FZ | 28

1563 Words
-happyreading- --- Naya tersentak dan melepaskan tangannya yang di genggam oleh Azzam. Naya menarik nafasnya dalam-dalam lalu beranjak dari tempat duduknya membuat teman-temannya kebingungan. "Permainan selesai," ujarnya singkat lalu pergi keluar kelas. Nabila dan Cika segera berlari mengejar Naya yang sudah lari entah kemana, sedangkan Abel dan Bela hanya menatap Azzam tak percaya. Bisa-bisanya Azzam berbicara seperti itu pada Naya. "Lo tega ngomong kaya gitu ke Naya?," ujar Abel tak percaya menatap Azzam. "g****k!," maki Abian menendang meja di depannya dan segera keluar untuk mengejar sepupunya itu. Randy menggeleng tak percaya "Lu nerbangin dan jatuhin dia di waktu yang bersamaan," ujarnya menepuk pelan bahu Azzam dan menyusul Abian. "Lo mau di sini aja? Lo nggak mau ikut nyari Naya?," tanya Bela setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya. Azzam mengangguk pelan dan berdiri dari duduknya lalu ikut mencari Naya bersama teman-temannya. Di sisi lain, Naya terduduk dan menekuk lututnya. Perlahan cairan bening mengalir ke pipi mulusnya. Naya menangis tanpa mengeluarkan suara, rasa sakit itu kembali hadir. Lagi, lagi dan lagi ia kembali merasa sakit karena orang yang sama. Lagi dan lagi ia harus mengeluarkan airmatanya untuk orang yang sama. Naya tak percaya ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Azzam tadi. Naya memang percaya ketika teman-temannya berucap bahwa Azzam juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi, mendengar ucapan Azzam tadi entah kenapa membuatnya benar-benar merasa sakit. Jujur saja, Naya merasa senang saat Azzam mengucapkan perasaan sebenarnya pada Naya, tapi di saat bersamaan juga Naya merasa hatinya hancur saat Azzam mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi milik orang lain. Naya tau dan sangat tau bahwa Azzam memang memiliki kekasih, tapi Naya merasa sedikit tak terima jika Azzam mengucapkan kalimat itu padanya. Naya merasa Azzam menyuruhnya untuk berhenti dan mundur dengan memperjelas statusnya di hadapan Naya. Untuk apa dia bersikap lembut jika akhirnya seperti ini? Harusnya Naya mendengarkan ucapan Nando untuk berhenti. Naya memukul dadanya dan mulai terisak pelan, rasa sakit ini sudah tak dapat ia tahan. Harusnya Naya hanya memaafkan tanpa kembali terjatuh. Naya tak bisa menghapus perasaannya pada Azzam, 2 tahun bukan waktu yang sebentar di tambah sikap Azzaam yang selalu memberikan perhatian padanya. Naya bodoh, sangat bodoh. "Lo g****k Naya!! Kenapa lo harus berharap sama orang yang udah punya pacar?! Sampai kapan pun lo sama dia ga bakal bisa nyatu!," gumam Naya memukul aspal di depannya. Naya terus memukul aspal itu dengan kuat, tak peduli dengan tangannya sudah luka karna bergesekan dengan batu-batu kecil yang ada di aspal itu. Menurutnya rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa sakit yang ia rasakan di hatinya. "Gue benci lo Azzam!," ✨✨✨ "Kita harus nyari Naya kemana lagi?!," tanya Nabila pasrah. "Kita udah nyari satu sekolah, sampe ke rooftop pun Naya ga ada," lanjutnya ingin menangis. Abian mengacak-ngacak kasar rambutnya, sepupunya benar-benar seperti hilang di telan bumi. Mereka sudah mencari Naya kemana pun, ke kantin, rooftop, toilet, perpustakaan, taman sekolah, bahkan setiap kelas pun mereka cek satu-satu untuk mencari Naya namun mereka tak menemui keberadaan Naya. Pasalnya Naya meninggalkan ponselnya membuat mereka kebingungan karena tidak bisa menghubungi Naya. Nabila berjongkok dan menutup wajahnya lalu menangis. Nabila khawatir dengan keadaan Naya, sahabatnya itu pasti sedang menangis tanpa ada yang menenangkannya. "Lo sih, ngasih dare ke Azzam yang sensitif gitu!," ujar Bela menyalahkan Abel. "KOK LO JADI NYALAHIN GUE?! NOH SALAHIN AZZAM YANG TEGA NGOMONG GITU KE NAYA!," bantah Abel tak terima dan malah menyalahkan Azzam. "Azzam gak bakal ngomong gitu kalo lo ga ngasih dare kaya gitu ke dia t***l!," maki Bela kembali. "Udah woi! Ngapa jadi pada ribut?! Sekarang mikir dimana lagi kita harus nyari Naya!," ujar Randy melerai pertengkaran saudara kembar itu. Azzam menunduk dan mengusap kasar wajahnya "Ini salah gue," lirihnya. "Ya emang salah lo!," sarkas Abel dongkol. "Udah lah! Jan nyalahin diri lo gitu, ga guna!," ujar Nabila sedikit kesal. "Gue telpon Abangnya Naya dulu," ujar Abian lalu menelpon Regil. Abian mengambil ponselnya dari saku baju dan membuka lockscreennya. Abian mencari kontak Regil lalu menekannya. Abian berdecak pelan sambil menunggu panggilannya tersambung pada Regil. "Halo, Bang gue mau nanya boleh kaga?," "...." "Naya udah pulang belom?," "...." Abian menggeleng pelan pertanda bahwa Naya tidak ada di rumah membuat teman-temannya mendesah frustasi karena kebingungan. Jika Naya tidak ada di rumah, lalu dimana Naya sekarang. "Gue kasih tau jangan?," tanya Abian tanpa suara. Nabila mengangguk pelan. Bagaimana pun Regil harus tau apa yang terjadi pada adiknya sekarang. "Gini Bang, Naya ga ada di sekolah,". "...." "Nanti gue jelasin, lo bisa ke sekolah kaga? Bantu nyariin," Abian menghela nafas "Masalahnya pas dia lari tadi, dia gak bawa tas ama hpnya,". Setelah memutuskan telfonnya, Abian berjongkok dan menatap serius Azzam "Siapin diri lo!," ujarnya. ✨✨✨ Naya menatap langit yang semakin gelap, bukan karna sore hari melainkan karna hujan akan turun. Naya sudah tidak menangis lagi, tapi tangannya masih terus memukul aspal di depannya. Tatapannya kosong, Naya tidak menyangka dia bisa menjadi seperti ini hanya karena cinta. Pasti saat ini teman-temannya sedang mencarinya, saat ini ia berada di belakang sekolah. Tempat yang jarang di kunjungi karna letaknya yang agak jauh. Naya mengangkat tangannya dan menatap cairan berwarna merah yang menetes di aspal bersamaan dengan air hujan yang turun. Naya tak bergeming dan justru menikmati rasa perih yang menjalar di tangannya. Matanya kembali berkaca-kaca ketika ucapan Azzam kembali tergiang di telinganya. Bagai kaset rusak, semua momen bersama Azzam terputar di kepalanya, ucapan sayang Azzam, suara tawa Azzam, pelukan hangat Azzam semuanya masih teringat jelas. Naya mengangkat dan menatap tangannya yak dulu sering di genggam Azzam. Naya mengelus rambutnya yang dulu sering di genggam Azzam lalu menjambaknya pelan. Naya mengingat perkataam Azzam di rooftop rumah sakit. Laki-laki itu melarang Naya pergi meninggallkannya sama seperti Bundanya. Namun, ucapannya tadi membuat Naya memang harus pergi. Hujan turun dengan derasnya, membuat Naya tubuh basah seketika. Bahkan pakaian dalamnya terlihat jelas. "Naya?!," Naya mendongak dan mendapati Azzam yang menatapnya panik. Azzam berjongkok dan memeluk Naya erat, tak peduli tubuhnya ikut basah karena hujan yang masih turun dengan deras. Azzam melepaskan bajunya menyisakan kaos polos berwarna hitam dan menutup tubuh Naya agar pakaian dalamnya tidak terlihat jelas. "Maafin gue Nay," gumam Azzam mengeratkan pelukannya pada Naya. Tubuh Naya bergetar hebat, air matanya kembali luruh. "Gue benci lo Azzam, gue benci!," ujar Naya memukul d**a Azzam. Naya berontak dan mendorong kuat d**a Azzam agar pelukan Azzam terlepas. "Kenapa lo harus bersikap lembut sama gue di saat lo lebih memilih Audrey?!," tanya Naya sesegukan. "Gue pikir lo bersikap kayak itu karna bakal milih gue, tapi ternyata gue salah! GUE SALAH BERHARAP SAMA ORANG b******k KAYA LO!," teriaknya berusaha melepaskan tubuhnya dari Azzam. "GUE JUGA GAK MAU KAYA GINI NAY!!! GUE HARUS APA SEKARANG?!!," bentak Azzam yang lepas kontrol. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di depan Naya "Gue harus gimana Naya?," gumam Azzam pelan. Mereka berdua sama-sama di posisi yang sulit terlebih lagi Azzam. Azzam bingung harus memilih Naya atau Ayahnya. Ayahnya sudah  memiliki banyak beban dan Azzam tidak mau menambah beban ayahnya lagi. Setidaknya Azzam bisa mengurangi sedikit beban Ayahnya meskipun Azzam harus mengorbankan perasaannya saat ini. Azzam mengigit bibir bawahnya berusaha menahan diri agar tidak menangis. Azzam benar-benar menyayangi Naya, dan sangat ingin memilih Naya. Tapi sepertinya takdir dan keadaan tidak memihak padanya. "Kenapa Azzam? Kenapa?," lirih Naya sambil terisak. Azzam mengecup singkat puncak kepala Naya, dan menatap lengan Naya yang terluka. "Naya?! Tangan lo!," ujar Azzam mengambil dasinya yang terjatuh dan mengikat tangan Naya agar darahnya berhenti.  Naya menangis dan berharap semua rasa sakitnya meluruh bersama air hujan yang mengalir deras. "3 tahun Zam, 3 tahun gue mendem rasa sama lo, gue suka lo diam-diam," lirih Naya. "Sampai akhirnya gue tau kalo perasaan gue terbalas, tapi kenapa harus di waktu yang salah? Kenapa di saat lo udah punya pacar, lo baru berani nyatain perasaan lo ke gue?," tanya Naya tanpa menatap Azzam. "Lo nyuruh gue buat ga ninggalin lo, tapi lo sendiri yang buat gue pergi. Kita ga bisa terus-terusan kaya gini, hati gue sakit tiap liat lo sama Audrey," gumam Naya kembali menangis. Azzam memeluk Naya dan Naya sudak tak lagi berontak. Naya hanya diam tanpa membalas pelukan lelaki itu, Azzam hanya diam dan menempelkan dagunya di kepala Naya, sampai akhirnya ia merasa di tarik dan... Bugh! "Bangun lo anjing!," Azzam mengusap sudut bibirnya yang kembali luka, dan menatap laki-laki yang sedang menatapnya marah. Regil maju mendekat pada Azzam dan berjongkok di depan lelaki itu. "LO APAIN LAGI ADEK GUE HAH?!," bentak Regil menarik baju Azzam. "BELUM PUAS LO NYAKITIN DIA?! DIA KURANG BAIK APA SAMA LO?! LO NYAKITIN DIA BERULANG KALI DAN DIA MASIH MAU MAAFIN LO!," Azzam menunduk, membiakan Regil mengeluarkan semua amarahnya. "Gil udah! Siapin mobil, kita bawa Naya kerumah sakit," Nando melerai sambil menggendong Naya. Azzam dapat melihat Naya mengalungkan lengannya di leher Nando dan menyembunyikan wajahnya di d**a bidang lelaki itu. Sebelum itu Naya melepaskan seragam Azzam dan membiarkan seragam itu jatuhh ke lantai. Regil melepaskan jaketnya dan menutup tubuh adiknya. Azzam tersenyum miris, pada akhirnya, hubungannya dengan Naya akan seperti ini. Naya menatap Azzam yang juga menatapnya lalu langsung memutuskan kontak mata mereka. "Maafin gue Nay," lirih Azzam dengan airmata yang mengalir di pipinya. Azzam berjongkok mengambil seragamnya yang Naya jatuhkan di tanah lalu segera pergi dari tempat itu. ✨✨✨ Tbc Sinetron bgt ga si part ini? Tapi jujur aku ngetik ini sambil nangis karena keinget momen itu lagi :( Huhu bentar lagi ending ni :') Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD