bc

Kianna

book_age16+
3
FOLLOW
8
READ
dark
HE
fated
soldier
betrayal
lies
faceslapping
crime
sacrifice
Neglected
like
intro-logo
Blurb

Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya emang kebanggan dari semua orang, tapi tidak dengan kianna. Kesabaran hati, mental dan fisiknya begitu teruji dengan kerasnya kehidupan.

Kianna selalu hidup dengan kekerasan dan hatinya selalu dipenuhi rasa trauma. Hingga membuat Kiara memutuskan untuk pergi jauh dan memulai kehidupan barunya di kota orang. Berusaha untuk menggapai semua kebahagiaan yang selama ini dia impikan.

Akankah dia bisa mewujudkan impiannya untuk menggapai sebuah kebahagiaan?

chap-preview
Free preview
Part 1

"Mulai malam ini kita cerai." Ucapan tersebut keluar dari mulut ayah Kianna.

"Oke, pergi kamu dari sini sekarang juga," balas Siska, ibu Kianna.

Kianna yang masih terlalu kecil yang sebenarnya belum sepantasnya menyaksikan hal tersebut hanya menangis di dalam kamar.

"Dan jangan pernah sekali-kali kamu membawa Kianna," ujar Siska lagi.

Ayah Kianna tidak mendengarkan ucapan Siska tersebut. Dia mengemas semua pakaiannya.

"Ayahhh," tangis Kianna yang tidak ingin ayahnya pergi.

"Kamu baik-baik disini ya sayang. Ayah pergi dulu," ayah Kianna berusaha menenangkan Kianna.

"Kamu gak usah dekat-dekat sama dia Kianna." Siska menarik paksa tangan Kianna yang sedang memeluk ayahnya.

"Ayahhh...." Kianna terus saja menangis.

Ayah Kianna tampak tidak tegas mendengar nya, namun dia harus tetap pergi dari rumah itu.

Kianna hanya mampu menangisi kepergian ayahnya tanpa bisa melakukan apapun.

***

6 tahun kemudian

Tanpa terasa, sudah 6 tahun semenjak kejadian itu. Sekarang Kianna sudah duduk di bangku kelas 3 SMP.

Hari ini adalah hari dimana Kianna menerima rapor. Tapi ada satu hal yang membuat Kianna terdiam. Kali ini nilainya sedikit turun dari biasanya. Mungkin karena efek dia sakit ketika ujian kemarin.

Kianna baru saja memasuki rumahnya.

"Assalamualaikum," ujar Kianna yang baru saja memasuki rumahnya.

Di sana tampak Siska dan ayah tirinya sedang duduk di ruang tamu.

"Dapat peringkat berapa kamu?" tanya Siska.

"Peringkat 2 Bu," jawab Kianna takut.

"Dasar bodoh. Seharusnya kamu itu peringkat 1, kenapa malah dapat peringkat 2. Emang g****k kali otak kamu itu ya," maki Siska pada Kianna. Hanya mampu diam saja mendengar makian dari ibunya itu.

"Udahlah, biarin aja mau dia dapat peringkat berapa," ujar Dani, ayah tiri Kianna.

"Kamu gak usah belain anak ini, mas."

"Maafin Kianna, Bu," ujar Kianna yang terlihat sangat takut.

Tiba-tiba saja Siska menarik tangan Kianna dan mencekeram nya dengan keras.

"Ikut ibu kamu sekarang!"

"Sakit Bu, lepasin tangan Kia Bu." air mata mulai jatuh dari pelupuk mata Kia.

Namun Siska tetap saja menarik tangan Kianna dengan keras. Dani yang melihat itu diam saja tanpa ada niat membantu Kianna.

Siska mendorong tubuh Kianna kedalam kamarnya.

"Dasar anak yang gak berguna kamu. Mendapatkan nilai yang bagus aja gak bisa kamu.Percuma saja saya sekolahin kamu!"

Siska menarik kasar rambut Kianna.

"Sakit, Bu," lirih Kianna.

Plakk

Bukannya melepaskan, Siska malah menampar pipi Kianna. Rasa panas menjalar di pipi Kianna. Air matanya semakin deras berjatuhan dari matanya.

"Sakit ya. Mangkanya jadi anak itu yang berguna, gak cuma nyusahin hidup orang aja." Siska mendorong kasar tubuh Kianna.

Setelah itu, Siska pun keluar dari kamar Kianna setelah membanting pintunya dengan keras.

Kianna tidak mau terlihat lemah. Dia berusaha menahan tangisannya. Definisi nangis tapi jatuh kedalam, itulah yang dirasakan oleh kianna saat ini.

***

"Kia!" Panggil Rara, sahabat Kianna yang saat itu sedang duduk di dalam kelasnya.

"Ada apa, Ra?" tanya Kianna.

"Bentar lagi kita kan mau lulus nih, kamu mau lanjut kemana?" tanya Rara.

"Belum tau aku, Ra. Masih ragu soalnya," jawab Kianna.

"Gimana kalau kita nanti lanjut ke SMK aja, nanti kita ngekost nya bareng, gimana?

" bagus juga sih. Yaudah, nanti kita lanjut kesana aja," balas Kianna.

"Nah gitu dong. Kalau sahabat itu harus selalu sama-sama," ujar Rara sambil merangkul Kianna.

"Halah, gaya mu," ejek Kianna.

Mereka pun sama-sama ketawa.

Mereka pun sama-sama melanjutkan aktivitas mereka.

Waktu pelajaran pun selesai. Kianna, Rara dan teman-temannya yang lain pulang dari sekolah.

Kianna yang baru saja sampai di rumahnya langsung melakukan pekerjaan rumahnya. Mulai dari mencuci piring sampai dari bersih-bersih rumah yang lain.

Setelah semua pekerjaan rumah nya selesai, Kianna pun mengerjakan tugas sekolah nya.

Ketika sedang mengerjakan tugas sekolah nya, Kianna ketiduran di meja belajarnya. Mungkin juga karena kelelahan mangkanya dia tertidur.

Tak lama kemudian, ibunya pulang kerja bersama ayahnya. Melihat Kianna yang sedang tidur, Siska pun mendorong tubuh Kianna menggunakan kakinya.

"He, bukannya masak malah enak-enak tiduran kamu. Gak tau diri banget sih kamu," maki Siska pada Kianna.

Kianna yang kaget pun refleks duduk.

"Maaf Bu, Kianna ketiduran habis Nikon tugas," balas Kianna yang suaranya terdengar lirih.

"Alah, alasan aja kamu yang banyak. Cepat masak sana!" Siska kembali mendorong bahu Kianna.

Dani yang melihat itu hanya diam saja tanpa sepata kata pun.

Kianna pun berdiri dan langsung pergi ke dapur untuk memasak makanan.

Melihat hanya ada sedikit bahan makanan dan kulkas pun sudah kosong, Kianna pun berniat untuk membeli bahan makanan yang baru.

"Bu, bahan masaknya tinggal dikit lagi. Gimana kalau aku beli tambahan nya dulu." Kianna menghampiri ibunya yang sedang memainkan ponselnya.

"Masak yang ada aja dulu, gak usah sok soan mau beli yang mewah-mewah kamu," balas Siska yang terdengar sinis.

"Tapi Bu...."

"Gak ada tapi-tapian. Cepat masak sana, kami udah kelaparan nungguin kamu selesai masak."

Kianna terpaksa kembali ke dapur. Dia pun memasak makanan seadanya saja karena memang bahan-bahannya juga terbatas.

Tak lama kemudian, makanan yang di masak oleh Kianna pun matang.

"Makanan nya udah selesai Bu," ujar Kianna memberitahu  ibunya.

"Ayo makan mas, makanan nya udah selesai." Siska mengajak suaminya untuk makan.

Ketika sampai di meja makan.

"Makanan apaan ini!" Siska mengebrak meja di depan Kianna.

"Kamu gak bisa apa masak selain ini?" bentak Siska lagi.

"Tapi, ma. Di dapur cuma ada itu, jadi aku hanya bisa memasak ini," balas Kianna.

"Alasan aja teruss!"

"Udah lah, ma. Mending kita makan keluar aja," ajak Dani.

"Iya mas. Gak napsu aku makan kalau makanan nya kek gini," ujar Siska.

"Kalau gitu kita berangkat sekarang," ujar Dani lagi.

"Kianna boleh ikut gak, bu?" tanya Kianna.

"Gak boleh. Kamu jagain rumah aja. Sekalian habisin tuh makanan kamu jangan buang-buang makanan kamu."

Kianna hanya terdiam mendengar jawaban dari ibunya tersebut.

Siska dan Dani pun pergi dan meninggalkan Kianna yang menatap mereka dengan pandangan sendu.

Kianna pun duduk di meja makan dan memakan makanan yang dia masak tadi.

Air mata yang sedari tadi Kianna tahan akhirnya jatuh juga.

Dengan cepat Kianna menghapus air mata yang membasahi pipinya itu.

"Gak, aku gak boleh lemah. Aku harus kuat, pasti akan ada sesuatu yang indah setelah ini," ujar Kianna.

Ini adalah kata-kata yang selalu dia ucapkan ketika dia lagi sedih.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Husband is not a Sissy

read
39.3K
bc

UNCONDITIONALLY (Full Version)

read
7.3K
bc

Lets Break Up!

read
9.1K
bc

My Sexy Housemate

read
8.8K
bc

The Devil Bad Boy

read
7.6K
bc

LIVE IN BRANDAL SCHOOL

read
4.9K
bc

Byantara-Aysha Kalau Cinta Bilang Saja!

read
260.7K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play