CHAPTER 8

2224 Words
Suara alunan musik terdengar nyaring di tengah keramaian di sebuah café yang kini terlihat cukup padat pengunjung. Tentu saja hari ini café terlihat cukup ramai karena ini malam minggu, yaitu saatnya para remaja untuk meghabiskan waktu bersama teman atau pacarnya hanya untuk sekedar kumpul atau biasa di sebut nongkrong. Seperti Boma dan teman - temannya saat ini sudah berada di café untuk menghilangkan penat, mereka asik ngobrol dan tertawa . Mereka sudah memesan banyak makanan dan minuman berjejer di meja untuk menemani waktu ngobrol. Saat ini hanya Delon yang membawa pacarnya. Ralat, maksudnya gebetannya, karena sampai saat ini Delon sering sekali gonta - ganti pasangan tapi tidak ada satupun yang di jadikan pacar, ia hanya mengajak berkencan saja tanpa ada status yang jelas membuat cewek - cewek itu akhirnya galau di buatnya. " Ini Anya, kan? yang minggu lalu juga ikut kesini? " tanya Boma kepada perempuan yang duduk di samping Delon. Padahal, Boma tau gadis itu bukan Anya yang juga pernah Delon bawa pada saat kumpul minggu lalu. " Hah? nama gue Elsa. " Ucap wanita itu kemudian menoreh ke arah Delon untuk bertanya. " SIAPA ANYA? " tatapannya sinis ke arah Delon. Delon menatap tajam ke arah Boma, rasanya ia ingin sekali menjahit mulut Boma yang sering kali membuat Delon dan para gebetannya debat hanya karena si Boma sering menyebut naman wanita lain.  " ANYA? SIAPA ITU ANYA? " Delon berlagak bingung. " Itu tadi temen kamu bilang pernah kamu ajak kemari minggu lalu? jadi, minggu kemarin itu kamu pergi main sama cewe lain? katanya kamu gak bisa jalan sama aku karena ada acara keluarga! " Omel Elsa yang merasa curiga, itu artinya selama ini Elsa di bohongi oleh Delon. " Kamu bilang aku satu - satunya perempuan di hati kamu! " tiba - tiba saja Elsa berdiri karena merasa kesal, sedangkan Boma si pelaku kerusuhan kini berpura - pura tidak melihat keduanya karena merasa dirinya penyebab pertengkaran tersebut. Boma mengalihkan pandangannya ke arah lain.          Berbeda dengan Nugi, ia terlihat menikmati drama yang terjadi di hadapannya saat ini sambil menyeruput ice coffe miliknya, ia penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.  Beberapa pasang mata juga melihat ke arah Delon karena terdengar ada Sedikit keributan, tetapi Adrian tidak perduli dengan apa yang terjadi saat ini karena ia lebih baik diam saja sibuk dengan ponselnya. " Iya emang Cuma kamu satu - satunya, sini duduk dulu jangan marah gitu. " Delon menarik Elsa untuk kembali duduk namun di tepis oleh gadis itu. " Gak! aku udah gak percaya lagi. Aku emang udah curiga sejak lama, untung temen kamu kasih tau aku! " omelnya lagi, matanya mulai berkaca - kaca. " MULAI SEKARANG KITA PUTUS! " Elsa segera pergi menjauh dari tempat itu meninggalkan Delon yang sama sekali tidak mengejarnya. " Yaudah, pergi aja sana. Lagi pula,  sejak kapan gue jadian sama lu sampai harus putus segala! " seru Delon ke arah Elsa yang sudah pergi menjauh. " Yah, kok pergi, sih? Lo gak mau kejar? " ucap Boma ke arah Delon yang terlihat santai sama sekali tidak merasa bersalah. " ini semua gara - gara lo ya! " Delon melempar Boma dengan Kentang Goreng yang sejak tadi ada di atas meja. Boma dan yang lainnya hanya tertawa. " Delon mah santai aja, besok juga udah dapet cewe lagi. " Sahut Nugi, ia sudah faham betul sahabatnya itu. " Iya, lah. Orang ganteng mah bebas! Mati satu, tumbuh seribu! " seru Delon penuh bangga dan percaya diri. " Bian mana kok belum dateng juga? " tanya Adrian, sudah hampir satu jam lelaki itu belum juga datang. " Tadi sih bilang udah di jalan. Macet kali, tau sendiri kan malem minggu jalanan ramai. " Jawab Nugi. Baru saja di bicarakan, Bian pun datang berjalan mendekat ke arah mereka. " Sorry ya telat, macet banget. " Ucap Bian, ia  langsung duduk di dekat Delon " Tumben lo sendiri? " tanya nya ke arah Delon. " Noh, si manusia laknat. " Delon menunjuk ke arah Boma. " Gara - gara dia cewek gua jadi pergi. " Bian tertawa, ia sudah tahu apa maksud Delon karena memang hal itu sudah biasa terjadi. Bian tau pasti penyebabnya sudah pasti si Boma yang tidak jelas itu. " Ada – ada aja lo, BOM! " kata Bian, ia mengambil segelas soft drink yang telah di pesan oleh teman - temannya sejak tadi ia belum datang. " Gue fikir lo datengnya lama karena Jemput Casilda. " Celetuk Boma. " Iya, gue fikir juga gitu. " Delon ikut menyahut. " Gak. " Bian meletakan kembali segelas Soft Drink yang ia minum tadi. " Gue gak mau ganggu dia. " " Justru dia seneng kali kalo misalnya lo ajak jalan. " Ucap Nugi. " Emang dia gak chat lo? " " Tadi sih, dia ngirim pesan ke gue. Dia tanya malam ini gue kemana, yaudah gue jawab aja pergi nongkrong sama kalian. terus kata dia Have fun ya. " jelas Bian. " Terus lo bales apa lagi? " tanya Adrian penasaran. " Gak gue bales lah, apalagi yang harus dibahas? " jawab Bian santai, tapi membuat yang lainnya kesal. " Dasar idot! cewek kalo nanya gitu, tandanya minta di ajak jalan. Bisa gak sih, jadi lelaki itu pengertian sedikit sama perempuan? " Delon yang duduk di sebelah Bian merasa sangat gemas. " Masa, sih? dia gak bilang gitu kok. " Jawab Bian polos. " Itu tadi dia nanya malem ini lo kemana? bisa jadi, dia bilang begitu karena ada maksud tertentu. Kayak yang delon bilang tadi, misalnya dia mau ikut atau minta di ajak jalan sama lo. " Adrian ikut angkat suara. " Oh gitu. " Bian hanya mengangguk. " DASAR BODOH! " Ucap Nugi dan Boma bersamaan. " Bian, lo itu gak bisa buka mata lo apa? lihat ada cewek yang suka sama lo dengan tulus, tapi malah di sia – sian! emang lo gak punya perasaan sama sekali ke casilda? " tanya delon lagi. " Gak biasa aja. " Jawab Bian santai ia sangat malas karena teman - temannya terus membahas itu. " INI SAATNYA LO MENGAKHIRI KUTUKAN JOMBLO ABADI DI HIDUP LO BIAN! " kata Boma seraya memajukan wajahnya mendekati Bian yang duduk di hadapannya. " Betul, Bian! Ini saatnya lo berubah jadi f**k Boy! " Ucap Delon penuh antusias, tapi malah mendapat pukulan dari Bian. " Dih, jangan samain gue dengan lo yang b******k suka mempermainkan cewek.  " Ledek Bian, Delon hanya tertawa saja di bilang seperti itu karena hal yang bian katakan memanglah fakta. " Kenapa lo gak coba buka hati buat Casilda? " tanya Adrian, Bian hanya diam tak berkata apa - apa. " Kalo lo gak mau, gimana kalau Casilda buat gue aja? " celetuk Delon asal, tapi membuat Bian merasa sedikit terkejut. Padahal, Bian tau kalau Delon hanya bercanda, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya ketika Delon berkata seperti itu. " Gak cocok kalo Casilda sama lo! " seru Nugi dilanjuti tawa. " Dia Cuma mau sama Bian! " tambahnya. " Coba ajak dia kemari. Lo telfon dia sekarang. " Saran Delon, tapi Bian menggeleng cepat. " Gak ah, ada - ada aja lo. " Tolaknya. " Yaudah, sini gue bagi nomor Casilda, deh. Biar gue aja yang telfon dia. " Delon mengeluarkan ponsel dari saku nya. " Cepat sebutin nomor Casilda. " Perintah Delon, tapi Bian tidak merespon. “ Cepat Bian. “ Bian mengernyitkan dahinya. " Lo mau ngapain minta nomor Casilda? " " Ya Mau telfon dia, lah. Gue mau ajak dia kemari. " Ucap Delon. " Gak usah! " jawab Bian cepat. " Kan, lo gak mau ajak Casilda. Yaudah, anggap aja gue yang ajak dia kemari. Mana sebutin nomornya? " Delon terus saja memaksa. Bian melirik sinis ke arah Delon, sedangkan yang lainnya menatap Bian kebingungan karena tidak biasanya Bian terlihat seperti itu. " Gue bilang gak usah! " ia mengeluarkan ponsel nya dari saku jaket nya.  " Gue aja yang telefon dia. " Jawab Bian, ia segera mencari kontak atas nama ‘Casilda’ lalu menekan tombol hijau untuk menelfon gadis itu. Delon melirik ke arah Boma, Nugi dan Adrian sambil tersenyum puas karena telah berhasil membuat Bian tergerak untuk mengajak Casilda ke Cafe. Mereka dapat melihat ada sesuatu yang berbeda dari Bian, ia terlihat sedikit cemburu ketika Delon bersikap seolah - olah ingin mendekati Casilda. " GOOD JOB! " ucap Boma tak bersuara ke arah Delon sambil mengacungkan jempol, sedangkan Bian sedang serius menunggu Casilda mengangkat telefon darinya.   " HALLO, BIAN? " akhirnya Casilda mengangkat panggilan masuk dari Bian.   Mendengar suara Casilda dari sebrang sana, Bian sedikit gugup harus bicara apa sebelum akhirnya ia angkat suara.   " LO DIMANA? " tanya Bian langsung dengan suara datar.   " Lagi di luar. emang kenapa, Bian? " Bian melirik ke arah Delon, ia menjauhkan telfonnya saat ingin bicara kepada Delon. " Dia lagi di luar, berarti gak jadi ajak dia kemari, kan? " " Coba tanya, dia dimana sekarang? " sahut Adrian. Bian kembali mendekatkan ponselnya ke arah telinganya. " EMANG LAGI DIMANA? " Bian bertanya sesuai perintah Adrian. " Lagi di Toko Buku Permata. " Jawab Casilda. " Ngapain ke sana? sama siapa? "     Bian bertanya secara refleks, hal itu membuat teman - temannya menatapnya sambil tersenyum meledek melihat tingkah Bian sedikit posesif.   " Lagi temenin Alisa sama Mira mau beli buku. emang ada apa, Bian? "   Setelah tersadar telah bertanya seperti itu, Bian terdiam sebentar melirik ke arah Delon lagi. " Gue jawab apa, nih? Katanya, sekarang dia lagi di Toko Buku Permata. " " Oh, Itu kan gak jauh dari sini. Yaudah, lo bilang aja sama dia suruh tunggu di situ nanti lo jemput . " Perintah Delon. " AH, gak mau gue. Nanti dia mikir yang aneh - aneh lagi gara - gara gue jemput dia! " tolak Bian. Rasa gengsinya terlalu tinggi. " Udah sih bilang aja gitu. " " Ribet bolak – balik. " Bian terus saja berdebat dengan Delon, sedangkan Casilda terus saja memanggil nama Bian di telefon karena sejak tadi Bian tidak menyahut. " Yaudah, kalo gitu sekarang lo jemput dia. Terus, nanti anter dia pulang atau lo jalan berdua gitu sama dia. " Saran Boma agar Bian mau menyempatkan waktu berdua dengan Casilda.  " Gak mau! gue kan, pengen nongkrong sama lo semua. Kalo gue anter dia pulang, nanti males lagi balik kemarinya. Lagian, gue juga malu jemput dia kesana sendirian. Apa lagi, dia sama temen – temennya. " Gerutu Bian membuat yang lainnya geleng - geleng kepala. Memang pada dasarnya Bian sangat lemah urusan cinta, bahkan untuk hal kecil seperti itu saja ia masih merasa malu dan gengsi. " YA AMPUN BIAN! BENER - BENER DAH LO! " Nugi semakin geregetan melihat Bian terlalu bertele - tele. " Yaudah, kalo gitu kita semua temenin Bian anter Casilda pulang. Biar Bian gak merasa malu. " Sahut Adrian mendapatkan persetujuan dari yang lainnya. " Bener tuh. ada Mira juga, kan? biar gue yang anter mira nanti he he. " Ucap Nugi semangat. " Iya, biar gue sama Alisa deh. " Boma juga ikut setuju. " Yaudah, ayo kita kesana. " Delon bangun dari duduknya, mengambil ponsel milik Bian yang masih terhubung dengan panggilan Casilda. " Hallo Casilda, ini gue Delon. Lo tunggu di sana, ya. Nanti Bian akan jemput lo. Jadi, nanti dia yang anter lo pulang. " Jelas Delon, belum sempat Casilda menjawab, Delon langsung mematikan panggilan tersebut. " AH GILA LO DELON! " Bian terlihat kesal bercampur bingung. Melihat Bian seperti itu, teman - temannya pun merelakan waktu bersantai mereka saat ini hanya untuk menemani Bian yang tidak memiliki nyali untuk menemui Casilda. Mereka sama sekali tidak mengerti kenapa temannya itu begitu ciut untuk hal seperti ini. Akhirnya mau tidak mau, Bian memaksakan dirinya untuk menjemput Casilda karena teman - temannya itu.     Disisi lain, Casilda tengah terlihat bingung saat panggilan tersebut tiba - tiba di matikan begitu saja. Alisa dan Amira yang kini berada di dekatnya merasa penasaran apa penyebab Casilda terlihat seperti itu. " Bian ngomong apa aja? " tanya Alisa, namun Casilda diam. " Lo kenapa, sih? " Mira ikut bertanya. " Tadi Delon bilang katanya Bian mau jemput gue di sini. Dia mau anter gue pulang. " Jawabnya. " Bagus dong? harusnya lo seneng! " seru Alisa. " Tapi, gue gak yakin kalo Bian beneran mau jemput gue. Kalo mereka Cuma bercanda atau bohongin gue gimana? " ujar Casilda. " Udah tenang aja, kita tungguin lo sampe dia beneran jemput! " Alisa mengusap lengan Casilda. " Tapi, nanti kalian naik apa? Kan, kita berangkat bareng masa pulangnya misah? " Casilda merasa tidak enak dengan kedua temannya itu. " Udah tenang aja, nanti kita bisa naik ojol. " Jawab Mira. " Tapi, kalian jadi nginep di rumah gue, kan? " Ucap Casilda. Saat ini kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota mengunjungi pamannya yang sedang sakit untuk beberapa hari. Casilda tidak ikut karena sudah kelas dua belas, jadi ia tidak ingin banyak absen. Apalagi , di sekolah ada penyemangat nya. " Iya, jadi kok. Nanti lo pulang bareng Bian, terus kita naik ojol kerumah lo nya." Jelas Alisa, Casilda tersenyum senang karena kedua temannya itu selalu pengertian kepadanya. " Oke, deh. Ayo bayar bukunya, habis itu kita langsung tunggu depan. " Mereka segera membayar buku yang telah di beli, setelah itu segera keluar toko buku menunggu kedatangan Bian yang akan menjemput di persimpangan jalan. **  HAY SORRY UP NYA SEDIKIT. MAU INFOIN KALAU MULAI BESOK AKU AKAN UPDATE SETIAP HARI :) JADI KALIAN GAK PERLU NUNGGU LAMA :) THXUU :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD