FZ | 30

1605 Words
Naya tersenyum dan menarik lengan Nando dengan semangat, membuat cowok berbaju hitam itu tersenyum geli. Sungguh Naya benar-benar membuatnya gemas. Nando menahan tubuhnya membuat Naya tertarik ke belakang lalu mencebik dengan bibir manyunnya. Nando terkekeh ketika Naya menekuk wajahnya. "Kenapa sih cantik?," tanya Nando mengelus kepala gadis itu lembut. "Naik bianglala yuk!!!," ajak Naya menunjuk bianglala yang sedang berputar, tak lupa lampu-lampu yang menghiasi wahana permainan itu. Saat berada di rumah sakit, Nando berjanji untuk membawanya ke pasar malam. Dan malam ini, Nando menepati janjinya. Naya sudah keluar dari rumah sakit sejak kemaren, namun Nando menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu. Suasana pasar malam begitu rame, banyak orang tua yang membawa anaknya, dan pasangan muda-mudi bertebaran di mana-mana. Telebih lagi, ini malam minggu. Jika biasanya Naya membenci suasana rame dan sesak seperti ini, sekarang justru ia menikmatinya, tak lupa bersama cowok di sampingnya kini. Setelah membayar karcis, Nando merangkul Naya dan membawa gadis itu untuk mengantri. "Silahkan," ujar Abang-abang penjaga itu membuka kan pintu bianglala dan membiarkan kedua remaja itu masuk. "Lo ga takut?," tanya Nando ketika bianglala sudah mulai berputar naik. Naya menggeleng "Gue bukan cewek yang ada di novel-novel," balasnya. "Emang cewek di novel gimana?," tanya Nando menaikan sebelah alisnya. "Takut kalo naik bianglala, terus nanti cowoknya megangin dia gitu, kalo engga ya di peluk," ujar Naya membuat Nando tertawa. Sejujurnya ia cukup senang, ketika binar itu kembali menghiasi mata hitam gadisnya. ehhh... "Kalo gue mau megang tangan lo gimana?," pancing Nando sambil tersenyum jahil. Naya menjulurkan tangannya pada Nando sambil tersenyum manis  sangat menggemaskan. Nando mengambil lengan Naya dan meletakkanya di pipinya, menikmati sensasi menggelitik di perutnya.. Begitu pun dengan Naya, saat ini ia merasa ribuan kupu-kupu sedang bertebangan di dalam perutnya. Naya tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit saat Nando mengecup punggung tangannya berulang kali. "Hari senin lo udah Ujian Nasional ya?," tanya Nando. Naya mengangguk dan menatap pemandangan yang menurutnya sangat indah jika ia lewati. Saat ini mereka tengah berada di titik paling atas membuat Naya bisa melihat lampu-lampu kota dari sini. "Udah ada persiapan?," tanya Nando mengelus tangan Naya menggunakan ibu jarinya. "Udah dong, kemaren gue beli buku sama Bang Regil," ujarnya tanpa menatap Nando. Nando memajukan bibirnya beberapa centi "Kalo bicara itu, liat kesini," ujarnya menarik dagu Naya. Naya tertawa melihat wajah cemberut Nando yang menurutnya sangat menggemaskan. "Iya say," ujarnya mencubit kedua pipi Nando gemas. Nando meringis dan menahan tangan Naya "Say? Sayang?," tanya Nando. "Sayitonirojim!!," balas Naya lalu terbahak melihat bibir monyong Nando. "Awas lo ya!!," kesal Nando lalu menggelitik perut Naya. Naya bergerak tak tentu arah, dan meminta ampun pada lelaki itu. "Udah yuk keluar," ujar Nando setelah bianglala itu berhenti. Setelah keluar dari bianglala itu, Naya dan Nando berjalan bergandengan tangan. Naya berhenti dan menatap sesuatu dengan wajah kakunya. Membuat Nando menatapnya bingung. "Kenapa?," tanya Nando panik melihat ekspresi Naya. Tak lama Naya tersenyum dan menarik lengan Nando "Mau itu!!," ujarnya menunjuk permen kapas berbentuk hati. "Entar lo batuk Nay," ujar Nando mengingatkan. Naya memasang wajah melasnya lalu mulai menatap Nando dengan puppy eyes yang kini sudah menjadi s*****a untuk merayu Nando karena laki-laki tak bisa menolak jika ia sudah memasang wajah melasnya. "Kan gue makannya ga sering," bela Naya tetap mengambil permen itu. Nando menghela nafas dan memberika. uang berwarna hijau kepada sang penjual. Nando menatap Naya yang mulai mencubit permen kapas itu dan memakannya. Nando memandangi wajah Naya dari samping, gadis itu terlihat lebih fresh dan cantik dengan rambut sebahunya. "Kembaliannya ambil aja, Pak," ujarnya lalu membawa Naya pergi dari tempat itu. "Ih ini enak tau, mau rasa ga?," ujar Naya mengarahkan permen kapas itu ke depan mulut Nando. Nando menerima suapan Naya dan memejamkan matanya menikmati sensasi manis dari permen itu. "Gimana? Enak?," tanya Naya kembali mencomot permen kapas yang sudah berbentuk setengah hati itu. "Manis, kayak lo," jawab Nando membuat pipi Naya bersemu. Untung saja ini malam, kalau siang Naya pasti bingung bagaimana menyembunyikan pipinya dari Nando. "Lo lucu kalo lagi blushing," ujar Nando jujur. Naya mencubit pinggang Nando, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nando selalu punya cara untuk membuat jantung Naya berdegup. "Ih jangan gitu, gue malu," ujar Naya lalu berjalan mendahului Nando. Nando tergelak dan mengejar Naya yang sudah berjalan di depannya. Setelah berhasil menyamakan langkahnya, Nando merangkul Naya. "Ih beli cilok yukk!," ajak Naya menarik Nando, meskipun cowok itu belum memberikan persetujuannya. Nando terkekeh sambil menggeleng kepalanya dan hanya bisa pasrah saat Naya menarik tangannya. Sebelum pergi kesini Naya sudah memberikan syarat agar Nando tidak melarangnya membeli ini itu, sebagai balasannya Naya akan memberikan nilai terbaiknya di ujian nasional nanti. "Mang ciloknya 10 ribu ya," ujar Naya memberikan selembar uang berwarna ungu pada tukang cilok tersebut. "Pedes ga, Neng?," Naya mengangguk sebagai jawaban. "Makasih ya, Bang!," ujar Naya sambil menerima cilok tersebut dari tukang bakso. "Minta tusukan dua ya, Bang," ujar Naya mengambil tusukan. "Sekarang mau kemana lagi?," tanya Nando meletakkan tangannya di atas kepala Naya. "Ih beratt," rengek Naya sambil mengunyah. Gadis itu mengambil lengan Nando yang berada di atas kepalanya dan ia sampirkan di bahunya. Membuat Nando jadi merangkul gadis itu. "Buka mulut aaaa," Naya menyodorkan satu tusuk cilok ke mulut Nando dan di terima dengan senang hati oleh cowok itu. "Naya ini pedes banget!!," ujar Nando langsung meminum air mineral yang sempat ia beli. Lelaki itu mengipasi wajahnya yang terasa panas, sejujurnya ia tak menyukai makanan pedas. "Ih engga," ujar Naya yang justru merasa tak pedas sama sekali. "Tunggu sini ya," ujar Naya menitipkan ciloknya pada Nando dan berjalan ke penjual minuman. Naya mengambil satu s**u kotak rasa coklat dan mengangkatnya "Bu, ini berapa?," tanya Naya. "8 rebu, Mba," balas sang penjual. Naya mengeluarkan uang 5 ribu sebanyak dua lembar dan memberikannya pada penjual itu. "Kembaliannya ambil aja," "Makasih ya," Naya hanya tersenyum dan berjalan menuju ke arah Nando yang menempelkan botol air mineral itu ke bibirnya. "Anjir, sampe nangis," ujar Naya melihat mata Nando yang berair. Naya terkekeh dan berdiri di hadapan Nando. Naya membuka tasnya dan mengambil dua lembar tisu lalu sedikit berjinjit untuk memgelap airmata dan keringat Nando. "Nih s**u," Naya memberikan s**u yang tadi ia beli. Nando menerima s**u tersebut dan langsung meminumnya, ia menghela nafas lega ketika rasa pedas itu perlahan menghilang. "Ini jangan di makan, ntar lo sakit perut," ujar Nando ingin membuang cilok yang masih banyak itu. "Eh, enak aja!," sergah Naya langsung mengambil cilok itu dari tangan Nando. "Kayak ga tau keluarga gue aja lo,"ujar Naya kembali memakan ciloknya. Nando memang tak heran jika Naya menyukai makanan pedas, karena dari Ayah sampai anak memang menyukai makanan berbau pedas. Apalagi Regil, dia paling tidak bisa makan jika tidak ada sambel ataupun cabe di piringnya. "Terserah lo," dengus Nando lalu menarik lengan Naya dan membawanya menuju parkiran. "Ayo pulang," ajaknya lalu memakaikan helm berwarna biru ke kepala Naya. Naya menahan nafas ketika wajah Nando hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Naya bahkan memperhatikan bibir Nando yang sedikit membesar karna habis memakan cilok. "Bibir gue dower karna lo," ujar Nando seolah mengetahui isi pikiran Naya. Naya menyengir dan segera naik ke atas motor Nando. "Pegangan," Naya melingkarkan tangannya di pinggang Nando. Tanpa ia sadari, Nando tersenyum di balik helm fullfacenya dan melirik wajah gadis itu dari spion. "Are you ready?," tanya Nando seraya menyalakan mesin motornya. Naya mengangguk semangat "Yess, i'm ready!!," ujarnya dan mengeratkan pelukannya di pinggang Nando, ketika laki-laki itu mulai menjalankan motornya. "I love you," ✨✨✨ Naya melepaskan pelukannya di pinggang Nando untuk mengaitkan pengait helmnya yang ternayata belum ia kaitkan, lagi pula saat ini mereka berada di lampu merah. Nando menoleh ke belakang pada Naya membuat Naya menaikan alisnya bingung. "Kenapa?," tanya Naya. Nando tak menjawab namun melirik ke bawah membuat Naya ikut melirik ke bawah dan mendapat kedua tangan Nando sudah berada di samping kiri dan kanannya. Naya terkekeh dan meletakkan kedua tangannya di tangan Nando dan langsung laki-laki itu tarik untuk ia lingkarkan di perutnya. Sebelum itu Nando mencium singkat kedua punggung tangan Naya. Lagi dan lagi Naya merasa ada banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya. Naya tersenyum sambil mencubit pelan perut Nando yang sebenarnya lumayan susah karena perut laki-laki itu tidak buncit. "Ini masih jam setengah 10, kita di kasih waktu sama Ayah sampe jam 11. Masih aa waktu satu jam setengah lagi," ujar Nando sambil menjalankan motornya karena lampu lalu lintas itu sudah berubah menjadi hijau. "Terus?," tanya Naya sedikit memajukan tubuhnya. "Mau kemana lagi? atau mau langsung pulang?," tanya Nando. Naya nampak berfikir sebentar lalu memajukan tubuhnya "Kelliling-keliling dulu yu," ujarnya. Nando mengangguk membuat Naya tersenyum senang lalu mengeerutkan pelukannya pada laki-laki itu. Nando sendiri mengelus tangan Naya yang melingkar di perutnya dengan tangan kiri.  Naya tersenyum, setelah memotong rambutnya entah kenapa ia benar-benar merasa lega. Naya merasa semuanya menjadi baru, kehidupannya seperti baru tanpa ada masalah lagi. Bicara tentang Azzam, Naya sudah memaafkan laki-laki itu tapi Naya sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak jatuh lagi. Naya memaafkan Azzam sebagai sahabatnya. Hampir seminggu Naya tak berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya karena Naya malas jika pada ujungnya mereka akan membahas masalah itu. Lagi pula, sudah seminggu ponsel Naya berada di tangan Nando karena laki-laki itu menyuruhnya untuk self healing tanpa ponsel. Menurut Naya self healing terbaik adalah dengan tidak bermain ponsel dan menikmati hari-harinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Yang paling penting adalah tidak perlu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak di pikirkan. Hal itu cukup berpengaruh di kehidupan Naya yang sekarang. Naya merentangkan tangannya menikmati angin malam yang menerpa kulitnya. Nando sendiri hanya terkekeh dan membiarkan gadis itu menikmati suasana malam. ✨✨✨ Tbc Next part udah ending ya teman-teman huhuhuuu. Terimakasih buat kalian yang sudah mau membaca sejauh ini. Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD