FZ | 27

2051 Words
-happyreading- --- Naya melepaskan pelukannya saat Audrey semakin dekat, ia mendorong pelan bahu Azzam yang masih ingin memeluknya lebih lama. Azzam menoleh dan menatap Naya, kemudian Naya memberi kode agar Azzam menoleh ke belakang. "K-kak Azzam?," panggil Audrey membuat Azzam sadar sepenuhnya dan melepaskan pelukannya pada Naya. Naya tersenyum miris, ia benar-benar merasa menjadi sosok pengganti di saat Azzam merasa jenuh dengan kekasihnya. Benar kata Nando, kenapa dia harus melakukan hal ini berulang kali meskipun ia tau bahwa ia dan Azzam tidak akan bisa bersatu? Azzam mengusap kasar sudut matanya yang memerah dan menatap Audrey. Azzam maju selangkah menghampiri Audrey yang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. "Ini ga seperti yang lo liat," ujar Azzam lembut seraya menarik Audrey agar lebih dekat dengannya. Sedangkan Naya, ia bahkan merasa tak di anggap di sini. Naya menghembuskan nafas pelan, kemudian ia beranjak dan pergi tanpa pamit pada Azzam. Sudah tidak ada lagi airmata, Naya sudah capek membuang airmatanya hanya untuk menangisi Azzam. Naya terus berjalan dan tak menghiraukan teriakan Azzam yang memanggilnya. Satu hal yang Naya ketahui bahwa... Audrey berusaha melarang Azzam untuk mengejarnya. ✨✨✨ "Lo darimana? Muka lo kok kusut banget?," tanya Nando ketika Naya baru saja masuk ke dalam kamar Abangnya, Regil. Naya mengernyit dah merebahkan tubuhnya di depan Nando yang sedang bersandar di kepala kasur dengan macbook di pangkuan laki-laki itu. "Lo kenapa bisa di sini? Bukannya sakit?," tanya Naya menatap Nando yang sibuk menggerakan jarinya di keyboard laptop. "Bosen," balas Nando membuat Naya mendudukan tubuhnya Nando memang berada di rumah Naya sejak ia terbangun dari tidurnya, karna ia merasa bosan di rumahnya, ia memutuskan untuk ikut bersama Regil yang memang menjenguknya tadi. Bukan hal yang aneh lagi untuk Naya ketika Nando setiap hari berada di rumahnya, bahkan menginap. Itu sudah menjadi kebiasaan Nando sekarang, di tambah lagi Kirana juga mengizinkan bahkan menyayangi Nando seperti anaknya sendiri. Naya mendudukan tubuhnya dan duduk di hadapan Nando lalu menyilang kakinya. Gadis itu memajukan tubuhnya dan menempelkan punggung tanganya ke dahi Nando untuk mengecek suhu tubuh Nando. "Lagi ngapain?," tanya Naya melirik sekilas layar macbook Nando sebelum ia memundurkan tubuhnya. "Ngerjain skripsi," balas Nando membuat Naya mendengus. Gadis itu mengambil macbook Nando dan menyimpan file yang baru saja Nando ketik lalu mematikan laptopnya. Sedangkan Nando hanya menghela nafas pasrah melihat Naya yang berdiri untuk meletakan macbooknya di meja belajar Regil. "Lo tuh baru aja enakan Nando, kalo lo ngerjain skripsi ntar lo sakit lagi. Badan lo tuh udah mulai anget lagi," omel Naya mengambil remot pendingin ruangan dan menaikan suhunya agar tidak terlalu dingin. Nando terkekeh melihat Naya yang mengomel dengan wajah kesalnya. Gadis itu keluar dari kamar Regil membuat Nando menghentikan tawanya. Tak lama gadis itu kembali muncul dengan satu cool fever di tangannya. Naya duduk di pinggir ranjang, membuka bungkus cool fever yang di bawanya lalu menempelkan isinya di dahi Nando. Sedangkan Nando hanya diam memandangi wajah kesal Naya. "Lo belum jawab pertanyaan gue btw," ujar Nando membuat Naya menaikan sebelah alisnya. "Pertanyaan yang mana?," tanya Naya membuat Nando mendegus dan menyentil pelan dahi gadis itu. "Kebanyakan ngomelin gue kan lu, makanya ga inget!," ujar Nando. Naya merengut sambil mengelus dahinya yang baru di sentil Nando "Yaudah nanya apa?," tanya Naya ulang. "Lo darimana? kenapa muka lo kusut banget pas baru masuk tadi," tanya Nando membuat Naya mangut-mangut. Naya mendengus lalu meletakan bungkus cool fever tadi di nakas samping tempat tidur Regil "Gue pen bunuh diri aja deh," ujar Naya asal. Nando menoyor kepala Naya pelan "Ngomong apaan lu barusan?," tanya Nando menyenderkan tubuhnya di dinding. "Gue pen bunuh diri!," ulang Naya. "Hah? Kenape lu?," ujar Nando memperbaiki posisi duduknya agar bisa menghadap Naya. "Capek gue sakit hati mulu," ujar Naya lalu membaringkan tubuhnya lagi. Nando terkekeh dan menaikan satu alisnya "Yaudah sono tiati!," ujarnya santai. Naya membulatkan matanya dan kembali duduk lalu memukul lengan Nando. Bisa-bisanya Nando berucap seperti itu?! "Kenapa lagi sih?," ujar Nando meringis kesakitan, pukulan Naya memang tidak sakit, tapi perih. Naya mencebik kesal "ORANG LAGI CURHAT JUGA, LU MALAH NYURUH BUNUH DIRI!," teriak Naya tepat di depan muka Nando. Nando tertawa kencang, membuat Naya memberenggut kesal. "Lagian lu patah hati doang ampe pen bunuh diri segala," ujar Nando menatap Naya. "Yakan gue kesel Nando!!!," ujar Naya meremas tangan Nando yang mengenggam tangannya. Naya memang tidak lagi memanggil Nando dengan embel-embel 'Kak' atau 'Bang' karna laki-laki itu sendiri yang memintanya. "Lu apain lagi adek gue curut?!," tanya Regil yang baru saja memasuki kamar dengan cemilan dan minuman dingin di tangannya. "Kagak gue apa-apain anjir, malah adek lu ni mukulin gue mulu!," adu Nando pada sahabatnya itu. "IH MANA ADA, LU DULUAN YANG CARI MASALAH!!," elak Naya tak terima. Regil tertawa lalu ikut duduk di samping adiknya "Kenapa si?," tanya lembut. "Dia pen bunuh diri katanya," ujar Nando sebelum Naya membuka mulut. "Hah? Kenape?," tanya Regil terkejut. "Masalah hidup gue tuh banyak banget tau ga, Bang," curhat Naya dengan wajah sedihnya. "Yaudah,". "Yaudah apa?,". "Yaudah ngapain lu pake bunuh diri segala?!," ujar Regil tak suka dengan omongan adiknya itu. Naya cemberut, ia tidak sebodoh itu untuk mengakhiri hidupnya hanya karna Azzam. "Udah ah, mending lo mandi deh udah sore," ujar Regil menyuruh Naya mandi. Naya memutar bola matanya dan beranjak, tak lupa mengambil tasnya. "Sono lu, bau asem," ejek Nando terkekeh. "Elu juga bau, sana mandi!," ujar Regil membuat Naya tertawa seketika. "b*****t lu," umpat Nando pada Regil. "Ga! Lo ga usah mandi, ganti baju aja." ujar Naya dari depan pintu. Nando mengernyitkan alisnya bingung "Kenapa ga boleh? Kata Regil gue udah bau," tanya Nando sambil mengangkat sedikit tangannya dan mencium keteknya sendiri untuk memastikan ucapan Regil. "Ga ada, lo ga bau. Ntar kalo mandi suhu badan lo naik lagi. Ga usah nge bantah!," ujar Naya menunjuk Nando yang hendak membuka suara lalu segera keluar dari kamar Regil. Regil melongo melihat adiknya yang mengomeli Nando lalu terbahak melihat Nando yang juga melongo mendengar ucapan Naya tadi. "Udah berasa di omelin pacar ga Nan?," goda Regil membuat Nando tersadar dan tertawa. "Udah bukan pacar lagi ini mah, tapi istri!," balas Nando. Regil mengambil satu butir kacang dan melemparnya pada Nando "Sa ae lo!," Nando menghindar sambil tertawa "Gue ke bawah dulu," ujar Nando segera keluar dari kamar Regil. Nando turun ke bawah untuk mengambil baju di mobil yang memang sengaja ia bawa karena memang ia berniat di rumah Regil untuk mengerjakan skripsi bersama. Sebenarnya rencananya bersama Hanif dan Reno, namun Nando tak tahu kedua temannya itu jadi nginap atau tidak. Setelah mengambil bajunya, Nando kembali masuk ke dalam dan naik ke atas. Nando mengikuti ucapan Naya untuk tidak mandi dan mengganti baju saja karena masih merasa tidak enak badan. ✨✨✨ "Ih lo ngapain?!!!," pekik Naya mengambil kaleng minuman bersoda yang baru saja di buka Nando dari tangan lelaki itu. Naya mendengus dan memberikan segelas s**u pada laki-laki itu membuat Nando memberengutkan wajahnya. "Yaelah masa s**u Nay," ujar Nando dengan wajah memelas. "Lo tuh mau minum obat, kalo lo minum ini ntar ga bisa minum obat." omel Naya meletakan kaleng minuman itu di meja. Saat ini mereka berdua tengah berada di ruang keluarga, duduk bersampingan di sofa. Sedangkan Regil menemani bundanya untuk membeli makanan di luar karena Bunda sedang tidak ada mood untuk saja jawabannya karena Ayah belum pulang dari kantor. "Gue udah sehat kok," ujar Nando dengan wajah meyakinkan. Naya tetap menggelengkan kepalanya "No no no!," ujarnya sambil menggoyangkan jari terlunjuknya di depan wajah Nando. Naya meletakan punggung tangannya di pipi Nando, lalu beralih ke leher laki-laki itu untuk memastikan suhu tubuh Nando. Suhu tubuh Nando semakin hangat dari sebelumnya padahal cool fever sudah tertempel di dahinya.  "Sehat gimana kalo badan lo makin anget kaya gini?!," ujar Naya membuat Nando terdiam. Sejujurnya Nando memang merasa tubuhnya semakin tidak enak, kepalanya juga sedikit pusing. Nando bahkan memakai hoodie agar tidak merasa dingin. Nando memperhatikan Naya yang terus mengomelinya. Gadis itu menjadi sangat cerewet saat Nando sakit dan Nando suka itu. Kedua remaja itu menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dan menampilkan Regil dengan sang Bunda. Naya bangkit menghampiri Bundanya yang membawa kantong plastik berisi makanan dan mengambil alih kantong makanan tersebut. Sedangkan Kirana menghampiri Nando dan mengecek suhu tubuh laki-laki itu. "Kok makin anget ya?," gumam Kirana. "Kamu malem ini nginep di sini aja ya," ujar Kirana. Bukannya apa, saat ini Nando tengah tinggal sendirian karena orang tuanya harus keluar kota untuk urusan pekerjaan. Sedangkan Nando tidak punya saudara yang bisa menemaninya di rumah. Kirana hanya takut Nando tiba-tiba drop dan tidak ada yang menolongnya. Nando mengangguk "Iya tante," ujarnya. "Bunda makanannya udah siap," teriak Naya dari dapur. Akhirnya Kirana dan Nando berjalan menuju dapur untuk makan malam. Namun Kirana kembali keluar dari dapur untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang dari kantor. Setelah itu mereka kembali ke dapur dan makan malam bersama. Setelah makan malam dan membantu sang bunda beres-beres, Naya kembali mendudukan tubuhnya di sofa ruang keluarga dan menyalakan televisi. Sedangkan Nando masih di dapur untuk meminum obat yang di berikan Kirana. "Try out lo udah kelar?," tanya Regil pada Naya. "Iya udah," balas Naya mengambil satu bungkus ciki dan membukanya. "Malem ini ga usah skripsian dulu dah," ujar Regil ketika Nando datang dan duduk di sofa single. "Lah kenapa?," tanya Nando bingung. "Ya lo nya aja masih sakit gini, lagian Hanif Reno kaga jadi kesini." balas Regil. "Lagian juga bentar lagi lo ngantuk, soalnya tadi lo di kasih obat tidur sama Bunda," sambung Regil terkekeh pelan. ✨✨✨ Naya masuk ke kelasnya yang terlihat acak-acakan, try out sudah berakhir. Saat ini murid kelas 12 sedang dalam masa tenang. "Anak jokowi baru dateng gaes!!," sindir Nabila menatap Naya yang meletakan tasnya. "Elunya aja kerajinan dateng pagi-pagi," sewot Naya lalu ikut duduk di samping Abian. "Ini udah setengah sembilan dan lo baru dateng?!," ujar Abel sedikit berlebihan. "Yaelah biarin napa sih? Lagian juga masa tenang, bebas mo ngapain aja juga," omel Bela yang sudah jengah. Naya tersenyum puas ketika mendapat dukungan dari Bela "Lo emang temen gue Bel," ujarnya memberikan finger love pada Bela. Bela bergidik "Najis,". Naya menatap Azzam sekilas, ingin rasanya membenci lelaki itu tapi dia tak bisa. Berulang kali ia di sakiti, berulang kali juga ia memaafkan. "Bosen nih gue, main TOD mau kaga?," ajak Abian lalu mendudukan tubuhnya di lantai. "Kuy lah," ujar Randy ikut duduk di lantai, diikuti dengan yang lain termasuk Naya. "Pulpen dong," pinta Abian. Naya mengambil pulpen dari dalam tasnya dan memberikannya pada Abian, setelah itu ia mendudukan tubuhnya di samping Azzam yang sedang bermain gitar. Abian memutar pulpen dan menunggu pulpen itu berhenti di arah siapa. "Abel," Abian menjeda ucapannya "Truth or dare?," tanyanya dengan smirk. Abel meneguk salivanya kasar, jika ia memilih dare, teman-temannya ini pasti memberinya tantangan yang tidak masuk akal. Sedangkan, jika ia memilih truth, mereka juga pasti akan memberinya pertanyaan yang menjebak. "Truth," pasrah Abel. Abian tersenyum senang "Kalo lu gue jedor, lu mau jadi pacar gue?," tanyanya. "Maulah," jawab Abel jujur. Abian tertawa lalu memutar kembali pulpen tersebut. "Mampus lu Nay!," umpat Naya pada dirinya sendiri saat pulpen itu berhenti tepat ke arahnya. "Truth," ujar Naya to the point. "Siapa cowo yang lo taksir di kelas ini?," tanya Abel dengan senyum kemenangan. Naya menaikan satu alisnya "Azzam," jawabnya santai. Naya menatap teman-temannya yang melongo termasuk Azzam. "Ngapa sih? Udah deh jan pura-pura kaget gitu, gue tau lo pada udah tau!," cibir Naya membuat teman-temannya terkekeh. Tapi tidak dengan Azzam, yang hanya diam dan memainkan gitarnya. "Dah ya gue lanjut," ujar Abian kembali memutar pulpen tersebut. Azzam berdoa agar pulpen itu tidak berhenti di arahnya. Namun, sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihak kepadanya. "Dare aja," ujar Azzam. "Genggam tangan Naya sampe permainan ini selesai dan ungkapin perasaan lo yang sebenernya," ujar Randy menantang. Naya membulatkan matanya, kenapa ia harus di bawa-bawa?!! "Nggak, apaansih? Ntar kalo cewenya liat gimana?," tolak Naya mentah. "Kagak!," ujar Abel meyakinkan. Cika menatap Naya sambil tersenyum, ia tahu sebenarnya Naya sedang gugup. Terlihat dari pipinya yang memerah. Azzam menghembuskan nafasnya pelan, kemudian mengambil tangan Naya dan menautkan jari mereka. Azzam menatap Naya dalam, membuat Naya salah tingkah. Namun, seketika Naya tertegun ketika mendengar apa yang Azzam ucapkan. "Gue sayang sama lo, tapi entah kenapa gue ga berani buat ngungkapin ke lo sampe akhirnya semuanya terlambat, gue udah jadi milik orang lain dan gue ga bisa ninggalin dia". ✨✨✨ Tbc Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD