jaket dan hoodie milik Azzam yang ia pinjam di tangannya. Setelah makan bersama Regil tadi malam, Naya teringat Azzam dan baru mengingat bahwa ia pernah meminjam jaket milik Azzam saat ia tercebur di kolam renang milik Nabila dan saat ia menolong Audrey. Audrey, satu nama yang entah kenapa membuat Naya merasa tak suka saat mendengar nama itu. Naya tau, ini bukan salah Audrey. Tapi, tetap saja Naya merasa sedikit tak suka dengan gadis berparas cantik itu. "Wih apaan tuh? Makanan ya?," celetuk Abian membuat Naya memutar bola matanya malas. "Makan mulu pikiran lo," ujar Naya di balas decihan oleh Abian. "Suka-suka gue lah," sahut Abian tak mau kalah. Naya melirik Azzam yang berbicara dengan Audrey di meja tempat lelaki itu duduk. Naya merasa sedikit kesal dengan Audrey, kenapa gadis itu selalu ada di dalam kelasnya setiap pagi? Apa dia tidak merasa malu berada di dalam kelas yang berisikan seniornya? Dengan berat Naya melangkahkan kakinya menuju ke meja Azzam dan mengangkat paper bag itu. "Makasih, maaf gue lupa ngembaliin," ujar Naya seraya meletakkan paper bag yang ia bawa. Azzam mendongak dan menatap Naya dalam membuat Naya merasa salah tingkah. "Lo marah gue ngembaliin jaket sama hoodie lo kelamaan?," tanya Naya berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ini kali pertama dia berbicara setelah ia berusaha menghindar selama seminggu. Azzam menggeleng dan berdeham "Mana bisa gue marah sama lo," ujar Azzam terang-terangan membuat teman-temannya bersorak. Naya berbalik menyuruh teman-temannya diam untuk menghargai Audrey. Bagaimana pun Audrey pacar Azzam, tidak seharusnya mereka seperti itu. "Eh, ada Audrey," sapa Naya yang pura-pura baru menyadari kehadiran gadis itu. Audrey tersenyum kecut "Kakak minjam jaket kak Azzam?," tanya Audrey memperhatikan paper bag yang berada di depan Azzam. Naya mengangguk pelan "Kenapa lo cemburu? Lagian itu gue minjemnya sebelum lo jadian sama Azzam kok. Itu juga di pinjemin buat nutupin darah lo di rok gue pas gue nolongin lo," tebak Naya dan menjelaskannya pada Audrey. Audrey hanya diam, dia hanya membalas perkataan Naya dengan senyum tipis. "YAELAH, NAYA SAMA AZZAM UDAH KENAL LAMA! WAJARLAH KALO DIA MINJEM BARANG AZZAM! LAGIAN LO BARU JADI PACARNYA BELUM JADI ISTRINYA!," sahut Nabila kesal. 'Lagian juga lo di tembak cuma karna kesalahan Azzam doang b**o!,' "Bil, nggak boleh gitu!," tegur Naya tak suka ketika melihat wajah Audrey yang sedikit muram. "Lagian, baru jadi pacar possesifnya minta ampun," sahut Nabila merasa tak bersalah. "KATAKAN LAH SEKARANG BAHWA KAU TAK BAHAGIA~~," teriak Abel dan Bela bernyanyi. "AKU PUNYA RAGA MU TAPI TIDAK HATIMU~~," sambung Randy dan Abian. "KAU TAK PERLU BERBOHONG KAU MASIH MENGINGINKANNYA, KU RELA KAU DEENGANNYA ASAL KAN KAU BAHAGIA~~," sambung Paskal yang baru saja masuk ke dalam kelas. "Udahlah berisik lo pafa! Audrey maafin temen-temen gue ya," ujar Naya merasa tak enak hati. Meskipun ia sedikit tak menyukai gadis ini, tetap saja dia merasa tak tega melihatnya di sindir. Audrey hanya menatap Naya dengan tatapan yang tak bisa di artikan, membuat Naya merasa sedikit bingung. "Mending, lu anterin cewek lu balik ke kelasnya dah!," usir Paskal pada Azzam. Sebenarnya Paskal tidak mengusir Azzam, ia hanya mengusir Audrey secara halus. Paskal sedikit tak menyukai gadis itu karena Paskal lebih mendukung Azzam dengan Naya. Azzam mengangguk dan berdiri, di susul dengan Audrey yang berjalan di belakang. Audrey menarik lengan Azzam dan mengenggamnya ketika mereka hendak melewati Naya. Seolah ingin menunjukan pada Naya bahwa Azzam adalah miliknya dan dia pemenangnya. Naya yang melihat itu hanya bisa tersenyum miris tanpa bisa menghentikan tangan itu untuk tidak mengenggam tangan milik Azzam. Naya menatap Audrey santai seolah mengatakan 'Gue ga panas lo kaya gitu di depan gue' melalui tatapan mata. Tentu saja Naya berbohong, Naya kembali merasa sakit. Naya berusaha tersenyum ketika Azzam melewatinya, padahal sebenarnya ia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. ✨✨✨ Tbc Jangan lupa tap love :) Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD