-happy reading-
---
Naya membuka matanya secara perlahan, hal pertama yang di lihatnya adalah plafon berwarna putih dan botol infus yang tergantung. Naya memejamkan matanya kembali ketika merasa pengelihatannya sedikit buram. Naya meringis ketika kepalanya terasa sedikit pusing, ia memijat pelan dahinya dan kembali membuka matanya.
"Kamu nggak papa, Dek? Apa yang sakit?," Naya melihat samar Bundanya datang dan mengelus rambutnya.
Naya menggeleng pelan dan menatap tangannya yang di infus, Naya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah itu ia tersenyum kecut.
"Kamu kenapa bisa gini?," tanya Kirana dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa jam yang lalu dia baru saja di kejutkan dengan telfon dari putra sulungnya, bahwa anak gadisnya sedang di bawa ke rumah sakit. Kirana tak tau apa yang terjadi, namun secepat mungkin dia bergegas untuk menyusul kedua anaknya tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, ia cukup terkejut ketika melihat kondisi putrinya yang sangat berantakan. Tubuhnya yang basah kuyub, serta tangannya yang terluka. Tak lupa dengan wajah sembab dan pucatnya.
"Siapa yang bawa Naya kesini, Bun?." tanya Naya pelan, seingatnya sebelum ia pingsan, ia merasa bahwa dia di angkat oleh lelaki dan yang jelas bukan cowok b******k itu.
"Gue yang bawa lo," sahut Regil yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama Nando dan Rizky, ayahnya.
"Tapi yang gendong lo... Nando," lanjutnya membuat Naya menatap Nando.
Naya tersenyum tulus "Makasih Kak,".
Rizki maju mendekat dan mencium dahi putrinya, saat sampai di rumah ia mendapati rumahnya kosong. Ketika hendak keluar, ia bertemu Regil dan Nando yang ingin masuk untuk mengambil baju dan perlengkapan Naya.
Rizki bingung dan bertanya, dan saat itu juga ia terkejut dan ikut bergegas ke rumah sakit.
"Kamu ada masalah apa? Kenapa bisa jadi gini?," tanya Rizki lembut membuat mata Naya berkaca-kaca.
"Gausah di tanyain dulu lah ya, Regil jadi ikut emosi ni," ujar Regil sedikit kesal, mengingat kejadian tadi membuatnya ingin menghabisi lelaki yang pernah makan bersama adiknya itu sekarang juga.
"Om sama Tante mending pulang aja, kasian Om sama Tante keliatan capek," usul Nando merasa tak tega melihat wajah lelah Rizki.
Regil mengangguk setuju "Biar Naya kita yang jagain," ujarnya.
Kirana memandang Naya ragu, dia masih merasa sedikit khawatir melihat kondisi Naya. Apalagi melihat tatapan Naya yang kosong.
Naya tersenyum "Udah, Naya ga papa kok, Bun, Yah." ujar Naya meyakinkan.
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Rizki menyetujui usulan Nando dan segera pamit bersama Kirana.
"Jagain adik kamu dengan baik ya!," pesan Kirana saat Regil mencium tangannya.
"Iya Bun, hati-hati." balas Regil.
"Tante pulang ya Nando," pamit Kirana mengelus rambut Nando dan segera berlalu.
Setelah kedua orang tuanya keluar, Naya menatap Regil dan Nando secara bergantian.
"Kenapa? Lo butuh sesuatu?," tanya Nando pada Naya.
Naya menghela nafas " Dasi Azzam mana?," tanya Naya sambil menatap tangannya yang di perban.
Regil mengeratkan rahangnya, kembali merasakan emosi ketika adiknya menyebut nama laki-laki itu.
"Kenapa lo nyari itu? Dek mikir, lo kayak gini karna dia! Jangan bodoh karena cinta," ujar Regil tak suka lalu segera keluar dari ruangan itu.
Sekarang tersisa Naya dan Nando yang berada di dalam ruangan itu. Naya menunduk dalam, matanya terasa panas. Nando yang melihat itu merasa tak tega dan berjalan mendekat, dengan pelan dia merengkuh tubuh gadis itu, dan membiarkannya menangis kembali.
"Kenapa Azzam jahat banget sih, Nan?." gumam Naya melingkarkan tangannya di pinggang Nando.
"Apa yang udah dia lakuin ke lo?," tanya Nando pelan.
Hatinya ikut merasakan sakit melihat gadisnya seperti ini.
Tunggu!
Gadisnya? Bahkan membuka hati untuknya saja Naya belum bisa.
Naya menceritakan semua yang terjadi di antara dia dan Azzam, termasuk saat Azzam mengutarakan perasaanya di sekolah tadi. Tanpa Naya sadari, Nando mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
"Gue udah bilang berhenti," ujar Nando sambil melepaskan pelukannya pada Naya.
Entah kenapa Naya merasa sedikit kecewa saat Nando melakukan hal itu, ia masih ingin berlama-lama mencium wangi menenangkan di tubuh Nando.
"Dia broken home, dia nyeritain semua masalah yang dia hadapin, dan itu ngebuat gue ngerasa ga tega untuk ngehindar dari dia. Gimana pun gue sayang dia," ujar Naya.
Nando tersenyum miris, merasa sedikit sakit.
"Terus sekarang lo mau apa?," tanya Nando setenang mungkin.
"Gue mau makan," balas Naya lalu tertawa dan mengusap airmatanya.
Sudah cukup, Naya sudah tak mau membuang airmatanya untuk orang yang sama. Naya sudah lelah.
Nando terkekeh pelan dan mengacak-acak gemas rambut gadis itu dan mengambil bubur yang sudah di letakan perawat di atas nakas.
"Makan sendiri?," tanya Nando,
Naya menggeleng cepat dengan bibir manyun "Suapin," rengeknya manja.
Nando berdeham berusaha menetralkan debaran jantungnya yang berdetak seperti habis lari maraton.
Nando mendudukan tubuhnya di pinggir brankar dan menyuapi Naya dengan lembut. Naya menerima suapan itu dengan senang hati.
"Telinga lo merah," ujar Naya di sela-sela makannya.
Nando meringis dalam hati, s****n gue salting!
"Masa?," tanya Nando pura-pura tak percaya.
Naya mengangguk dam membuka mulutnya ketika Nando menyodorkan sendok ke depan mulutnya. Naya makan dengan lahap, dan terus tersenyum membuat Nando merasa sedikit lega. Setelah meletakan piring di nakas, Nando mengambil segelas air dan obat lalu kembali berjalan ke brankar.
"Minum obat dulu," ujar Nando memberikan beberapa obat tablet ke arah Naya.
Naya mengambil obat itu dan meminumnya dengan air yang Nando berikan. Setelah itu ia menjulurkan lidah karena rasa pahit dari obat yang di minumnya.
Nando terkekeh melihat ekspersi Naya yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan, membuatnya ingin memiliki gadis itu secepatnya. Eh.....
"Pahit banget," adu Naya dengan wajah cemberutnya.
"Kalo manis namanya bukan obat, tapi Naya," ujar Nando tanpa sadar.
Naya menangkup kedua pipinya yang memanas.
"Makasih lo udah bilangin gue manis," ujar Naya membuat telinga Nando kembali memerah.
"Tuhkan telinga lo merah lagi!," ujar Naya menunjuk telinga Nando.
Nando duduk di hadapan Naya membuat Naya merasakan degupan jantungnya semakin cepat.
Sebenarnya Naya merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia merasa nyaman saat berada di dekat Nando dan sedikit suka dengan wajah manis Nando.
Setiap dekat Nando, dia sering merasa salah tingkah dan deg-degan. Tapi, Naya bisa mengontrol dirinya agat terlihat biasa saja.
Naya menghembuskan nafasnya dan mengambil tangan Nando, lalu mengenggamnya. Hal itu, membuat Nando membulatkan matanya terkejut.
"K-Kenapa?," tanya Nando gugup.
Naya tersenyum manis dan menatap dalam mata Nando.
"Bantu gue," ujar Naya.
"Bantu apa?,"
"Bantu gue untuk ngelupain Azzam dan...," Naya menjeda kalimatnya.
"Dan?," tanya Nando menunggu kelanjutan ucapan Naya.
"Gue bakal buka hati untuk lo,"
✨✨✨
"Nan," panggil Naya membuat Nando menoleh.
"Kenapa hm?." ujar Nando mengelus kepalla Naya yang sedang bersender di bahunya.
"Gue mau potong rambut," ujar Naya membuat Nando mengernyitkan alisnya.
"Kenapa?," tanya Nando lembut.
Naya menghela nafas, Naya hanya ingin memotong rambutnya biar Naya merasa lega. Naya mendongak dan menatap Nando dengan puppy eyesnya.
"Potongin rambut gue ya?," ujar Naya memohon dengan puppy eyesnya.
"Gue gabisa motong rambut Nay," ujar Nando membuat Naya menunduk.
"Gue potong sendiri aja kalo gitu," ujar Naya membuat Nando menahan lengan gadis itu.
"Tangan lo masih di infus, gabisa nanti aja potongnya? Nunggu lo keluar dari rumah sakit dulu," ujar Nando di balas gelengan oleh Naya.
"Gue bener-bener pengen potong rambut sekarang, nanti tinggal di rapihin aja di salon." ujar Naya kembali menyenderkan kepalanya di bahu Nando.
Nando menghela nafas lalu mencium puncak kepala dalam setelah itu tersenyum. Setelah itu Nando pamit keluar sebentar untuk mencari gunting. Namun setelah hampir 20 menit menunggu Nando kembali masuk dengan 2 orang perempuan di belakangnya.
Nando sengaja memanggil orang salon untuk memotong rambut Naya dan tentu Nando sudah izin dengan penjaga rumah sakit. Nando duduk di sofa sedangkan Naya hanya diam sambil mendengar arah perempuan yang akan memotong rambutnya ini.
Naya menghela nafas dan menatap kosong rambutnya yang mulai berjatuhan ke lantai. Naya menggangap helaian rambut itu adalah masalah yang di alaminya sekarang. Bersamaan dengan rambutnya yang berjatuhan, Naya juga berharap masalah-masalahnya ikut jatuh.
"Udah selesai mas, mba." ujar perempuan yang memotong rambut Naya. Sedangkan yang satunya tengah menyapu dan membersihkan rambut Naya yang sudah terpotong.
"Mau ngaca?,"
Naya mengangguk menoleh pada cermin yang di pegang tukang salon itu dan menatap dirinya. Rambut yang dulunya panjang, kini hanya tinggal sebahu saja. Naya menghela nafas, setidaknya Naya merasa cukup lega sekarang. Naya tersenyum tipis.
"Welcome to the new Naya!!,"
Tbc
Thanks for read❤