Tertegun, Gabriel tersenyum puas melihat taman yang memasung kenangan masa kecilnya, masih tampak sama. Tidak ada yang berubah, masih secantik yang ada di ingatannya. Dulu dia sering kali hanya duduk bersama dengan ibunya. Meski dulu dia tidak begitu menyukai teh, namun bersama ibunya, Gabriel mampu menghabiskan satu cangkir teh dan juga kudapan buatan Calista. Kenangan itu masih sejelas seperti baru terjadi kemarin, dia benar-benar memeluk kenangan itu dengan sangat erat. Ditambah, saat ini ada sosok lain yang bahkan menonjol di tengah para lotus. Gabriel seakan sedang melihat ibunya di masa lalu, cantik dan juga teguh. "Apakah aku membuatmu menunggu lama?" Sosok itu langsung menoleh, bangkit dengan senyum berbinar di wajahnya. "Saya bahkan lupa sudah menunggu berapa lama, karena ter

