Tidak terlalu lama menunggu, akhirnya Bian dan teman - temannya datang dengan motornya masing - masing. Mereka berhenti tepat di depan Casilda yang beridiri di pinggir jalan. Terlihat Bian yang nampak sedikit gugup. Padahal, ini bukan pertama kalinya bertemu Casilda, tapi sejak ia jalan berdua di taman waktu itu, sebuah perasaan aneh muncul membuat dirinya selalu grogi saat di dekat Casilda.
" Hai? " sapa Casilda ke arah Bian dan teman - temannya.
" Hai juga Casilda, ada puding gak? " sahut Boma, Casilda hanya tertawa saja mendengar celetukan dari Boma.
" Otak lu puding mulu, BOM! " sahut nugi.
" Bian? kamu bener mau anter aku pulang? " tanya casilda hati-hati .
Bian menarik nafasnya dalam - dalam sebelum akhirnya di hembuskan dengan kasar " Ya." Jawab nya berusaha bersikap tenang.
" Udah Casilda, cepat naik ke atas motor. Kalo nungguin Bian yang nyuruh lo naik kelamaan. " Celetuk Delon.
" Iya betul. Ayo Alisa, naik motor sama abang Nugi. Nanti abang anterin sampe rumah, kasih tau aja di mana alamatnya. " Ucap Nugi melirik Alisa yang kini tersenyum ke arahnya.
" Gue pulang ke rumah Casilda juga karena hari ini mau nginap di sana sama Mira juga. " Jawab Alisa.
" Oh yaudah kalo gitu, sekalian aja Mira kamu naik di motor aku aja. Kan, satu arah tuh ke rumah Casilda, HE HE. " Boma merayu karena tak mau kalah dengan Nugi, ia segera menyuruh Mira naik ke atas motornya.
" Oke, deh. " Setelah semua naik, mereka melajukan motornya mengikuti Bian yang kini berada di barisan paling depan.
•••••
Casilda dan temannya turun dari motor saat sudah sampai di depan rumahnya. Mereka seperti habis convoy beriringan dengan motor beramai – ramai seperti itu.
" Makasih ya, udah mau anterin kita. " Ucap Casilda berterima kasih ke arah Bian dan teman - temannya.
" Iya sama - sama Casilda. " Sahut teman - temannya Bian, sedangkan Bian sendiri hanya diam.
" Kalian pada mau mampir dulu gak? Minum dulu gitu? " tawar Casilda, dengan cepat Bian angkat suara.
" Gak usah! kita semua pada mau langsung pulang kok. " Bian menoreh ke arah teman – temannya. " Ya, kan? " ucapnya meminta dukungan.
" Iya Casie, lagi pula kita juga gak enak sama orang tua lo kalo kita dateng ramai - ramai begini. Apalagi, udah malem. " Sahut Delon.
Bian bernafas lega mendengar temannya tidak setuju ikut mampir terlebih dahulu.
“ Iya Casilda, nanti kita di sangka mau tawuran lagi. “ Celetuk Boma.
" Gak apa – apa, kok. Orang tua Casilda lagi pergi ke luar kota. Jadi, di rumah gak ada siapa – siapa. " Jawab Casilda.
" Ayo mampir aja dulu, istirahat sejenak. " Tawar Casilda lagi. Dia berharap mereka ingin beristirahat sebentar di rumah Casilda agar ia dapat lebih lama bersama Bian, itu adalah alasan utamanya. " Mau ya? ayo masuk dulu. "
" Gak usah, makasih. " Bian tetap menolak . Dia seperti itu karena merasa dirinya tidak bisa jika terus berada di dekat Casilda terlalu lama. Hal itu membuat Bian terus saja merasa gugup, ia jadi tidak bisa rileks.
" Ada puding gak? " sahut Boma.
" Ada dong. ayo masuk aja dulu. gak usah malu – malu. “ Ujar Casilda dengan semangat. “ Di rumah ada banyak makanan, loh! " seru Casilda, ia berjalan lebih dulu untuk membuka gerbang rumahnya, mempersilahkan teman -temannya itu masuk ke dalam.
" Ayo masuk. " Ucap Casilda yang sudah beridiri di ambang pintu gerbang.
" Yaudah, kalo gitu. Kapan lagi kita makan gratis sekalian istirahat. " Delon melajukan motornya lebih dulu masuk ke dalam rumah Casilda di ikuti yang lainnya.
Bian memutar kedua bola matanya, ia merasa kesal dengan teman - temannya yang tidak mengerti perasaannya sama sekali.
" s**t! " batin Bian, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti teman -temannya itu masuk ke dalam rumah Casilda.
Casilda mengajak teman - temannya itu ke halaman di belakang rumahnya yang banyak di tumbuhi pepohonan, rumput hijau yang terlihat sejuk dan juga beberapa bunga yang warnanya bervariasi menambah ke indahan di taman itu. Di sana juga ada kolam renang mini dan beberapa bangku serta meja yang tertata rapih dan di lengkapi lampu taman untuk penerangan.
" Kalian duduk di sini aja, adem banget. " Casilda membuka pintu kaca yang mengarah masuk ke taman itu. Mereka berjalan masuk menelusuri taman itu mendekati bangku yang berjajar dan memilih duduk di sana.
" Sejuk banget! banyak bunga nya juga lagi warna - warni kayak anak ayam. " Celetuk Boma, ia melihat - lihat sekelilingnya.
" Itu gue sendiri yang tanam. " Sahut Casilda, ia berdiri di samping Boma yang kini sedang memandangi bunga - bunga yang tersusun rapih.
" Wah, hebat! " Delon ikut menyahut, ia yang tadinya sudah duduk, kini beranjak bangun untuk berdiri di dekat Casilda. Kemudian Delon melirik ke arah Casilda.
" Ternyata lo ga cuma bisa ngerawat bunga, tapi juga bisa bikin hati gue berbunga – bunga. " Celetuk Delon dengan asal, Casilda hanya tertawa saja tak menganggap ucapan Delon itu serius.
" Apaan sih lo, ngaco! " tiba - tiba saja Bian datang dan langsung menggeser Delon yang semula berdiri di dekat Casilda.
" Jangan semua cewek lo gombalin. " Ucap Bian ke arah Delon, Kini posisinya Bian sudah berada di dekat Casilda. Delon malah tersenyum melihat tingkah Bian seperti itu.
" Eh, Bian? " Casilda tersenyum lebar melihat kedatangan lelaki itu, ia mendongakan kepalanya menatap Bian yang sedikit lebih tinggi darinya.
" Casilda? “ panggil Boma yang kini sudah tidak berada di dekatnya.
“ Iya? “ Casilda menoreh ke arah sumber suara.
“ Haus, nih. minumannya mana? " teriak Boma yang kini duduk di bangku bersama Mira, ia mencoba mencuri - curi kesempatan mendekati Mira saat ini.
" Oh iya, lupa! sebentar ya gue ambilin. " Baru saja ingin melangkah, Casilda menoreh ke arah Bian yang kini memandangi beberapa bunga yang tersusun rapih itu.
" Bian? " panggil Casilda, Bian pun segera menoreh. " Mau temenin aku gak ke dapur? "
" Mau kok dia. " delon mendorong pelan tubuh bian ke arah casilda. " Udah sanah temenin casilda siapin minuman. dia gak bisa bawa sendirian nanti. " ucapnya .
Bian melirik delon dengan tatapan tajam. bian merasa jengkel karena temannya itu selalu saja membuatnya melakukan sesuatu secara paksa.
" Oke. " Akhirnya Bian mengangguk setuju.
"YES! " Ucap Casilda semangat sambil mengayunkan tangannya. Ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan suguhan untuk teman - temannya itu. Bian ikut berjalan di samping Casilda.
Casilda mengeluarkan beberapa minuman dari lemari es dan juga beberapa makanan serta puding yang sengaja ia buat secara Cuma - Cuma tadi pagi. Casilda terlihat sangat sibuk menyiapkan makanan itu sedangkan Bian hanya diam melihat aktivitas gadis itu seraya menyandarkan tubuhnya di dinding.
" Butuh bantuan gak? " tanya Bian.
" Gak, kok. " Jawab Casilda, Bian hanya mengangguk saja.
Terakhir, Casilda mengeluarkan sebuah Cheese Cake lalu memotongnya jadi beberapa bagian. Casilda mengambil salah satu potongan kue tersebut lalu mengarahkan kepada Bian yang kini diam melihat ke arahnya.
" Bian cobain, deh. Ini aku yang buat, loh. Ayo, Buka mulutnya. " Ucap Casilda, ia menyodorkan kue itu ke arah mulut Bian yang masih tertutup rapat.
" Gak usah, Casilda. " Bian memundurkan wajahnya, ia menolak Casilda yang ingin menyuapkan potongan kue itu ke mulutnya.
" Gak apa - apa Bian. Cobain sedikit aja? “ paksa Casilda. “ Ayo, buka mulutnya Bian. "
" Ini enak kok serius, deh. Kamu gak usah takut aku racunin. " Casilda terus memaksa, meskipun Bian sempat menahan tangan Casilda agar tidak mendekatkan kue itu ke mulutnya, tapi pada akhirnya Bian menyerah juga.
" Iya – iya. " Perlahan Bian membuka mulutnya, dengan segera Casilda menyuapkan kue tersebut ke mulut Bian.
" Enak, kan? " tanya Casilda penasaran kepada Bian yang kini tengah mengunyah makanan itu. Setelah beberapa detik akhirnya Bian menganggukan kepalanya.
" Enak, kok. Itu lo bikin sendiri? " tanya Bian yang masih mengunyah kue itu.
" Iya, Bian. Aku suka banget bikin kue atau makanan. Sebenernya aku kayak gini nurunin mamah aku, sih. Soalnya mamah juga suka banget masak. Jadi, aku ikut – ikutan, deh. " Jelas Casilda. Bian hanya diam mendengarkan gadis itu bercerita.
" Mamah aku bilang, jadi perempuan itu harus pandai masak biar makin di sayang suami. " Casilda tertawa membuat Bian tersenyum tipis.
" Bagus deh kalo lo pandai masak. Biar nanti suami lo gak di kasih makan puding terus. " Ledek Bian, kemudian lelaki itu tertawa lepas. Casilda tertegun melihat Bian tertawa bahagia seperti itu untuk pertama kalinya. Hal itu membuat Casilda juga ikut senang. Ternyata lelaki cuek di hadapannya itu bisa di ajak bercanda juga.
" Kan, kamu nanti suaminya. " Celetuk Casilda seketika membuat tawa Bian berhenti. Wajah Bian kembali ke ekspresi datar andalannya. Ia diam membeku saat Casilda berkata seperti itu.
" Bian, kamu tau gak? Di sini…. " Casilda melihat sekeliling dapurnya membuat Bian bingung. " Di dapur ini, jadi saksi betapa sering nya aku buatin kamu puding. " Ucapnya lalu ia tertawa pelan.
" Makasih, ya. " Hanya kata itu yang terucap dari mulut Bian. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa.
" PANTESAN AJA DI TUNGGUIN LAMA BANGET! TERNYATA LAGI PACARAN! " tiba - tiba saja suara mengejutkan itu terdengar nyaring membuat Casilda dan Bian kaget. Siapa lagi si pengganggu itu, kalau bukan si Boma tukang rusuh.
" Siapa yang pacaran? Gak usah sebar hoax deh lo, BOM! " gerutu Bian melihat ke arah Boma dan Alisa jalan ke arahnya.
"Cie – cie. " Alisa meledek Casilda saat sudah berada di samping nya.
" Apa, sih. " Casilda Terkekeh. " Oh iya, ini makanannya tolong bawain ya ke taman. " Pinta Casilda.
" Iya tenang, kita berdua aja yang bawa semua ini. “ Jawab Alisa, ia melirik Boma. “ Boma bantuin gue dong. " Alisa meminta tolong.
" SIAP! " dengan semangat Boma berjalan mendekati meja makan. Disana sudah ada makanan dan minuman yang tadi sudah Casilda persiapkan. Boma dan Alisa segera membawa semua makanan itu dan meninggalkan mereka berdua di dapur.
" Kita duluan, ya. " Ucap Boma. " Awas jangan macam - macam! " ledek lelaki berkepala botak itu.
“ Lo iseng banget sih, Boma! “ omel Alisa.
“ Biarin Aja. Oh iya, Mira udah punya pacar belum? “ tanya Boma kepada Alisa selaku teman dekatnya Mira.
“ Kenapa? Lo suka ya sama dia? “ ledek Alisa.
“ Sok Tahu. Udah ayo cepat jalannya. “ Ujar Boma. Alisa hanya tertawa saja melihat Boma mendadak gugup.
Bian menatap punggung Boma yang sudah semakin menjauh. Ia menoreh ke arah Casilda. Gadis itu terus saja tersenyum menatapnya. " Kenapa? " tanya Bian heran.
" Gak apa – apa. " Casilda menggelengkan kepalanya.
" Yaudah, ayo kita ke sana? " ajak Bian untuk segera kembali berkumpul bersama temannya.
" Bian. " Casilda menarik tangan Bian ketika lelaki itu ingin melangkahkan kakinya.
Mata Bian melirik ke arah lengan tangannya yang di pegang Casilda. " Kenapa? " tanya nya.
" Kenapa kita gak disini aja? Berduaan gitu, He He. " Casilda terkekeh sambil tertunduk malu membuat Bian menatapnya dengan heran kenapa gadis itu bertingkah aneh seperti ini.
" Lo kenapa, sih? " tanya Bian langsung.
" Gak apa – apa, sih. Cuma kepingin berduaan aja gitu sama kamu. " Ucap Casilda dengan lantang, rasanya jika sudah bersama Bian harga dirinya sudah tidak diperdulikan lagi.
" Casie? " Bian melirik kembali tangannya yang masih di genggam dengan maksud agar Casilda melepaskan genggaman itu. Merasa dilirik seperti itu, Casilda segera melepaskan tangannya yang menempel di lengan Bian.
" Maaf ya Bian, aku khilaf. " ucap Casilda dengan polos, ia tersenyum malu sambil menyampingkan rambut nya sendiri. " Oh iya, kamu tunggu di sini sebentar ya. " Belum sempat Bian jawab, Casilda langsung pergi begitu saja, entah gadis itu mau kemana.
Sambil menunggu Casilda, Bian memilih untuk duduk di kursi yang berada di dapur itu. " Mau ngapain sih dia? " fikir Bian.
Di sisi lain, saat ini di taman belakang, Boma dan yang lainnya sedang asik menikmati makanan yang tadi ia bawa. Berbeda dengan teman - temannya yang sibuk makan, Adrian lebih memilih bangun dari duduknya. Dia berjalan ke arah bunga warna - warni yang terlihat memesona itu. Ia diam berdiri di sana sambil memandangi keindahan bunga itu.
" Casilda tuh, anaknya gak bisa diam. " Celetuk Mira, tiba - tiba saja gadis itu sudah berdiri di samping Adrian. " Kalo bete, dia suka beli bunga – bunga. Terus nanti dia tanam dan di rawat. " Lanjut Mira, Adrian melirik ke arah Mira sebentar kemudian pandangan nya kembali lurus ke depan.
Lelaki itu sangat bersikap dingin sekali.
" Liat deh, mekar - mekar banget kan bunga nya? Dia telaten banget ngerawatnya. " Ucap Mira lagi yang berusaha membangun percakapan. Sesekali, Mira mencuri - curi pandangan menatap Adrian yang terlihat pendiam namun menurutnya sangat keren dan manis.
Namun, sayangnya Adrian tetap diam tidak merespon sama sekali pembicaraannya .
" Adrian, menurut lo Bian suka gak sama Casilda? " tanya Mira, Adrian hanya mengangkat bahunya menjawab pertanyaan dari Mira.
" Padahal Casilda suka banget sama Bian. Kasihan ya, cewek secantik dan sepintar dia di abaikan. " Mira geleng – geleng, seolah merasa kecewa dengan Bian yang tidak menyukai balik sahabatnya itu.
" Adrian? Gue ganggu lo ya? " tanya Mira lagi melihat Adrian sama sekali hanya diam sejak tadi seperti tidak tertarik untuk bicara dengannya. Perlahan Adrian menyampingkan tubuhnya menghadap Mira, hal itu membuat Mira gugup.
" Enggak kok. " Akhirnya Adrian bersuara juga membuat Mira merasa sangat senang, tapi setelah itu Adrian pergi berlalu meninggalkannya dan kembali duduk ditempat nya.
Mira melongo menatap Adrian pergi begitu, seolah merasa terganggu dengan keberadaannya.
" Ternyata ada yang lebih cuek dari Bian, yaitu Adrian! " mata Mira menatap sendu ke arah Adrian yang kini pergi Meninggalkannya.
Bian Masih Duduk Manis Di Dapur Menunggu Kedatangan Casilda. Tidak Terlalu Lama, Akhirnya Casilda Kembali Ke Dapur Menemui Bian, Tetapi Kali Ini Casilda Tidak Sendiri, Melainkan Bersama Sebuah Gitar. Bian Menatap Bingung Kedatangan Casilda.
" Mau Ngapain? " Tanya Bian Ketika Casilda Datang Membawa Sebuah Gitar.
" Ya Mau Main Gitar Lah, Bian. " Casilda Menarik Satu Kursi Ke depan Bian Agar Casilda Dapat Duduk Berhadapan Dengan Bian.
" Ini Gitar Punya Papah Aku. " Casilda Duduk Di kursi Yang Tadi Ia Tarik. Kini, Ia Duduk Berhadapan Dengan Bian.
Terlihat Bian Sedikit Gugup Berdekatan, Perasaan Itu Selalu Saja Muncul Jika Sudah Bersama Casilda. Namun, Bian Berusaha Bersikap Tenang Meskipun Aslinya Tidak.
Casilda Menaruh Gitar Itu Di pangkuannya. " Dulu, Gitar Ini Papah Aku Pakai Waktu Mau Nyatain Cinta Ke Mamah Aku, Loh! " Casilda Tersenyum Lebar Ke arah Bian. " Terus Di terima Deh, Sama Mamah Aku Karena Papah Nyatain Cinta Sambil Nyanyi. Katanya Itu Sangat Romantis. " Lanjut Casilda.
" Jadi, Aku Mau Coba Cara Papah Aku. Walaupun Aku Perempuan, Tapi Aku Gak Takut Untuk Menyatakan Cinta. " Seru Casilda, Ia Meninju Pelan d**a Bian.
Terdiam membeku Itu adalah salah satu kebiasaan bian ketika berada di dekat casilda.
" Kamu Tau Gak? " Ucap Casilda, Tentu Saja Bian Menggeleng Karena Tidak Tahu Apapun Maksud Casilda.
" Sebenarnya, Hal Yang Paling Di takuti Itu Bukan Pada Saat Menyatakan Cinta, Tapi Yang Membuat Takut Itu Ketika Menunggu Untuk Mengetahui Jawabannya. Yaitu Di terima Atau Tidak. " Terang Casilda, Bian Mengangguk Setuju Apa Yang Casilda Katakan Karena Ada Benarnya Juga.
" Waktu Kemarin Aku Menyatakan Perasaan Aku Ke Kamu, Sebenernya Aku Takut Banget. Walaupun Begitu, Tapi Aku Jadi Merasa Lega Karena Sudah Menyatakan Apa Yang Aku Rasakan! " Casilda Tersenyum Miris.
" Ya, Meskipun Tidak Ada Respon Dari Kamu. " Casilda Mengangkat Bahu Nya. " Atau Bisa Di sebut Bertepuk Sebelah Tangan! " Seru Casilda, Kemudian Ia Terkekeh.
Bian Mendengarkan Apa Yang Casilda Ceritakan, Tanpa Di sadari Sejak Tadi Matanya Lurus Menatap Tepat Di kedua Bola Mata Cokelat Pekat Milik Casilda. Bian Dapat Melihat Jelas Wajah Cantik Casilda Lebih Dekat Saat Ini.
Bibir Bian Seakan Ikut Tersenyum Ketika Melihat Casilda Tersenyum. Bian Memegang Dadanya Yang Tadi Di tinju Casilda Seakan Menembus Hatinya Yang Kini Bergemuruh.
" Aku Mau Nyanyi Buat Kamu. Cuma Sedikit Aja Kok, Kamu Dengerin Yah. " Casilda Mulai Mengatur Senar Gitar.
" Mau Nyanyi Apa? Emang Lo Bisa Main Gitar? " Tanya Bian Merasa Tak Percaya Melihat Casilda Akan Memainkan Gitar.
" Kita Liat Aja Nanti. " Jawab Casilda. Tidak Ingin Membuang Waktu, Casilda Segera Memetik Senar Gitar Itu Menimbulkan Alunan, Terlihat Casilda Cukup Pandai Memainkan Gitar Tersebut.
Casilda Memulai Intro Terlebih Dahulu, Bian Di buat Bungkam Oleh Aksi Casilda Saat Ini. Menurutnya, Casilda Semakin Terlihat Cantik Saat Memainkan Gitar Seperti Itu.
Mungkin Ini Memang Jalan Takdir Ku, Mengagumi Tanpa Dicintai.
Tak Mengapa Bagiku, Asal Kau Pun Bahagia Dalam Hidupmu. Dalam Hidupmu...
Ku Ingin Kau Tahu Diriku Disini Menanti Dirimu,
Meski Ku Tunggu Hingga Ujung Waktu Ku….
Rasa Ini Kan Abadi Untuk Selamanya ....
Casilda Menyanyikan Sedikit Lagu Dari Ungu Yang Berjudul 'CINTA DALAM HATI'.
Casilda Sengaja Menyanyikan Lagu Itu Karena Sesuai Dengan Keadaanya Saat Ini, Yaitu Kisah Cinta Nya Kepada Bian Yang Hanya Bisa Mengagumi Tanpa Memiliki. Tentu Saja Casilda Menyanyikan Lagu Itu Dengan Penuh Penghayatan.
Hati Bian Merasa Sangat Tersentuh Saat Casilda Menyanyikan Lagu Itu Untuknya. Dia Seperti Merasa Tertegur Dengan Lirik Lagi Tersebut. Bian Merasa Kagum Kepada Casilda, Selain Bisa Memainkan Gitar Cukup Lincah Ternyata Gadis Yang Duduk Dihadapan Nya Saat Ini Juga Memiliki Suara Yang Bagus. Sempurna!
" Bian, Kamu Kenapa Bengong Aja? " Casilda Melambaikan Tangannya Di depan Wajah Bian Hingga Lelaki Itu Terkaget Saat Sudah Tersadar Dirinya Tengah Melamun.
" Eh, Sorry. " Bian Mengerjapkan Matanya Berkali – Kali. " Tadi Gue Terbawa Suasana, Jadi Melamun Gitu. " Bian Segera Bangun Dari Duduknya.
" Ayo Kita Ke Taman. Gak Enak Kalo Kita Kelamaan Di sini. " Merasa Kini Suasana Sudah Mulai Membuat Kadar Ketegangannya Bertambah, Bian Memilih Untuk Segera Menghampiri Teman - Temannya.
Casilda Juga Ikut Bangun, Ia Berjalan Sejajar Dengan Bian Menuju Taman. Casilda Membawa Gitar Tersebut Untuk Bernyanyi Nanti Di taman.
" Gimana? Suara Aku Jelek Banget Atau Jelek Aja? " Pertanyaan Aneh Dari Casilda Membuat Bian Tertawa Pelan.
" Bagus Kok. " Jawab Bian, Tangannya Secara Refleks Mengacak Pelan Rambut Lurus Milik Casilda.
" Ternyata, Selain Pinter Di sekolah Dan Pandai Masak, Lo Juga Jago Main Gitar Sama Nyanyi. " Puji Bian Membuat Casilda Seperti Terbang Melayang Dan Butuh Pegangan Agar Dirinya Tidak Melayang Jauh Menembut Langit.
Ah, Rasanya Ini Menjadi Malam Minggu Terbaik Di dalam Hidup Casilda Setelah Sekian Lama. Meskipun Belum Memiliki Bian, Paling Tidak Memiliki Waktu Bersama Dengan Bian Saja Sudah Cukup Membuat Casilda Bahagia.
" Ternyata Lo Multitalent, Apa Aja Bisa. " Bian Berdecak Kagum Melirik Casilda Yang Berjalan Sejajar Di sampingnya.
"Ada Yang Gak Aku Bisa. " Casilda Menghentikan Langkahnya.
Bian Juga Ikut Menghentikan Langkahnya. " Apa Yang Gak Lo Bisa? " Kini Mereka Berdua Berdiri Saling Berhadapan Tepat Di ambang Pintu Masuk Ke arah Taman.
" Dapetin Kamu. " Casilda Meninju d**a Bian Untuk Yang Kedua Kalinya Seraya Tersenyum Tipis. Mulut Bian Tertutup Rapat, Seakan - Akan Terkunci Hingga Dirinya Tidak Dapat Mengatakan Apapun Mendengar Apa Yang Casilda Ucapkan.
Casilda Berjalan Lebih Dulu Mendekati Teman - Temannya Tengah Berkumpul Duduk Di kursi Yang Berada Di taman Sambil Memakan Cemilan Yang Telah Ia Sediakan Tadi.
Seulas Senyuman Terukir Di Wajah Bian. Dia Merasa, Casilda Adalah Gadis Yang Benar - Benar Pemberani Selalu Mengungkapkan Apa Yang Ia Rasakan.
Bian Masih Tersenyum Mengingat Bagaimana Wajah Polos Casilda Mengucapkan Segala Hal Dengan Lantang.
" Casilda.... Casilda.... " Bian Tidak Mengerti Lagi Bagaimana Jalan Fikiran Wanita Itu.
Bian Yang Baru Saja Sampai Juga Ikut Duduk Di Kursi Kosong Yang Bersebrangan Dengan Casilda. Bian Tidak Bisa Melupakan Apa Saja Yang Tadi Casilda Katakan. Ucapan Itu Terus Saja Terngiang Di Otak Bian Seperti Kaset Kusut.
" Casilda, Ini Kue Nya Enak Banget Beli Dimana? " Tanya Boma Kepada Casilda Yang Baru Saja Duduk.
" Gue Bikin Sendiri Tadi Pagi, Sekalian Sama Puding. " Sahut Casilda.
" Gila Sumpah Enak Banget! Lo Cocok Jadi Chef! " Seru Boma Mengacungkan Jempolnya Memberikan Pujian.
" Wuih, Casilda Bawa Gitar? Emang Lo Bisa Main? " Tanya Delon.
" Bisa Dong. " Sahut Casilda Semangat. " Ayo, Kita Nyanyi Bersama Biar Tambah Asik. "
" Lah, Ayo. Kita Nyanyi 'Ku Ingin Kau Mati Saja' Lagu Souljah. Asik, Tuh. " Saran Nugi.
" Nah, Boleh Tuh. Kita Teriak - Teriak Melepas Penat! " Boma Dan Delon Juga Ikut Setuju.
"Oke. " Casilda Mengeluarkan Ponselnya, Mencari Di Google Chord Gitar Atau Kunci Gitar Lagu Yang Ingin Dinyanyikan Itu. Setelah Ketemu, Ia Mulai Memetik Gitar Sesuai Chord Lagu Tersebut.
Suara Gitar Mulai Terdengar, Casilda Mulai Menyanyi Terlebih Dahulu Di Awal Lagu.
BABY WE'RE GOOD FRIENDS FOR SO LONG.
KAU BILANG SAYANG ENTAH BENAR
ATAU BOHONG.
BILANG RINDU AND ALL OF YOUR FEELING.
DO YOU REALLY REALLY MEAN
ALL OF THOSE THINGS.
" Ih, Bagus Loh Suaranya Casilda. Asik Coy, Lanjutkan! " Teriak Delon Penuh Semangat Sambil Memukul - Mukul Meja Yang Berada Di Dekatnya Seolah -Olah Seperti Sedang Memukul Gendang Mengikuti Alunan Gitar Yang Casilda Mainkan.
Meskipun Adrian Dan Bian Tidak Ikut Menyanyi, Tetapi Mereka Ikut Tertawa Dan Juga Menikmati Suasanya Yang Ramai Namun Menyenangkan Saat Ini. Mereka Asik Bernyanyi Bersama, Sesekali Tertawa Karena Liriknya Yang Terdengar 'Bar-Bar' Itu Namun Mereka Tetap Menyanyikan.
KU INGIN KAU MATI SAJA.
KU INGIN KAU PERGI SAJA.
KU TAK AKAN MENUNGGU.
TAK LAGI HARAPKAN MU.
KU INGIN KAU MATI SAJA.
KU INGIN KAU PERGI SAJA.
Bian Melirik Casilda Terlihat Begitu Semangat, Senyumnya Menampilkan Keceriaan, Tawanya Membangkitkan Senyuman Bian. Gadis Itu Seperti Menyihir Bian, Setiap Kali Menatapnya Pasti Jantung Bian Selalu Berdetak Lebih Cepat.
' APAKAH INI YANG DI NAMAKAN CINTA? ' Batin Bian. ' AH GAK MUNGKIN! '
**
DITUNGGU KELANJUTANNYA YA :)