Waktu yang selalu di tunggu oleh Para Murid adalah waktu istirahat dan pulang kerena di saat itulah mereka terbebas dari pelajaran yang memusingkan dan terlepas dari perintah guru untuk mengerjakan tugas.
Seperti Bian dan teman - temannya saat ini sedang tertawa lepas membicarakan apapun yang tidak penting sambil sesekali bermain gitar yang biasa di lakukan di waktu istirahat. Terlihat Boma dengan kebiasaannya yang duduk di atas meja lengkap dengan gitar yang berada di pangkuannya.
" Ada yang mau request lagu gak? " tanya Boma kepada teman - temannya yang sebenarnya tidak ingin mendengar boma bernyanyi karena suara nya terlalu cempreng.
" Gua mau, deh. " Sahut Nugi yang tidak tega melihat wajah Boma memelas jika tidak ada yang merespon tawarannya.
" Mau lagu apa? Sebut aja, biar abang Boma yang memiliki suara seksi ini menyanyikan lagu dengan sangat menghayati. " Celotehnya membuat teman -temannya hanya terkekeh mendengar dirinya terlalu pede.
" gue mau request lagu ‘MALING KINGKONG’ . " Pinta nugi.
" Lagu apaan itu? “ Boma menggedikan bahunya. “ Gak ah, nadanya terlalu rendah. gue biasa nyanyi lagu yang nadanya tinggi. " Ucap Boma menyombongkan dirinya sambil mengusap kepalanya yang botak.
" Sombong bener lu tutup panci! " merasa gemas Delon memoles kepada Boma yang kini terlihat sudah mulai tumbuh sedikit rambut.
" Yaudah, kalo gitu gue aja deh yang request lagu ‘RINDU’ dari Agnes Monica, itu kan nadanya tinggi. " Delon menantang boma.
" Oke siap! dengerin ya, saya akan menyanyikan lagu rindu untuk kawan -kawan ku tercinta. " Ucapnya berlebihan, Boma mulai memetik senar gitarnya. Tak lupa, saat ini Nugi sudah siap merekam aksi temannya itu untuk di upload di story i********:.
JRENG.... JRENG....
" Kalau hati ku sedang rindu. Pada siapa ku mengadu. " Boma mulai bernyanyi dengan pede menggunakan cengkok karena itu memang lagu dangdut, tetapi membuat teman - temannya geram dan segera menghentikan aksinya itu.
" HEH BOM! LU NYANYI APAAN ITU! " Bian menoyor kepala Boma mengetahui lelaki itu bernyanyi asal.
" Lah, bener dong? kan, gua lagi nyanyi lagu rindu. Salahnya di mana? " Boma membela dirinya.
" Iya, tapi maksud gua lagu rindu dari Agnes Monica, tuyul! " Delon juga ikut menoyor kepala Boma.
" Itu mah bukan lagu Agnes Monica, Boma. " Sahut Nugi " Ah payah, buang -buang waktu aja gua snap lu. " Ujar Nugi.
" Terus itu lagu rindu siapa yang gua nyanyiin? " dengan bodohnya Boma malah balik bertanya. " Jadi, itu bukan lagu Agnes Monica, ya? "
" BUKAN BODOH! ITU LAGU SYAHRINI. " Sahut Delon dengan keras.
" Bukan delon, itu lagunya Trio Macan. " Nugi juga ikut menyahut.
" Gigi lu ompong. Sejak kapan itu lagu dari Syahrini atau Trio Macan! itu lagu yang nyanyiin MEGGY .Z. " Jelas Bian berusaha membenarkan kesalahan teman - temannya.
" Nah itu...." Boma menunjuk ke arah Bian. " Itu maksud gua. Itu lagunya MEGGY .Z. Tadi gue mau bilang gitu, tapi udah keduluan sama bian. "
" Halah, banyak bacot lu udah salah juga! "
" Terus liriknya lagu Agnes yang rindu kayak gimana? " tanya Boma.
" Gimana, ya? gua juga lupa. " Delon ikut berfikir.
" Gue tau, liriknya tuh pas reff kalo gak salah kayak gini. " Adrian mulai mengingat sebelum akhirnya ia mulai bernyanyi, teman - temannya mendengarkan.
" Getaran di hatiku. Yang lama haus akan belaian mu seperti saat dulu. " Suara Adrian terdengar lebih baik dibanding Boma.
" Saat - saat pertama, kau dekap dan kau kecup bibir ini dan kau bisikkan kata - kata...." Adrian berhenti bernyanyi karena lupa lirik pada saat dibagian itu. Bian dan yang lainnya menunggu Adrian mengingat lirik lagu itu.
" Kata - kata apa? " tanya Boma, Adrian masih diam berfikir.
" AKU CINTA KEPADA MU. " Lanjut Casilda yang entah sejak kapan sudah berada di samping Bian yang duduk di pinggir. Bian dan teman - temannya menoreh ke arah Casilda yang baru saja menyahut.
" Nah, iya itu lanjutan liriknya. " Adrian membenarkan lirik yang Casilda nyanyikan, suaranya terdengar lumayan bagus saat Casilda menyanyikan lirik terakhir lagu itu.
" Gila! baru segitu aja suaranya merdu banget kayak raisa! " seru boma sambil geleng - geleng " Gimana kalo kita bikin band aja sama casilda? " ucap Boma.
" Gue jadi Gitaris, Casilda sama Adrian jadi vocalis, Bian pemain drum, Nugi bagian perekam dan Delon bagian nyiapin minum. Gimana? keren kan, pemikiran gua? " Boma terlihat antusias dengan ide nya yang tidak terlalu di perdulikan oleh teman - temannya terutama DELON.
" KURANG AJAR! GUA CUMA JADI BAGIAN TUKANG NYIAPIN MINUM! " Delon langsung mencekik leher boma hingga memekik kesakitan.
Casilda tertawa melihat tingkah teman - temannya Bian seperti itu, ia kembali fokus ke arah Bian dan segera menyodorkan kotak makan yang berisi Puding itu kepada Bian. "Ini buat kamu, puding rasa vanila di campur buah mangga." Jelas Casilda disertai senyuman.
Bian mengambil kotak makan itu. " Makasih, Casie. " Bian melirik sebuah Cup Plastik berukuran sedang berisi puding yang masih Casilda pegang entah itu untuk siapa.
" Itu buat siapa? " tanya Bian penasaran melirik ke arah Cup Plastik itu, biasanya Bian tidak pernah memperdulikan atau penasaran dengan apa yang tidak berkaitan dengannya.
" Oh iya, ini buat Boma. " Casilda menoreh ke arah Boma yang telah selesai di beri pelajaran oleh Delon, ia segera menyodorkan Cup Plastik itu kepada Boma. " Itu rasa cokelat di campur buah pisang, khusus buat Boma karena udah doain Casilda kemarin. " Jelasnya penuh semangat, Boma segera mengambil Cup itu dengan cepat.
" ALHAMDULILLAH. Makasih ya udah di buatin rasa pisang. Wah, Casilda tau aja kalo gue suka pisang. " Boma sangat berterimakasih.
" Sama – sama, Boma. "
" Kok, kita gak di bikinin juga, sih? " sahut Delon merasa Casilda tak adil, tetapi hanya dibalas tawa oleh Casilda.
" Giliran Bian aja pake tempat makan biar nanti bisa Di balikin. Eh, giliran Boma pake Cup Plastik biar langsung di buang. " protes Nugi mendapat tawa dari yang lainnya.
" HA HA BENER JUGA YA. "
**
Hari ini di kelas Bian jam pelajaran terakhir adalah olahraga. Beruntungnya, semua guru olahraga sedang ada pelatihan di luar sekolah, jadi Bian dan teman - temannya dapat bermain basket di lapangan dengan bebas untuk mengisi waktu olahraga yang kosong. Sedangkan murid perempuan di kelas Bian, lebih memilih duduk di dalam kelas sambil nonton drakor.
Bian mulai membagi tim dengan teman - teman sekelas nya yang juga ingin bergabung bermain basket bersamanya. Setelah terbagi, akhirnya mereka mulai bermain basket di lapangan sekolah yang cukup luas. Terlihat Bian cukup lincah dan gesit memainkan bola basket. Hal itu terbukti karena bian saat ini sudah berkali - kali memasukan bola basket ke ring lawan.
Disisi lain, Casilda saat ini sedang mengerjakan tugas dari guru matematika yang saat ini sedang keluar sebentar ke kantor. Mengingat hari ini jadwal kelas Bian adalah olahraga, ia memutuskan untuk izin ke toilet hanya untuk sekedar melihat Bian meskipun sebentar.
" Ke toilet, yuk? " Casilda menoreh ke belakang mengajak salah satu antara Alisa dan Mira yang mau menemaninya.
" Pasti mau liat Bian, deh. Gue sampai hafal banget apa aja yang biasa lo lakuin. " Gerutu Mira.
" Iya, HE HE. Hayuk atuh temenin. " Pinta Casilda, tetapi Mira menggeleng cepat.
" Yaudah, sama gue aja, yuk. " Alisa segera berdiri, ia berjalan keluar kelas bersama Casilda menuju toilet perempuan.
" Casilda... Casilda. " Mira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
Casilda bersama Alisa kini berjalan di koridor sekolah menuju toilet. Di pertengahan jalan atau lebih tepatnya kini sudah terlihat lapangan yang terbentang luas, mata Casilda mulai mencari - cari keberadaan Bian, sampai akhirnya ia dapat menemukan sosok yang ia cari kini tengah bermain basket. Casilda menghentikan langkahnya, Alisa mengikuti saja.
" Ya ampun, liat dia deh, Alisa. " Casilda menunjuk ke arah Bian. " Dia ganteng banget ya, kan? " Casilda gemas sendiri melihat Bian bermain basket dengan keringat yang membasahi dahinya membuat lelaki itu terlihat keren menurutnya.
" Iya, Casilda. Kalo gak ganteng mana mungkin lo kejar dia, kan? " Alisa menyenggol lengan Casilda.
" Gak gitu juga, sih. Sebenarnya, gue itu suka sama orang gak harus mandang fisiknya aja, tapi... " Casilda berfikir sejenak dengan mata yang masih terfokus ke arah Bian.
" Tapi apa? " Alisa bertanya.
" Tapi, dia itu ganteng nya kurang ajar, Alisa. “ Casilda menoreh ke arah Alisa. “ Gimana gue gak tergila – gila sama dia coba! " ucap Casilda geregetan sendiri.
" Itu mah sama aja, Casie. Ah, cubit juga nih. " Alisa Tertawa.
Bian mendribble bola basket dengan lincah. Di hadapannya sudah ada lawan mainnya, ia harus fokus agar bola itu tidak di rebut oleh lawan. Saat pandangan Bian tidak sengaja menoreh ke arah pinggir lapangan atau lebih tepatnya ke arah koridor dekat pinggir lapangan, Bian tidak sengaja melihat Casilda tengah bicara dengan Alisa.
Angin yang berhembus sedikit kencang membuat rambut Casilda yang digerai berkibar seperti menari - nari beriringan dengan angin. Gadis itu mencoba membenarkan rambutnya yang panjang itu.
Tanpa di sadari, Bian terus saja menatap ke arah Casilda yang sibuk merapihkan rambutnya. Matanya tidak beralih memandang Casilda, apalagi saat ini gadis itu tengah tersenyum manis membuat aura kecantikannya terpancar.
" CANTIK. " Batin Bian. Matanya masih terus memperhatikan Casilda, sebelum akhirnya pandangannya buyar ketika Delon menepuk pundaknya.
" Bian, lo ngapain bengong? " tegur Delon melihat Bian sejak tadi tengah menddribel dengan tangan kosong tanpa bola.
" Hah? " bian tersadar, lalu ia melirik ke bawah yang kini terlihat kosong dan di tangannya juga tidak ada apapun. " Bola nya kemana? " tanya Bian kaget.
" Udah di ambil lawan, lah. Lo sih bengong aja. lagi liatin siapa, sih? " Delon mencoba melihat ke arah koridor yang kini terlihat kosong tidak ada siapapun karena memang Casilda dan Alisa telah kembali ke kelas setelah merasa puas melihat Bian.
" Gak liat apa - apa kok gue. " Bian geleng – geleng. " Udahan ah mainnya gue capek. " Bian segera berlari keluar lapangan menuju ruang ganti pria.
" Mau kemana tuh, Bian? " tanya Boma melihat Bian pergi meninggalkan lapangan.
" Gak tau. " Delon mengangkat bahunya.
" Ayo ganti baju, gak enak badan lengket banget. Sebentar lagi juga pulang. " Ajak adrian berjalan lebih dulu, teman – temannya pun mengikuti.
**
Bian membasuh wajahnya dengan air, setelah itu ia menatap dirinya ke arah cermin yang tepat berada di depannya. Dia mengingat hal yang baru saja terjadi, yaitu melihat Casilda membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, ia tidak dapat menghilangkan wajah Casilda dari ingatannya.
" Sebenarnya, ada apa sih dengan diri gue? " Bian mengelap wajahnya dengan tissue yang tersedia di atas wastafel. " Apa iya, gue suka sama dia? " lanjutnya, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
" Ah, gak mungkin. Namanya juga laki – laki, kalau melihat perempuan cantik terus terpesona itu hal yang wajar. Itu hanya perasaan biasa, bukan suka apa lagi cinta. " Bian meyakinkan dirinya meskipun saat ini ia merasa bingung .
Ketika Boma dan yang lainnya masuk ke dalam ruang ganti, Bian berhenti memikirkan hal itu dan berusaha terlihat tenang agar tidak mendapat pertanyaan bertubi - tubi dari temannya karena dirinya saat ini terlihat aneh.
" Bian, nanti malam kita jadi kumpulkan di Café kenangan, kan? " tanya Nugi yang baru saja datang bersama teman - temannya. Mereka duduk di bangku yang berada di ruang ganti.
" Jadi, kok. " Bian mengangguk, ia berjalan mendekati loker No 9 miliknya, lalu ia buka untuk mengambil seragam nya.
" Iya, lah. Pokoknya harus jadi. Kalo misalnya gak jadi, gue akan marah. Ya kali malem minggu gak keluar rumah! " sahut Delon, ia juga ikut membuka loker miliknya sendiri. " Gue bingung nih, nanti malem mau ajak Stella atau Anya? " lanjut Delon seraya menutup lokernya setelah selesai mengambil seragamnya. Dasar Delon Playboy!
" Cakepan Anya, dia seksi. ajak dia aja gue demen liat nya. " Sahut Boma mendapat tatapan tajam dari Delon.
" Makanya, cari pacar! jangan kayak Bian noh jomblo terus! " Delon melirik Bian yang kini tengah mengaitkan kancing seragamnya, ia memilih diam tidak menggubris sindiran Delon.
" Ye, biarin aja. Lagian, bukan gue aja kok yang jomblo! si Nugi sama Adrian juga jomblo. " Boma membela dirinya.
" Ya biarpun begitu, tapi kita masih lebih baik dari pada Bian yang bener -bener gak punya cewe sampai sekarang. Kalo kita bertiga sebulan yang lalu masih punya pacar ya walaupun udah putus Ha Ha. " Ucap Boma ke arah Nugi dan Adrian.
" Iya, lah. " Sahut Nugi dan Adrian setuju.
" Terus aja ledekin gua! " Bian yang sudah selesai memakai seragam memilih duduk di bangku menunggu teman - temannya mengganti pakaian.
" Gimana kalo nanti malam lo ajak aja, Casilda? " saran Delon, kini ia duduk di sebelah Bian.
" Ide bagus, tuh. " Sahut Boma dan Nugi bersamaan.
" Ngaco lo berdua. Belum tentu dia mau. " Bian menghela nafasnya.
" Dia pasti mau. Apa lagi, kita semua tau kalo dia itu suka sama lo. Gue jamin dia pasti seneng banget di ajakin malam mingguan sama lo. " Delon berusaha meyakinkan Bian agar mencoba mengajak gadis itu pergi keluar nanti malam.
" Iya, selama ini kalo lagi ngumpul, pasti lo doang yang belum pernah bawa cewek. Sampai gue pernah berfikir kalo lu itu homo! " ucap Boma berlebihan, tapi memang benar karena setiap berkumpul, Bian tidak pernah membawa perempuan, entah itu gebetan atau pacar. Mulai dari Boma, Nugi dan Adrian punya pacar sampai mereka menjomblo, terus punya pacar lagi, hingga saat ini mereka jomblo lagi, sampai sekarang pun Bian tetap sendiri tidak ada perubahan dalam hidupnya.
" Gue normal, Bom! Nanti juga gue punya pacar kalo udah nemu yang tepat! " kata bian menatap Boma dengan malas.
" Kemarin gimana waktu jalan sama Casilda? " tanya Adrian yang sejak tadi diam.
" Ya gitu. " Bian mengangkat bahunya. " Emang dasar wanita, selalu bilang terserah bikin laki - laki bingung! " Ujar Bian.
" Itu hal wajar kok, kita sebagai laki - laki harus lebih bersabar dan cari cara gimana biar kalo lagi berdua itu tetap asik dan gak canggung. " Sahut Delon mencoba menjelaskan.
" Lo sendiri ngerasa cocok gak sama dia? " tanya Adrian lagi.
" Gak tahu. Gue sendiri gak ngerti sama perasaan gue gimana. " Lagi – lagi Bian mengangkat bahunya menandakan dirinya sama sekali tidak tahu apapun yang ia rasakan.
" Ah, payah lo Bian! Lo laki bukan, sih? " Delon terlihat gemas sendiri melihat temannya itu lemah soal hubungan dan perasaan.
" Waktu lo jalan sama dia, ada perasaan aneh gak? misalnya kayak deg -degan atau gugup gitu? " Delon berusaha bertanya lagi untuk memastikan apa yang sebenarnya Bian rasakan.
" Kenapa emang? " Bian bertanya.
" Kalo laki - laki di dekat wanita merasa gugup, Jantungnya berdegup lebih cepat dan terkadang ketika melihat wajah wanita itu ada sesuatu yang aneh di rasakan dari hati nya, itu tanda nya ada sebuah perasaan suka! " jelas Delon berusaha menjabarkan kepada Bian yang kini terdiam.
Bian mengingat - ngingat kembali bagaimana dirinya ketika bersama Casilda. Setelah ia berfikir, apa yang Delon katakan itu semuanya pernah ia rasakan ketika bersama Casilda. Bian sendiri bingung apakah itu benar sebuah perasaan suka atau hanya sekedar perasaan biasa.
" Gimana? lo ngerasain salah satu dari itu gak? " Adrian kembali bertanya penasaran.
" Iya sih. " Bian mengangguk, ia mengatakan sejujurnya kepada teman -temannya itu bagaimana perasaannya ketika bersama Casilda. " Gue ngerasain apa yang lo bilang tadi, tapi gue gak yakin kalo gue itu beneran suka sama dia. "
" Nah, itu dia. Tanda nya lo udah mulai ada perasaan sama Casilda. " Delon memetik jarinya, ia berdiri dari duduknya dan kini berdiri di hadapan Bian.
" Mulut bisa berkata bohong, tapi hati tidak bisa. “ Tegas Delon. “ Bian, itu semua pertanda kalo lo udah mulai suka sama Casilda! " seru Delon.
" Gua deket Pak Omar juga deg – degan. Apa iya, itu artinya gua suka? " tanya Boma secara tiba – tiba dengan memasang wajah polosnya.
" Arghh Boma i***t! Penyebab lo deg - degan kalo ketemu Pak Omar itu karena lo takut ketahuan Pak Komar kalau ke sekolah pakai kaos kaki warna -warni kayak anak ayam! Jadi, lo deg-degan karena ketakutan di marahin, bukan karena suka, boma! " sahut nugi memperjelas.
boma memang paling aneh diantara teman - temannya karena dia suka sekali memakai kaos kaki warna – warni, Padahal sudah jelas hal itu sangat di larang di sekolah. Meskipun nekat memakai kaos kaki itu, tetapi ia tetap saja ketakutan jika bertemu Pak Omar selaku guru BK , karena jika ketahuan ia akan segera di hukum membersihkan toilet.
" Terus apa yang harus gue lakuin sekarang? " Bian meminta solusi kepada Delon yang sudah menjadi ahli soal percintaan.
" Kenapa lo gak jadiin dia pacar aja? siapa tau seiring berjalannya waktu lo bisa jatuh cinta sama dia? " saran Delon.
" Gila kali lo, secepat itu? gue aja baru deket sama dia beberapa hari ini! " Bian menggeleng tidak setuju mendengar saran dari Delon yang terdengar terlalu terburu – buru, karena selama bertahun – tahun, baru kali ini Bian mengenal dekat Casilda karena sebelumnya hanya sebatas bertemu biasa saja.
" lebih cepat, lebih baik! “ tegas Adrian. “ kita gak akan tau, beberapa hari ke depan apakah Casilda masih sendiri atau akan jadi milik orang! " ucap Adrian membuat bian memikirkan perkataan itu.
" Dia gak mungkin jadian sama orang lain. " Bian menggeleng tak yakin ucapan Adrian mengenai Casilda.
" Siapa yang tau? kenapa lo bisa bilang gak mungkin? secara dia cantik, siapa yang gak mau? " sahut adrian lagi.
" Gue yakin dia gak akan deket sama cowo lain, karena kemarin dia itu nyatain perasaan nya ke gue. Padahal, gue udah suruh dia buat cari cowo lain. " Bian menoreh ke arah Adrian. " Dia bilang Cuma mau sama gue . " Lanjut Bian mengingat ucapan Casilda kemarin.
" Gila! Jadi, kemarin Casilda nembak lo duluan? " tanya Boma dan Bian mengangguk. " Sumpah! nyali dia besar juga ya? Gue kalo jadi lo, pasti udah gue terima. Gak akan gue sia - siain! " seru Boma.
" Iya Bian. coba lo fikirkan baik – baik. Sebentar lagi lulus, ya kali lo masih tetep jomblo. " Nugi tertawa diikuti yang lainnya.
" Jaman sekarang perempuan itu kebanyakan maunya di kejar dan di perjuangin. Nah, ada perempuan yang ngelakuin itu lebih dulu buat perjuangin lo tanpa harus ngelakuin apa – apa, jangan di sia - siain! " Adrian menepuk pundak Bian, sebelum akhirnya pergi keluar ruang ganti diikuti yang lainnya.
" Fikirkan baik – baik, nanti gua ambil Casilda dari lo baru nyesel! " ujar Boma sok mengancam Bian seraya berjalan keluar ruang ganti.
" Iya Bian, kapan lagi lo punya pacar. Ngebucin itu enak tau! " celetuk Nugi. Dia bilang seperti itu karena pengalamannya dulu ketika punya pacar, Nugi sangat menimati dirinya sebagai b***k cinta.
" Di coba aja dulu. Kelihatan kok kalo dia itu cewek yang tulus. Gak gampang lo nemuin yang kayak gitu! " Delon pun ikut keluar bersama yang lainnya meninggalkan Bian sendirian dengan fikiran campur aduk.
" ARGH! " Bian mengacak rambutnya sendiri merasa frustasi dengan fikirannya yang tak karuan. Ia juga tidak mengerti kenapa hatinya sulit sekali membuka lembaran baru, padahal ada Casilda yang siap mengisi kekosongan hatinya itu.
**
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL LOVE NYA UNTUK MENSUPORT :)
MAAF YA TELAT UPDATE. UNTUK BULAN INI SLOW UPDATE. TAPI TENANG AJA BULAN DEPAN DI USAHAIN AKAN UPDATE SETIAP HARI :) DITUNGU KELANJUTANNYA YA JANGAN BOSAN DULU :)