FZ | 12

1499 Words
-happyreading- --- Naya memoleskan lipbalm di bibir softpink miliknya, tak lupa di lapisi dengan liptint. Setelah di rasa cukup, Naya mengambil slimbag dan meletakkan semua kebutuhannya di dalam tas termasuk ponsel dan earphone berwarna biru laut miliknya. Sekali lagi, Naya memperhatikan dirinya di kaca. T-Shirt bertuliskan 'Adidas' berwarna softpink, di balut dengan jaket jeans. Celana Jeans berwarna hitam dengan sobekan di bagian dengkulnya menambah kesan tersendiri di diri Naya, tak lupa dengan jam tangan berwarna hitam yang melingkar di lengan kirinya. Setelah menyemprotkan parfume ke seluruh tubuhnya, Naya langsung berjalan keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah menemui Bunda dan Ayahnya. "Abang ga ikut?," tanya Naya melihat Regil yang belum siap-siap. Regil menatap Naya, kemudian menggeleng pelan. Regil tak bisa ikut karena teman-temannya akan ke rumah hari ini. Mengerjakan tugas sekalian bersantai ria di tanggal merah. Sebenarnya Regil bisa saja ikut, namun memang dasarnya dia lagi mager keluar rumah aja. "Ada tugas, salamin aja ya," ujar Regil memasukan roti ke dalam mulutnya. Naya menganggukan kepalanya, kemudian ia mendudukan pantatnya di anak tangga dan memakai sneaker pink miliknya, Naya membuka mulutnya ketika Regil menyodorkan roti di depan mulutnya dan langsung mengunyahnya dengan lahap. Setelah memasang sepatunya, Naya berdiri dan merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. Naya menyisir rambunya dengan jari sambil berjalan menuju pintu. Naya berjongkok untuk membenarkan simpul tali sepatunya dan menghampiri sang Ayah. "Udah siap?," tanya Rizky ketika melihat Naya menghampirinya. Naya mengangguk pelan dan mencium pipi Regil, setelah itu ia berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil. Naya membuka jendela mobil dan melambaikan tangannya pada Regil yang menatap mereka dari depan pintu rumah. "Dadah Abang!!," teriak Naya yang langsung di balas lambaian tangan oleh Regil. "Kayak mau pisah lama aja kalian," ujar Kirana terkekeh melihat Naya dari cermin. "Udah cantik kali, Bun!," balas Naya melihat Bundanya yang memakai lipstick dan bedak. "Touch up teross!!," sahut Rizky yang langsung mendapat pukulan di lengan kirinya. "Suka-suka Bunda dong!," balas Kirana tak mau kalah, lalu memasukan make up nya kedalam tas. Naya tertawa, begitupun Rizky. Menjahili Bundanya sudah merupakan rutinitas mereka. Sebut saja mereka suami dan anak durhaka, tapi memang itu faktanya. Membuat bunda marah tuh udah menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka. "Nanti ada siapa aja, Bun?," tanya Naya pada Kirana. Sejujurnya Naya sangat malas untuk ikut dengan orang tuanya, Naya merupakan tipikal anak yang tidak suka dengan keramaian. Baginya, keramaian akan membuat kepalanya menjadi pusing. Jika ia bisa memilih, ia akan tinggal dirumah dan tiduran di kamarnya. Pernah ketika ia berumur 6 tahun, saat itu ia berulang tahun dan orang tuanya berinisiatif untuk merayakan ulang tahun putri kecil mereka saat itu. Tapi, taukah kalian apa yang dilakukan Naya pada saat acara di mulai? Naya menangis kencang dan langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan tamu-tamu yang menghadiri acaranya. Saat di susul, ternyata Naya sudah tertidur dengan gaun pesta dan polesan make up tipis yang masih menempel di tubuh dan wajahnya. Dan hal itu membuat Kirana menepuk jidatnya bingung, untung saja Naya sudah meniup lilin ulang tahunnya. Kirana membalikkan tubuhnya dan menatap Naya yang memejamkan matanya dengan earphone yang menempel dikedua telingannya. "Ada banyak," jawabnya lalu kembali menghadap ke depan. Naya mengangguk, lalu menatap jalanan dari jendela. Pikiran melayang pada kejadian kemaren, kejadian dimana Abian dan Randy mengatakan bahwa ada seseorang yang menyukainya dan raut kecewa di wajah Azzam ketika Naya menolak ajakan Randy. Seperti kaset yang berputar, Naya tersenyum ketika mengingat semua perhatian yang Azzam berikan padanya. Bolehkah Naya berharap bahwa Azzam memiliki perasaan yang sama dengannya? Naya tersenyum tipis karena harapan konyolnya itu, Ahh Naya tidak ingin berharap lebih!! Merasa bosan, Naya memilih memejamkan matanya. Menikmati lagu yang mengalun indah di telinganya. ✨✨✨ "Lah, kok lo disini?," tanya Naya bingung ketika melihat seseorang yang tak asing di hadapannya. Naya menunjuk seoarang laki-laki dengan ekspresi terkejutnya. Berbeda dengan laki-laki itu yang terlihat santai. "Jodoh kali," jawab orang itu santai. Naya bergidik "Najis!,". Naya tersenyum ketika melihat tantenya datang dari arah dapur, dengan cepat Naya berlari dan mencium pipi tantenya itu. "Aunty, Nay kangen deh," ujar Naya seraya memeluk tantenya itu erat. Lisa terkekeh melihat sifat manja keponakannya ini, meskipun sudah lama tak bertemu hal itu tidak membuat Naya menjadi canggung dan malu seperti keponakannya yang lain. "Bukan cuma kamu, Aunty juga kangen banget sama kamu!," balas Lisa seraya mengelus punggung anak dari Kakak perempuannya ini. "Ikutan dong, maen dramanya!," seru Abian memeluk Naya dan Lisa, ya orang yang Naya tegur tadi adalah Abian. "Aduh, Mi sakit!," pekik Abian ketika telinga di jewer oleh Lisa. "Mi? Mami maksud lo?," tanya Naya yang hanya di angguki oleh Abian. "KOK BISA? JADI LO SEPUPU GUE?!," teriak Naya tak percaya, tak lupa dengan ekspresi terkejutnya membuat orang yang melihatnya gemas. "Bian ini anak Aunty," jelas Lisa menatap Naya yang masih terkejut. "Kok bisa? Nay ga pernah liat Bian kalo ngumpul keluarga, kalo ke rumah Aunty juga ga pernah liat," tanya Naya bingung. "Sejak umur 5 tahun, Bian tinggal sama Kakeknya, terus pas mau masuk SMA dia pindah kesini. Tapi dia ga mau tinggal sama Aunty, dia malah milih tinggal di apartemen," jelas Lisa sedikit mengerucutkan bibirnya sebal dengan keputusan putranya itu. Abian terkekeh "Kan Bian mau mandiri, Mi," kata Abian lalu memeluk ibunya yang mengerucutkan bibirnya. Tidak, itu hanya alasan Abian saja. Alasan utama kenapa ia memilih untuk tinggal sendiri adalah karena ia ingin bebas. Tidak di marahi saat pulang larut malam bahkan tak pulang sekalipun. Naya terkekeh "Di sekolah aja sok cool, aslinya ternyata anak mami," ejek Naya lalu tertawa keras. "Eh tapi asli, gue masih ga nyangka kita sepupuan!," sambungnya lagi. "Jadi kalian ini saling kenal?," tanya Lisa menatap kedua remaja dihadapannya. Naya dan Abian mengangguk bersamaan. "Kita sahabatan udah mau 2 tahun," sahut Abian merangkul bahu Naya. "Terus yang selama ini ngambil rapot lo siapa Bi?," tanya Naya karena Naya tak melihat tantenya mengambil rapot untuk Abian. Abian melotot memberi kode pada Naya agar tidak bertanya seperti itu. Bukannya apa, Abian memang selalu menyewa orang untuk mengambil rapot karena jika Lisa yang mengambil bisa bisa Abian akan di omeli abis abisan karena nilai anjloknya. Untung saja selama ini Lisa tidak pernah melihat nilai rapotnya. Kalau Lisa bertanya bagaimana nilai rapotnya. Abian dengan santai menjawab kalo nilainya bagus dan Lisa mempercayai ucapannya. Naya menggangukan kepalanya paham lalu memukul pelan bahu Abian. "Ntar kita bikin film di indosiar, Sahabatku ternyata sodaraku sendiri," ujar Naya terkekeh. "Sabi tuh!," balas Abian tertawa. Mendengar ucapan Naya, sontak saja Lisa tertawa. Ada-ada saja keponakannya ini, pikirnya. "Yaudah, Aunty kesana dulu ya! Kalian ngumpul tuh sama sepupu kalian yang lain," ujar Lisa lalu pamit untuk menemui saudaranya yang lain. Abian diam-diam menghela nafas lega sambil mengelus dadanya, untung saja Lisa tidak menanyakan pertanyaan Naya tadi. Sepeninggal Lisa, Naya dan Abian saling tatap kemudian tertawa bersama. Masih tak menyangka bahwa mereka berdua ternyata bersaudara. "NAYAA, SINI DULU!!," teriak Kirana memanggil Naya dari dapur. Abian menatap punggung Naya yang semakin menjauh, dengan cepat Abian mendudukan tubuh di sofa dan menjahili sepupunya yang sedang bermain. Abian tuh emang gitu, gabisa banget kalo ga jahilin orang. Bikin kesel orang itu udah jadi hobi Abian. "Cup cup cup, diem ya," Abian menolehkan kepalanya, melihat Naya yang datang sambil menggendong anak kecil yang sedang menangis. Naya duduk di samping Abian sambil memangku bocah yang masih menangis itu. Abian gemas saat melihat bibir manyun dan mata berairnya. "Buset, udah punya anak lo?," gurau Abian membuat anak kecil itu menatapnya polos. "Hai, nama kamu siapa?," tanya Abian mengusap bekas airmata di pipi gembul gadis kecil itu. Anak tersebut menarik ingusnya kuat "Tiala," gumamnya kecil membuat Naya dan Abian gemas melihatnya. "Tiara?," gadis kecil itu mengangguk. "Kenapa nangis?," tanya Abian lagi. Gadis itu melengkungan bibir nya ke bawah dengan mata yang kembali berkaca-kaca, membuat Naya memeluk dan mengelus punggung gadis itu. Naya menahan gemas lalu mengecup pipinya sekilas. Wangi bayi tuh emang enak banget. "Mau es klim," lirihnya lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naya. Naya menatap Abian, mengerti maksud Naya, Abian langsung berdiri. "Yaudah kita beli es krim," ujar Abian membuat Tiara memekik senang. ✨✨✨ Naya menatap Tiara yang asik memakan es krimnya, sesekali ia menyuapi Abian sambil tertawa kecil. Banyak pengunjung yang melihat mereka dengan berbagai tatapan, mungkin mereka mengira bahwa Tiara adalah anak dari Naya dan Abian. Saat ini mereka berada di kedai es krim yang tak jauh dari rumah Lisa, ibu Abian. Kedai tersebut memang cukup terkenal, selain rasanya yang enak, harga juga terjangkau. Banyak pengunjung yang datang di setiap harinya, dari yang muda sampai yang tua. "Suka?," Tiara mengangguk seraya menggigit sendok es krimnya. "Udah ga nangis lagi?," Tiara menggelengkan kepalanya cepat, kemudian menyuapkan es krim ke mulut Naya. Naya tertawa dan mencium pipi Tiara gemas, tak sadar jika ada noda es krim di sudut bibirnya. Abian yang melihat itu, refleks mengelap sudut bibir Naya menggunakan ibu jarinya. Naya tersentak dan menatap Abian kaget, kemudian ia merasakan tepukan di bahunya. Ia mendongak untuk menatap orang yang menepuk bahunya. Plak!! "Abel?," ✨✨✨ Tbc Minal aidzin wal faizin guys!! Lop yuu :* Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD