FZ | 25

2174 Words
-happyreading- --- Naya mendesah pelan, ia menatap layar monitor di hadapannya dengan malas. Menatap rentetan tulisan ber-angka membuatnya sedikit pusing, di tambah lagi dengan panggilan teman-temannya yang berusaha meminta jawabannya. Hari ini merupakan pelajaran kimia, pelajaran yang tak terlalu di sukai Naya. Menurut Naya kimia itu ribet sama seperti Fisika. "Sabar anjing, gue juga lagi susah ini!," gumam Naya menatap tajam Abian yang berusaha memohon. Bukannya Naya tak mau memberi jawaban, masalahnya mata pengawas di ruangan ini terus mengarah pada Naya. Naya mencoret asal kertas cekeran yang tadi di berikan pengawas saat try out hari ketiga mereka segera di mulai. Ini sudah try out ke tiga, yang artinya setelah try out ini berakhir, mereka harus siap menghadapi USBN dan UNBK. Dan besok merupakan hari terakhir try out ini di laksanakan. Naya menatap layar monitor tersebut dengan serius, seraya berusaha mengingat rumus yang tadi sudah ia hafalkan di rumah. Bukannya mengingat rumus, ia justru merasa semakin ngantuk. Ditambah lagi ruangan ber AC yang membuatnya ingin terlelap saat ini juga. Bel berdering menandakan bahwa try out mereka telah berakhir. Naya menatap layar monitornya dan memilih asal jawaban dengan cara cap cip cup. Setelah menjawab semua soal, ia langsung log out dan meninggalkan tempat duduknya. Padahal semalam Naya sudah mempelajari materi itu. Namun karena tak fokus membuat Naya tak bisa mengingat rumus dan cara penyelesainnya. Waktu dan suara pengawas yang mengingatkan bahwa try out ini akan berakhir membuat Naya pasrah dan memilih acak jawaban. Naya segera log out dan berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia meremas kertas cekeran yang sudah dia tulis beberapa jawaban. Naya berjalan pelan melewati meja Abian dan melemparkannya dengan cepat agar si pengawas tidak curiga. Setelah bersalaman dengan pengawas akhirnya Naya keluar dari ruangan dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. "Nay woi!," Naya menoleh dan mendapati teman-temannya sedang berkumpul. Nabila melambaikan tangannya pada Naya. Naya mengambil sepatunya di rak sepatu dan langsung menghampiri mereka, sejujurnya Naya merasa sedikit malas karna ada seseorang yang sedang di hindarinya, lagi. Naya duduk di hadapan Nabila dan memasang sepatunya santai. "Abel mana?," tanya Bela menatap Naya yang sedang mengikat tali sepatunya. "Kagak tau gue, belum selesai kali," jawab Naya. Naya mengalihkan pandangannya ketika secara tidak sengaja berkontak mata dengan Azzam, lelaki yang di hindarinya. Melihat hubungan Azzam dan Audrey semakin dekat, membuat Naya memutuskan untuk menghapus perasaan yang tertanam kuat dihatinya dengan cara menghindar. "Naya bangke, di panggilin kagak nyaut-nyaut!," gerutu Abian yang baru keluar dari ruangan bersama Abel. "Lah lu juga, udah tau gue di depan, lu malah tereak-tereak! Gue yang diliatin pengawasnya b**o!," balas Naya menoyor kepala sepupunya itu. Abian tuh kalo manggil ga tanggung-tanggung. Laki-laki itu tak menyadari bahwa suaranya cukup keras di ruangan yang senyap itu. "Gila, pala gue mau pecah anjir ngeliat angka-angka di komputer tadi," eluh Abel lalu ikut duduk di samping Abian. Padahal semalam ia sudah belajar namun ntah kenapa semuanya nge blank. Abel tidak mengingat satu pu  materi yang ia pelajari semalam. "Randy mana?," tanya Naya mencari keberadaan temannya itu. Biasanya Randy selalu berada di samping Abian. "Kagak tau gue! Lagi ngebucin kali!," sahut Nabila ketus. Naya menggeleng heran melihat mulut Nabila yang semakin hari semakin pedas dan tak terkontrol, membuatnya ingin memukulnya dengan sepatu. "Lu kalo ngomong jan pedes-pedes napa Bil," tegur Naya sedikit tak suka. "Becanda juga ada batasnya,". sambung Naya. "Iya maaf," sahut Nabila merasa bersalah. "Lu ngapa sih? Biasanya lo ga gini," tanya Bela menatap heran Naya yang sedikit aneh. Naya bukan orang yang gampang marah hanya karena hal sekecil itu. Lagian kalo pun Naya tak suka, gadis itu memberi nasihat dengan pelan. Tidak nge gas seperti tadi. "Gue kenapa?," tanya Naya dengan alis yang ia naikan sebelah. "Yee, malah nanya balik," sahut Abel meraup wajah Naya. "Males gue di sini, bawaanya pen marah mulu!," Naya berdiri dan mengambil tasnya "Gue duluan," pamitnya. Nabila mengernyit heran "Dia ngapa dah?," tanyanya bingung. "Lagi pms kali," Nabila menggedikan bahunya ketika mendengar jawaban Abel. "Dia gitu karna gue," sahut Azzam yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Naya. Azzam menyadari tatapan sinis Naya untuknya dan Azzam menyadari mood Naya jadi jelek karena ada dia di sini. "Kenapa lagi lo berdua?," tanya Bian menatap Azzam serius. Bagaimanapun dia tak ingin sepupunya terus merasa seperti ini. "Iya lu berdua berantem mulu dah," sahut Bela heran. "Dia ngehindar lagi dari gue, chat gue ga di bales, telpon gue ga di angkat, gue juga gatau kenapa," adu Azzam pada teman-temannya. "Lo b**o apa gimana sih Zam? Naya juga punya hati, t***l!," maki Abel kesal. "Maksudnya?," tanya Azzam bingung. "Ya lo chattan ama Naya pake sayang-sayang, terus abis lo chattan ama dia, lo malah masang foto Audrey di instastory lo!," Abel menghela nafas pelan "Cewek mana yang ga sakit hati di gituin?," tanya Abel pelan. "Kalo emang lo ga bisa sama dia, jangan paksain ego lu Zam. Jangan bikin dia berharap dengan semua perlakuan manis lo ke dia," sambung Abian. "Gue sayang sama dia, tapi gue juga sayang sama Audrey. Gue gabisa mutusin Audrey," Bugh "b******k lo!," maki Abian memukul sudut bibir Azzam dengan kuat. Abian menarik kerah baju Azzam kasar "JADI MAKSUD LO, LO MAU JADIIN NAYA CADANGAN DISAAT LO NGERASA JENUH SAMA AUDREY?!," tunjuknya pada Azzam. "Bi udah!," lerai Abel menarik lengan Abian. "Lo keterlaluan, meskipun lo temen gue! Gue tetep gabisa biarin lo nyakitin sepupu gue terus!," ujar Abian mengacak kasar rambutnya. "Naya juga ga segoblok itu anjing!," maki Abian menepis tangan Abel dan pergi meninggalkan teman-temannya. Azzam benar-benar b******k, pikir Abian. Azzam mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah "Maafin gue, gue gabisa,". ✨✨✨ Naya menatap lelaki yang sedang menyetir di sampingnya ini, wajahnya terlihat tampan ketika sedang fokus melihat jalanan di depannya. Di lihat dari samping, rahang tegas lelaki itu semakin terlihat jelas. "Gue tau gue ganteng," ujar lelaki itu membuat Naya mendelik. "Kepedean lo," balas Naya menatap jalan di depannya. Kemudian pandangan Naya beralih pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 10 lewat 15 menit. Belum terlalu siang. "Kenapa? Ada yang mau lo bicarain?," tanyanya pada Naya. "Udah makan belum?," tanya Naya pada Nando. "Makan roti doang tadi, kenapa? Mau singgah makan?." tanya Nando menatap Naya. "Ngerepotin ga?," tanya Naya di balas gelengan oleh Nando. Naya tidak pernah merepotkannya, kalau pun Naya membuag repot pun Nando tidak masalah karena Nando suka di repotkan gadis itu. "Serius!! Hari ini kelas jam berapa?," tanya Naya cemberut. Nando tertawa lalu meletakan tangannya di atas kepala Naya "Gue udah serius Anayaaaa, gue ada kelas jam 1." ujar Nando gemas mengacak rambut gadis itu. "Makan yuuu," ajak Naya merasa lapar. Naya memang belum memakan apapun sejak tadi pagi karena memang gadia itu tak biasa sarapan pagi. Naya hanya meminum segelas s**u sebelum ia berangkat ke sekolah. "Mau makan dimana? Jangan bilang terserah!!," ujar Nando saat Naya hendak membuka mulut. Naya tertawa karena ia hampir mengeluarkan kata 'terserah' dari mulutnya. "Di McD mau?," tanya Naya. Nando nampak berfikir sebentar kemudian mengangguk setuju. "Gimana hubungan lo sama Azzam?," tanya Nando membuat Naya menoleh. Naya mendesah pelan "Gue bingung, sebenarnya maunya Azzam ini apa? Dia bilang sayang sama gue, tapi dia tetep bertahan sama Audrey,". Nando menghela nafas dan menatap Naya, saat ini mereka berada di lampu merah. "Sayang boleh, tapi jangan b**o karna cinta," ujar Nando membuat Naya mengernyit bingung. "Maksudnya?," tanya Naya. "Lo udah tau endingnya selalu seperti itu, tapi kenapa lo harus ngelakuin hal itu berkali-kali?," tanya Nando. "Gue nggak ngerti," balas Naya. "Lo tau kalo lo sama Azzam gabakal bisa bersatu, tapi kenapa lo tetep mau bertahan sama dia?," jelas Nando lalu kembali menjalankan mobilnya karna lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Naya menghela nafas "Gue juga ga tau kenapa bisa gini, di saat dia bersikap manis sama gue, gue selalu pengen tetep ada di samping dia," ujarnya. "Gue ngerasa jadi selingkuhan dia tau ga," ujar Naya tersenyum masam. Azzam memanggilnya dengan sebutan sayang, mengatakan bahwa ia mencintai Naya. Padahal statusnya sudah menjadi kekasih orang lain. Bodohnya lagi, Naya menerima semua itu. Naya menerima ucapan sayang Azzam meskipun ia tak membalas panggilan sayang itu. "Lo bisa, kalo memang lo mau," ujar Nando misterius. Lagi dan lagi Naya mengernyit heran. Kenapa Nando sering sekali berbicara dengan kata-kata yang tak dapat Naya mengerti? "Lu kalo ngomong yang jelas napa si?," omel Naya kesal. Nando memberhentikan mobilnya tepat di parkiran McD, saat Naya hendak keluar Nando langsung mengunci pintu mobil itu secara otomatis membuat Naya menoleh padanya. "Kenapa di konci?," tanya Naya kesal. Nando menatap Naya intens dan memegang tangan Naya lembut, membuat Naya menahan nafasnya. "Lo mau tau maksud gue?," tanya Nando lembut yang di balas anggukan oleh Naya. Naya merasakan pipinya memanas ketika Nando tersenyum manis dan mengelus lembut tangannya yang berada di genggaman cowok itu. Naya menunduk untuk menyembunyikan wajah, dia yakin pasti pipinya sedang memerah sekarang. Entah kenapa, Naya merasa gugup di perlakukan seperti ini dengan Nando. Naya merasakan dagunya di angkat oleh Nando, dan saat itu juga dia menatap dalam mata teduh Nando. "Buka hati lo buat gue," ujar Nando serius. Naya terdiam, apa ia tak salah dengar? Nando menyuruhnya buka hati untuknya? "Lo ngomong apa barusan?," tanya Naya sedikit terbata. Nando menghela nafas lalu tersenyum sambil menggeleng pelan. "Gausah di pikirin," ujar Nando mengelus pelan kepala Naya lalu membuka pintu mobil. Nando keluar dan beralih ke jok belakang untuk mengambil macbooknya. Sedangkan Naya masih terdiam di dalam mobil dengan pipi memanas. "Kenapa masih di dalam? Ayo keluar!," Nando membuka pintu mobil Naya dan menarik gadis itu keluar. Naya mengangguk dan mengambil ponselnya di dashboard lalu berjalan beriringan dengan Nando. "Lo cari meja aja, biar gue yang pesen." ujar Nando di balas anggukan oleh Naya. Nando memberikan macbooknya pada Naya, menyuruh gadis itu membawanya. "Mau pesen apa?," tanya Nando. "Samain aja sama pesenan lo," ujar Naya di balas anggukan oleh Nando. Naya berjalan dengan macbook yang berada di pelukannya, gadis itu celingukan mencari tempat duduk dan memilih duduk di ujung. Naya meletakan macbook Nando di meja dan mendudukan pantatnya. Naya memainkan ponselnya sambil menunggu Nando. Naya membalas chat Nabila yang bertanya kenapa hari ini Naya sedikit sensi. Naya meletakan ponselnya lalu bertopang dagu, sebenarnya Naya masih memikirkan perkataan Nando di mobil tadi. Bukannya Naya tak mengerti maksud Nando. Naya mengerti bahkan sangat. Tapi apakan Nando serius dengan ucapannya? Naya tidak tau apakah ia memiliki perasaan pada Nando atau tidak. Namun, Naya merasa nyaman dengan laki-laki itu. Semua perhatian yang Nando berikan, pelukan hangat, Naya menyukai hal itu. Naya tersenyum ketika Nando meletakan nampan di meja, wangi Nando itu khas membuat Naya menyadari bahwa Nando sudah berada di depannya. "Rame banget ya," ujar Naya memperhatikan sekelilingnya. Naya mengernyitkan dahinya saat melihat hanya ada satu nasi di nampan. "Lo ga makan bang?," tanya Naya. "Belum laper, gue mau ngerjain skripsi aja." ujar Nando menyalakan macbooknya. Naya menghela nafas merasa tak enak mengajak Nando makan padahal laki-laki itu ingin mengerjakan skripsinya. "Gue cuma nge revisi Nay, gausah masang tampang melas gitu." ujar Nando membuat Naya tersenyum. Naya bangkit dari tempat duduknya dan mencuci tangan. Setelah itu ia kembali duduk di hadapan Nando dan mulai makan menggunakan tangan. "Aaaaaa," ujar Naya menyodorkan tangannya yang berisi nasi dan ayam ke depan mulut Nando. Nando terkekeh dan menerima suapan Naya membuat Naya tersenyum senang. "Bikin skripsi susah ga bang?," tanya Naya. "Susah sih, bikin gue kurang tidur." balas Nando tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Jaga kesehatan, rajin minum vitamin juga." ujar Naya mengingat Regil sekarang jadi sering tidur larut karena mengerjakan skripsinya. "Iya bawel," balas Nando membuat Naya mendelik. Naya kembali menyodorkan tangannya pada Nando dan langsung di terima baik. Jadilah Naya makan sambil menyuap Nando hingga makanannya habis. Naya melirik ponselnya yang baru saja menyala karena ada pesan masuk. Sama halnya dengan Naya, Nando juga melirik ponsel gadis itu karena baru saja berbunyi. Naya mengabaikan ponselnya begitu melihat nama Azzam di notifikasi bar dan berdiri untuk mencuci tangan. Sedangkan Nando kembali melanjutkan kegiatannya. Naya kembali duduk dan minum, kemudian menyuapkan satu kentang ke mulut Nando karena laki-laki itu sibuk dengan laptop di hadapannya. Bahkan minuman Nando masih banyak. Naya memperhatikan wajah Nando, masih ada bekas luka kecelakaan di wajah laki-laki itu meskipun sudah samar. Nando menghela nafas dan menutup macbooknya lalu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan. Nando benar-benar pusing dengan skripsinya yang selalu di coret dosen pembibingnya. "Capek ya?," tanya Naya pelan. "Pusing Nay," balas Nando masih menempelkan kepalanya di lipatan tangan. "Yaudah ke mobil aja dulu," ajak Naya membawa macbook dan minuman Nando. Nando bangkit dan menyusul Naya yang sudah berjalan di depan. Sesampainya di mobil, Naya meletakan minuman Nando di dashboard dan macbook Nando di belakang. Nando masuk ke dalam mobil dan bersandar. "Semalem bobo jam berapa?," tanya Naya menatap Nando yang masib memejamkan matanya. "Jam 4," balas Nando. "Lo kurang tidur, makanya pusing." ujar Naya. "Tidur aja dulu bentar, ntar gue bangunin." sambung Naya. Nando membuka matanya dan menatap Naya. Kemudian laki-laki itu menyenderkan kepalanya di bahu Naya dan memilih tidur. Naya mengelus rambut Nando dan membiarkan Nando tertidur di bahunya. ✨✨✨ Tbc Gimana part kali ini, Beberapa part lagi menuju ending. Kalian bisa tebak endingnya bakal gimana? Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD