-happyreading-
---
Naya memasuki kelasnya dengan langkah santai, sesekali ia meminum air mineral yang ada di genggamannya. Di sisi kanannya terdapat Nabila yang berbicara dengan Abel dan Bela, sedangkan di sisi kirinya terdapat Cika yang hanya menatap datar lantai kelas.
Bukan karna ada masalah, Cika memang seperti itu. Dia cukup pendiam dan pemalu di sekolah, tapi itu tidak berlaku ketika dia bersama Naya. Jika bersama Naya, maka ia akan menunjukan sifat aslinya.
Naya melirik Azzam yang sedang bermain dengan Tina, teman sekelas mereka. Terbesit sedikit rasa cemburu pada diri Naya, namun sekali lagi! Naya tidak punya hak untuk cemburu, karna apa? Karna ia bukan siapa-siapa Azzam.
"Gua ke toilet dulu ya," pamit Naya pada teman-temannya.
"Lu ga mau di temenin?," tanya Nabila ragu ketika Naya ingin ke toilet sendiri. Mengingat Naya yang tak berani ke toilet sendirian.
Naya menggeleng dan tersenyum, lalu ia memberikan botol minumnya pada Nabila "Nitip ya," ujar Naya terkekeh.
Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kelas, Naya melirik Azzam yang juga meliriknya. Naya mengangkat alisnya dan tersenyum pada Azzam, begitupun sebaliknya.
Sebenarnya tujuan Naya bukan ke toilet, ia hanya ingin ke kantin untuk membeli permen karet. Baginya, sehari tidak makan permen karet, sama seperti menahan diri untuk tidak memainkan ponsel ketika sedang di charger, hampa dan sulit.
Naya bisa saja meminta Cika untuk menemaninya, hanya saja ia tak enak hati jika terus meminta Cika untuk menemaninya. Sebenarnya, Naya termasuk orang yang tidak bisa sendirian. Kemana-mana harus ada teman meskipun satu orang.
"Eh," Naya berlari untuk membantu seorang gadis yang di dorong temannya dari tangga.
"WOI JANGAN LARI LO! EH KEJAR TUH ANAK!," teriak Naya pada salah satu siswa yang ada di dekatnya.
Naya berjongkok dan mengangkat kepala gadis itu ke pahanya. Naya mengernyit saat ada cairan menyentuh kulit tangannya.
"Darah," lirih Naya melihat darah yang mengalir dari kening gadis itu.
Naya berusaha menepis rasa takutnya, bagaimanapun ia harus menolong gadis yang sudah terbaring di pahanya kini.
"Hey, lo gak papa?," Naya menepuk pelan pipi gadis itu.
Gadis itu menggeleng lemah "Bisa bangun?," tanya Naya.
"Eh lu pada b**o apa gimana? Ini anak orang luka dan lu pada malah bikin insta story! Ngotak g****k, kalo lo ada di posisi dia gimana?!," bentak Naya melihat beberapa siswi yang memotretnya.
Naya melihat beberapa anak PMR yang berjalan ke arahnya seraya membawa tandu, entah siapa yang memanggil mereka tapi Naya berterima kasih pada orang tersebut. Naya membantu anak pmr untuk memindahkan gadis itu ke tandu.
Naya segera menyusul orang yang mengangkat gadis itu menuju ke UKS, tak memperdulikan darah yang sudah menempel di roknya.
Setelah menunggu hampir setengah jam, Naya memasuki UKS dan melihat gadis itu meminum air putih dengan kepala yang sudah di perban.
"Makasih ya Kak," ujar gadis itu tulus menerima ponselnya miliknya dari tangan Naya.
Naya megangguk "Nama lo siapa?," tanyanya.
"Audrey, Kakak Naya kan?," tebak Audrey menunjuk Naya yang memasang ekpresi bingungnya.
"Kok tau?," tanya Naya.
"Kan aku follow i********:, Kakak," jawab Audrey terkekeh.
"Eh emang iya?," tanya Naya terkejut.
Naya memang memiliki banyak followers, namun Naya hanya mem follback orang yang ia kenal saja. Selebihnya ia biarkan saja. Toh kalo mau di unfoll pun Naya tidak merasa rugi.
"Iya Kak," balas Audrey tersenyum.
"Nama IG kamu apa?," tanya Naya lagi.
Audrey menyebutkan username Instagramnya lalu di balas anggukan oleh Naya.
"Yaudah gue mau naik ke kelas dulu ya, bentar lagi lo di jemput sama nyokap lo kok," ujar Naya yang di angguki Audrey.
"Sekali lagi makasih Kak," ujar Audrey tulus.
"Iya sama sama, get well soon," balas Naya lalu melangkahkan kakinya keluar dari UKS.
"Btw, nanti gue follback ya." sambung Naya dari depan pintu.
Dengan langkah cepat, ia berlari menuju ke kelas. Bel sudah berbunyi sejak tadi, ia sudah melupakan tujuan awalnya untuk membeli permen. Bahkan, ia sama sekali tak menyadari ada darah yang menempel di rok bagian depannya juga di pahanya.
"Assalamualaikum," Naya mengetuk pintu kelasnya dan masuk dengan pelan.
"Dari mana kamu?," tanya guru yang mengajar di kelasnya.
"ASTAGA KAMU KENAPA?!," pekik guru tersebut melihat rok dan paha Naya yang berdarah.
"Eh?," Naya menutup wajahnya yang memerah, pasti orang-orang memikirkan hal yang iya-iya.
Naya menunduk melihat darah yang menempel di rok putihnya, kemudian menatap sang guru yang terlihat kaget.
"Ini bukan darah saya, Bu. Tadi ada adik kelas di dorong dari tangga terus saya tolongin," jelas Naya membuat teman sekelasnya ber-Oh ria.
Tok tok tok
Mereka semua menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang siswa berdiri di depan pintu.
"Kak Naya di panggil ke ruang BK sekarang!," ujar anak itu memberitahu lalu pamit.
"Bu saya ke ruang BK dulu ya?," izin Naya pada guru tersebut.
"Iya," ujar guru tersebut.
Melihat Naya yang segera keluar Azzam segera mengambil jaketnya dari dalam tas dan melemparkannya pada Naya.
"Tutupin paha lo!," ujar Azzam yang hanya di angguki Naya.
"Makasih,"
Setelah Naya keluar dari kelas, guru tersebut kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu menjelaskan materi yang ia tulis di papan tulis.
✨✨✨
"Jadi gimana?," tanya Nabila khawatir pada Naya.
Naya merangkul Nabila dan tersenyum tipis "Fine," jawabnya.
Naya menatap teman-temannya yang duduk tak jauh dari ruang BK, mungkin mereka sengaja menunggu Naya.
"Zam, jaket lo gue cuci dulu ya?," izin Naya pada Azzam yang memainkan ponselnya.
Azzam mengangguk seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya.
"Jadi ini ke kantin atau balik ke kelas?," tanya Abel.
"Gue ke kelas deh, lemes gue ngeliat darah tadi, Lagian gue udah makan pas istirahat pertama tadi." jawab Naya jujur.
"Ya, lagian lu juga! Udah tau takut sama darah, sok mau nolongin orang," sahut Bela menoyor kepala Naya.
Naya menoyor Bela kambali "Ga boleh gitu, sesama manusia harus saling menolong. Bayangin kalo lo ada di posisi itu anak gimana?," ujar Naya bijak.
"Sok iye lu najis!," sahut Abian membuat Naya tertawa.
"Kalian kalo mau ke kantin, pergi aja! Gue ke kelas ya," ujar Naya seraya melambaikan tangannya lalu meninggalkan teman-temannya yang ingin pergi ke kantin.
Naya berjalan santai seraya memainkan ponselnya, tanpa melihat jalanan di hadapannya. Tanpa ia sadari, sudah ada tiga orang yang berada di belakangnya.
Naya tersentak ketika seseorang merebut paksa ponselnya, ia mendongak dan langsung mendengus.
"RANDY MONYET!," pekik Naya menjambak rambut Randy namun sulit karna tingginya hanya sebahu Randy.
"Aduh sakit!," ringis Randy menundukkan kepalanya.
Naya mengambil ponselnya dari tangan Randy, dan berjalan meninggalkan Randy, Azzam, dan Abian yang menertawainya. Dengan kesal ia menghentakkan kakinya, lalu masuk mendudukan tubuhnya di lantai kelas.
"Udah kek gembel!," tegur Abian terkekeh lalu ikut mendudukan tubuhnya di hadapan Naya, diikuti Azzam dan Randy.
"Yang lo tolongin tadi cewe Nay?," tanya Randy kepo.
"Iya, anak kelas 11 deh kayanya." balas Naya membuat Randy mendekatkan tubuhnya.
"Cakep ga?," tanya Randy di balas toyoran dari Abian.
"Inget cewe lu anjing," ujar Abian membuat Randy menyengir.
"Btw, itu sengaja di dorong apa gimana dah?," tanya Abian penasaran.
"Ga sengaja sih katanya, tapi yang gue liat tuh keknya sengaja anjir,"
"Maksudnya?," tanya Abian kepo.
"Kan tuh tangga luas ya, kek masih ada space buat lewat. Terus masa tuh cewe nyenggol si Audrey sampe jatoh. Padahal di samping Audrey masih ada space luas banget buat lewat," jelas Naya panjang.
"Mana dia nyenggolnya kenceng bet anjir kek ada dendam," sambung Naya.
"Yang ngedorong cewe?," tanya Randy mengerutkan dahinya.
Naya mengangguk.
"Ga heran sih kalo cewe," ujar Abian terkekeh.
"Mungkin emang ada dendam kali," sahut Azzam di setujuin Randy dan Abian.
"Cewe ribet anjir kalo lagi ada masalah," ujar Randy membuat Naya tersinggung.
"Iya, kalo ada masalah pasti sindir-sindiran. Kek terang-terangan aja apa susahnya si? Tinggal bilang aja 'gue ga suka sama lo' kan gampang," sahut Abian.
"Tinggal samperin ajakin baku hantam kan kelar ya?," timpal Randy.
Naya memutar bola mata, pemikiran perempuan dan laki-laki itu berbeda. Bukannya ga berani buat terus terang, cuma kadang emang ada yang muka tembok aja gitu. Jadi mending di sindir aja biar nyadar diri.
"Mana cewe kalo di ajak baku hantam malah jambak-jambakan. Aturan mah tonjok-tonjokan ya ga?," sahut Azzam membuat Naya berdecih.
"Yaudah sih biarin, ribet amat lu jadi cowo." ujar Naya membela kaum hawa yang di jelek-jelekan tiga curut ini.
"Tapi emang bener kan?," goda Randy membuat Naya berdecih.
" Udahlah! Maen abc lima dasar aja kuy!," ajak Naya yang merasa bosan dan mengalihkan topik pembicaraan.
Naya tak bisa melawan Randy dan Abian sendirian karena lelaki itu sangat pintar mematikan lawan bicaranya.
"Kuy lah!," sahut Abian, Randy, Azzam bersamaan.
"Sebutkan nama-nama hewan!," ujar Naya seraya meletakkan dua jarinya di lantai.
"I, Ikan!,".
"Itik,".
"Iguana!," pekik Naya semangat.
Azzam menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia sudah tak tahu lagi hewan apa yang memiliki inisial 'I'. Semua sudah disebutkan oleh ketiga orang di hadapannya ini.
"Ilumba-lumba?," ujar Azzam membuat Naya terbahak. Mana ada hewan ilumba-lumba. Ada-ada saja pikirnya.
"MAMPUS LU KALAH, HUKUMAN YA!," pekik Randy senang.
"Hukumannya apaan? Jewer?," tanya Naya yang setujui oleh mereka.
Abian menarik telinga Azzam kuat, begitupun Randy. Mereka tertawa senang melihat telinga kanan Azzam yang memerah. Sedangkan Naya hanya berusaha menetralkan detak jantung, dia merasa gugup hendak menyentuh telinga Azzam.
Dengan sekali tarikan, Naya menarik telinga Azzam sehingga membuat sang empu meringis.
Tidak Azzam bukannya cari perhatian, tapi jeweran Naya memang sakit. Sepertinya Naya ada dendam padanya.
"Aduhh!," ringis Azzam membuat Naya panik.
Dengan refleks, Naya mengelus lembut telinga Azzam yang memerah.
"Lo ada dendam apa sama gue Nay?," tanya Azzam sambil meringis.
"Aduhh maaf ya," ujar Naya tak enak seraya mengelus telinga Azzam, bahkan ia meniup pelan telinga Azzam membuat sang empu merasa geli.
Setelah sadar apa yang di lakukannya, Naya menarik tangannya dengan pipi yang memerah, ia malu!!!
"Sosweet banget sih Kakak Nay," sindir Randy seraya memeluk Abian.
"Pengen di gituin," ujar Abian mengerucutkan bibirnya menatap Randy yang memeluknya.
Dengan cepat Randy mengelus telinga Abian dan meniupnya pelan, persis seperti apa yang Naya lakukan pada Azzam tadi.
Pletak!!
Naya memukul kepala Randy dan Abian menggunakan ponselnya, ia bergidik jijik melihat adegan di hadapannya. Tapi ia berterima kasih, setidaknya karna hal itu suasana tidak menjadi canggung.
"Jijik Bang!," ujar Naya menatap Randy yang mengelus kepalanya.
"Eh iya, besok ada yang mau ngajak lo jalan Nay," kata Abian memberitahu Naya.
"Siapa?," tanya Naya bingung.
"Temen gue, cowok. Dia naksir lo, kali aja dia mau nembak lo," sahut Randy setelah berbicara dengan Azzam.
"Iya Nay, biar ga jomblo lagi."
Naya menggaruk tengkuknya, bingung. Jika benar, ia tak mau. Hatinya sudah jatuh pada cowok yang ada di sampingnya kini, Azzam.
Naya itu tipe orang yang susah membuka hati pada orang baru. Kalo udah stuck di satu cowo, yaudah Naya ga bakal pindah pindah lagi.
Naya melirik Azzam sekilas "Aduh, gue besok ada acara keluarga," Naya tidak sepenuhnya berbohong, besok ia memang ada acara keluarga.
Naya dapat melihat raut kecewa di wajah Azzam, tapi ia tak tahu mengapa Azzam menampilkan raut itu.
"Yaudah deh," sahut Randy melirik Azzam yang mengeluarkan ponselnya.
Naya merasa sedikit bersalah, tapi bagaimana lagi? Iya memang ada acara keluarga.
✨✨✨
"Ntar lo pulang sama siapa Nay?," tanya Nabila pada Naya yang sibuk mrnyalin catatan di papan tulis.
"Di jemput kayanya, kalo ga ya naik ojol," balas Naya membuka penutup tip ex dan menggeseknya di buku tulis.
"Sama gue aja kalo gitu," tawar Nabila di balas gelengan tak setuju dari Naya.
"Rumah kita ga searah Bil, ntar lu muternya jauh." tolak Naya tak mau merepotkan Nabila.
Nabila mengerucutkan bibirnya "Gapapa Nay, timbang lo naik ojol."
"No!," tolak Naya kekeuh.
Nabila merengut lalu tersenyum dan menolah ke samping.
"Zam!!," panggil Nabila pada Azzam.
"Ha?," balas Azzam menatap Nabila.
"Ntar lo balik sama siapa?," tanya Nabila membuat perasaan Naya tak enak.
"Balik sendiri lah, kenapa emang?." balas Azzam bertanya balik.
"Anterin Naya balik bisa kaga?," tanya Nabila membuat Naya membulatkan matanya terkejut.
"Bil apaan sih," Naya mendongak dan menoleh pada Azzam "Jangan di dengerin Zam. Bila suka ngaco anaknya," ujar Naya pada Azzam.
"Biarin sih Nay, kan lo sama Azzam searah." ujar Nabila.
"Bilaa apaansiii ahh males gue," ujar Naya menelungkupnya wajahnya di kedua tangannya.
Nabila terkekeh lalu membiarkan Naya ngambek. Tak lama bel pulang berbunyi.
"Sekian pelajaran hari ini, sampai bertemu di minggu depan." ujar sang guru sebelum keluar kelas.
Naya mengangkat wajahnya, memasukan semua barang barangnya ke dalam tas lalu berdiri.
"Gue duluan papaiii," Nabila mengecup pipi Naya dan segera berlari keluar kelas.
Naya mengusap pipinya jijik sambil menggeleng melihat kelakuan absurd temannya itu.
"Jadi pulang sama gue?," tanya Azzam yang entah sejak kapan berada di belakang Naya.
"Astaga udah gue bilangin jangan dengerim omongan Nabila," ujar Naya.
"Lo balik sama siapa emang?,"
"Sama ojol kayanya,"
"Yaudah balik sama gue," ajak Azzam menarik Naya keluar kelas.
"Gaus---,"
"Gue ga nerima penolakan, bye." ujar Azzam mengikuti omongan Naya tempo lalu.
Naya mencebik dan hanya bisa pasrah saat Azzam menariknya ke parkiran.
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤