-happyreading-
---
Naya menutupi telingannya dengan guling, suara berisik dari kamar Abangnya membuatnya terbangun. Tapi belum beberapa menit ia menutupi telinganya dengan guling, ia kembali menurunkan guling tersebut dan kembali memeluknya. Dahinya basah karena keringat. Gadus itu berdecak kesal.
"Ck, ditutupin guling pala gua gerah! Tapi kalo kaga ditutup, berisiknya naudzubillah!," gerutu Naya setengah sadar.
Tapi tunggu! Naya membuka kedua matanya dengan cepat. Suara berisik itu berasal dari kamar Abangnya bukan?
Berarti Abangnya sudah pulang?
Naya segera menyibak selimutnya, dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu dan keluar dari kamarnya. Dengan nyawa yang belum terkumpul semua Naya berjalan Semopoyongan.
Naya berjalan dengan mata tertutup, karna nyawanya belum sepenuhnya terkumpul membuat Naya masih sedikit mengantuk. Ditambah lagi, matanya yang sedikit perih karna habis menangis.
Jedug!
"g****k! Sapa yang naro dinding di sini woy?!!," pekik Naya mengelus hidungnya yang terpentok dinding.
Dengan refleks, ia memukul dinding putih di hadapannya dan kembali meringis karna rasa perih yang menjalar ditangannya.
Naya menghentakan kakinya dan berjalan cepat ke kamar Abangnya, bukannya diam, suara musik itu semakin menjadi. Mana musik yang mereka dengarkan, musik dangdut pula!
Ceklek!
"BERISIK WOI!," teriak Naya membuat ketiga cowok yang ada di dalam kamar bernuansa hitam itu berjengkit kaget.
Naya menutup mulutnya, ia tak menemukan batang hidung Regil. Yang ia dapatkan, hanya tiga lelaki yang bertelanjang d**a sambil berjoget tidak jelas. Yang satu berdiri di atas kasur, di tangannya ada guling, seolah sedang bermain gitar. Sedangkan yang dua lagi, saling berhadapan dan berjoget.
"A-Abang mana?," tanya Naya terbata-bata, merasa malu melihat 3 cogan bertelanjang d**a.
Salah satu dari mereka menggaruk leher belakangnya, sedangkan yang satu lagi mematikan musik yang sedang asik-asiknya mereka dengarkan.
"Anu dia tadi ngambil minum," jawab salah satu dari mereka canggung.
Naya menganggukan kepalanya, kemudian dengan cepat ia memutarkan badannya dan berlari ke arah tangga lalu turun ke bawah untuk menemui Regil tanpa menutup pintu kamar abangnya. Biarkan saja nanti laki-laki itu yang menutup pintu.
"Itu tadi adek si Regil? Cakep cuy!," ujar salah satu dari mereka lalu kembali menghidupkan musik dan melanjutkan aksi mereka.
"DORR!!," Naya menepuk bahu Regil dari belakang, membuat sang Abang terbatuk.
"Ekhem!!," dehem Naya seraya mengelus punggung Regil.
Naya terkekeh pelan saat Regil berbalik menatapnya. Selain menjahili bunda, Naya juga senang menjahili Regil.
"Gua kaget g****k!," kesal Regil menoyor pelan kepala Naya.
"Ya maap atuh bos!! Itu temen lu berisik banget Bang," adu Naya seraya menunjuk ke arah kamar Regil.
Regil tak menjawab, ia justru memegang pipi Naya yang sepertinya lebam, di tambah lagi sudut bibirnya luka. Mata adiknya juga sembab. Regil mengerutkan dahinya, bukannya tadi pagi Naya pergi ke acara keluarga bersama Ayah dan Bunda. Namun kenapa keadaan adiknya jadi seperti ini?
Harusnya Naya masih berada di rumah tante Lisa, namun kenapa Naya sudah balik duluan? Bahkan Regil tak menyadari bahwa Naya sudah berada di rumah. Makanya ia membiarkan teman-temannya memutar lagu dangdut dengan volume keras. Pantas saja pas datang pintu rumah sudah terbuka lebar.
"Ini kenapa?," tanya Regil seraya menekan pipi Naya yang sedikit merah.
"Sakit dodol!," ringis Naya menepis tangan Regil dari pipinya.
"Di tampar orang!," sambungnya lagi.
"Oh," Naya melongo melihat respon Regil yang terkesan cuek.
Naya menggerutu kesal, ia pikir Regil akan marah dan khawatir ketika mengetahui adiknya yang cantik ini habis di tampar orang. But hell!! Regil bahkan nampak acuh.
"Napa lo? Ngehayal gue bakal marah, terus nyari orang yang nampar lo gitu?," tebak Regil melihat Naya yang memasang wajah cemberut.
Naya mengangguk dan saat itu juga tawa Regil pecah.
"Jangan kebanyakan baca novel b**o! Kebanyakan ngayal kan lu?! Halu!!," ledek Regil lalu berjalan mengambil es batu di kulkas.
"Nih kompres tu pipi!! EH JANGAN DI DI MAKAN g****k!," Regil memukul tangan Naya yang hendak memasukkan es batu ke dalam mulutnya.
"Kebiasaan banget sih lu, ngemil es batu! Kek orang susah aja. Gua nyuruh lo ngompres tu pipi, bukan nyuruh lo ngemil itu es!," ujar Regil mengompres pipi Naya.
"Yaudah sih maap!," balas Naya menyengir lalu mengambil es batu di dalam wadah.
Regil menghela nafas pelan lalu beranjak untuk mengambil sapu tangan di kamar orang tua mereka. Sambil berjalan ia melipat sapu tangan itu. Regil kembali di hadapan Naya, mengambil beberapa cube es batu dan meletakannya di atas sapu tangan lalu membungkusnya.
"b**o di piara! Kalo kaya gitu yang ada baju lo basah," ujar Regil mengompres pipi adiknya itu dengan lembut.
"Lo tuh ga bisa lembut dikit napa jadi abang! Marah-marah mulu idupnye. Cepet tua lo ntar!," ujar Naya mengomel membuat Regil menghela nafas.
"Iya adik ku yang manis, yang cantik, yang rajinnnn. Ini kompresannya pegang sendiri, gue mau ke kamar." ujar Regil dengan suara lembut yang di buat-buat dan senyum terpaksannya.
Setelah Naya menerima kompresan tersebut, Regil langsung berbalik meninggalkan Naya untuk melihat kondisi kamarnya yang mungkin sudah seperti kapal pecah.
✨✨✨
"Nando," Naya tersenyum dan menerima uluran tangan lelaki di hadapannya.
"Naya, Bang," balas Naya tersenyum manis. Jika di perhatikan, cowok ini lebih tampan dari yang lain.
Wajahnya yang terlihat lebih manis, hidung mungil mancung, rambut hitam pekat, dan kulit putih bersihnya membuat Naya merasa gagal menjadi cewek tulen. Bukannya tampang laki ini seperti banci, jika kalian berpikir seperti itu. Hanya saja, dia terlihat perfect di mata Naya.
"Woi udeh woi!!," Reno, salah satu dari mereka memukul tangan Nando.
Dengan refleks Naya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nando, kemudian tertawa melihat Reno yang di tabok kasar oleh Nando.
"Punya temen ga ada yang beres," guman Hanif melihat kelakuan dua sahabatnya yang seperti anak kecil.
Naya yang mendengar gumaman itu sontak tertawa, membuat dua makhluk absurd itu berhenti dan menatap Naya.
"Biasa aja dong natap adek gue!," tegur Regil melempar guling ka arah Nando dan Reno.
"Ah males ah, gua pulang dah!!," rajuk Reno memakai jaket kulitnya dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Melihat itu, mereka semua melongo tak percaya. Tak ada yang mau mengejar Reno yang sudah berjalan keluar kamar. Namun, tak lama kemudian Reno kembali masuk dengan wajah kesalnya.
"Si anjing, gada gitu inisiatif untuk ngejar gue?!!!," kesal Reno melemparkan kunci motornya.
"Najis banget," balas Regil bergidik jijik.
"Lu serius mau pulang?," tanya Hanif.
"Mau jemput si Nweng Jaenab tercintah," jawab Reno membuat Hanif mendengus geli.
"Di denger si Nabila, auto di putusin lu nyet," Kekeh Hanif lalu berdiri dari posisi duduknya "Gue pulang juga dah," pamit Hanif.
Sedikit informasi, Reno memang memiliki kekasih bernama Nabila. Namun bukan Nabila sahabat Naya. Nabilanya Reno itu orang yang berbeda.
Mengingat Nabila, Naya kembali mengingat kejadian tadi. Gadis itu menghela nafas dan memasang senyum pada Reno dan Hanif yang akan pulang.
Sepeninggalan Reno dan Hanif, Nando menggarukkan kepalanya yang tak gatal. Merasa sedikit tidak enak dengan Regil dan Naya, namun jika ia pulang sekarang, yang ada ia akan diteriaki oleh Mama tercintahnya. Pasalnya ia baru saja menghilangkan tupperware sang Mama.
"Napa lu? Di sini aja sih mau nginap juga ga papa," ujar Regil yang bisa mengartikan ekspresi Nando.
"Gua mandi dulu ya, awas aja lu grepe-grepein adek gua! Gua sentil burung lu ye!," sambung Regil seraya mengangkat tangannya.
"Abang mandi dulu ya, lu sana sama si Nando dah! Maen apa gitu," Naya mengangguk mendengar ucapan Abangnya.
"Kita ke kolam di belakang aja yuk!," ajak Naya pada Nando.
"Gas lah!,"
Akhirnya Naya berjalan beriringan dengan Nando menuju ke kolam belakang.
✨✨✨
"Pipi lo kenapa? Abis di tampar?," tanya Nando ketika melihat pipi Naya sedikit lebam.
Naya mengangguk pelan, hati kembali merasakan sakit ketika mengingat kejadian di kedai tadi.
"Lu bisa jadi tempat curhat kaga, Bang?," tanya Naya membuat Nando terkekeh.
Naya butuh teman curhat sekarang, biasanya kalo ada masalah Naya selalu berkeluh kesah dengan Nabila. Namun sekarang justru Nabila lah yang akan ia curhatkan.
"Jangan njir! Mulut gua ember," gurau Nando membuat Naya tertawa kecil.
"Serius?,".
"Kaga, cerita aja gua dengerin kok!," pinta Nando santai.
Naya memasukkan kakinya ke dalam kolam merasakan dinginnya air kolam tersebut dan membiarkan celananya basah, di ikuti dengan Nando.
"Nay punya sahabat 4 orang, nah namanya Nabila, Abel, Bela, sama Cika. Nay sama Nabila udah sahabatan 3 tahun lebih, sedangkan sama Abel, Bela, Cika, baru 2 tahun,".
"Nah terus Nay naksir sama temen sekelas Nay, namanya Azzam. Tapi, temen Nay ga ada yang tau kan, kecuali Bila. Nay mendem perasaan udah 2 tahun ke si Azzam. Sekeras apapun Nay mau lupain dia, Nay bakal keinget terus,".
"Dan sekarang Nay sama dia itu lagi deket, dia antar jemput Nay sekolah, terus dia ngenggam tangan Nay. Terus kalo Nay baper, Nay salah?," tanya Naya yang di balas gelengan oleh Nando.
"Baper itu wajar, setiap orang punya perasaan terlebih cewek yang perasaannya itu lembut dan tulus. Tapi, jangan terlalu berharap, bisa aja dia ngelakuin hal itu karna dia cuma menganggap lu sebagai teman ga lebih. Terkadang berharap itu indah jika faktanya sesuai dengan harapan kita. Tapi sebaliknya, akan sakit jika harapan itu tidak sesuai dengan harapan kita," balas Nando serius.
"Terus kalo sahabat kita nampar kita karna cowo, itu salah?," tanya Naya membuat Nando menoleh.
"Jadi itu di tampar sama sahabat lo?," tanya Nando balik.
Naya mengangguk "Nay di tampar Abel karna cowok," ujar Naya sedih lalu menunduk.
"Gimana bisa?,".
"Jadi gini, kan di sekolah kita juga deket sama tiga cowok, si Azzam, Abian, sama Randy. Nah si Abel itu naksir sama Abian, jadi tadi kan ada acara keluarga. Nah, Nay ikut kan tadi, eh taunya ada si Abian. Ternyata Abian itu sepupunya Nay, terus ada sepupu Nay yang masih kecil nangis minta es krim. Yaudah, akhirnya Nay sama Bian ajak dia ke kedai es krim biar ga nangis lagi," jelas Naya yang di dengarkan serius oleh Nando.
"Tapi pas di kedai, ternyata ada temen-temen Nay juga. Emang sebelumnya Randy ngajak Nay jalan, tapi Nay tolak karna ada acara keluarga kan. Terus Abel salah paham dan nampar Nay 2 kali, dia juga ngatain Nay. Sahabat Nay yang lain juga ikut ngatain Nay, apa itu yang di namakan sahabat?," sambung Naya berusaha menahan airmatanya agar tidak menetes namun ia gagal.
"Dan yang bikin Nay sedih lagi, Azzam ga ngebela Nay sama sekali. dia malah natap Nay dengan tatapan datar dan dingin, terus ninggalin Nay," Naya mengusap airmatanya yang menetes.
Nando merentangkan kedua tangannya, dan langsung menarik Naya ke dalam dekapannya. Membiarkan Naya menumpahkan semua kesedihannya. Ia bahkan mengelus lembut rambut Naya.
"Bilang ke temen lo, cinta bukan alasan untuk berlaku hal bodoh!,"
Naya mengangguk di dalam pelukan Nando berusaha menahan isakannya, bagaimanapun Naya masih malu menangis di pelukan yang baru ia kenal.
"Nangis aja kali, ga usah di tahan." ujar Nando membuat Naya tertawa pelan dalam tangis.
Naya tertawa sambil menangis lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan Nando. Naya mengusap air matanya dan menghela nafas pelan.
Sebenarnya Naya masih ingin berada di pelukan Nando yang entah kenapa membuat nyaman dan tenang. Namun, ia tak mau Regil melihat hal itu dan salah paham lagi. Tidak, Regil tidak protectif. Naya hanya malas jika Regil akan mengatakan dan bertanya hal yang tidak-tidak nanti karena Regil itu orangnya kepo tingkat dewa.
"Kalo nangisnya belum puas, nangis aja dulu. Biar mata lo sekalian sembab," gurau Nando membuat Naya cemberut.
"Apaan sih bang," elak Naya lalu matanya kembali berair. Memang benar, di saat mulut sudah tidak bisa berbicara, mata lah yang akan menunjukannya.
Naya sudah berhasil meredakan tangisnya namun ia masih sedikit sesegukan. Tak lama Regil datang dari dalam dengan handuk yang masih tergantung di lehernya.
"Gue mau go food nih, lo pada mau apa?," tanya Regil dengan ponsel di tangan kanannya.
"Richeese level 5," ujar Naya di balas anggukan oleh Regil.
"Lo mau apa?,"tanya Regil beralih pada Nando.
Nando menggaruk tengkuknya "Samain aja sama Naya," balasnya.
"Yaudah richeese aja semua kali ya," gumam Regil lalu melakukan delivery order si salah satu aplikasi.
"Lo yang bayar kan bang?," tanya Naya.
"Nando," balas Regil membuat Nando mengernyit.
"Apa-apaan lo??," gurau Nando membuat Regil mencibir.
"Itu bayaran karna lo pada udah bikin kamar gue kek kapal pecah," ujar Regil membuat Nando tertawa.
"s****n lo." umpatnya pelan.
"Kamar lo suram banget anjir," omel Regil pada Naya.
Tadi Regil sempat masuk ke kamar Naya untuk mengambil chargeran karna chargeran miliknya tertinggal di dalam mobil dan Regil merasa malas untuk berjalan ke garasi. Saat masuk ke dalam kamar Naya, Regil sedikit terkejut karna kamar Naya gelap gulita dengan suhu ruangan yang lebih dingin dari biasanya.
"Lo ada masalah apa lagi? masalah cinta? makanya ga usah cinta-cintaan." omel Regil merangkul adiknya. Ia tau bahwa Naya habis menangis lagi. Regil bahkan melihat Naya menangis di dalam pelukan Nando.
"Udah gausah cengeng, gue ga suka punya adek yang gampang nangis." ujar Regil mengacak rambut Naya membuat Naya tak jadi sedih dan merasa kesal.
Akhirnya mereka bergurau di pinggir kolam sambil menunggu orderan Regil tadi.
✨✨✨
"Ini serius gamau singgah?," tanya Nando sedikit kencang karena hembusan angin.
Naya menggeleng "Gak mau!! Kita keliling-keliling aja," balas Naya sedikit memajukan tubuhnya.
Naya tersenyum menikmati lampu-lampu kota dan memperhatikan gedung-gedung yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Saat ini mereka tengah berada di jalanan dengan Nando yang mengendarai motor milik Regil.
Tadinya Naya ingin menyewa ojek online hanya untuk berkeliling kota, namun Nando menawarkan diri karena katanya biar hemat biaya. Lagian Nando juga tidak ada kerjaan, jadi lebih baik ia menemani Naya.
"Makasih bang udah mau nemenin Nay," ujar Naya saat di lampu merah.
Regil menatap wajah Naya dari spion lalu tersenyum meskipun Naya tak melihatnya "Iya sama-sama,"
"Lo emang suka nightride kaya gini?," tanya Nando di balas anggukan Naya.
"Bang Nando juga suka nr?," tanya Naya.
"Gue sering nr sama temen gue kalo gabut, rame rame gitu. Kapan-kapan mau ikut?," tawar Nando di balas anggukan semangat dari Naya.
"Mau banget!!!,"
"Tapi gue bisanya nr jam 12 ke atas Nay, bisa di gorok gue bawa anak gadis orang jam segitu. Apalagi biasanya gue balik nr subuh-subuh," ujar Nando terkekeh.
"Yahh!!," ujar Naya kecewa.
Jam 11 malam belum balik saja ia sudah di teror telfon oleh sang Bunda. Gimana kalau dia keluar jam 12 malem terus balik subuh? Mungkin nama Naya akan hilang dari kartu keluarga.
Lampu merah berganti menjadi hijau, Nando kembali menjalankan motornya dan Naya kembali menikmati pemandangan kota sambil mengobrol dengan Nando sesekali.
✨✨✨
Tbc
Thanks for read ❤