-happyreading-
---
Naya melangkahkan kakinya memasuki gerbang dengan senyum yang terus telihat di wajahnya, pagi ini mood Naya sedang baik.
Hari ini merupakan hari terakhir try out dan artinya Ujian Nasional semakin dekat. Setelah try out berakhir, hanya ada waktu 2 minggu lagi untuk belajar dan setelah itu menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Naya berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar dengan giat dan serius agar bisa membanggakan Ayah dan Bundanya dengan nilai yang memuaskan.
Naya melakukan semua itu bukan semata-mata untuk kedua orang tuanya, melainkan untuk dirinya sendiri juga.
Naya menghampiri teman-temannya yang sedang berkumpul dan membaca buku bersama, mungkin mereka sedang mengulang materi yang mereka pelajari semalam.
"Eh gue dapet contekan dari anak sesi pertama masa," adu Abian pada teman-temannya dan memperlihatkan sebuah kertas yang baru ia keluarkan dari saku bajunya.
"Katanya susah banget, terus gue di kasih cekeran yang udah ada jawabannya," lanjutnya lagi.
Naya menaikan alisnya "Siapa yang ngasih lo?,". tanyanya bingung.
"Dewi, anak IPA 1," balas Abian bangga.
"Lah yang pinter itu?," sahut Randy meminum air mineral yang baru saja ia beli.
Abian mengangguk membenarkan, membuat teman-temannya merasa tak yakin.
"Kok bisa?," tanya Nabila tak yakin.
"Kata temennya dia naksir gue, terus tadi gue becanda minta jawaban eh beneran di kasih sama dia," cerita Abian membuat teman-temannya tertawa.
"Pinter juga lu," puji Bela menepuk-nepuk bahu lelaki itu.
"Bagi gue lah," ujar Naya mengambil kertas itu dan membacanya sebentar.
Naya membaca rumus-rumus dan jawaban yang berada di kertas itu, tak butuh waktu lama Naya sudah bisa menghafal semua tulisan yang ada di kertas itu. Naya memang salah satu murid yang memiliki daya ingat yang kuat dan mudah menghafal suatu tulisan.
"Pulang sekolah lu ikut kagak Nay?," tanya Cika yang baru datang bersama Abel.
"Ikut kemana? Lu dateng-dateng bukannya ngucap salam malah langsung nanya gitu," omel Naya pada Cika.
Cika menyengir "Lupa," ujarnya
"Ikut kemana emang?," tanya Naya ulang.
"Adiknya Azzam kan masuk rumah sakit, lu ga ngasih tau mereka Zam?," tanya Cika pada Azzam yang sedari tadi tak bersuara.
Azzam mendongak dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Lu tau darimana?," tanyanya.
"Kemaren gue ngeliat lu," balas Cika lalu duduk di samping Naya.
Azzam menunduk, ia tak ingin teman-temannya tau dan memang tak berniat memberi tahu. Azzam merasa malu pada semua teman-temannya terutama Naya.
"Kenapa lo diem aja?," tanya Abian menatap Azzam.
"Lo lagi ada masalah?," tanya Randy.
Azzam menggeleng pelan "Nggak kok," ujarnya ragu. Azzam memiliki masalah saat ini dan tak tahu harus bercerita pada siapa.
Naya diam dan menatap wajah Azzam "Bibir lo kenapa? Abis berantem?," tanya Naya tiba-tiba. Naya rasa menghindari Azzam bukan cara yang tepat.
Kata Regil, cara paling ampuh untuk melupakan seseorang adalah dengan cara berdamai dengan masa lalu.
Azzam terkejut dan menatap Naya "Lo nanya gue?," tanyanya kaget.
Naya memutar bola matanya "Ya nanya siapa lagi? Yang bibirnya luka di sini cuma lo," ujar Naya.
"Ini, cuma luka biasa kok," jawab Azzam singkat.
"Lo abis berantem?," tanya Naya membuat Abian berdeham pelan karena ia yang menyebabkan luka di sudur bibir Azzam.
"Engga kok," ujar Azzam membuat Naya mengangguk.
"Cie yang kemaren abis pacaran di mekdiii," ujar Sarah saat melewati Naya.
"Hah? siapa Sar?," tanya Nabila bingung.
"Iya ga Nay?," goda Naya membuat Naya tersenyum malu.
"Kok lo tau?," tanya Naya.
"Gue ada di belakang lo Nay," balas Sarah membuat Naya menepuk pelan dahinya. Kenapa dia tak menyadari bahwa ada Sarah di meja belakang??
"Sweet banget cowonya di suapin," sambung Sarah lalu pergi meninggalkan Naya yang menunduk malu.
"Lo beneran punya pacar Nay?," tanya Bela penasaran karena Naya memang tidak pernah cerita.
"Engga anjir, itu dia gue suapin karna dianya sibuk ngerjain skripsi." ujar Naya duduk di depan Nabila.
"Oh lo sama si Nando itu?," tanya Nabila di balas anggukan oleh Naya.
"Tapi lo berdua cocok anjir, kenapa ga pacaran aja?," sahut Randy.
"Naya kan masih stuck di mas A," sindir Bela.
"Apaan si anjir, ngaco lo." elak Naya menatap tajam Bela memberi kode untuk tidak membahas masalah itu sekarang.
Naya sedang malas mengingat masalah itu, Naya ingin tenang hari ini.
Tak lama bel masuk berbunyi, membuat mereka semua gugup karena ini hari terakhir. Naya melepas sepatunya dan meletakannya di samping sepatu Nabila lalu masuk ke dalam ruangan setelah memperlihatkam kartu ujiannya pada pengawas yang berada di depan pintu.
Setelah itu mereka semua masuk dan berdoa sebelum soal tryout di buka. Semua murid di dalam ruangan itu fokus dengan monitor yang ada di depan mereka masing-masing lalu fokus mengerjakan ketika soal sudah di buka.
✨✨✨
Naya menatap anak kecil yang tertidur pulas dengan selang infus yang menempel di lengan mungilnya. Wajah tidurnya terlihat damai dan tampan, persis seperti Azzam.
"Sakit apa Zam?," Naya bertanya sambil mengelus rambut anak kecil itu.
Saat ini hanya ada Azzam, Naya, dan adik Azzam yang bernama Rey. Jika kalian bertanya kemana teman-teman mereka, mereka sudah pulang ketika Naya tiba.
Naya memang tidak langsung ikut bersama teman-temannya, karna dia harus pulang mengganti pakaian lalu menyusul teman-temannya ke rumah sakit.
Tadi Naya sempat mengunjungi Nando yang sedang demam, namun saat Naya datang suhu tubuh laki-laki itu sudah normal. Jadilah Naya pamit dan menyuruh Nando tidur setelah laki-laki itu meminum obatnya.
"Demam tinggi," jawab Azzam lalu ikut duduk dan mencium pipi adiknya. Azzam menatap sang adik sedih lalu mengelus lembut pipinya.
Naya menatap wajah Azzam serius, entah kenapa Naya merasa ada sesuatu yang Azzam sembunyikan.
"Lo ada masalah ya Zam?," tanya Naya ragu.
Azzam menggeleng "Nggak Naya," jawabnya dan bersamaan dengan itu Rey membuka kedua matanya.
"Mama belum datang ya, Bang?," tanya Rey serak dengan raut wajah sedih.
Azzam tersenyum tipis dan mengelus lembut pipi Rey "Mama lagi sibuk, kamu sabar ya," ujar Azzam menenangkan.
Rey menatap Azzam dengan mata yang berkaca-kaca "Abang selalu ngomong gitu, tapi mama ga datang-datang juga," ujarnya sedih.
Naya melihat semuanya, Naya dapat melihat kerinduan di mata Rey dan kesedihan di mata Azzam. Naya tersenyum dan maju mendekat ke brankar Rey lalu duduk di samping anak kecil itu. Gadis itu mengelus lembut rambut Rey membuat anak kecil itu memejamkan matanya nyaman.
"Hey, masa laki-laki nangis?," tegur Naya seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Rey.
Rey menatap bingung Naya dengan wajah cemberutnya "Kakak siapa?," tanya Rey sesegukan namun berusaha menghentikan tangisnya karena ucapan Naya.
"Aku Naya, kamu siapa namanya?," tanya Naya lembut.
"Rey," jawab Rey pelan.
Naya tersenyum lembut dan mengelus kepala Rey "Kamu kangen ya sama mama kamu?," tanya Naya pelan.
Rey mengangguk membuat Naya ingin menangis "Kamu mau nggak ketemu sama Bunda aku?," tanya Naya.
"Mamanya Kak Naya?," tanya Rey lagi.
Naya mengangguk mengiyakan "Kamu mau?," tanyanya.
"Rey mau!!," ujar Rey bersemangat.
"Kalo gitu kamu harus cepet sembuh terus ikut aku ketemu sama Bunda aku," ujar Naya yang di balas anggukan semangat oleh Rey.
"Eh, ada tamu ternyata," Naya menatap seseorang yang baru saja masuk dengan senyum sopan.
"Kenalin Nay, Papa gue," ujar Azzam.
Naya mencium tangan lelaki yang masih terlihat muda di depannya ini "Naya, Om," ujar Naya sopan.
"Papanya Azzam," balasnya ramah.
"Kamu udah makan Bang?," tanya meletakan beberapa bungkus makanan di nakas.
Azzam mengganguk dan izin keluar bersama Naya. Azzam menarik Naya yang bingung. Seperti ada kesedihan di mata Azzam saat melihat Ayahnya datang.
"Mau kemana?," tanya Naya bingung.
Naya menatap tangannya yang di genggam lembut oleh Azzam membuatnya merasa dejavu.
"Rooftop,".
Sesampainya di rooftop Naya membiarkan angin menerpa lembut wajahnya dan membiarkan rambut tergerainya tertiup angin.
Berbeda dengan Azzam yang menatap pemandangan kota dengan tatapan kosong. Naya terdiam menatap Azzam yang terlihat rapuh bahkan dari belakang.
Naya berjalan mendekat dan memegang bahu Azzam "Lo bisa cerita kalo lo ada masalah," ujar Naya tersenyum tulus.
Azzam menghela nafas pelan "Mama Papa gue cerai, Nay," ujar Azzam pelan bahkan sangat pelan.
Naya tertegun, baru kali ini ia melihat sisi rapuh Azzam.
"Papa cerain Mama karna ngeliat Mama tidur sama laki-laki lain di hotel," lanjutnya.
Naya mengelus punggung Azzam berniat menguatkan.
"Mereka berantem hebat di rumah dan ga sadar kalo Rey ngeliat dan denger semuanya,".
"Mama milih pergi dan ga hirauin teriakan Rey yang minta Mama untuk ga pergi," Naya menatap Azzam dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat itu Azzam baru saja memakirkan motornya dan melihat ibunya menangis lalu masuk ke mobil dan pergi tanpa menjawab pertanyaan Azzam. Merasa ada yang tak beres, Azzam segera melepas helmnya dan masuk ke dalam rumah lalu menahan Rey yang ingin lari keluar rumah sambil menangis.
Azzam menggendong Rey dan menghampiri sang Ayah yang hanya berdiri dan menatap pintu rumah dengan tatapan kosong.
"Gue ga bisa apa-apa Nay, gue pengen marah tapi gue nggak bisa," ujar Azzam serak.
Mata Azzam memerah dan berkaca-kaca membuat Naya ingin menangis karena tak pernah melihat Azzam seperti ini sebelumnya. Azzam selalu terlihat cuek dan datar. Azzam sendiri mendongak ke atas berusaha menahan airmatanya agar tidak menetes.
Naya menarik lalu memeluk Azzam dan membiarkan lelaki itu menangis, mengeluarkan semua rasa sakit yang ia pendam. Azzam mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di leher Naya.
"Gue ngerasa jadi anak dan abang yang ga berguna," racau Azzam.
"Nggak Zam, lo nggak salah!," ujar Naya bergetar karena menahan tangis.
"Lo ga boleh nyalahin diri lo sendiri," sambungnya.
Naya merasa sakit melihat keadaan Azzam sekarang, bagaimana pun dia menyayangi Azzam. Gadis itu mengelus lembut punggung Azzam berusaha menenangkan Azzam yang sesegukan.
Naya merasakan lehernya basah karena airmata Azzam, namun Naya membiarkannya. Naya membiarkan Azzam menumpahkan kesedihannya.
"Jangan tinggalin gue kayak Mama, Nay," racau Azzam mengeratkan pelukannya.
Naya tersenyum miris "Pada akhirnya lo yang bakal ninggalin gue, Zam," lirihnya setelah melihat Audrey berjalan menuju ke arah mereka.
✨✨✨
Tbc
Guys kalian percaya ga kalo ini real kisah aku?
Ceritanya ngebosenin ga si? Jadi pen cepet-cepet end :(
Thanks for read❤