"Bangunlah, Yang Mulia Putra Mahkota." Gabriel menahan gemetar di tangannya saat menyentuh pundak sang adik yang bergetar hebat karena menangis. Adiknya kemudian mendongak, dengan wajah basah dan gelengan kuat. "Jangan panggil aku seperti itu, Kakak. Itu menyakitiku," pinta adiknya dengan suara bak anak kecil. Tanpa sadar, Gabriel tersenyum. Teringat bagaimana dulu Falerious selalu berlari mengikutinya. Bahkan dulu ibunya selalu tertawa setiap kali Falerious merengek, minta disuapi juga oleh ibunya. Seperti ini suara Falerious saat itu, meskipun kini suara adiknya sudah lebih dalam. "Bangunlah, Fal. Lututmu akan sakit," ujar Gabriel lagi. Barulah adiknya bangun, masih dengan tangis hebat yang membuat tubuhnya bergetar. Lantas Gabriel kembali menatap ayahnya, yang masih duduk dengan

