-happyreading-
---
Naya memegang pipi kirinya yang terasa memanas, dengan tatapan yang tak bisa di artikan ia menatap Abel yang juga menatapnya dengan sorot kemarahan. Ah ralat, bukan hanya Abel, melainkan ke-enam temannya. Bela melipat kedua tangannya di depan d**a, Nabila yang bediri di samping Bela, Cika di samping Randy dan Azzam. Mereka semua menatap tajam Naya.
"INI YANG LO BILANG ACARA KELUARGA HAH?! Acara keluarga apa yang cuma berduaan sama crush sahabatnya sendiri di kedai es krim kaya gini?!," bentak Abel dengan wajah yang memerah.
Abel tertawa pelan sambil menggelengkan kepala takjub lalu berdecuh sinis. Teman macam apa Naya ini?!
Naya menggeleng, bibirnya terasa terkunci saat ini. Semuanya begitu cepat hingga otak Naya tak bisa berfikir lagi. Ingin rasanya membuka suara tapi tak bisa.
"INI ALASAN LO SELALU NGELARANG BIAN BUAT BERSIKAP MANIS SAMA GUE? BUKAN KARNA TAKUT GUE BAPER, TAPI KARNA LO CEMBURU?! IYA?!," Naya menggeleng dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Tuduhan Abel sama sekali tidak benar.
"Lo salah paham, gue sama Bian cuma so--" jelas Naya terpotong berusaha menahan airmatanya agar tidak luruh. Suara Naya bergetar menahan tangis.
Naya dapat melihat jelas sorot ke kecewaan di mata teman-temannya, terlebih lagi Azzam. Azzam bahkan enggan menatap Naya yang menangis.
"Ga usah sok nangis lo, basi!," potong Bela merangkul saudari kembarnya yang menangis.
Abel menepis rangkulan Bela dan maju selangkah agar lebih dekat dengan Naya. Dengan emosi yang memuncak Abel menunjuk Naya dengan jari telunjuknya.
"Lo lebih busuk dari sampah, biadap!," Abel mengacungkan jari tengahnya di depan wajah Naya.
Naya menggelengkan kepalanya, bukan ini yang Naya mau. Naya tidak bermaksud seperti. Naya menatap Azzam namun kembali merasa sakit saat Azzam hanya membalas tatapannya beberapa detik dan langsung memutuskan kontak mata mereka.
Beralih dari Naya, Abel menatap sendu Abian yang menggendong anak kecil.
"Apa tujuan lo deketin gue sebenarnya?! Kenapa lo deketin gue kalo lo sukanya sama dia?!," tanya Abel setengah membentak.
Abian mengernyit "Apa maksud lo?," tanya Abian setenang mungkin, ia tak mau semakin memperkeruh suasana jika ia harus mengeluarkan emosi.
Siapa yang tidak marah, jika melihat saudari kalian di tampar dan di hina di hadapan kalian. Terlebih lagi yang melakukan itu, sahabatnya sendiri.
Abel tidak menjawab melainkan menatap anak kecil di gendongan Abian yang menatapnya dengan tatapan ketakutan.
"Siapa dia? Apa dia hasil dari perbuatan lo sama si cabe ini?!," tanya Abel menunjuk Naya yang menunduk.
"JAGA MULUT LO!," bentak Abian yang sudah tak bisa menahan emosinya. Abel benar-benar keterlaluan.
Randy yang melihat itu, sigap menahan Abian yang hendak menampar Abel.
"Jaga emosi lo, gimana pun dia cewek," ujar Randy menepuk bahu Abian.
"Tapi tuduhan dia gak berdasar anjing!," balas Abian emosi lalu meredakan emosinya karena dia sedang menggendong Tiara.
"Gak berdasar gimana?!! Ini apa buktinya?!!," tanya Abel emosi.
"Lo semua salah paham b**o! Bisa gak sih lo semua diem dulu!! Gausah nyudutin kita berdua?!," bentak Abian marah.
Naya menatap Abian lalu menggeleng menyuruh Abian untuk diam. Emosi Abian hanya akan semakin memperkeruh suasana.
Jujur Randy sedikit kecewa melihat Naya yang jalan berdua dengan Abian, tapi ia tak bisa mengambil keputusan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Di tambah lagi, Abian merupakan sahabatnya dari kecil, jadi ia sudah mengetahui tabiat Abian.
"Ga usah bentak-bentak bisa?," kali ini Nabila membuka suara setelah sekian lama berdiam.
"Dan lo Nay, gue bener-bener ga nyangka! Lo yang sok dewasa di sekolah, ternyata melakukan hal seburuk ini sama sahabat lo sendiri!," tuding Nabila sengaja menekankan kata 'dewasa'.
Cukup, Naya sudah tak bisa menahan emosinya. Cukup sudah di rendahkan oleh sahabatnya, cukup sudah di pandang rendah oleh pengunjung kedai ini.
"Kalian semua salah paham!," sanggah Naya menatap Abel, Nabila, dan Bela dengan sorot kecewa yang sangat jelas terlihat.
"Salah paham darimana? Semuanya udah jelas!," balas Nabila dengan suara sedikit tinggi.
"Lo semua bener bener egois! Bahkan lu ga ngasih gue kesempatan buat ngejelasin," gumam Naya namun di abaikan.
"Udah, ini tempat umum. Ada anak kecil di sini. Ga seharusnya kalian ngomong kaya gitu di depan anak kecil." tegur Azzam membuat Abel berdecih sinis.
"Gue bener-bener ga ngerti sama jalan pikiran lo!," ujar Bela lalu menarik Abel untuk pergi dari tempat tersebut, di ikuti oleh Nabila dan Cika yang menatapnya tajam.
Sebelum pergi dari tempat ini, Abel kembali melayangkan tamparan cukup keras di pipi Naya.
"Muna lo!," ucap Abel penuh penekanan.
Naya tak menghiraukan rasa sakit yang menjalar di pipinya, yang saat ini ia lakukan adalah menatap Azzam dengan tatapan seolah-olah berkata 'ini salah paham'.
Airmata Naya meluruh begitu saja, ketika Azzam menatapnya dengan tatapan datar dan langsung melewatinya begitu saja, di ikuti Randy di belakangnya. Bahkan Azzam tak memberinya kesempatan.
"B-Bii, mereka salah paham." ujar Naya menangis sambil menatap Abian.
Abian mengelus bahu Naya berusaha menenangkan sepupunya itu. Abian menggeram pelan, kenapa jadi seperti ini?!!
"s****n!," umpat Abian pelan dengan tangan terkepal.
"Kakak hiks," Tiara menatap Naya dengan mata yang sudah berlinang, bahkan ia mencekram lengan Abian yang menggendong saat ini.
Naya menatap Tiara yang menangis ketakutan, seharusnya Tiara tidak melihat hal ini.
"Lo bawa Tiara balik ke rumah," pinta Naya pada Abian.
"Terus lo gimana?," tanya Abian khawatir.
Naya tersenyum tipis "Gue bisa naik ojek," ujarnya lalu berjalan keluar kedai, mengabaikan tatapan pengunjung maupun karyawan kedai tersebut.
Dengan cepat Naya berlari ke pangkalan ojek di sekitar kedai, dan langsung menaiki salah satu motor.
"Mau kemana, Neng?," tanya tukang ojek tersebut sedikit bingung, lalu ia memberikan helm kepada Naya.
Naya mengusap airmatanya pelan "Jalan aja dulu, Bang!," jawab Naya singkat, dan setelahnya memakai helm tersebut.
Tukang ojek tersebut mengangguk dan langsung menjalankan motornya meninggalkan pangkalan ojek tersebut.
Naya menghembuskan nafasnya pelan, setelah itu menatap jalanan yang padat. Tanpa menyadari ada yang menatapnya dengan senyuman senang.
"Rencana kita berhasil!!," pekik seseorang senang sambil bertepuk tangan.
'Maafin gue, Nay,".
✨✨✨
"Kembaliannya ambil aja," ujar Naya menyodorkan uang dengan nominal 20.000 pada tukang ojek yang baru saja ia tumpangi.
Sepeninggal ojek tadi Naya membalikan tubuhnya dan masuk ke dalam minimarket.
Naya berjalan ke arah lemari es untuk mengambil es krim, setelah itu Naya beralih ke rak coklat. Setidaknya dua makanan itu akan memperbaikin mood Naya nantinya.
Naya berjalan ke arah kasir dan membayar barang yang di belinya.
"Ada yang aneh sama saya mba?," tanya Naya saat kasir tempat dia membayar terus meliriknya.
"Kakaknya habis nangis ya?," tanya kasir itu sambil meletakan es krim dan coklat yang di beli Naya dalam kantong plastik.
"Keliatan banget ya mba?," tanya Naya.
Si kasir mengangguk.
"Makasih mba," ujar Naya menerima kantong plastik itu lalu keluar dari minimarket.
Naya menghela nafas dan mulai berjalan menyusuri trotoar. Naya memang sengaja singgah di minimarket yang ada di depan komplek perumahannya. Gadis itu mengambil satu es krim di kantong plastik dan membukanya.
Naya m******t es krim itu dengan tatapan kosong, pikirannya masih memikirkam kejadian tadi.
Naya meringis saat pipinya terasa nyeri, Naya bahkan tak tau apakah tamparan Abel tadi meninggalkan bekas atau tidak.
Naya mempercepat langkah kakinya agar sampai ke rumah. Naya ingin membersihkan tubuhnya dan melepaskan penat.
Setelah 5 menjt berjalan akhirnya gadis itu sampai di depan rumah dan segera membuka pagar untuk masuk.
Naya membuka pintu rumahnya menggunakan kunci cadangan yang sengaja di berikan Kirana untuknya, setelah pintu terbuka, Naya langsung masuk dan berlari menuju tangga tanpa menutup kembali pintu rumahnya itu.
Sebelum menuju tangga, Naya berjalan ke arah dapur untuk meletakan es krim dan coklatnya di dalam kulkas.
Airmatanya kembali menggenang ketika mengingat kejadian di kedai tadi, tatapan datar Azzam yang ia dapatkan. Jujur, Naya sangat berharap Azzam membelanya saat Abel menamparnya tadi. Tapi yang ia dapatkan, hanya tatapan datar dan errr kecewa?
Naya juga kecewa, sangat! Itukah yang di namakan sahabat? Seharusnya sahabat itu saling percaya dan mengerti. Tapi kenapa ke-empat sahabatnya itu bersikap egois? Mereka menghakimi Naya tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
Sahabat, Naya jadi ragu apakah ke-empat orang itu menganggapnya sahabat atau mereka hanya memanfaatkan kepintaran Naya sebagai kunci jawaban berjalan? Bukannya Naya suudzon, tapi melihat sikap dan perkataan mereka di kedai tadi, membuat Naya berfikiran seperti itu.
Naya menaiki tangga dengan pelan, bukan menuju kamarnya, melainkan kamar Abangnya, Regil. Sebelum membuka pintu kamar, Naya menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Ia tak ingin Abangnya mengetahui kejadian tadi.
Naya menghembuskan nafasnya pelan, dan langsung membuka pintu kamar Regil.
Ceklek~
Kosong, itulah yang mengambarkan keadaan kamar Regil saat ini. Naya menghembuskan nafasnya, ia lupa jika Abangnya pergi kerja kelompok, sesaat kemudian ia menutup kembali pintu kamar Regil dan mengayunkan kakinya menuju kamarnya.
Setelah membuka pintu kamarnya, Naya langsung membuka sepatunya dan menyalakan pendingin ruangan, Naya merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya.
Rasa panas di pipinya masih terasa, Naya memegang pelan pipinya dan meringis pelan. Perih, bukan hanya pipinya yang merasakan perih, melainkan hatinya juga merasakan.
'Lo lebih busuk dari sampah, biadap!,'.
Naya tertawa miris, biadap? Ahh, apakah Naya seperti itu?
Sampah? Apakah Naya pantas disebut seperti itu oleh sahabatnya sendiri?
Sahabat seperti apa yang tega mengatakan seperti itu? Jujur saja, Naya lebih memilih ditampar ratusan kali, dari pada mendengar kalimat yang menyakitkan hatinya.
Terkadang perkataan lebih menyakitkan dari pada kontak fisik. Jika fisik yang terluka, kita masih bisa menyembuhkannya menggunakan obat-obatan. Tapi, jika hati yang terluka, kita bisa menyembuhkannya dengan apa?
Naya mengambil ponselnya dari dalam tas, setelah itu membuka aplikasi w******p, Naya melihat notifikasi yang masuk.
Fantastic eight
Anda telah dikeluar dari grup oleh Abel Ramadhani✨
Naya menghela nafasnya pelan, kemudian ia melempar ponselnya ke sembarang arah dan berjalan ke depan cermin.
Naya terkekeh dan memegang pipinya, ternyata tamparan Abel membekas. Semuanya membekas, tamparan, perkataan, tuduhan, bahkan makian Abel sangat membekas.
Naya berbalik badan dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah siap membersihkan diri Naya berjalan ke nakas untuk mengambil 1 keping obat dan air mineral di laci nakasnya. Naya memang menyediakan air mineral untuk berjaga jaga jika Naya haus tengah malam. Sedangkan obat, Kirana yang menyiapkannya.
Naya mengecek ponselnya untuk memastikan apa yang di lihatnya tadi benar apa tidak. Naya terkekeh, ternyata ia benar benar di keluarkan dari grup yang mereka bikin 2 tahun lalu. Segampang itu ternyata?
Naya menatap paracetamol yang ada di tangannya, mengeluarkan 5 butir dan meminumnya sekaligus. Naya ingin tenang untuk sementara.
Naya meletakan kembali paracetamol yang masih bersisa ke laci nakas kemudian berjalan ke arah saklar lampu dan mematikan lampu kamarnya. Naya menutup jendela dan gorden membuat kamar Naya semakin gelap.
Naya mengambil remot ac dan mendinginkan suhu ruangan lalu merebahkan tubuhnya.
Naya memejamkan matanya dan mulau tidur berharap ketika ia terbangun nanti semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi. Ya, semoga saja...
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤