-happyreading-
---
Naya menghela nafas, soal di hadapannya ini benar-benar menguras otak. Hari ini adalah hari terakhir Ujian Nasional di laksanakan. Itu artinya, sebentar lagi ia akan berpisah dengan sahabat-sahabatnya dan Azzam. Bicara tentang Azzam, Naya sama sekali tak pernah melihat lelaki itu sama sekali. Padahal mereka berada di sesi yang sama, hanya ruangannya saja yang berbeda.
Naya mencoret asal kertas cekerannya, semenjak kejadian itu Azzam sama sekali tidak menampakan batang hidungnya di depan Naya.
Kalo pun mereka bertemu, Azzam selalu menghindar dan pergi.
Naya marah pada Azzam, tentu saja! Tapi dia tidak boleh egois, mungkin Azzam melakukan itu karna ada alasannya. Naya tau, dia merasa sakit di perlakukan seperti itu, tapi mungkin Azzam juga begitu.
Sekarang, Naya sudah tidak terlalu memikirkan apa yang memang seharusnya tidak di pikirkan. Naya tidak memikirkan Azzam berlebihan lagi dan itu membuat Naya terbiasa. Naya terbiasa tanpa Azzam dan sudah biasa saja jika melihat laki-laki itu. Sudah tidak ada rasa sakit yang dulu ia rasakan, ralat... masih ada tapi tidak sesakit dulu.
"Waktu sisa 15 menit!," Naya tersentak ketika suara pengawas itu menyadarkannya.
Naya melihat kertas cekeranya yang sekarang penuh dengan coretan absurd karena tadi sedang melamun dan tak sadar dengan apa yang di coretnya, dengan cepat ia membalikan kertas tersebut dan mencoba mencari jawaban soalnya di hadapannya.
"Gotcha!," ujar Naya lalu menekan ikon huruf B di komputer itu.
Naya menghela nafas dan menekan ikon Log Out, di monitor dan segera berdiri.
Setelah keluar dari Lab Komputer, Naya mengambil sepatu dan langsung memakainya.
"Dimana lo?," tanya Naya pada seseorang yang sedang di telfonnya.
"Gue kesana," ujarnya lagi lalu berjalan menuju taman belakang sekolah.
Dari kejauhan, Naya dapat melihat teman-temannya sedang bernyanyi dengan Azzam sebagai gitarisnya. Naya menghela nafas pelan dan langsung menghampiri mereka.
"Nah ini nih yang di tunggu dari tadi! Mana PJ?," ujar Nabila mengulurkan telapak tangannya pada Naya.
Azzam menghentikan jarinya untuk memetik senar gitar, ia hanya diam dan membuang pandangannya. Rasa bersalah itu kembali menyeruak.
Naya mengerutkan keningnya "Naon sih?," ujar Naya pura-pura tak mengerti.
"Lo jadian kan sama Kak Nando? Selamat yaa," ujar Abel membuat mata Azzam memerah.
Ini tak wajar, dia tidak boleh egois. Pada akhirnya memang begini, ia dan Naya tidak akan bisa bersatu. Naya merasa sakit ketika melihat wajah Azzam yang berubah menjadi sendu, dia tau bahwa sekarang Azzam juga merasakan hal yang sama.
"Iya PJ, jajan aja di kantin, ntar gue yang bayarin!," ujar Naya membuat teman-temannya bersorak dan langsung berlari ke kantin.
Naya menatap Azzam dari belakang, laki-laki hanya diam seraya memetik asal senar gitarnya. Naya duduk di samping Azzam dan mengeluarkan dasi dari dalam sakunya. Naya menatap dasi itu sebentar dan meremasnya sebelum ia menoleh pada Azzam.
"Azzam," panggil Naya pelan membuat laki-laki itu menoleh.
"Ini dasi gue," ujar Naya memberikan dasi itu di pada Azzam.
Azzam menerimanya "Kenapa dasi lo?," tanya Azzam pelan.
"Dasi lo udah rusak Azzam, jadi gue ganti pake dasi gue. Dasi lo ada dirumah kok," ujar Naya tersenyum tipis, sebenarnya itu hanya alibinya saja. Ia sengaja menyimpan dasi Azzam sebagai kenang-kenangan.
"Anggap aja itu kenang-kenangan bentar lagi kita pisah 'kan?," tanya Naya sedikit tak rela mengucapkan kata pisah.
Azzam menunduk dan mengenggam erat dasi milik Naya. Ia meletakkan gitarnya di memangku lengannya.
"Lo jadian sama temen Abang lo?," tanya Azzam lirih membuat Naya tak tega.
Naya mengangguk "Iya, dua hari yang lalu," ujar Naya jujur.
"Pas di pasar malam itu lo udah jadian?," tanya Azzam.
Ingatkah kalian ketika Naya tiba-tiba berhenti jalan dengan raut wajah yang tak bisa di artikan? Saat itu ia melihat Azzam sedang menatapnya sendu dan segera berlalu. Sedangkan Naya pun tak ambil pusing dan justru mengajak Nando untuk membeli permen kapas.
"Pulangnya," jawab Naya membuat Azzam tersenyum masam.
Azzam terkekeh sendu "Lucu ya Nay, kita masih SMA tapi kisah cinta kita udah seribet ini," ujar Azzam menunduk.
"Lo mendem rasa selama 2 tahun, begitupun gue. Bahkan saat gue udah pindah di Kalimantan pun gue masih ga bisa ngelupain lo," lanjut Azzam.
Naya diam tak menyela, memberikan Azzam waktu untuk mencurahkan semua isi hatinya. Sejujurnya Naya terkejut ketika mengetahui Azzam juga memendam rasa padanya. Naya pikir hanya ia yang memendam rasa. Ini cukup mengejutkan bagi Naya.
"Gue nolak semua cewek demi lo, dan sampai akhirnya gue ketemu lo lagi di sini. Kita bareng setiap hari, sampai orang-orang ngiranya kita pacaran," Naya menunduk bayangan kebersamaan Azzam seolah terputar di kepalanya.
Azzam tertawa "Pasti lo baper ya?," tebak Azzam membuat Naya tersenyum malu.
"Siapa sih yang nggak baper di perlakuin kayak gitu? Apalagi sama orang yang gue taksir," ujar Naya tanpa malu.
Azzam tertawa sendu "Maaf ya Nay, gue udah lancang ngelakuin itu. Gue bener-bener seneng pas tau kita sekelas lagi, dan bisa deket,".
"Gue b**o banget ga sih Nay? Nyakitin cewek sebaik lo terus?," tanya Azzam.
Naya menggeleng pelan "Pasti lo punya alasan kenapa lo ngelakuin itu," Naya tak menangis, ia hanya tersenyum.
Sepertinya air matanya sudah habis hanya untuk menangisi hal ini.
"Lo tau Zam? Kenapa gue bisa suka sama lo?," tanya Naya.
"Awalnya gue sama Bila duduk terus merhatiin lo main basket. Terus Bila tiba-tiba nanya gue lagi naksir sama siapa, terus gue bilang aja naksir lo. Lo baik, ramah, pinter basket, piner main gitar, dan cool. Setelah gue ngomong gitu, seminggu kemudian lo pindah sekolah," Naya tersenyum manis.
"Gue nangis semaleman denger kabar lo pindah, gue nutup hati gue untuk orang lain. Gue berharap lo tiba-tiba dateng dan ngebales perasaan gue. Dan ya, itu semua terkabul, meskipun di waktu yang salah," lanjutnya.
"Gue bahagia banget kita bisa sedeket ini, lo care sama gue, sekolah bareng, chattingan setiap hari udah kek orang pacaran dan gue udah berharap lo nembak gue di hari ulang tahun gue saat itu," Naya tertawa "Konyol ya pemikiran gue?,".
Azzam menggeleng dan menatap Naya yang lagi-lagi terluka karnanya.
"Dan gue berharap lo jadi orang pertama yang ngucapin gue saat itu, tapi lo justru menghilang. Dan di saat gue ketemu lo, ternyata lo udah jadian sama Audrey. Lo tau? Saat itu gue hancur, semua harapan gue pupus, gue marah, kecewa sama lo,".
"Dan bodohnya gue masih berharap kalo itu cuma akal-akalan lo doang buat ngasih kejutan ke gue. Tapi ternyata engga, lo bener-bener jadian sama dia. Dan saat itu gue menganggap itu kado terindah yang lo kasih ke gue," Naya mengusap air matanya yang entah kapan mengalir.
"Gue berusaha mengikhlaskan semuanya Zam, sampai Bila ngasih tau kalo ternyata lo juga punya rasa sama gue. Gue bingung, terus kenapa lo malah jadian sama Audrey kalo lo juga ada rasa sama gue?," ujar Naya menatap Azzam yang menunduk.
"Gue sayang sama lo melebihi diri gue sendiri, gue juga kaget pas Bila bilang lo naksir gue. Yang artinya perasaan gue terbalaskan, tapi gue ingat satu hal, gue udah punya Audrey," ujar Azzam menghela nafas berat.
"Gue sayang sama lo Nay, tapi sepertinya takdir ga menyatukan kita. Gue di jodohin sama bokap gue," lanjutnya.
"Gue di jodohin sama Audrey dan gue ga bisa nolak Nay, gue nggak mau ngecewain bokap gue dan nambah beban pikiran dia. Bokap gue pisah sama nyokap dan nyokap ninggalin banyak hutang sama Papanya Audrey. Dan sebagai gantinya gue harus nikah sama anaknya, Audrey," jelas Azzam dengan air mata yang mengalir.
Naya menangis terisak, tak peduli banyak yang melihatnya. Kenapa Azzam bisa menghadapi masalah ini sendirian? Kenapa Naya egois selalu mengatakan Azzam tak punya hati? b******k? Naya menggeleng, Azzam benar-benar berada di posisi sulit dan Naya justru menyalahkannya.
Jadi ini alasan Azzam tidak bisa meninggalkan Audrey?
Naya memeluk Azzam erat dan di balas tak kalah erat oleh lelaki itu.
"Maafin gue Azzam, gue egois, gue nggak mikirin perasaan lo," gumam Naya menangis.
Azzam dapat merasa bahwa bajunya sudah basah terkena air mata Naya.
"Gue ikhlas Zam," ujar Naya dalam pelukan Azzam.
"Turutin apa kata bokap lo, dan sayangi Audrey dengan tulus," ujar Naya melepaskan pelukannya.
"Gue sayang sama lo, tapi gue nggak bisa milikin lo, kita ga bisa bersatu," ujar Naya masih sesegukan.
"Gue juga Nay, gue sayang banget sama lo. Gue ga bakal lupain lo, dan bakal selalu ingat lo," ujar Azzam mengenggam tangan Naya.
"Gue bakal berusaha buat nerima Audrey dan lo juga langgeng sama pacar lo yang sekarang, jangan jadiin dia sebagai pelarian lo," lanjutnya.
Azzam menarik Naya dan memeluknya erat "I love you, Nay," ucapnya lirih mencium puncak kepala Naya.
Dari tempat yang tak jauh, mereka semua melihatnya termasuk Nando dan Regil. Bahkan Regil memeluk Nabila yang sudah menangis sesegukan.
Pada akhirnya kisah kita akan berakhir dengan perpisahan, karna 'Yang sehati belum tentu setakdir'
END
Huwaaa guysss udah selesai ceritanya :')
Demi apa aku nangis ngetik part ini. Karna ini emang pure aku ngalamin sendiri :')
Jadi gimana? Ending sesuai keinginan atau enggak ni?
Pokoknya aku mau ngucapin makasih buat kalian yang udah baca cerita ini dari awal sampai akhir.
Dan menurut kalian cerita ini gimana sih??
Udah ah, intinya makasih and see you on the next part!!
Thanks for read❤